
"nggg lapar" ucap Alara saat mencium aroma kelinci bakar.
"akhirnya kamu bangun, cepat makan selagi hangat" ucap Duwan.
"Kai kemana?" tanya Alara di sela makannya.
"ohh tadi dia melihat seekor rusa, sepertinya dia berusaha keras untuk mendapatkannya" jawab Duwan.
"hmm begitu" jawabnya lesu.
Setelah selesai makan Alara menghampiri sosok serigala yang sampai saat ini belum membuka mata, jangankan membuka mata bahkan tubuhnya terlihat semakin lemah.
"deg"
"detak jantungnya melemah" ucap Alara panik.
"apa yang harus ku lakukan, kau tidak boleh matiii tidak bolehhh" ucap gadis itu frustasi.
"Ara tenangkan dirimu" ucap Duwan.
"bagaimana aku bisa tenang, belasan tahun aku merindukannya, belasan tahun..."
"baiklah aku tau, tapi kalau kau panik begitu apa bisa mengubah situasi?" ucap Duwan lagi.
"tapi .. tapi bagaimana kalau dia mati"
"hey kau itu manusia serigala sepertinya, pikirkan sesuatu yang hanya kalian para manusia serigala ketahui" bentak Duwan.
"pikirkan sesuatu pikirkan sesuatu pikirkan sesuatu.."
"Ara .. berfikirlah dengan tenang" ucapnya menggenggam tangan.
Alara berhenti bergumam dan memejamkan matanya, dia memikirkan cara terbaik untuk memulihkan kondisi ayahnya.
"ahh aku ingat" ucapnya.
"apa? apa?" tanya Duwan.
"bantu aku membuka mulutnya" ucapnya pada Duwan.
Tanpa banyak bertanya Duwan mengikuti perintah Alara, dia hanya menatap Alara yangbsaat ini tengah duduk dan memejamkan mata, bibirnya terlihat seperti menggumamkan sesuatu yang dia tak mengerti.
"siapapun yang mendengarku, entah Tuhan atau pun Dewa, kalau benar darahku spesial aku mohon sembuhkan ayahku" batinnya.
Lalu gadis itu membuka matanya tangan kanannya memunculkan satu cakar tajam, di sayatnya ibu jarinya, keluar darah spesialnya yang berwarna putih kehijauan, ia teteskan dalam mulut ayahnya sebanyak dua tetes.
Duwan yang melihat itu hanya kebingungan tak mengerti, kenapa darah gadis itu memiliki warna berbeda, dan kenapa dia meneteskan darahnya pada ayahnya.
Mata Duwan terbelalak saat luka yang tadinya mengeluarkan darah perlahan mulai menutup, bahkan ajaibnya bekasnya pun menghilang, lalu tubuh serigala itu kembali dalam wujud manusia.
"wahh lukanya langsung pulih, ajaib ini benar benar ajaib" ujar Duwan terkagum.
"hmm syukurlah ... bruukk" Alara jatuh pingsan.
"lhoo Ra, Alara bangun" ucap Duwan panik.
"kenapa tubuhnya dingin? apa yang terjadi?" ucapnya makin panik.
Duwan terus menggosok kedua tangan Alara, pemuda itu berharap gadis di depannya tak kenapa napa, mengingat Alara bukan manusia biasa banyak hal yanh Duwan tak mengerti tentangnya.
Saat matahari berada tepat di atas kepala mata Alara terbuka, Duwan yang sejak tadi menatapnya langsung bernafas lega saat gadis itu sadar, Kai yang sejak tadi ikut khawatir juga langsung lega.
"Ra kenapa tadi kamu tiba tiba pingsan?" tanya Duwan.
"mmm sepertinya setiap aku mengeluarkan darahku seluruh energiku lenyap, mungkin ini semacam efek samping" ucapnya.
"tapi waktu majikan mengeluarkan darah untuk menandaiku majikan tidak pingsan" ucap Kai.
"itu berbeda Kai, saat itu aku hanya menggunakan darah untuk membuat kontrak dan tadi aku menggunakan untuk menyelamatkan nyawa, walau sebentar tadi aku merasa seluruh kesakitannya berpindah padaku" jelasnya.
"maksudmu kalau darahmu di gunakan untuk mengobati seseorang maka rasa sakit orang itu pindah padamu, begitu?" tanyanya.
"aku juga belum terlalu paham, tapi sepertinya begitu" jawab Alara jujur.
__ADS_1
"uhuk uhuk"
"tuan" ucap Duwan.
"uhhh .. aku masih hidup?" ucapnya.
Laki laki itu duduk dengan di bantu oleh Duwan, meski lukanya sudah sembuh tapi sepertinya kekuatan fisiknya belum kembali sepenuhnya.
