
"Ra"
"hmm"
"dari mana kamu belajar begitu?" tanya Duwan.
"belajar apa?" tanya Alara balik.
"memeras, bukannya kemarin itu kamu memeras tuan Tanu habis habisan?" Tanya Duwan heran.
"ohh, aku hanya melakukan apa yang kakek ajarkan, sebagai orang kuat boleh dong sesekali memberi pelajaran pada orang kaya yang sombong seperti mereka, apalagi mereka yang selalu menindas karena merasa memiliki status penting" ucap Alara.
"lagi lagi karena status yah? lalu bagaimana denganku?" tanya Duwan lagi.
"bagaimana apanya?"
"bukannya aku juga memiliki status bangsawan"
"emm yaa bangsawan yang terbuang" ucapnya.
"jadi karena aku terbuang maka tak masalah aku bersamamu?"
"entahlah, hanya saja aku merasa kamu berbeda dengan bangsawan yang aku temui sebelumnya, aku harap kamu bersikap begitu bukan karena keadaan, tapi karena memang sifatmu yang sudah begitu" terangnya.
"ehhh maksudnya?" tanya Duwan tak mengerti.
"intinya aku harap tidak ada kemunafikan dalam dirimu, yang hanya bertindak merendah saat sedang susah dan sombong saat sudah di atas" ucapnya.
"hey tidak akan, dari dulu sifat dan sikapku memang begini" bantahnya.
"yaa baguslah"
Mereka berdua kembali memasuki area hutan ujung wetan, tak seperti hari kemarin, hari ini hutan ini tak terlalu gelap oleh kabut ilusi, tidak ada kesan seram atau suram tapi justru terlihat indah dan asri.
Alara dan Duwan terus menyusuri hutan layaknya berjalan di sebuah taman, aroma dedaunan dan tanah yang tercium segar di hidung mereka berdua mampu menciptakan perasaan nyaman tersendiri.
"kenapa berhenti?" tanya Duwan saat Alara tiba tiba berhenti.
"aku capek" ucapnya.
"mana mungkin, belum ada sehari kita jalan"
"hiss benar kok, kakiku pegal" ucapnya lagi.
"ya sudah kita istirahat saja dulu, tapi aku haus" ucap Duwan.
"ya sudah kita cari sungai"
Beberapa waktu setelahnya keduanya melihat ada sungai besar dengar aliran air yang deras, Alara langsung duduk di bawah pohon dan Duwan pergi ke pinggiran sungai untuk minum.
Setengah hari lamanya mereka duduk santai di bawah pohon, Kai sendiri tengah asik bermain di pinggiran sungai, mereka terlihat seperti sepasang ayah dan ibu yang tengah mengawasi anaknya bermain.
"majikan, lihat itu" ucap Kai tiba tiba.
"ada apa Kai?" tanya Duwan.
"ada orang yang hanyut, lihat itu" ucap Kai.
"astagaa benar .. byuuur"
Duwan langsung melompat ke sungai dan berenang mendekati tubuh yang tak jelas masih hidup atau sudah mati.
"Kai kenapa laki laki bodoh itu?" tanya Alara yang tadinya sedang tertidur.
"itu majikan, ada orang hanyut"
__ADS_1
.
"hah"
"Kaii Ra cepet tarik" ucap Duwan.
"hah hahh .. gila arusnya deres banget, untung aku jago berenang" ucapnya terengah.
Alara diam mematung melihat sosok di depannya, tubuh penuh luka cabikan dan bekas luka, rambut putih dan wajah yang tak asing baginya.
"brukkkk" tubuhnya lunglay jatuh ke tanah.
"Ara .. majikan" teriak Duwan dan Kai bersamaan.
Terdengar deru nafas memburu dan tak teratur dari Alara, matanya tak berkedip menatap sosok laki laki di depannya.
"wajah .. wajahnya mirip paman Raka, jangan jangan.."
"Ra kamu kenapa?" tanya Duwan panik.
Bukan tanpa alasa pemuda itu panik, sosok gadis yang biasanya ketus dan menyebalkan itu tiba tiba saja terlihat menyedihkan karena raut wajahnya seperti orang kebingungan, bahkan dengan jelas Duwan bisa melihat tubuh gadis itu bergetar.
Karena bingung dan tak mengerti situasi Duwan memeluk tubuh Alara erat, Kai juga ikut menggesekkan kepalanya ke tubuh majikannya seakan ikut merasakan kegundahan hatinya.
Tak lama setelah itu sosok laki laki yang di tolong Duwan berubah wujud menjadi seekor serigala, jika manusia serigala berubah tanpa kehendak bisa di pastikan kondisinya sangat lemah.
"awas" ucap Alara mendorong tubuh Duwan.
"Kai cari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh ini" perintah Alara.
"Duwan carikan obat, cepaat!" perintahnya.
"kamu kenal dia? ehhh di-diaa.."
"cepaaat" bentak Alara.
"ahh s*al, kenapa aku tidak menemukan satupun tumbuhan duri rumput landak" decak Duwan kesal.
Duwan berlari kesana kemari mencari tumbuhan hijau yang berbentuk runcing dan panjang seperti duri landak, di tengah keputus asaannya dia melihat ada rumput duri landak yang tumbuh di atas bebatuan.
Dengan cekatan pemuda itu naik ke atas bebatuan, tapi sayangnya dia lupa kalau pakaian yang dia kenakan basah kuyup, batu yang terkena tetesan air dari tubuhnya menjadi licin saat terinjak.
