The Werewolf

The Werewolf
28. Jantungku


__ADS_3

"grr grrr grrrr" geraman Alara yang tak lain adalah rintihannya terdengar sepanjang malam.


Gadis serigala itu merasa tulang tulangnya seperti hancur, seluruh tubungnya terasa sakit, suhunya naik turun tak karuan, Kai hanya bisa menatap tanpa bisa melakukan apapun, dia juga terlihat merasa khawatir saat melihat tubuh serigala di depannya bergelimpangan tak karuan.


Bulu putih nan halus miliknya sudah kumal penuh dengan keringat dan debu, matanya terus terbuka tapi terlihat kosong, hawa dalam goa sesekali berubah drastis menjadi sangat dingin, bahkan di beberapa tempat muncul bongkahan es karena saking dinginnya.


Setelah melewati malam yang sangat panjang dan menyakitkan Alara membuka matanya, tubuhnya tergeletak di atas rerumputan kering, hidungnya bisa mencium aroma yang nikmat dari luar goa.


"ahh si*l kepalaku sakit sekali" gerutunya.


Dengan tubuh sempoyongan Alara melangkah keluar, dia terkejut saat melihat Kai sedang asik makan dengan Duwan di depan goa, dan hal yang membuat Alra makin terkejut adalah dia bisa mendengar kata kata Kai.


"apa aku salah dengar yah?" ucapnya bingung.


"ehhh Araa kau sudah bangun" sapa Duwan.


"majikaan" sapa Kai.


Alara terus mengedipkan mata tak persaya, di satu sisi dia tak percaya karena melihat Duwan masih ada di sini, dan di sisi satunya lagi kenapa dia merasa Kai bisa berbicara, dan lagi dia menyebutnya majikan.


"heyyy, kenapa melamun?" tanya Duwan lagi.


"kenapa masih di sini?" tanya Alara.


"apa tidak boleh?" tanya Duwan.


"bukannya semalam kau kabur, tapi apa ini?"


"emm se semalam itu ...."


"semalam pemuda ini lari karena dia kaget sampai terkencing kencing majikaan" sergap Kai.


"heiii" bentak Duwan.


"kau berbicara Kai?" tanya Alara tak percaya.


"iya majikan, setelah majikan pingsan tiba tiba saya bisa bicara seperti ini" ucap Kai senang.


"sekarang ayo makan, kamu pasti sangat lelah" ajak Duwan menarik tangnnya.


Sepanjang makan Alara terus memikirkan apa yang terjadi semalam, seingatnya dia sempat berbicara dengan seorang perempuan sebelum tak sadarkan diri, perempuan itu memiliki mata biru sepertinya.


"siapa yah perempuan itu, dan apa yang aku bicarakan dengannya semalam, kenapa aku lupa" batinnya heran.


"kenapa sih Ra?" tanya Duwan.


"ngga papa"


"nyuuuut ... awww" pekik Alara tiba tiba.


"kenapa?"


"kenapa majikan?"


(Dalam ingatan Alara)


"akhirnya hafi ini tiba" ucap seirang perempuan.


"siapa kamu? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Alara.


"jangan takut begitu" ucapnya.

__ADS_1


Wanita itu datang mendekat dan menyentuh keningnya, seketika itu juga kepalanya terasa sangat dingin, seperti ada sesuatu yang mengalir dari kening ke seluruh tubuhnya.


"apa yang kau lakukan?" tanya Alara tak mengerti.


"aku hanya membantumu membangkitkan kekuatanmu Alara" jawabnya ramah.


"kau tau namaku?"


"tentu saja, aku sudah menunggumu selama 700 tahun"


"hahh 700 tahun?"


"aku adalah leluhurmu, bukannya kakekmu sudah bercerita tentangku?"


"hah ... jangan bilang ka kamu manusia sakti yang menikah dengan kakek leluhurku, kamu si albino itu?"


