
"ja-jadi ibumu manusia? ka-kauu..."
"tenangkan dirimu Raka" potong kakek Permana.
"tapi ayah.."
"aku tau, boleh kakek tanya sesuatu cucuku? tanyanya pada Alara.
"katakan saja kek"
"ekhem .. begini kalau ibumu manusia kenapa aku tak bisa memcium aroma darah itu dari tubuhmu?" tanya kakek Permana ragu.
"aroma darah campuran milikku?" tanya Alara memastikan.
"iyaa.."
"mungkin karena ini" ucap Alara mengeluarkan sebuah botol dari jubahnya.
"apa ini?" tanya kakek penasaran.
"ini ramuan khusus yang di racik kakek Arung untukku, aku selalu meminumnya setiap setelah purnama, kakek bilang ramuan ini bisa meyamarkan aromaku" terang Alara jujur.
"aaaaa kakek Arung yah, sepertinya aku harus mengucapkan banyak terima kasih padanya" ucap kakek Permana pelan.
"boleh kakek lihat matamu?" tanya kakek Permana.
Alara langsung menganggukkan kepalanya, kakek Permana terlihat sangat kagum dengan apa yang di lihatnya, mata biru milik leluhurnya terdahulu kini ada pada mata cucunya.
Mata biru hanya di miliki oleh keturunan serigala putih pertama, keturunan langsung dari leluhur manusia yang merupakan seorang wanita sakti, kakek Permana tak pernah membayangkan bisa melihat mata indah itu dengan kedua matanya sendiri, apalagi yang dia tahu mata biru hanya pernah terlahir sekali 700 tahun lalu.
"sangat cantik" gumam kakek.
"ahh ini pakai kembali kalung ini" ucapnya menyerahkan kalung.
"kakek aku ingin tanya satu hal" ucap Alara.
"katakan cucuku" ucap kakek.
"kakek bilang dulu ayah menyebutku sebagai anak yang sangat spesial, tapi sebenarnya apa spesialnya diriku? kenapa para serigala tak berakal mengincarku sejak kelahiranku?" tanya Alara penasaran.
"kenapa kau menanyakan itu? tanya kakek.
"aku hanya penasaran, karena .. karena kelahiranku ibuku tiada, dan ayah ..." ucap Alara murung.
"apa kau merasa menyesal lahir ke dunia ini?" tanya kakek penasaran.
"ituhhh ... aku tak tau kek" lirihnya.
"hmm baiklah, aku akan menceritakan sedikit silsilah keluargaku, kau mau mendengar?" tanya kakek.
Alara mengangguk dan mendengarkan dengan seksama, begitu juga Raka yang tampak penasaran dan ingin ikut mendengar.
"sekitar 700 tahun lalu kakek leluhurku adalah satu satunya manusia serigala dewasa yang masih memiliki akal, dia meninggalkan saudara saudaranya yang sudah kehilangan akal karena terlalu mabuk darah manusia.
Dia berkelana jauh dari tempat asalnya lalu di sini dia bertemu dengannya, seorang wanita sakti dengan mata biru yang sangat indah, tapi sayang keindahannya di anggap pembawa petaka oleh penduduk di sekitarnya, dan itu membuatnya mengasingkan diri di sini sendirian,
Awalnya kakek leluhur hanya menampakkan wujud serigala di depan manusia tersebut, tapi kesaktiannya ternyata mampu mengetahui siapa kakekku yang sebenarnya, wanita itu meminta kakekku berubah ke bentuk manusia dan anehnya kakekku langsung menurut,
Tapi hal yang paling aneh wanita itu ingin menikah dengan kakekku, beberapa saat setelahnya mereka memiliki sepasang anak kembar, anak mereka terlahir putih seputih salju, yang satu manusia serigala biasa dan yang satu menuruni segala kesaktian serta mata biru ibunya,
Tapi kesalahan terbesar kakekku adalah tak menyadari adanya bahaya yang mengintai, anak spesial tersebut tewas saat mendapat penyerangan dari kelompok serigala gila, kakekku juga hampir tewas saat mempertahankan satu anaknya,
Namun hal mengejutkan muncul dari wanita tersebut, wanita yang biasanya lembut, setelah anaknya mati dia mengamuk dan membantai seluruh serigala gila yang menyerangnya, dia menggunakan segenap kemampuan untuk menghabisi mereka dan menciptakan pagar gaib yang membentengi tempat ini,
Tapi karena dia tak mengontrol kekuatannya tubuhnya langsung kalah, dia beberapa kali muntah darah sebelum lenyap begitu saja, dan dia berkata suatu saat nanti akan lahir kembali keturunan dengan mata biru yang akan memiliki kekuatan luar biasa, dia akan mampu menguasai suatu elemen khusus,
Anak itu akan terlahir dengan tanda lahir khusus di keningnya, boleh kakek tahu tanda lahir apa yang ada padamu?" tanya kakek mengakhiri cerita.
