
"Alaraa!" seru Duwan panik.
"apa?" jawab gadis itu singkat.
"ehh" Duwan tercengang
"paman dari mana?" tanya gadis itu
"emm i itu tadi..."
"ayo habiskan makanannya, kau juga makan" ucapnya tenang.
Duwan dan Wira saling beradu pandang karena kebingungan.
(beberapa waktu sebelumnya)
"haduuh kemana perginya pemuda yang bersama gadis itu yah" gerutu Wira panik.
Saat Alara mulai kehilangan kendali, Wira langsung berlari keluar mencari Duwan, walau dia tau gadis yang bersamanya itu adalah gadis yang sangat kuat, tapi tetap saja pemuda yang dia lawan adalah putra dari tuan kota ini.
Wira tau benar Aji Nugroho adalah satu satunya anak lelaki yang di miliki tuan Nugroho, pemuda itu sangat di manja dan di turuti segala kemauannya oleh tuan kota, Wira tau semua itu karena sudah beberapa kali keliar masuk kota ini.
"tuan! tuan muda!" seru Wira saat melihat Duwan.
"ehh kenapa paman?" tanya Duwan.
"nona ... nona Alara dalam masalah" ucapnya panik.
"apa?" ucap Duwan yang tak kalah panik.
Sepanjang jalan Duwan meminta Wira untuk menjelaskan situasi yang terjadi, pemuda itu tak ingin salah langkah saat Alara mendapat masalah karena anak tuan kota ini.
"semoga gadis itu tidak kenapa napa" batin Wira.
"semoga gadis itu tidak membunuh putra tuan kota ini" batin Duwan berbeda.
Sesampainya di depan restoran terlihat tuan muda Aji Nugroho jalan sempoyongan dengan di papah dua pengawalnya, dan kakek tua yang sempat beradu mulut dengan Alara jalan tertatih di belakangnya.
Wira dan Duwan langsung masuk dan berlari ke lantai dua, terlihat beberapa kursi dan meja yang berantakan, bahkan ada bercak darah berceceran.
Yang membuat kedua lelaki itu tercengang adalah, pemandangan seorang gadis yang sedang makan dengan lahap di sebuah meja tanpa menghiraukan sekelilingnya.
"ayo cepat makan" ucap Alara lagi.
Wira dan Duwan langsung menurut tanpa membantah, meski gadis itu bicara dengan nada pelan, tapi terasa sekali kalau gadis itu sedang menahan amarah.
"Ra habis ini kita belanja baju yah, aku dapat uang banyak" ucap Duwan.
"braak .. nggak" jawab Alara padat singkat dan jelas.
"glekkk"
Kedua lelaki di depannya langsung bergetar karena ulah gadis serigala tersebut, Duwan tau betul kalau gadis itu sedang kesal maka kekesalannya tak aka reda sebelum ia lampiaskan, dan apeslah pemuda anak tuan kota itu karena salah mengganggu orang.
Sementara Wira tiba tiba saja teringat dengan sorot mata menyeramkan Alara setahun yang lalu, sorot mata layaknya binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"dimana orang yang tadi menyerang putraku?" teriak seseorang dari depan pintu restoran.
"brak .. haha akhirnya datang juga para bedebah brengs*k itu" ucap gadis itu tersenyum.
Lalu Alara dengan santainya menuruni tangga, gadis itu tak peduli dengan pandangan orang orang terhadapnya.
"apa yang harus kita lakukan tuan muda" tanya Wira panik.
"kita berharap saja agar dia tak membunuh seseorang" ucap Duwan dengan menghela nafas.
"membunuh?" tanya Wira.
"ayo kita keluar paman" ajak Duwan.
Sementara di lantai satu lelaki tua yang tadi sempat merasakan beberapa kali bogem mentah milik Alara, dengan bangganya berdiri congkak di samping lelaki berbadan tambun yang tak lain adalah tuan Tanu Nugroho, ayah dari Aji Nugroho sekaligus tuan kota ini.
"aku yang menghajar anakmu" ucap Alara pelan.
"apaa? kau seorang gadis?"
"kenapa kalau aku seorang gadis?"
"Alaraa tidak bisakah kita bicara baik baik?" ucap Duwan.
"tidak" tolak Alara mentah mentah.
"ahhh pasti kau yang menghajar putraku kan? atau mungkin kau?" ucapnya menunjuk Duwan dan Wira bergantian.
"tidak tuan besar, yang menghajar tuan muda memang benar gadis itu" ucap si kakek tua.
__ADS_1
"jangan becanda, mana mungkin gadis sekecil itu menghajar putraku sampai babak belur begitu" ucap Tanu tak percaya.