"hehhh tak sopan sekali bicaramu, aku ini nenek leluhurmu, bisa bisanya kamu menyebutku si albino"


"ja jadii bener? bukannya kamu sudah mati? lagian nenek apanya, bahkan wajahmu hampir sama seperti wajahku, mana pantas aku menyebutmu nenek"


"siapa bilang aku mati, aku hanya menghilang saja, dan yaaaa aku ini memang masih secantik dirimu, bahkan lebih cantik"


"ta...."


"sudahlah aku tak punya banyak waktu untuk ngobrol denganmu, kedatanganku kesini hanya membantumu membangkitkan kekuatan dan memberi pengetahuan cara menggunakan kekuatanmu, setelah ini aku harus pergi, aku harap takdir bisa mempertemukan kita lagi keturunan spesialku" ucapnya lenyap.


"lhooo katanya mau memberi tahu tentang kekuatanku tapi udah ngilang aj.... ehhh apa itu? lho lhooo kok apa ini di kepalaku?" ucap Alara kelabakan.


Tanpa gadis itu sadari seluruh oengetahuan tentang cara menggunakan kekuatannya telah ada dalam ingatannya, segala pengetahuan tentang silsilah keluarga dan leluhurnya juga sudah ada dalam kepalanya dan setelah itu gadis itu jatuh pingsan.


(selesai)


"aku ingat!"


"ahh bukan apa apa, aku mau mandi kalian berdua jangan ngintip" ucap Alara langsung berlari ke arah sungai.


"ehh kenapa dia?" ucal Duwan heran.


Alara sendiri tengah mencoba kekuatan barunya, benar saja dia bisa menciptakan es dan membekukan apapun, dia sendiri sebenarnya masih tak percaya dengan apa yang sekarang ada dalam dirinya.


Entah kenapa menurutnya otaknya seperti sebuah perpustakaan, sekarang sangat banyak yang dia ketahui tentang bagaimana keluarganya tercipta, dan benar wanita yang di jumpainya adalah wanita albino yang melegenda itu.


"hmm ternyata selain melipat gandakan kekuatan, darahku juga di percaya bisa menyelamatkan orang yang hampir mati sekalipun, pantas saja aku jadi incaran saat baru lahir, untung saja kakek Arung memberiku ramuan yang bisa menyamarkan aroma darahku, tidak terbayang kalau aku harus hidup belasan tahun dengn bayang bayang di kejar mahluk gila sepanjang waktu" ucapnya bergidik.


Memang benar darah spesial yang mengalir di tubuh Alara bisa membuat siapapun yang meminum darahnya menjadi lebih kuat, darahnya juga bisa mengobati berbagai penyakit mematikan termasuk menetralkan racun.


Tapi pengetahuan itu hanya seputar manusia serigala, Alara masih belum tau apa yang terjadi jika darahnya di minum manusia biasa, dan gadis itu juga tidak mau terlalu memikirkan tentang itu.


Suasana hatinya saat ini sangat bahagia, setelah kekuatan spesialnya bangkit dia bahkan yakin kalau memasuki dunia persilatan dia bisa jadi pendekar wanita yang terbilang kuat.


Selain wajahnya yang cantik serta kekuatannya yang terbilang langka (menguasai elemen es) hanya satu kekurangan Alara, gadis itu masih belum terlalu memahami dunia politik dan kebagsawanan, dunia yang benar benar asing baginya.


Jika di dunia persilatan kekuatan yang menentukan posisi dan gelar beda lagi kalau dunia politik dan bangsawan, dulu saat kakek Arung masih muda, dia pernah pernah tanpa sengaja melukai seorang anak bangsawan.


Walau sudah jelas banyak yang melihat bahwa pemuda bangsawan tersebut yang bersalah karena menghina kakek Arung, tapi tetap saja kakek Arung yang di nyatakan bersalah, Arung muda di hukum cambuk di depan umum.


Kekesalan dan kebenciannya pada para bangsawan masih mendarah daging sampai sekarang, bahkan kakek Arung menegaskan pada Alara agar jangan sekali kali mendekati seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan atau tokoh tokoh politik, karena baginya orang orang seperti itu sangat licik.


