
"kakek aku ingin bicara sesuatu" ucap Alara setelah berlatih tandingbdengan kakeknya.
"katakanlah" ucap kakek Arung sambil mengatur nafasnya.
"aku ingin mencari ayah kek, aku ingin mencari keberadaannya, aku ingin memastikan apa dia masih hidup atau sudah tiada" ucapnya ragu.
"kalau dia sudah tiada bagaimana?" tanya kakek.
"hmm aku harap ayah masih hidup, kalaupun benar dia sudah tiada aku ingin tau di mana letak tempat peristirahatan terakhirnya" ucapnya lirih.
Kakek Arung menghembukan nafas berat, sebenarnya dia juga berharap ayah dari Alara masih hidup, tapi setelah melihat bekas pertarungannya kakek Arung sedikit ragu.
"aku tak bermaksud mematahkan harapanmu, tapi ku pinta kau jangan terlalu berharap dia masih hidup, kau tau kan semakin besar harapan yang tumbuh di hati kita semakin besar juga kemungkinan kita jatuh ke dalam jurang kekecewaan" pinta kakek Arung.
"aku tau kek, aku akan selalu mengingat nasehatmu, aku akan berlapang dada andai saja ayah sudah benar benar tiada, tapi tolong ijinkan aku menumbuhkan harapan kecil bahwa dia masih hidup kek" ucapnya dengan mata nanar.
"aku tak berhak melarangmu Ara, kapan kau berencana pergi?"
"besok kek, aku ingin mencari petunjuk sekecil apapun tentang keberadaannya, dan jika benar dia sudah tiada aku ingin ke tempat keluarga ayah, kakek bilang dulu ibu berpesan padamu kalau aku harus mencari keluarga ayah kan?" ucap Alara.
"yahh dulu dia memintaku untuk menyampaikan pesannya, tapi apa kau benar sudah siap?" tanya kakek Arung.
"aku harus siap kek apapun kenyataannya nanti" jawahnya lirih.
"ini" ucap kakek Arung dengan memberi sesuatu.
"ini belati ayah, kapan kakek mengambilnya? tanya Alara senang.
"tadi pagi" singkat kakek.
"ummm kek, boleh ku tanya sesuatu?
"apa?" tanya kakek Arung heran.
"kenapa dulu kakek mau merawatku, bukankah kakek tak mengenal ibuku sedikitpun, aku sangat penasaran alasan kakek mau merawatku" ucap Alara ragu.
"entahlah aku juga tak tau, entah sihir macam apa yang ibumu gunakan padaku sampai aku bersedia membesarkan bocah sepertimu" ucapnya.
"sihir? bukannya kakek bilang ibuku wanita biasa? kenapa sekarang bilang sihir?" tanyanya heran.
"bukan sihir seperti yang kau pikirkan bodoh, itu haya kata kiasan, jujur saja aku dulu adalah seorang manusia yang penuh dosa, hariku selalu ku habiskan untuk melakukan hal hal tak baik, ketamakanku akan kekuatan membutakan mata hatiku, aku membunuh siapapun yang menghalangiku termasuk keluargaku sendiri, entah apa yang merasukiku sampai aku gelap mata seperti itu,
Aku melakukan perbuatan keji itu dengan perasaan setengah sadar, aku tersadar setelah menghujam tubuh kakakku dengan pedang, sebelum dia tewas dia berkata kalau aku akan menyesal, tapi aku mengabaikan perkataannya dan lari dari desa dan pindah ke desa lain,
Awalnya aku merasakan baik baik saja tapi beberapa saat setelahnya aku selalu mendapatkan mimpi buruk, wajah wajah orang yang tewas di tanganku mengutuk dan bersumpah serapah padaku, malamku tak pernah tenang setelahnya, tapi satu malam aku memimpikan ibuku dia bilang suatu saat aku akan menjadi orang yang berguna,
Aku memutuskan mengasingkan diri kemari dan beberapa tahun setelahnya aku menemukanmu dan ibumu, permintaannya kala itu membuatku teringat akan mimpiku waktu itu, dan yahhhh .. akhirnya aku merawatmu" terang kakek panjang.
"aku tak terlalu peduli alasan apa yang membuatmu mau merawatku kek, tapi aku benar benar berterima kasih padamu, terima kasih banyak karena kau mau merawatku yang sejatinya orang asing bagimu" ucapnya dengan meneteskan air mata.
"aku tak pernah menganggapmu orang asing, sejak hari di mana aku memutuskan untuk merawatmu maka sejak hari itu kau sudah menjadi bagjan hidupku" ucap kakek sembari memeluk Alara.
"terima kasih kek, aku bersyukur mendapatkan kasih sayang darimu" ucap Alara sambil sesegukkan.
