
"braakkk .. jadii jadi kalian" ucap Duwan tertahan karena marah.
"i-itu kehendak paman" ucap Jeno ketakutan.
"hhh benar benar picik, kalian semua picikk" teriaknya.
Rangga yang tak tau apapun hanya bisa melongo di pinggiran, Alara berdiri tegak dengan melipat tangan ke dada, Duwan sendiri berkali kali menjungkir balikkan meja karena amarahnya.
Para pengawal yang di bawa Jeno berlutut berbaris di belakangnya, Jeno sendiri bersujud ketakutan karena tak bisa melawan Duwan dan sahabatnya.
"untuk apa marah begitu, NYAWA GANTI NYAWA gampang kan" ucap Alara pada Duwan.
Jeno yang mendengarnya semakin ketakutan, keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya, tubuhnya juga bergetar hebat karena ketakutan akan kematian.
"tidak! terlalu enak untuknya kalau mati"
"kalian cepat pegang manusia ini" perintah Duwan pada pengawalnya.
"a-apa yang kau inginkan? aku sudah memberi seluruh uangku kan?" tanya Jeno panik.
"uang itu untuk mengganti rugi kerusakan di sini, urusanmu denganku masih belum selesai" ucap Duwan menyeringai.
"pegang dia atau kalian semua mati?" ancam Alara.
Bergegas para pengawal itu memegang Jeno dengan kuat, mereka juga tak ingin buru buru mati karena alasan konyol.
"aku takkan membunuhmu kakak, tapi aku ingin memberi pelajaran berharga bagimu dan keluargamu"
"pegang dia dengan erat" lanjutnya.
"duaakkk .. aaarrrhhhh" tangannya di hantam dengan kursi kayu oleh Duwan dan bisa di pastikan tulangnya patah.
"pegang kakinya"
"j-jangan Duwan jangan, kumohon" pintanya.
"cepat pegang kakinya" teriaknya.
"buuggh .. bakkk .. bughh .. gaaaaarrhhhhhh" teriak Jeno memekikan telinga.
Entah setan apa yang merasuki Duwan malam itu, setelah tau keluarganya mati di tangan keluarga besar amarahnya langsung meluap, apalagi alasan mereka membunuh hanya karena bisnis gelap mereka di ketahui oleh ayah Duwan.
Keluarga besar Duwan ternyata sudah berpuluh tahun melakukan bisnis ilegal, mereka memperjual belikan budak pada banyak kerajaan, bisa di katakan mereka menjual rakyat negeri sendiri.
Saat ayah Duwan mengetahui sudah pasti ayah Duwan menjadi ancaman besar, apalagi jumlah budak yang di jual sudah tak terhitung, maka sudah pasti hukum pancung atau gantung jatuh pada mereka.
Setelah puas melampiaskan amarah Duwan duduk berlutut dan menangis, tangis dalam diam ataupun rintihan itu benar benar menyayat hati, sementara Jeno tak sadarkan diri setelah kedua kakinya patah.
"antar dia ke dekat kotanya dan tinggalkan saja" perintah Alara.
"ti-tinggalkan?"
"hmm, kalau kalian mau mengantarnya sampai rumah sudah pasti kalian akan di hukum mati karena tak bisa menjaga tuan muda kalian" jawab Alara pergi.
Rangga hanya mematung layaknya orang bodoh, baru beberapa hari bersama putrinya dan temannya dia masih merasa sangat asing, saat ini yang dia tau hanya sebatas masalah yang di hadapi teman putrinya.
"mau sampai kapan kamu begitu? kakimu ngga kesemutan?" tanya Alara.
"ahh maaf" ucapnya langsung berdiri.
"hyuung .. bruukk"
"nahh kan? pasti kesemutan" ucap Alara.
"hehee iyaa" jawab Duwan.
"setelah menangis kau tertawa? wah wahh sudah gila rupanya" celetuk gadis itu santai.
"hah? kenapa putriku tak mewarisi sedikitpun watak ibunya? kenapa watak burukku menurun 1000% padanya" batin Rangga.
"ayo kita cari penginapan" ajak Alara mengulurkan tangan.
"gendong" rengek pemuda itu tiba tiba.