"tanda lahir, ini?" ucapnya membuka rambut yang menutup kening.
__ADS_1
"ta-tanda ini .. aku tak salah lihat?" tanya kakek kaget.
"kenapa ayah?" tanya Raka langsung menghampiri.
"ini-tanda ini .."
"kenapa kek?" tanya Alara panik.
"huhh huhhhh, sebentar" ucap kakek sambil menarik nafas dalam dalam.
"kakek leluhurku meninggalkan sebuah catatan, Raka ambil buku yang ada di sana" perintah kakek.
Raka langsung mengambil dan dan memperlihatkan pada Alara dan Raka.
"kau lihat di sini ada tiga tanda lahir dengan kemampuan khususnya
🔥: ini menandakan siapapun anak yang terlahir dengan tanda api ini mampu menguasai elemen api
⚡: ini menandakan siapapun anak yang terlahir dengan tanda petir mampu menguasai dan mengendalikan petir
🌙: dan tanda ini adalah tanda milikmu, ini menandakan kau mampu menciptakan hawa dingin, juga es di sekitarmu" terang kakek.
"es? apa kekuatanku yang paling lemah, kenapa kekuatanku kedengarannya tak sekeren tanda api dan petir" ucap Alara.
"tidak, justru kekuatanmu yang paling besar dan kuat"
"mksd kakek?" tanya Alara bingung.
"pemilik tanda api hanya bisa menguasai elemen api saat matahari terbit, saat tenggelam dia hanya manusia serigala biasa, tapi jika ada sumber api di dekatnya dia masih bisa mengendalikannya.
Pemilik tanda petir adalah kebalikannya, dia menguasai petir saat matahari tenggelam dan saat hujan,
Tapi tanda bulan sabit milikmu sangat berbeda, kau bisa menggunakannya kapanpun dan di manapun karena kekuatanmu bersumber dari udara, selagi ada udara di sekelilingmu maka kau mampu membekukan SEBUAH PULAU sekalipun, dan kau tau? jika beruntung kau juga bisa menguasai mata bulan dan api biru, api terpanas di dunia" terang kakek menekankan.
"se-sehebat itukah ayah?" tanya Raka tak percaya.
"kekuatanmu akan bangkit sebentar lagi" ucap kakek memotong.
"kapan itu?" tanya Alara penasaran.
"saat gerhana bulan merah, tepat saat usiamu 15 thn" ucap kakek menjelaskan.
"apa yang harus ku lakukan saat itu terjadi?" tanyanya penasaran.
"kau tentu tau bagi manusia serigala sepertiku dan ayahmu setiap tahun kami akan merasakan sakit di sekujur tubuh, tapi selama 14 tahun tidak terjadi padamu bukan?" tanya kakek.
"hemp" Alara mengangguk.
"di usiamu ke 15 kau akan merasakan seluruh kesakitan yang tak pernah kau rasakan selama 14 tahun, bisa di katakan seluruh kesakitan itu akan datang secara bersamaan padamu" ucap kakek.
"apa?" pekik Raka.
"ke-kenapa paman?" tanya Alara bingung.
"kau tak tau sesakit apa tubuh kami setiap tahun, dan kau akan merasakan sakit belasan kali lipat dari apa yang kami rasakan, aku tak bisa membayangkan kengeriannya" ucap Raka.
"apa aku akan mati?" ucap Alara takut.
"tentu saja tidak, tapi kau mungkin akan kehilangan kendali tubuh untuk beberapa saat, itu adalah harga yang harus kau bayar untuk kekuatanmu, kau tak perlu takut karena itu sudah takdirmu" ucap kakek berusaha menenangkan.
"akhh membayangkan saja aku ngeri kek" lirihnya.
"tak perlu takut, takdir tak mungkin salah memilihmu" ucapnya lagi.
"hmm yaah mungkin saja" ucapnya lemas.
"greeep" .. "tak perlu khawatir, kau pasti bisa" ucap Raka sambil merangkul pundak.
