
Di bawah langit gelap yang di sinari beberapa bintang, terlihat seorang wanita berlarian di tengah hutan, tubuhnya penuh goresan ranting dan luka cakaran saat berusaha lari sekuat tenaga.
Tubuhnya terkadang huyung tatkala kehilangan keseimbangan, nafasnya kian memburu berkejaran dengan kecepatan detak jantungnya.
Terlihat bayi mungil yang masih berkulit merah di dekapannya, wanita itu terus menangis memikirkan nasib suaminya, entah lelaki yang di cintainya itu masih hidup atau justru sudah mati.
"bruuukkk"
Wanita itu terjatuh saat kakinya tak sengaja menyandung akar pohon, bayi yang sedari tadi diam tertidur langsung menangis karena kaget.
Gelapnya malam menjadi saksi bisu dari perjuangan sepasang orang tua melindungi anaknya, wanita itu tak lain adalah Arumi dan bayi perempuan yang baru di lahirkan beberapa waktu lalu.
Rangga suaminya sedang bertarung melawan maut agar Arumi dan bayinya bisa berlari.
"ooeekkkk" bayi merah itu terus menangis dalam dekapan ibunya.
Dalam keadaan panik tak menentu Arumi berusaha memberi ASI pada putrinya, dia harap putrinya bisa kembali tenang saat menyusu padanya.
Di tepuknya dengan pelan tubuh bayi kecil itu, air mata terus jatuh dari pelupuk matanya, baru beberapa jam merasakan kebahagiaan atas kehadiran malaikat kecilnya, Arumi harus menghadapi kenyataan pahit.
[beberapa saat lalu]
"lihat bulu tipis putri kita" ucap Arumi sambil membelai tubuh putrinya yang sekarang sedang berada di bentuk serigala.
"apa dulu aku semenggemaskan ini, putri kita terlihat seperti anjing kecil" ucap Rangga bahagia.
Suasana hening penuh kebahagiaan tiba tiba berubah saat beberapa burung di luar goa beterbangan tidak karuan seakan menandakan ada bahaya.
"gawat mereka datang" ucap Rangga panik.
"mereka siapa?" tanya Arumi tak kalah panik.
"sayang pergilah sejauh mungkin dari sini, bawa putri kita dan lindungi dia" terang Rangga.
"apa yang terjadi katakan padaku?" Arumi semakin panik.
"bayi kita adalah bayi yang sangat spesial, dia terlahir dari sepasang manusia dan serigala, kau lihat tanda lahir di keningnya, ini adalah tanda bahwa dia mewarisi kekuatan spesial, bahkan darahnya bisa melipat gandakan kekuatan manusia serigala, kelahiran bayi kita mengundang para serigala haus darah yang berada tak jauh dari sini" ... " alasanku memintamu melahirkan anak kita di sini bukan karena takut kita ketahuan bahwa putri kita seorang serigala, tapi aku takut ada penyerangan besar besaran di desa tempat kita tinggal, manusia serigala yang sudah hilang akal akan mengendus bau darah bayi kita dari jarak sejauh mungkin, tak ku sangka secepat ini mereka datang" terang Rangga panik.
Rangga mencopot kalung yang selalu di lehernya selama ini, dia memasangkan pada leher putri kecilnya yang sudah kembali ke bentuk manusia, dia mencium kening anak dan juga istrinya.
"larilah terus ke arah selatan jangan berbelok kemanapun dan jangan mencoba berhenti" ... "kamu harus membawa anak kita ke hutan bambu di ujung selatan, di sana tempat leluhurku tinggal
kalung ini akan menjelaskan siapa jati diri bayi ini, begitu tiba di hutan bambu carilah satu batang bambu berukuran besar berwarna hitam tanpa daun, tempelkan sedikit darah putri kita di pohon bambu itu agar pagar gaib yang menghalangi tempat itu bisa terbuka, sekarang cepat pergi ! aku akan menahan mereka semampuku dan segera menyusulmu" perintah Rangga panik.
"t-tapi ..."
"cepat Arumi !" bentak Rangga.
Dalam keadaan tubuh masih lemah Arumi berlari sekuat tenaga, dia berlari secepat dan sekuat mungkin membawa bayinya, namun sayang dia melupakan satu hal penting, suaminya memintanya berlari ke arah selatan namun karena panik Arumi justru lari ke arah utara.
