The Werewolf

The Werewolf
29. Tuan muda Nugroho


__ADS_3

Sudah hampir satu tahun Alara menelusuri berbagai tempat bersama Duwan dan Kai, entah sudah berapa hutan yang mereka lewati untuk mecari keberadaan Rangga, ayah Alara.


Rasanya sudah hampir hilang harapan Alara bertemu ayahnya, tak ada petunjuk apapun tentang keberadaan ayahnya, bahkan meski kemampuan oenciumannya sudah berkali lipat Alara tetap tak bisa mencium bau ayahnya.


"kalaupun sudah mati setidaknya beri aku petunjuk dasar ayah brengs*k!" teriak Alara tiba tiba.


"astagaaa ! lihat Kai" ucap Duwan.


"biarkan saja, majikan sedang frustasi" ucap Kai santai.


Saat ini Alara, Duwan dan Kai berada di hutan ujung wetan (timur), hutan yang sangat besar dengan banyak sekali binatang dan berbagai tumbuhan langka di dalamnya, Duwan mengumpulkan beberapa tumbuhan yang bisa di jualnya di pusat obat nanti.


Selama satu tahun ini, Duwan mengumpulkan dan menjual tumbuh tumbuhan berharga yang di temuinya di hutan, semenjak Alara memintanya menghasilkan uang Duwan selalu menjual apapun yang menurutnya berharga.


Dengan berlimpahnya tumbuhan berharga yang di panennya kali ini, Duwan sangat yakin uang yang di dapatnya akan sangat banyak nanti, pemuda itu berencana menjual tumbuhan miliknya ke pusat obat terbesar yang ada di kota ujung wetan.


Meski hutan ini berada di timur kota tersebut sangat jarang ada orang yang memasuki hutan ini, selain banyaknya binatang siluman di sini, hutan ini juga di lindungi oleh kabut ilusi yang membuat orang orang bingung.


Entah dari mana dan siapa yang melindungi hutan ini dengan kabut ilusi, yang jelas sosok yang melindungi hutan ini sudah pasti seseorang yang memiliki kesaktian luar biasa.


"hei kau tak lapar dari tadi terus teriak begitu?" tanya Duwan.


"aku tak nafsu makan" ucap Alara.


"sudahlah, kalau berjodoh kau pasti bertemu ayahmu" ucap Duwan menenangkan.


"makan dulu majikan, daging ini rasanya sangat enak karena di beri bumbu" ucap Kai.


"huhhh ya ya" ucap gadis itu langsung makan.


Selama ini Kai memiliki tugas berburu makanan, Duwan yang memasak dan menghasilkan uang, sementara Alara yang bertugas membereskan orang orang yang berusaha menghalangi jalan.


Tak ada kelompok tertentu yang menghalangi jalan mereka, hanya sempat beberapa kali bertemu para bandit dan berpapasan dengan rombongan bangsawan.


Seperti yang sudah sudah gadis itu sangat tak suka dengan para bangsawan yang di jumpainya, selain sikap mereka yang sok berkuasa mereka juga memiliki sifat angkuh dan gemar menuduh.


Entah sudah berapa kali Alara berdebat dengan para pengawal rombongan bangsawan, gadis itu berusaha mati matian menahan diri untuk tidak mencakar wajah para pengawal itu.


Duwan juga dengan sabar menasehati Alara untuk tidak membuat masalah dengan rombongan bangsawan manapun, karena sebagai mantan keluarga bangsawan dia sangat tau bagaimana sistem mereka bekerja.


Menurut mereka orang orang yang berkuasa dan memili uang adalah raja, mereka takkan salah meski sudah berbuat salah, apapun tindakan mereka selalu di anggap kebenaran.


"Ara bagaimana kalau setelah ini kita ke pusat kota" ajak Duwan.


"bukannya kita belum menyusuri hutan ini"


"iyaa tapi kita harus segera menjual tanaman itu sebelum layu" tunjuk Duwan pada setumpuk tanaman.


"huhh ya sudah" ucap Alara.



"kabutnya tebal sekali, padahal ini bukan malam tapi suasana benar benar seperti malam hari" batin gadis itu.


Sebenrnya gadis itu sekarang jauh lebih mudah mengalah di banding sebelumnya, meski sifatnya masih sama ketusnya seperti dulu tapi dirinya sekarang lebih mudah di atur, bahkan gadis itu berhasil berkali kali menahan emosi.