"besok pergilah, carilah takdirmu di luar sana, pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar jika kau ingin pulang" terang kakek.
"tentu saja harus begitu, kalau pintu ini tertutup aku akan menjebolnya sampai pintu itu roboh" celetuk Alara.
"astagaa aku menyesal sempat bersedih tadi" ucap kakek Arung.
Mereka kembali berbincang dan saling tertawa, kakek juga kembali menjelaskan cerita yang di ingatnya tentang perjalanan hidup ibu dan ayahnya.
"aku pamit kek, jaga kesehatanmu" ucap Alara sambil memeluk kakeknya sejenak.
__ADS_1
"pergilah, kau juga jaga diri baik baik dan ingat seluruh pesanku" perintahnya.
Alara mengangguk dan pamit pergi, gadis itu berlari di balik remangnya kegelapan karena sang surya belum menampakkan sinarnya.
Kakek Arung menatap kepergian bocah yang sudah di rawatnya belasan tahun, bayi merah itu kini sudah tumbuh dewasa dan pergi jauh darinya.
"ahh si*al, dulu ibunya sekarang anaknya, kenapa mereka berdua membuatku menangis begini" gerutunya kesal.
Sebenarnya kakek tidaklah merasa kesal, dia hanya berusaha menutupi kesedihan atas kepergian Alara, walau gadis itu tak memiliki darahnya tapi gadis itu sudah di anggapnya sebagai satu satunya keluarga.
Alara berlari pelan ke arah selatan, dia mencari cari letak goa tempatnya di lahirkan sesuai petunjuk kakeknya, butuh waktu setengah hari baginya menemukan letak gua itu.
Tubuhnya sedikit bergetar saat kakinya melangkah memasuki goa itu, hatinya berkecamuk dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan.
Kedatangannya di sambut dengan banyaknya kerangka serigala yang berserakan, jika di hitung jumlahnya mungkin puluhan, harapannya sedikit goyah setelah melihatnya.
"petunjuk apa yang bisa ku dapatkan dari sini?" gumam Alara bingung.
Gadis itu berjalan ke arah sebuah batu tempat ibunya melahirkan dirinya dulu, dari sini dia bisa melihat dinding dinding goa yang di penuhi cipratan darah yang sudah mengering.
Dia menundukkan kepala lesu saat membayangkan perjuangan ayahnya melawan serigala di sini, taat sedang tertunduk matanya melihat gumpalan bulu serigala di sekitarnya.
Karena gerombolan serigala itu mati dan tubuhnya terurai di sini tanpa ada binatang lain yang menyantap jadi bulu bulu mereka berserakan di mana mana.
"bukankah ayahku serigala berbulu putih sepertiku? kulihat di sini hanya ada bulu berwarna hitam" ucapnya sedikit semangat karena harapanya kembali tumbuh.
Untuk memastikan keyakinannya dia berjalan menjelajahi seluruh sudut goa, dia juga mengintari bagian luar untuk memastikan tak menemukan bulu bulu ayahnya, wajahnya sedikit sumringah karena dia benar benar tak menemukan bulu berwarna putih.
"aku masih memiliki harapan bahwa ayah masih hidup, aku akan mencarimu dengan petunjuk sekecil apapun ayah" ucapnya.
"tapi kemana dan di mana aku bisa mendapat petunjuk tentang keberadaanmu ayah?" ucapnya kembali tertunduk.
Seakan tak mau terlalu lama merasa bingung, Alara memutuskan untuk berjalan ke arah selatan, dia akan berjalan sambik sedikit menyusurinya.
Bukan tanpa alasan kakeknya menyuruhnya demikian, tampilan dan fisik Alara barang tentu akan menarik banyak perhatian jika dia lewat jalan umum.
Sebenarnya fisik Alara sama seperti manusia pada umumnya, tapi rambut dan bola matanya sangat berdeda, rambut putihnya panjang sampai sepinggang, perawakannya kecil walau porsi makannya luar biasa banyak.
Alara memakai jubah besar berwarna hitam, bagian bawahnya hanya sampai lutut tapi bagian penutup kepalanya lebih dari cukup menutup sampai seluruh wajahnya, dan itu membuat tampilannya sedikit misterius.
***
"ibu aku ingin makan daging" rengek bocah lelaki pada ibunya.
"iya ibu tau, kita do'akan semoga ayahmu dan temannya mendapat buruan hari ini" ucap ibunya sambil mengumpulkan ranting kayu di sekelilingnya.
"kalau tidak dapat bagaimana? aku bosan hanya makan ubi dan sayuran setiap hari" keluh bocah itu.