"mau mati yah?" ucap Alara langsung pergi.
"hei aku hanya bercanda! hooi gadis liar tunggu!" teriaknya.
__ADS_1
"apa katamu? gadis liar?"
"dukkk ... gyaaaaaaa" teriak Duwan setelah kakinya di tendang oleh Alara.
Pemuda itu jalan pincang mengikuti gadis di depannya, masih terasa begitu tersiksa saat kakinya yang kesemutan dengan sengaja di tendang.
Semalaman mereka bertiga di penginapan, paginya sebuah kabar menggemparkan terdengar, hampir seluruh warga di sana membahas tentang apa yang terjadi semalam.
Meski tempat yang mereka singgahi bukanlah kota besar tapi biasanya selalu aman dan damai, sangat jarang ada pertarungan di kota itu, makanya wali kota dengan bangga menamai kota itu kota kedamaian.
Keributan semalam membuat wali kota datang pagi pagi ke restoran tempat Alara bertarung, tampak wali kota sedang berbincang serius dengan pemilik restoran.
"ahh kebetulan nona kemari" ucap si pemilik restoran.
"kenapa paman? apa uang ganti ruginya kurang?" tanya Alara.
"tidak tidak, uang itu sudah lebih dari cukup, tapi tuan wali kota ingin bertemu ddnganmu" ucapnya.
"bertemu denganku? kenapa?"
"sebenarnya ingin bertemu dengan semua orang semalam, tapi hanya nona dan tuan tuan saja yang di sini jadi..."
"ya sudahh akan kami temui" jawab Alara memotong.
"hmm jadi kalian yang semalam membuat keributan?" tanya laki laki tua di depannya.
"a.."
"maafkan kami tuan wali kota, kami sungguh tak bermaksud membuat keributan" ujar Duwan menyrobot.
"siapa namamu anak muda?" tanya laki laki tersebut.
"namaku Duwan tuan, gadis ini sahabatku Alara dan ini ayahnya tuan Rangga" jawab Duwan memperkenalkan.
"hmmm kalian warga mana?"
"emm ituu.."
"kami hanya pengembara tuan" ucap Rangga.
"hmm sepertinya aku akan lebih nyaman berbicara denganmu" ujar wali kota.
"tidak ada, hanya saja sudah lama tak ada pertarungan di sini, jadi aku ingin tau hal apa yang membuat kalian bertarung di kota kami" ucapnya.
"itu kesalahan saya tuan wali kota" jawab Duwan membungkuk.
"salahmu?"
"sebenarnya yang menyerang kami semalam adalah keluargaku, tapi.."
"oo masalah keluarga toh, lain kali kalau ada masalah keluarga jangan sampai terbawa keluar apalagi sampai membuat keributan" ucapnya.
"maafkan saya" ucap Duwan lagi.
"ya sudah aku permisi dulu" ucapnya pergi.
Rangga, Duwan dan Alara hanya menatap bingung, mereka berpikir akan mendapat masalah setelah membuat keributan, tapi wali kota malah pergi begitu saja.
Tanpa pikir panjang ketiganya pesan makanan, mereka ingin segera melanjutkan perjalanan untuk kembali ke hutan bambu.
Setelah memasuki hutan Kai keluar dari tubuh Alara, harimau itu sangat kelaparan karena sejak siang kemarin belum makan sedikitpun.
Keempatnya berlari dalam rimbunnya pepohonan, Alara dan Rangga sama sama lincah melompat kesana kemari, sementara Duwan berpegang erat di punggung Kai karena tak bisa mengimbangi lari 3 mahluk di sekitarnya.
"Kai"
"hmm"
"menurutmu aku beruntung atau sial?" tanya Duwan.
"maksudmu?"
"aku kehilangan tiga anggota keluargaku di waktu berdekatan tapi sekarang aku berada di tengah tengah kalian, emm ahh tidak jadi"
"kau sial karena kehilangan keluarga tapi kau juga beruntung bisa bersama kami" jawab Kai.
"ehh? benarkah?"
__ADS_1
"aku juga beruntung bisa bersama majikan" ucap si harimau.