Alara duduk bersila di atas tubuh Kai, gadis itu terlihat masih dongkol karena belum menemukan apapun tentang ayahnya, sementara Duwan tengah kerepotan membawa banyak tanaman herbal di pundaknya.


"heii tolong bantu aku sedikit" keluh Duwan.


"dasar pemuda lemah" ketus Alara.


"aku ini manusia biasa, jangan samakan stamina dan kdkuatanku dengan kalian" ucap Duwan membela diri.


"salah sendiri, siapa suruh kamu ngikutin siluman dan manusia serigala sepertiku" ucap Alara tak mau kalah.


"hei nona, kenapa hari ini marah marah terus, kau sedang datang bulan yah?" ucap Duwan.


"tutup mulutmu atau ku robek sampai tak berbentuk" ucap Alara mengancam.


"baik nyonya" ucap Duwan langsung menurut.


Jujur saja kadang Duwan lupa gadis cantik yang selama ini bersamanya adalah seorang manusia serigala, meski perilakunya sudah tak seburuk dulu tapi tetap saja sesekali gadis itu kembali berperilaku dan berkata kasar.


"ahh si*l, kenapa semakin menyebalkan perilakunya semakin aku menyukainya?" batin pemuda itu.


Tak terasa mereka berdua sudah tak jauh dari gerbang kota ujung wetan, Alara langsung memerintahkan Kai masuk ke tubuhnya, jubahnya yang sekarang sering tak iya kenakan langsung dia kenakan dengan rapat.


Duwan tampak sumringah karena tak sabar menukar tumbuhan miliknya dengan setumpuk koin emas, apalagi hampir setengah hari dia berjalan dengan membawa beban di pundaknya, akhirnya mereka berdua mengantri untuk masuk ke dalam.


"dua puluh keping perak untuk satu orang" ucap penjaga gerbang.

__ADS_1


"mahal sekali, bukannya biasanya hanya sepuluh keping" ucap seorang lelaki yang mengantri di depan Alara dan Duwan.


"sudah beberapa hari yang lalu biayanya jadi dua puluh keping, kalau tak mau pergi saja sana" ucap penjaga gerbang.


"tapi aku hanya memiliki sepuluh keping saja tuan" ucapnya.


"ya sudah pergi saja sana" usir penjaga gerbang.


"brakk .. satu keping emas untuk kami bertiga" ucap Duwan.


"ohh baiklah tuan muda, sana kau masuk juga" bentaknya.


"selanjutnyaaa"


"terimakasih tuan muda sudah membantu saya" ucap lelaki tadi.


"tak masalah paman, kami pergi dulu" ucap Duwan.


"tunggu" ucap Alara.


"kenapa?" tanya Duwan bingung.


"kau .. paman Wira?" tanya Alara.


"ehhh benar, nona muda ini siapa ya?" tanya lelaki bernama Wira.


"mawar putih di balik bukit" ucap Alara dengan membuka sedikit jubahnya.


"mawar putih? astaga nona Alara" ucap Wira girang.


"apa kabar paman?" tanya Alara.


"saya tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan nona, apalagi di tempat sejauh ini" ucapnya tak menyangka.


"heiii kalian berdua saling kenal?" tanya Duwan bingung.


"ahh iyaa sekitar satu tahun lalu nona Alara sudah membantu saya" ucap Wira sopan.


"membantu apanya? bukannya aku menghajar paman sampai babak belur haha" ucap Alara.


"yaa karena di hajar nona saya jadi sadar hehee" tawa Wira canggung.


"paman kenapa kemari?" tanya Alara.


"ya sudahh kalian berdua berbasa basi dulu, aku pergi dulu ya" ucap Duwan.


"tunggu sebentar" ucap Alara menarik baju Duwan.


"apalagi?"


"uang, beri aku uang" ucap Alara.


"brukkk .. silahkan pakai sepuasnya nyonya" ucap Duwan pergi setelah memberi sekantung uang.


"ha haaa bagus sekali" ucap Alara senang.


"paman ayo kita makan" ajak Alara menarik tangan.


"tapi nona.."


"tak ada penolakan" ucapnya tegas.


"ba baikk" jawab Wira menurut.


Alara menggandeng Wira memasuki sebuah restoran mewah dua lantai, Wira berkeringat dingin karena tidak memiliki uang untuk membayar makanan nanti, tapi dia tak berani menolak karena dia masih ingat betul seganas apa gadis yang menggandengnya.