Di bawah pohon besar berdaun rindang Arumi terduduk lemas saat tak mampu lagi berlari, wanita itu baru melahirkan beberapa saat lalu tapi sudah melewati hal semelelahkan ini.
"aku salah arah, bagaimana ini?" ucap Arumi lirih.
Arumi mendekap erat putrinya, dia takut akan sesuatu yang menginginkan darah putrinya, Arumi kembali bangkit dan berjalan terus ke utara, dia sudah tak peduli ke arah mana dia pergi, yang terpenting baginya sekarang adalah mencari tempat atau orang untuknya berlindung dan memulihkan tenaga.
Di pelariannya tadi Arumi sempat bertemu dengan seekor serigala haus darah yang di ceritakan suaminya, walau tubuhnya lemah dengan tekad kuat untuk melindungi putrinya Arumi mampu mengalahkan serigala dengan mata merah menyeramkan itu, tubuhnya penuh luka cakaran dan perutnya terkoyak cakar serigala itu, namun tak Arumi pedulikan sama sekali.
__ADS_1
Saat hari sudah menjelang pagi Arumi bisa melihat ada kepulan asap di depannya, dia yakin di depan sana ada pemukiman warga, dengan langkah dan nafas yang sudah tak menentu Arumi terus memaksakan tubuhnya.
"bruukk"
Wanita itu terjatuh dan tak mampu bangkit lagi, dia mendengar putri kecilnya menangis, tapi jangankan menenangkan putrinya untuk membuka mata saja dia sudah tak sanggup.
Seorang kakek tua sedang mencari kayu bakar di pinggiran hutan di sekitar rumahnya, kakek tua itu adalah seorang penyendiri yang tinggal sendirian di pinggiran hutan.
"kenapa juga aku kehabisan kayu bakar di pagi buta begini" gerutu kakek itu sepanjang jalan.
Saat tengah asik memungut ranting ranting kayu tiba tiba saja telinganya menangkap suara tangisan bayi.
"oeekk oeekkk"
Kakek itu mengedarkan pandangan kasana kemari, dia menajamkan pendengaran untuk memastikan dari mana asal suara bayi itu, saat sudah yakin kakek itu mendekat ke asal suara, dia terkejut melihat sesosok wanita dengan pakaian berlumur darah sedang mendekap seorang bayi.
"ya gusti, siapa mereka?" ucap kakek itu panik.
Kakek itu mengambil sang bayi dan menggendongnya pelan, dia menepuk lembut tubuh bayi itu agar sang bayi merasa tenang.
"heii apa kau mati?" ucap kakek itu sambil menggoncang tubuh Arumi.
"dia masih bernafas" ucap sang kakek.
Sang kakek menggendong bayi tadi dengan kain yang melilit tubuhnya di bagian depan, lalu menggendong tubuh Arumi di punggunya.
"akhh tulangku" pekik sang kakek saat tulangnya gemertuk tiba tiba.
Sepanjang jalan kakek mampu mendengar deru nafas berat Arumi, sesampainya di rumah dia membaringkan tubuh Arumi dan si bayi bersebelahan, di pandanginya tubuh dan pakaian Arumi yang penuh bercak darah.
Tangan, kaki, juga pipinya penuh dengan goresan, bajunya robek memperlihatkan perutnya yang terkoyak.
Kakek itu meracik obat dan mengoleskan pada tiap luka di tubuh Arumi, pakaiannya yang sudah penuh darah dia tanggalkan dan di tutupinya tubuhnya dengan kain miliknya.
"maaf bukannya aku tak sopan, aku melakukan ini karena pakaianmu sudah tak layak" ucapnya.
Selesai mengobati sang ibu kakek itu beralih pada bayi kecil di depannya, dia memeriksa tiap inci tubuhnya untuk memastikan tak ada luka.
"ibumu benar benar melindungimu sekuat tenaga" ucap sang kakek.
"oeekk oeekk" bayi kecil itu kembali menangis.
"heh kenapa kau bocah bayi?" tanya kakek
"apa bayi ini lapar?" terkanya.
Kakek itu mengambil pisang dari dapurnya, dia menghaluskan pisang itu dan memberinya pada sang bayi, benar saja setelah di beri makan bayi itu diam.
"heh kenapa ibumu belum sadar sadar juga" ucap si kakek pada bayi di gendongannya.