Bukan hanya penuturan kakeknya yang membuatnya kurang menyukai bangsawan, dulu saat mengembara bersama kakeknya dia pernah beberapa kali bertemu rombongan keluarga bangsawan.


Mereka berpikir untuk mendahului rombongan tersebut karena mereka sedang tergesa gesa, tapi rombongan tersebut melarang dia dan kakeknya karena menurut mereka Alara dan dan kakeknya kemungkinan adalah fombongan perampok.

__ADS_1


"hmm tp kenapa aku merasa Duwan sangat berbeda" gumamnya.


Dulu saat baru mengetahui bahwa Duwan adalah seorang keturunan bangsawan, gadis itu memang berniat meninggalkan Duwan setelah mengobatinya, tapi hatinya selembut hati Arumi ibunya, dan itu membuatnya merawat Duwan sampai sembuh, bahkan menolongnya berkali kali.


"sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal hal seperti itu, toh sekarang Duwan sudah bukan lagi keluarga bangsawan, bahkan bisa di katakan dia itu gelandangan ha ha" ucapnya sembari tertawa.


Setelah berlama lama berendam di sungai, sesuatu yang membuatnya mengutuk dirinya sendiri terjadi.


"apa yang aku lakukan? aku masuk ke sungai dengan seluruh baju dan tak membawa jubahku, apa aku harus mengenakan pakaian basah ini? aarrgggh bodohnya" ucapnya kesal.


"sudahlah, berjemur saja di atas pohon" ucapnya.


Sampai matahari hampir di atas ubun ubun Alara masih belum kembali, Duwan mulai berpikiran macam macam tentang gadis itu.


Barang tentu pemuda itu tak berfikir gadis serigala itu di terkam harimau, Duwan justru khawatir gadis itu meninggalkannya.


"Kai coba kau lihat ke sungai, masa Alara dari pagi belum kembali" ucapnya pada Kai.


"tidak mau, bisa bisa mataku di congkel karena di sangka mengintip" tolak si harimau.


"tapi kan kamu harimau aku manusia, kalau aku yang melihatnya bukan cuma mataku yang di congkel, bisa bisa tubuhku di c*ncang" ucap Duwan.


"bagaimana kalau kita lihat sama sama" usul Duwan.


"tidak mau" tolak Kai lagi.


"kalau gadis itu pergi meninggalkan kita bagaimana?" ucap Duwan meyakinkan.


"tidak mungkin, aku kan terikat kontrak dengannya, mana mungkin majikanku meninggalkanku" ucap kai yakin.


"hehh dia itu majikan, bukan tak mungkin dia meninggalkanmu" ucap Duwan menakuti.


"ahh benar juga, bagaimana ini" ucap Kai panik.


"makanya ayo kita lihat" ajak Duwan.


Mereka berdua akhirnya berjalan menuju sungai, keduanya sama sama takut di tinggalkan oleh Alara, sampai sana mereka benar benar panik karena Alara tak terlihat batang hidungnya.


"dia tak mungkin tenggelam kan?" ucap Duwan panik.


"mana mungkin, majikan itu bahkan pandai menyelam" jawab Kai yakin.


"berati dia benar benar meninggalkan kita?" ujar Duwan.


"hhhhh matilah aku, kenapa majikan meninggalkanku" keluh Kai.


"apa Alara membenciku karena semalam meninggalkannya Kai?" tanya Duwan panik.


"huaaaaaaa" tangis mereka.


"brisik" ucap seseorang di atas pohon.


"Alara"


"majikan"


"brukk .. apa yang kalian lakukan?" tanya Alara.


"grep .. kami pikir kamu pergi meninggalkan kami" ucap Duwan memeluk Alara.


"deg deg deg deg"

__ADS_1


"si*l, kenapa dengan jantungku" batin Alara tak mengerti.


....bersambung.....


__ADS_2