Alara terus memandangi lelaki tersebut, tiba saat lelaki itu menjatuhkan pandangan padanya Alara tiba tiba meneteskan air mata, lelaki yang tak lain adalah ayahnya juga tersentak kaget saat melihatnya.
"Arumi k-kau.."
"namamu Rangga?" potong Alara.
Rangga hanya mengangguk saat mendengarnya, matanya masih terbelalak melihat sosok gadis yang parasnya sangat mirip dengan mendiang istrinya, andai rambut dan matanya berwarna hitam sudah pasti gadis itu akan sama persis dengan istrinya.
"kenapa? kenapa kau meninggalkanku?" ucap gadis tersebut.
"maaf .. maafkan aku" ucapnya tertunduk.
"kenapa kau tak mencariku? kenapa kau tak mengunjungi makam ibu?" tanya gadis itu lagi.
Namun terlalu banyak kata kata yang ingin di kelurkan Rangga kala itu, dia ingin menjelaskan semua pada putrinya, tapi dia juga tak tau akan memulai dari mana.
Dari sekian banyak alasan yang dia miliki tak ada satupun yang keluar dari mulutnya, hanya kata maaf yang berkali kali keluar.
"bstt Kai, ayo kita pergi" bisik Duwan.
"kenapa?"
"mereka perlu waktu untuk berdua, ayo cepat" ajak Duwan.
Duwan dan Kai pergi menjauh karena tak ingin mengganggu pembicaraan penting antara Alara dan ayahnya, bagi Duwan sangat penting membiarkan mereka berbicara berdua.
"belasan tahun aku ingin melihatmu, belasan tahun aku mengharapkan kedatanganmu, belasan tahu aku merindukanmu, tapi ... bisa kau katakan padaku kenapa kau meninggalkanku?" ucapnya berderai air mata.
"aku tak pernah meninggalkanmu nak, akuh .. aku hanya"
"hanya apa?"
"pengec*t, brengs*k, tak bertanggung jawab" bentak gadis itu.
"ya kau benar, aku terlalu pengec*t aku juga terlalu brengs*k, dan aku .. bagaimana bisa aku bertanggung jawab setelah gagal? aku gagal melindungi ibumu, aku gagal melindungi wanita yang sangat ku cintai" ucapnya penuh penyesalan.
"tapi apa salahku? kenapa aku harus tumbuh tanpa merasakan kasih sayang kedua orang tuaku?" ucapnya tak mengerti.
"kau tak salah apapun, aku yang salah, aku terlalu lemah sampai akhirnya gagal melindungi ibumu, dan aku sangat takut padamu" ucapnya lirih.
"takut padaku? apa aku ini monster? bukankah aku putrimu? bukankah aku anak dari wanita yang kau cintai?" ucapnya.
"bukan ... bukan begitu maksudku"
"apa? lalu apaa? katakan yang jelaas!" teriaknya.
"wuuushhhh" seketika cuaca panas siang itu berubah menjadi dingin, tanda bulan di kening gadis itu bersinar begitu terangnya.
Angin dingin di sertai serpihan es muncul dan berputar di sekitarnya, kerinduannya pada ayahnya selama ini berubah menjadi sebuah kemarahan.
Duwan dan Kai yang jaraknya hanya sekitar 100 meter darinya langsung berlari menghampiri saat merasakan aura dingin, mereka berdua pernah beberapa kali merasakan aura dingin yang di ciptakan Alara, jadi mereka langsung tau saat merasakannya tadi.
"apa yang terjadi? kenapa bisa begitu?" tanya Duwan.
Terlihat sebuah pusaran es yang mengelilingi tubuh Alara, gadis itu tepat berada di tengahnya, Rangga yang menyaksikan kekuatan putrinya hanya menatap dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Dirinya sadar keputusan yang di ambilnya selama ini bukanlah hal yang benar, setelah tau istrinya tewas dan putrinya di rawat oleh seorang kakek dia memutuskan pergi, dia berusaha membunuh sebanyak banyaknya manusia serigala tak berakal semampunya.
Walau dia beralasan melakukan semua itu demi putrinya, tapi alasan sesungguhnya karena dia takut, dia juga sangat malu, sebagai seorang suami dan ayah dia sudah merasa sangat gagal.
Dia bukan takut pada kekuatan putrinya, justru dia takut pada pertanyaan yang suatu saat keluar dari mulut putrinya, dia sangat takut kalau putrinya menyalahkannya atas kematian ibunya.
"gawat, kenapa tuan Rangga hanya diam saja?" ujar Duwan panik saat melihat pusaran angin yang di sertai es mendekati Rangga.
"tuan awas" teriak Duwan.
__ADS_1
Sayangnya Rangga tidak bergeming sedikitpun dan membiarkan pusaran itu mendekat, dedaunan kering dan ranting ranting pohon di sekitarnya beterbangan tak beraturan.