"kamu jangan berbicara begitu, ubi dan sayur juga sangat baik untuk pertumbuhanmu, kamu harus bersyukur akan semua itu, karena di luar sana masih banyak orang orang yang kelaparan karena tak memiliki apapun untuk di makan" nasehat si ibu pada putranya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yeng sedang memperhatikan dan mencuri dengar obrolan mereka, pagi itu Alara sedang beristirahat sejenak di atas pohon dan tanpa sadar memperhatikan obrolan ibu dan anak itu.
"hmmm apa ibuku juga akan menasehatiku seperti itu jika aku mengeluh?" gumamnya.
Walau Alara tak kekurangan kasih sayang dari kakeknya, tapi itu semua tak menutup keinginannya yang mendambakan kasih sayang dan kehangatan seorang ibu.
Alara meloncat turun setelah orang yang di perhatikannya telah pergi jauh, dia berlari ke dalam hutan dan mencari binatang yang bisa di burunya, panahnya dengan cepat melesat pada seekor rusa yang terlihat di balik semak.
"hmmmm pengorbananmu takkan sia sia wahai rusa" ucapnya.
Alara menenteng rusa yang ukurannyanya hampir setengah dari tubuhnya hanya dengan satu tangan, dia kembali ke tempat di mana mendengar obrolan ibu dan anak tadi.
Sampai sana dia mengendus aroma orang tadi untuk mencari di mana mereka tinggal, dia terus melangkah sampai akhirnya menemukan beberapa rumah berdiri di pinggiran hutan.
__ADS_1
Dari kejauhan dia melihat bocah tadi tengah asik menata kayu di pinngiran rumahnya.
"pemukiman ini terlalu kecil untuk di sebut sebagai desa kecil sekalipun" gumamnya.
Alara melangkah mendekati bocah tadi.
"permisi, apa ibu ada di rumah?" tanya Alara pada sang bocah.
"ada, kaka siapa?" tanya bocah tadi heran.
"aku hanya orang yang lewat sini" jawabnya.
"apa kakak tersesat?" tanya bocah itu mendekat.
"ahh tidak juga, aku hanya ingin bertemu ibumu sebentar, boleh?" tanya Alara lagi.
"boleh, akan aku panggilkan, kakak tunggu sebentar"
Tak berapa lama bocah tadi muncul bersama ibunya, entah apa yang bocah itu katakan pada ibunya sampai raut wajah ibunya agak bingung.
"ada apa nona mencari saya?" tanya ibu itu.
"aku hanya ingin memberikan ini" ucapnya sambil menyerahkan rusa yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"astaga rusa, ini benar untuk saya? kenapa anda memerikan ini pada saya nona?" tanyanya tak percaya sekaligus senang.
"ummm aku hanya merasa takkan sanggup menghabiskannya sendirian" jawabnya canggung.
"wahh asikk hari ini makan daging, teman teman ibuku dapat seekor rusaaa!" teriak bocah itu memanggil temannya.
"ahh maafkan kelakuan putraku, dia terlalu senang sampai teriak teriak begitu" terang ibu itu tak enak.
"tidak apa apa, aku akan pergi dulu" ujar Alara pamit.
"tunggu nona, jika anda berkenan bermalamlah di sini, warga di sini biasa makan malam bersama kalau dapat buruan sebesar ini, saya harap anda berkenan ikut makan bersama kami karena rusa ini pemberian anda" pinta ibu itu.
"mmmmm tapi .."
"ayolah nona, warga sini pasti akan memyambutmu, kau sudah sangat baik memberi ini pada kami" bujuknya.
"ya baiklah" ucapnya pelan.
"ahh syukurlah, aku akan meminta ibu ibu lain untuk segera membersihkan dan memasak ini, nona tunggulah di rumah eh gubuk saya" ucapnya semangat.
Memang benar, dari pada di sebut rumah bangunan yang Alara masuki lebih mirip gubuk, dari dalam rumah Alara bisa melihat para ibu gotong royong mengolah rusa yang di bawanya, anak anak juga terlihat bahagia karena akan segera makan daging, tapi ada sesuatu yang aneh menurutnya.
"kenapa hanya ada anak anak dan wanita di sini? kemana para lelakinya?" tanya Alara pada diri sendiri.
"ayah dan temannya sedang berburu" jawab seorang bocah tiba tiba.
"astagaa kau mengagetkanku" ucap Alara mengelus dada.
"hehe maaf" ucap si bocah polos.
"hmm siapa namamu?" tanya Alara.
"namaku Damar, kalau kakak siapa? dan kenapa kakak berkeliaran di hutan sana?" tanya bocah itu penasaran.
"aku Alara, aku sedang mencari seseorang" jawabnya lagi.
"kakak tidak takut sendirian di hutan?" tanya Damar penasaran.
"umm tentu saja takut, tapi kalau aku tak melawan rasa takut itu akan takkan bisa bertemu dengannya" terang Alara.
__ADS_1
....bersambung.....