"apaan laki laki ini? beberapa waktu lalu dia kasar padaku dan sekarang?" batin Alara.
__ADS_1
Raka mengantar Alara ke kamar milik Rangga, kamar yang sudah 20 tahun kosong tapi masih terawat, ini menandakan kalau kamar ini selalu di bersihkan setiap hari.
"paman, aku tak melihat nenek" tanya Alara pada Raka.
"nenek? ah ibu .. beliau sudah tiada" jawab Raka lirih.
"ehhh maaf, aku tak tau" ucap Alara tak enak.
"tak apa .. kakakku juga pergi karena kematian ibu" ucap Raka pelan.
"karena kematian nenek?" tanya Alara penasaran.
"ya .. Rangga adalah anak yang berbeda denganku, aku dari kecil lebih dekat pada ayahku, sedangkan Rangga sangat dekat dengan ibu, saat ibu meninggal dia merasa sangat kehilangan, beberapa hari setelahnya Rangga memutuskan untuk berkelana ke dunia luar sana untuk menghapus atau sekedar mengurangi kesedihannya, tapi sampai sekarang dia tak pernah kembali" tuturnya lirih.
"bukankah kau tak sopan memanggilnya begitu, dia kan kakakmu" ucap Alara tak terima.
"ahhh kau ini, kami hanya berbeda beberap menit saja" ucapnya.
"eehh beberapa menit? kalian kembar?" tanya Alara.
"yaa bisa di katakan begitu, kami kembar tapi juga sangat berbeda" ucapnya.
"hah? aku tak mengerti" ucap Alara bingung.
"sifat dan kepribadianku sangat berbeda dengannya, dia itu adalah orang yang sangat dingin, bahkan perkataannya juga sangat pedas, makanya aku tak percaya saat kau bilang Rangga adalah ayahmu, kupikir dia takkan menikah jika mengingat sifatnya yang seperti itu" terangnya.
"oohh begitu" jawab Alara manggut manggut.
Setelah bercerita banyak hal Raka pergi meninggalkan Alara agar bisa beristirahat, dari apa yang di ceritakan Raka gadis itu memiliki gambaran bagaimana penampilan ayahnya, hanya saja jika benar ayahnya adalah lelaki dingin yang suka berkata pedas maka sudah bisa di pastikan bahwa dia mewarisi 100% watak ayahnya.
Alara mulai memikirkan banyak hal, andai ayahnya masih hidup kenapa dia tak pernah kemari? alasan apa yang membuatnya tak kembali ke sini, dia juga bingung kalau harus mencari ayahnya keluar sana tanpa petunjuk.
"haahhhh di dunia seluas ini entah kemana aku harus mencari ayah" keluhnya.
Sementara di luar sana kakek dan pamannya sedang berbincang tentang bagaimana cara mengendalikan kekuatan Alara jika bangkit nanti, sudah hal pasti kalau kekuatan sebesar itu bangkit maka besar kemungkinan keberadaan Alara bisa terendus oleh para serigala gila.
Raka berpendapat untuk menyuruh Alara menetap di sini, tapi kakek Permana yakin bahwa gadis itu akan sama keras kepalanya dengan Rangga, jadi dia berpikir ingin mengajarkan cara yang dia tau untuk mengendalikan kekuatan dan menyembunyikan aroma darahnya.
Paginya Alara di bangunkan dengan suara ketukan keras dari Raka.
"aihh padahal aku baru saja terlelap" gumamnya lirih.
"kenapa paman?" tanya Alara malas.
"kau ini anak gadis tapi malas sekali" oceh Raka.
"aku baru saja tertidur, kenapa juga paman mengomeliku begitu?" ucap Alara sebal.
"ahh maaf, sekarang bersiaplah, ayah ingin memperkenalkanmu pada seluruh warga di sini" perintahnya.
"memperkenalkanku? untuk apa?" tanya Alara heran.
"hei tentu saja agar semua tau bahwa kau adalah anak Rangga" jawab Raka.
"apa itu harus paman? aku tak nyaman" keluhnya.
"apa yang membuatmu tak nyaman? kita semua di sini adalah keluarga, kita semua sama sama manusia serigala berambut putih" ucapnya.
"aku benci situasi itu, tolong jelaskan pada kakek" ucapnya dengan menutup pintu.
"braakkk"
"astagaaa! dia benar benar anak Rangga" ucapnya sambil mengelus dada.
....bersambung.....
semoga terhibur yah
jangan lupa dukungan untuk menyemangati author😁
__ADS_1