"tapi memang benar tuan besar, gadis itulah yang menghajar kami" jawab kakek itu lagi.
"kemari kau bocah" ucap Tanu pada Alara.
"tidak mau" tolaknya.
"hahh dasar gadis cilik keras kepala, seret gadis itu keluar" perintahnya pada para pengawal.
"grep grep" dua tangan besar menggenggam tangan kecil Alara.
"plak plakkk .. jangan menyentuhnya" ucap Duwan setelah memukul dua tangan pengawal tuan Tanu.
"beraninya, seret pemuda itu dan lelaki di sampingnya juga, biar ku beri pelajaran sampai mampus" ucap tuan Tanu kesal.
"ha haa, beri pelajaran sampai mampus, kata katamu sama persis dengan anakmu yang bodoh itu" ejek Alara.
"plakkk .. beraninya kau menghina putraku" bentaknya.
"mampus" ujar Duwan menepuk jidatnya sendiri.
"apa yang mampus? apa kita berriga aka mampus?" tanya Wira panik.
"tidak paman, merekalah yang akan mampus" ucap Duwan.
"bagaimana bisa?" tanya Wira tak mengerti.
"tadi aku sengaja memukul tangan pengawal yang menyentuh Alara karena aku tak ingin hal buruk terjadi" ucap Duwan.
"hal buruk bagaimana? katakan yang jela..."
"duakkk .. ahhk .. diam" ucap seorang pengawal menendang perut Wira.
Tuan Tanu dengan bringasnya menarik Alara keluar restoran, tangannya menggenggam erat lengan gadis itu seolah tak ingin melepaskan sampai kapanpun, Alara terus berjalan mengikuti lelaki di depannya dengan mengembangkan senyum yang tak di mengerti siapapun.
"kenapa gadis itu tersenyum?" bisik seorang pengawal pada temannya.
"mungkin dia gila" jawab temannya singkat.
Duwan sendiri hanya berjalan pasrah di tengah rombongan tersebut, pemuda itu tak tau kekacauan apa yang akan terjadi nanti di depan sana.
"brukkk" dengan kasar tuan Tanu mendorong tubuh Alara di depan sebuah hunian besar yang sangat mewah.
"wahhh huniannya lebih besar dari hunian Duwan, benar benar mangsa ya empuk" gumamnya.
Tak beberapa lama muncul seorang pemuda dengan wajah dan tubuh penuh perban, semua luka yang di dapatnya adalah hasil setelah menghina Alara dengan kata j*lang dan kata kotor lainnya.
"bersujud dan mohon ampun padanya, mungkin hukumanmu bisa lebih ringan setelah mendapat maaf dari putraku" ucap Tanu sinis.
"tidak bisa suamiku, gadis itu harus di hukum seberat beratnya karena meluakai putra kita" pinta istri tuan Tanu.
"tenang saja istriku, seringan ringannya aku akan mematahkan tangannya ha ha haa" ujar tuan Tanu senang.
"tchhh" guman Alara.
"apa yang kau lakukan? cepat bersujud dan mohon ampun padaku j*lang gila, kau bilang tak peduli siapa ayahku kan? sekarang lihatlah kau bertekuk lutut di hadapanku, sekarang cium kakiku dan mohon ampun" ucap Aji Nugroho bangga.
"maaf..."
"apa yang gadis itu rencanakan?" gumam Duwan tak mengerti.
"sepertinya aku harus mematahkan satu kakimu" gumam Alara pelan.
"kraaakkkk aaaaa" teriak pemuda tersebut.
"kyaaa putrakuu" teriak sang ibu.
"b*jingan beraninya kauu, bunuh gadis s*alan itu" perintah tuan Tanu.
"s*al apa apaan ini? kenapa jadi begini?" ucap Wira tak paham.
"sudah kubilang ka paman haha" tawa Duwan.
"kau bisa bertarung?" tanya Wira.
"tidak"
"kenapa tertawa?"
"hanya menertawakan nasib saja ha haa"
"aiihh dasar kalian berdua sama gilanya" ucap Wira frustasi.
Alara sedang di sibukkan dsngan beberapa prajurit yang mengepungnya, tuan Tanu dan istrinya sedang sibuk dengan keadaan putra mereka yang kakinya patah.
__ADS_1
Kakek tua yang bersama tuan Tanu tadi hanya tercengang dengan apa yang di lihatnya, kakek tua itu tau betul tuan besarnya akan murka semurka murkanya pada gadis yang sudah dia anggap gila.
"apa gadis itu benar benar tak tau siapa tuan Tanu, kenapa dia segila itu" ucapnya heran.