"maaf nona, meja di lantai satu sudah penuh"


"kalau begitu lantai dua saja"


"anda perlu membayar lima sepuluh perak untuk masuk ke atas"


"iniii, sekalian sajikan makanan yang lezat" ucap Alara memberi sekeping emas.


"baiklah nona, mari saya antarkan" ucap pelayan ramah.


Sampai atas hanya ada enam meja saja, dan hanya dua meja yang terisi termasuk Alara, dengan santainya gadis itu duduk dan menunggu makann, sementara Wira masih berdiri di samping meja karena bingung.


"paman tidak duduk? apa pantatmu bisulan" ceplos Alara semaunya.


"e bukan ehh tidak"

__ADS_1


"astaga mulutnya masih sama seperti dulu" batin Wira.


"trus kenapa tidak duduk?" tanya Alara.


"emmm apa pantas saya duduk bersama nona?" ucap Wira ragu.


"apa paman masih takut padaku?"


"glekkk ... (benar sekali) .. aaaa ituuu itu.."


"silahkan nikmati hidangannya selagi hangat" ucapan Wira terpotong.


"woaaahhhh, apa paman minum arak?" tanya Alara.


"ti tidaaak nona" jawabnya terbata.


"ohh ya sudah tunggu apa lagi, ayo makan" ajaknya.


"baiklah"


Wira hanya berani mengambil sedikit makanan, meski dia sangat tergiur dengan olahan daging di depannya tapi dia tak berani mengambilnya, meski gadis di depannya bersikap ramah, siapa yang tau kalau tiba tiba dia mengamuk karena dagingnya di ambil.


"apa paman tak suka daging? kenapa sdjak tadi hanya makan sayur?" tanya Alara.


"tidak apa, ini saja sudah cukup" ucapnya.


"heiii paman, kau itu harus makan yang banyak, lihat tubuhmu yang kurus itu, kemana otot besarmu menghilang?" ocehnya sambil memberi banyak daging pada Wira.


"nonaa ini ..."


"makan!" ucapnya penuh penekanan.


"i iyaaa"


Dengan lahapnya Wira memakan daging pemberian Alara, terlihat sangat jelas kalau selama ini lelaki paruh baya di depannya itu hidup susah, dengan senang hati Alara kembali pesan makanan untuk Wira.


"ha ha haaa makanmu seperti anj*ng kelaparan paman" ucap Alara.


"terserah lah nona mau bilang anj*ng atau bab*" ucap Wira tak peduli.


"ha haa aku hanya bercanda, paman tak perlu marah begitu"


Alara salah mengira, bukannya Wira marah dengan ucapannya, hanya saja dia terlalu menikmati makanan di depannya, sampai lelaki itu tak peduli perkataan seperti apa yang keluar dari mulut gadis di depannya.


Selama setahun ini hidup Wira berubah total, dari yang awalnya kelompok sok penguasa di kota kecil dulu, sekarang Wira hanya seorang pemburu biasa yang sangat jarang mendapat buruan, tak jarang lelaki itu kelaparan karena tak memiliki uang untuk membeli makanan.


"braakkk .. ahhh si*l, hei bab* kalian membuatku tak nafsu makan" ucap seseorang di meja sebelah Alara.


"pluukk .. ma maaf tuan" ucap Wira langsung berhenti makan.


"maaf untuk apa paman? .. hehh kalau mau makan ya makan saja, kenapa juga kami membuatmu tak nafsu makan" ucap Alara.


"kau? beraninya berkata tak sopan begitu pada tuan muda" bentak lelaki tua di sebelahnya.


"tuan muda?" ucap Wira.


"kalian tak tau siapa tuan muda? dia adalah tuan muda Aji Nugroho, putra dari tuan kota ini" ucapnya lagi.


"tuan muda Nugroho ?" ucap Alara.


"yaa"


"ohhh aku ngga tau tuh" ucap Alara melanjutkan makan.


"dasar gadis kurang aj*r" ucapnya dengan melayangkan piring ke arah Alara.


"praang" piring itu hampir saja mengenai kepala Alara jika tidak dia tangkis


"brakkk .. ahhh si*l, hari ini aku sedang kesal, berani beraninya mengangguku" ucap Alara.


"no nonaa.."


"minggir paman!"


"ta-tapi nona"


"minggir"


"deggg .. iyaa"


"buaaaak .. aaaahk .. bruuuk" tanpa aba aba Alara memukul pemuda di depannya dengan kursi kayu yang tadi di dudukinya.

__ADS_1


"maju sini kau kakek tua"


....bersambung...


__ADS_2