Tak berapa lama terdengar rintihan dari bibir Arumi, si kakek langsung menghampiri ibu sang bayi, wanita itu mengedipkan mata pelan, nafasnya terdengar stabil tapi luka di perutnya masih terus mengeluarkan darah.
"bayiku" lirihnya.
"tak usah pikirkan, pulihkan dulu tubuhmu" perintah sang kakek.
"apa dia terluka?" tanya Arumi.
__ADS_1
"kau ibu yang hebat, tak ada goresan sedikitpun di tubuhnya, tapi kau bodoh dalam melindungi tubuhmu sendiri" si kakek memuji dan mencibir Arumi sekaligus.
Arumi tersenyum mendengar ucapan kakek itu, walau kakek itu terlihat ketus tapi dia telah merawatnya dan putrinya.
"aku tak masalah luka separah apapun, yang penting bayiku selamat, matipun aku tak masalah" ucapnya.
"heh kalau kau mati siapa yang merawat bayimu" ketus si kakek.
"kau" jawab Arumi dengan mata nanar.
"memangnya aku kakekmu, enak saja main meninggalkan bayimu padaku sembarangan" ketus si kakek lagi.
"jadilah kakekku, dan tolong rawat bayiku" pinta Arumi.
"tidak mau, dia ini anakmu jadi kau harus merawat dan membesarkan bayimu sendiri" perintahnya.
"hidupku takkan lama lagi" ucap Arumi.
"saat terlelap tadi aku bertemu dengan alm ayahku, dia mengajakku pergi menemui ibu" ... "entah kenapa aku merasa itu satu pertanda untukku" ucapnya lirih.
Arumi menceritakan perjalanan hidupnya pada sang kakek, dia juga menceritakan jati diri putri dan suaminya, tak ada satupun yang Arumi sembunyikan dari kakek itu, si kakek mengrenyitkan dahi mendengar cerita dari Arumi.
"manusia serigala benar benar masih ada?" tanya sang kakek tak percaya.
"buktinya sudah ada dalam kedapanmu kek" ucap Arumi lagi.
"kenapa kamu menceritakan jati diri anak ini padaku? kau tak takut aku manusia berbahaya? bisa saja aku mencelakainya nanti" ucap si kakek.
"aku tak yakin kau aka sejahat itu, aku tak memiliki siapapun lagi, aku tak kau keadaan suamiku masih hidup atau sudah mati" ucap Arumi lagi.
"kek, kumohon" rintihnya.
"sudah tak usah banyak bicara, pulihkan dirimu" bentaknya.
"aku ingin mendekapnya untuk yang terakhir kali" pinta Arumi.
Kakek itu meletakkan bayi kecil di dekapan sang ibu, Arumi membelai dengan lembut dan mencium tiap inci pipi putrinya.
"ibu sangat menyayangimu Alara" bisik Arumi pada putri kecilnya.
Arumi menghembuskan nafas terakhinya dengan mendekap sang buah hati.
"si*l padahal sudah lebih dari 20 tahun aku tak pernah menangis, berani beraninya wanita ini membuatku menanhis begini" gerutunya.
Si kakek memakamkan Arumi tak jauh dari rumahnya, dia menghembus nafas berat saat memandang bayi di gendongannya.
"malang sekali nasibmu, baru semalam kamu di lahirkan ibumu sudah mati, ayahmu juga tak tau di mana, di tambah lagi kau akan di asuh oleh seorang kakek gila sepertiku" ucap si kakek.
"baiklah bocah, mulai saat ini aku akan menjadi kakekmu, akan ku buktikan pada dunia bahwa kakek gila ini bisa mendidik gadis sepertimu dengan baik" ucapnya mantap.
"pertama tama mari kita pergi membeli susu dan peralatan bayi untukmu boc... ehh Alara ha ha ha" tawanya lantang.
"ahhh aku lupa kalau aku miskin" keluhnya tiba tiba.
Kakek itu meletakkan Alara di sebuah ranjang dipan miliknya, dia melangkah ke arah belakang rumah tepatnya ke kandang domba miliknya, di sana ada seekor domba yang baru di belinya beberapa waktu lalu.
"hmm sepertinya kau harus berkorban demi kelangsungan hidup bocah serigala itu" gumamnya.
__ADS_1
......bersambung.....
jangan lupa dukunagannya ππ