"duakk .. uhhhh" eluhnya saat jatuh terpeleset dan kepalanya terbentur.
"Duwan, kenapa kamu?" tanya Kai yang kebetulan melewatinya.
"uhh tidak apa apa hanya terpeleset, ayo kesana" ajaknya.
Alara terlihat sedang menangis dengan memangku sosok serigala penuh luka itu, bulu putih serigala itu hampir seluruhnya berwarna merah karena tertutup darah yang terus mengalir.
(darah Alara putih karena dia keturunan spesial, ayah dan seluruh keluarganya memiliki darah merah biasa).
"Duwan kenapa kepalamu berdarah?" tanya Alara di tengah kepanikannya.
"tidak apa apa, hanya luka kecil saja, tunggu sebentar aku akan meracik obatnya" ucapnya.
Alara menyelimuti tubuh serigala yang kemungkinan adalah ayahnya dengan jubah miliknya, lalu dia membuat api dari ranting yang di bawakan oleh Kai, karena hari mulai gelap maka cuaca makin dingin.
Setelah merawat luka serigala yang di tolongnya Alara langsung mendekati Duwan.
"cepat lepas pakaianmu, bajumu basah nanti kau sakit, pakai ini" ucapnya menyerahkan jubah yang tadi dia gunakan untuk menyelimuti serigala.
"tapi serigala itu bagaimana?" tanya Duwan ragu.
"Kai yang mengurusnya" ucapnya.
Setelah mengganti pakaiannya Duwan ikut duduk di dekat api unggun, baju basahnya iya gantung di dekat api supaya besok bisa di gunakan lagi.
__ADS_1
"kita punya banyak uang, harusnya kita membawa beberapa pakaian saat berkelana seperti ini" ucap Duwan tiba tiba.
"singkapkan rambutmu" ucap Alara.
"ehh rambut?" ucap Duwan bingung.
"heh bodoh, dahimu terluka" ucap Alara kesal.
"aaa iyaa aku lupa" ucapnya.
Alala langsung mengelap darah kering di kepala Duwan, lalu mengoleskan racikan obat yang tadi Duwan racik untuk mengobati luka serigala.
"aaa" rintihnya saat lukanya terkena obat.
"fuuh fuuhh, hanya luka kecil jangan manja" ucapnya setelah meniup luka Duwan.
"ya tuhan cantik sekali gadis ini" batin Duwan saat menatap wajah Alara dari dekat.
Mata hijaunya yang bersinar di keremangan malam menambah kecantikan wajah gadis tersebut, entah sudah berapa kali Duwan mencuri pandang sinar cantik di mata Alara, tapi tak pernah sedikitpun rasa kagumnya berkurang.
"mau aku colok" ucap Alara mengagetkan.
"colok saja, sudah berapa kali kamu bilang akan mencongkel dan mencolok mataku" ucap Duwan menantang.
"hhhh rasakan"
"aduuh aduuhh periihhh" keluh Duwan saar Alara menekan keras luka di kepala Duwan.
"sekarang mau ku colok?" tanya Alara.
"uhh tidak tidak, kau ini sadis sekali" gerutunya.
Saat pagi menjelang Duwan sudah lebih dulu bangun, pemuda itu mencari makanan bersama Kai karena semalaman Alara tak tidur.
"Kai bagaiman cara mengambil buah itu?" ucap Duwan.
"kau panjat lah" usulnya.
"heh kau kan tau aku tak bisa memanjat" ucap Duwan.
"tchh .. bruakkk .. pluk pluk pluk" buah berjatuhan saat Kai menubruk pohon di depannya.
"astaga kepalamu ini keren Kai" puji Duwan.
"tentu saja" ucapnya bangga.
"kau berburulah sesuatu, nanti aku bakarkan untukmu dan Alara" ucapnya.
"ya sudah aku peegi dulu" ucap Kai langsung lari.
Duwan berjalan santai dengan membawa beberapa buah di tangannya, dari kejauhan dia melihat sosok gadis yang semalaman tak tidur karena menjaga serigala yang tengah terluka itu.
Meski gadis itu selalu bersikap kasar dan semaunya tapi ada kelembutan pada dirinya yang hanya sesekali dia tunjukan, entah sudah berapa kali Duwan merasakan kelembutan dan ketulusan hati Alara.
Meski terlihat cuek dan terkesan tak peduli, tapi dia sering membantu orang orang yang membutuhkan bantuan, kalau di pikirkan sebenarnya gadis itu adalah gadis yang sangat baik, hanya perangai buruknya yang membuat orang mudah salah paham padanya.
"hhh kamu gadis yang sangat baik Ara, aku tak tau derita seperti apa yang membuatmu berusaha menutupi kebaikan hatimu, aku harap suatu saat kamu bisa menunjukan kelembutan hatimu yang sesungguhnya pada seseorang" gumamnya.
Duwan mendekati serigala yang masih terbaring lemah, nafasnya terlihat sangat lemah seakan hampir hilang, pendarahan juga tak kunjung berhenti.
"kenapa serigala ini belum berubah bentuk, apa dia masih sangat lemah" gumam Duwan terus mengamati.
"aku harap kau segera bangun tuan, gadis ini sangat membutuhkanmu" ucapnya pelan.
"aku tak tau entah sisi dirimu yang mana yang membuatku menyukaimu, yang aku tau aku hanya ingin kamu bahagia, kamu sangat baik jadi kamu harus bahagia" ucapnya menatap sendu.
...bersambung...
__ADS_1