"Kai jangan jangan Alara lepas kendali" ujar Duwan.
Duwan teringat kejadian beberapa bulan lalu saat Alara baru mendapat kekuatannya, karena terlalu bersemangat melatih kekuatan bulannya, gadis itu hilang kendali dan merusak hutan.
Walau kejadian itu sudah berbulan bulan lamanya, tapi Duwan masih ingat sangat jelas saat dirinya hampir mati karena Alara membekukannya, untungnya saat tubuhnya beku Alara pingsan dan Kai mati matian memecahkan dinding es yang membekukannya.
"boom .. boom .. brak" satu pohon tumbang terkena serangan Alara.
Pusaran angin di sekitarnya berhenti dan menampakan sosok gadis dengan sorot mata hijau menyeramkan, tiba tiba gadis itu mengangkat tangannya dan muncul sebongkah es besar berukuran berapa kali lipat tubuhnya.
Matanya menatap Rangga dengan tatapan penuh kebencian, saat gadis itu melempar bongkahan es ke arah Rangga, dengan gagahnya Kai lari menghalanginya.
"buaak .. brukk" harimau itu terlempar dan tubuhnya menabrak pohon di belakangnya.
"Kaii" teriak Duwan panik.
Harimau itu kembali berdiri seolah siap menerima serangan dari Alara, Alara pun jalan mendekat ke arah Kai, gadis itu kembali mengangkat tangannya dan menciptakan sebongkah es yang lebih besar dari sebelumnya.
"gawat, Alara benar benar hilang kendali" ucap Duwan panik.
Kembali gadis itu lemparkan bongkahan es itu ke arah Kai, berbeda dengan sebelumnya kali ini Kai berhasil menghindar, harimau itu terus menghindari setiap serangan yang menuju padany.
Setelah berkali kali melancarkan serangan tubuh gadis itu terjatuh, mata hijau dan cahaya di keningnya meredup dan perlahan hilang, hilangnya cahaya itu di barengi dengan hilangnya kesadaran gadis tersebut.
"brukk" kembali gadis itu pingsan.
"Raa .. majikan" seru Duwan dan Kai langsung lari mendekat.
"ya Tuhan bibirnya membiru" ucap Duwan panik.
"apa yang terjadi dengannya, kenapa dia menyerang harimau itu? bukankah dia ingin menyerangku?" tanya Rangga bingung.
"tak ada waktu untuk menjelaskan, sekarang tolong pangku Alara, Kai kumpulkan banyak ranting cepat" ucap Duwan.
Harimau itu langsung mengumpulkan banyak ranring dan dedaunan kering di sekitarnya, Duwan dengan cekatan membuat api di sekeliling Alara.
Rangga yang tak mengerti apapun hanya bingung sambil memangku kepala putrinya.
"apa ini? bahkan aku tak mengerti apapun dengan keadaan puteiku?" ucapnya menyesal.
Setelah membuat beberapa api Duwan langsung mendekati tubuh Alara, tubuh gadis itu sudah tak sedingin sebelumnya, tapi bibirnya masih terlihat biru dan tubuhnya masih sedikit bergetar.
Duwan menyelimutinya dengan jubah dan meminta Kai untuk berbaring di dekatnya.
"apa yang terjadi? dan apa yang kalian lakukan?" tanya Rangga makin penasaran.
"tuan, putrimu ini hilang kendali, makanya dia mengamuk sampai seperti ini" ucap Duwan.
"kau tau jati diri putriku?"
"tentu saja, aku tau banyak tentangnya" jawab Duwan.
"apa putriku sangat membenciku?" tanya Rangga.
"pertanyaan bodoh macam apa itu? kalau dia membencimu untuk apa kami bersusah susah mencarimu kesana kemari?" jawab Duwan kesal.
"me-mencariku? kaliaan? sungguh?" tanyanya tak percaya.
"apa anda pikir saya berbohong?"
"tapi kenapa dia bisa begini?"
"putri anda terlalu emosi, makanya tanpa sadar kekuatannya keluar meluap luap begitu, Kai hanya berusaha menguras tenaga Alara sampai dia kehabisan tenaga dan pingsan" jelasnya.
"kalian sangat paham, apa kalian sudah lama bersama?"
"hehh tentu saja aku paham, dulu saja aku hampir mati di buatnya saat pertama mengamuk seperti tadi" ucap Duwan.
"jadi dia seperti itu bukan karena ingin membunuhku?"
"astaga tuan, putri anda ini sangat merindukan anda, aku yakin dia mengamuk karena emosinya terlalu meluap luap" ucap Duwan menjelskan.
__ADS_1
"begitu ya, aku benar benar tak pantas jadi ayahnya" ucapnya tertunduk.
....bersambung....