Aji Nugroho segera di obati oleh tabib, tapi yang namanya patah tulang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya, apalagi kalau tidak di bantu oleh sumber daya yang membantu penyembuhan.
Wira yang dulunya juga seorang preman ikut bertarung melawan para prajurit yang mengepungnya, situasi berbeda di alami oleh Duwan yang justru sibuk lari kesana kemari menghindari kejaran para prajurit.
Duwan memang bukan pemuda yang pandai bertarung, tapi kalau urusan lari kemampuannya tak bisa di ragukan lagi, nyatanya sudah dua kali dia selamat dari kejaran bandit dan pembunuh bayaran.
Hanya butuh waktu sebentar bagi Alara melumpuhkan dua puluh prajurit, sisanya di lumpuhkam oleh Wira dan dua orang kelelahan setelah mengejar ngejar Duwan.
Tuan Tanu keluar setelah keributan di halamannya berhenti, awalnya dia yakin Alara dan rekannya sudah di ringkus atau bahkan sudah ada yang m*ti, tapi siapa sangka justru prajuritnya lah yang bergelimpangan di tanah.
"haahh hahhhh pokoknya malam ini aku mau tidur di penginapan" ucap Duwan terengah.
"haduhh rasanya mau mati" keluh Wira.
"hahaaa akhirnya kekesalanku tersalurkan, nah sekarang giliranmu tuan Tanu yang terhormat" ucap Alara tersenyum.
"a apa yang akan kau lakukan?" tanyanya panik.
"bermain" jawabnya.
"jangan mendekat" ucapnya dengan mengacungkan pedang.
"kyaaa tuan Tanu yang terhormat mengacungkan pedang pada seorang gadis yang lemah" teriak Alara mengejek.
Tapi sepertinya tuan Tanu salah paham karena mengira Alara benar benar takut, dengan wajah seramnya dia tertawa lantang seolah dia lupa kalau para prajuritnya sudah di lumpuhkan.
"apa yang gadis itu lakukan?" bisik Wira.
"entahlah paman, biarkan saja" ucap Duwan cuek.
"kau tidak takut dia terluka?" tanya Wira.
"tidak"
"sudah berapa lama kau bersamanya?"
"emm lebih dari satu tahun"
"wahh hebat sekali, aku saja hanya beberapa kali bersamanya masih takut sampai sekarang" ucap Wira bergidik.
"takut kenapa?" tanya Duwan.
"entahlah, aku pernah sekali melihat tatapannya, rasanya seperti di tatap oleh binatang buas" jawabnya.
"haha dia memang buas" tawa Duwan.
Selagi Duwan dan Wira sedang asik ngerumpi, tanpa mereka ketahui pedang yang tadinya di tangan tuan Tanu sudah pindah ke tangan Alara, entah kapan Alara membuat wajah lelaki itu babak belur.
Gadis itu menempelkan mata pedangnya ke leher tuan Tanu, siapapun yang melihat sudah tentu merasa terkejut, seorang lelaki yang terkenal tak kenal ampun saat ada masalah dengan putranya sekarang sedang di permainkan oleh seorang gadis kecil.
"ampuni kesalahanku nona" pinta tuan Tanu.
"kemana perginya kesombonganmu itu tuan Tanu yang terhormat?"
"maaf, aku telah bersalah, putraku juga bersalah nona" ucapnya lagi.
"kalau begitu ganti rugi" ucapnya.
"ga ganti rugi?"
"kau tak lihat dua temanku terluka? bahkan restoran itu juga rusak karena putramu" ucap Alara.
"ba baiikk, berapa yang nona mau?" tanya tuan Tanu.
"beri aku sepuluh ribu keping emas" ucap Alara.
"apa? se se puluh ribu?" tanya tuan Tanu.
"kenapa? kau tak mau? atau mau aku patahkan satu lagi kaki putramu itu?"
"tidak tidak, akan saya siapkan nona" ucapnya lagi.
"hmmm baguslah karena kau tak sebodoh putramu" ucap Alara puas.
Alara dan Duwan berjalan ke arah restoran yang sempat kacau karena Alara, gadis itu memberi 20 keping emas untuk permintaan maafnya, dan sisanya tentu saja gadis itu simpan sendiri.
Sementara Wira memilih pergi karena tak ingin terlalu lama berurusan dengan Alara, dia di beri beberapa keping emas untuk uang berobat karena tubuhnya juga terluka saat bertarung tadi.
"sekarang kita mau kemana?" tanya Duwan.
"bukannya kau bilang ingin ke penginapan?"
__ADS_1
"ahh ya benar, ayoo"
...bersambung...