"oh yaa aku hampir lupa, dari dulu aku penasaran kenapa kau memanggil Alara dengan sebutan majikan?"
"karena dia tuanku" jawabnya.
"ehh tuanmu? kenapa bisa begitu?"
"terjadi begitu saja, seperti sebuah takdir" jawabnya.
"takdir yah? aku baru tau siluman sepertimu percaya takdir" ucapnya.
"aku tau itu dari temanku"
"teman? siapa?"
"Alan"
"hmm yaya"
Setelah lelah berlari mereka berhenti dan beristirahat, Duwan mengajak Kai mencari buruan untuk makan malam nanti, meski tak sehebat Alara tapi Duwan sekarang bisa sedikit berburu.
Dan Kai sendiri justru sangat mahir dengan itu, selain larinya yang cepat taring dan cakarnya benar benar memudahkannya mendapat buruan.
Saat kedua mahluk itu pergi berburu Rangga dan Alara sama sama diam, mereka berdua benar benar canggung satu sama lain, apalagi keduanya sama sama mahluk yang bicaranya dingin dan menyebalkan.
"boleh aku tanya sesuatu?" ucap Rangga.
"apa?"
"apa kakek Arung merawatmu dengan baik?"
"tentu saja, dia 1000 kali lebih baik darimu" celetuk Alara.
"kau pasti sangat membenciku" ucap Rangga.
"aku? kenapa aku harus membencimu?" ucap Alara.
"hmm .. ya tentu karena aku meninggalkanmu dan tak bertanggung jawab membesarkanmu" jawabnya.
"ya mungkin harusnya begitu, tapi aku tidak melakukannya" ucap Alara.
"kenapa?" tanya Rangga penasaran.
"Membenci orang itu memerlukan energi dan tenaga yang tidak sedikit, dan aku tidak mau membuang enegi dan tenagaku untuk hal yang sama sekali tidak penting seperti itu" jawab gadis itu.
"tidak penting yah" gumam Rangga.
"yang ku maksd tidak penting itu rasa benci, kalau kau ya penting, kau kan ayahku" ucapnya.
"benarkah? tapi aku sudah melakukan hal yang salah"
"aku tau kau salah bahkan sangat salah, dan aku juga sangat marah padamu jika mengingat itu, selama ini aku selalu bertanya tanya alasanmu meninggalkanku, aku sangat ingin menghajarmu saat aku berhasil menemukanmu, tapi nyatanya aku justru menyelamatkanmu saat kau hampir mati, awalnya aku berpikir aku sangat membencimu tapi aku salah .. bukan benci yang selama ini aku rasakan tapi rindu, aku terlalu merindukan sosok seorang ayah" ucapnya dengan mata berkaca kaca.
"brukk .. maafkan aku" ucap Rangga berlutut.
"apa hanya itu yang bisa kamu lakukan? aku tersiksa selama belasan tahun apa hanya kata maaf yang bisa keluar dari mulutmu?" bentak Alara.
"apa yanh harus aku lakukan? aku benar benar tak mengerti" jawab Rangga.
"bukankah aku sudah bilang padamu? selama belasan tahun aku merindukanmu, tidak bisakah kamu mengobati kerinduan itu?" ucapnya lirih.
"aku masih terlalu asing dengan keadaan sekarang, aku sungguh tidak..."
"peluk aku" ucap Alara.
"pe-peluk?" ucap Rangga bingung.
"apa kau tak mau memeluk putrimu sendiri? apa aku semenakutkan itu?"
"grep .. maaf maaf, aku benar benar bodoh" ucap Rangga menangis.
"aku sangat merindukanmu ayah, ak-aku huhuuu" tangisnya pecah.
"maaf ini semu salahku, aku sudah merenggut kebahagiaanmu, andai saja aku bisa melindungi ibumu" ucapnya penuh penyesalan.
Mereka terlalu larut pada perasaan masing masing, rasa bersalah rasa rindu dan banyak lagi perasaan mereka luapkan.
__ADS_1
Setelah puas menangis keduanya kembali diam, mata sembab dan hidung tersumbat membuat Duwan bingung saat melihatnya, pemuda itu bertanya tanya apa yang terjadi saat dia pergi berburu.
....bersambung....