
Kepulangan Damar di sambut dengan isak tangis oleh seluruh warga, ibunya bahkan menciumi setiap inci pipinya karena sangat bahagia.
Alara berdiri tak jauh dari mereka, dia terus menunduk karena merasa jati dirinya akan terbongkar sebentar lagi, dia berniat pergi saat orang orang mulai menanyakan bagaimana Damar bisa bersamanya.
"Damar tadi kesasar terus di tolongin kak Alara" ucap bocah itu tiba tiba.
Alara menghentikan niatnya dan ingin mendengar penjelasan dari Damar.
"kok bisa kamu kesasar nak? kamu kan paham arah hutan sini" ucap ibunya tak percaya.
"tadi siang kak Alara bilang ke Damar kalo kakak pengin ke sungai di dekat sini, Damar pngin nyusulin kakak tapi palah nyasar, trus ngga sengaja jatuh ke lubang jebakan yang ada di sana" ucapnya lagi.
"kok bisa sampe malem begini, trus ini kenapa banyak bekas darah?" tanya ibunya masih khawatir.
"ya kan lubangnya dalem bu, Damar ngga bisa naik sendiri, trus darah ini tu Damar dapet dari burung yang kak Alara panah" ucapa anak itu setengah benar dan setengah bohong.
"untunglah kak Alara nemuin kamu nak, ibu ngga tau bagaimana jadinya ibu kalo sampe kamu ngga ketemu.. sekali lagi makasih ya nona" ucap ibu Damar.
Alara masih heran bagaimana bisa bocah sekecil Damar bisa berbohong seperti itu, padahal dia tak mengajari Damar untuk berbohong waktu di jalan tadi.
Selesai membersihkan diri Damar sudah menunggu Alara di ruang tamunya, bocah itu bersikap biasa seakan tak terjadi apa apa.
"kamu kenapa bohong?" tanya Alara berbisik.
"Damar ngga bohong, kan emang bener Damar nyasar trus jatuh ke lubang" tutur anak itu.
"huhhhh trus kenapa kamu ngga bilang ke orang orang soal kakak? tanya Alara lagi.
"soal apa? soal wajah kakak yang cantik" ucap bocah itu.
"soal ini, ini, ini sama ini" ucapnya menunjuk mata, rambut, tangan dan telinganya yang berubah.
"ngga ah, kalo Damar cerita tentang itu nanti orang orang penasaran pengin ngeliat, terus kalo orang orang ngeliat nanti kakak tambah marah, waktu Damar ngga sengaja liat aja kakak minggat" ucap Damar.
Alara mengrenyitkan dahi keheranan mendengar penjelasan Damar, dia bahkan terkekeh mendengar kata minggat dari mulut bocah itu, entah kenapa dia merasa bocah di depannya akan sangat berbahaya kalau di jadikan lawan mengingat kecerdikannya.
"kakak jadi melatih ayah memanah?" tanyanya.
"jadi, besok pagi kakak akan ngelatih mereka sampe sore" jawabnya.
Paginya Alara langsung melatih para pemburu untuk memanah, dia menegaskan kalau ingin memanah dengan baik mereka harus konsentrasi.
"paman pundakmu jangan terlalu kaku"
"jangan gemetar, harus tenang"
Banyak sekali komentar yang gadis itu lontarkan, mereka hanya beristirahat sebentar dan terus berlatih sesuai arahan Alara, selain melatih, Alara juga memberi tips bagaimana menguji kemampuan panah.
"coba saja panah daun yang berguguran, anggap mereka adalah sasaran" ucapnya.
Selesai berlatih Alara mengutarakan niatnya untuk segera melanjutkan perjalanan, dia tak ingin terlalu lama menunda karena dia ingin segera sampai ke hutan bambu.
Awalnya mereka terus membujuk Alara untuk menetap beberapa hari di sana, tapi gadis itu tetap kokoh pada pendiriannya.
Damar pun sampai menangis di buatnya, bocah itu sudah merasa sangat dekat dengan Alara, karena memang sedari awal Damar sudah menyukai kehadiran Alara, gadis itu sudah seperti sosok kakak sesungguhnya buatnya.
"kakak janji kalo urusan kakak udah selesai kakak bakal nemuin kamu" bujuk Alara.
"kalo kakak lupa gimana?" tanya bocah itu.
Untuk sejenak Alara berfikir, agaknya memang sulit meyakinkan bocah di depannya ini.
"kau simpan ini sebagai bukti" ucap alara menyerahkan satu belatinya.
__ADS_1
"kenapa Damar harus nyimpan ini?" yanya bocah itu heran.
"belati itu peninggalan dari ayah kakak, itu sangat berharga buatku, jadi kalau belati ini ada di tanganmu aku takkan lupa padamu" terangnya.
Mata bocah itu langsung terbelalak mendengarnya, dengan segera dia mengembalikan belati yang ada di tangannya.
"kenapa? kamu ngga percaya?" tanya Alara heran.
"bukan, Damar percaya kakak ngga bohong karena kakak orang baik, jadi Damar bakal nunggu kedatangan kakak di sini" ucap bocah tadi.
"hmm begitu yah? kalo gitu mau ngga kakak ajari sesuatu?" tanya Alara.
"apa?" sergap bocah itu dengan mata berbinar.
"ayo kita ke depan dulu" ajak alara.
Setelah melangkah keluar, Alara menunjukkan beberapa gerakan bela diri, dia ingin tau apa Damar benar benar tertarik ilmu bela diri atau tidak.
Dalam setiap gerakannya Alara sesekali melihat ekspresi bocah itu, sangat jelas di mata anak itu tak berkedip memandangnya.
"bagaimana?" tanya Alara setelah selesai.
"keren" ucap bocah itu.
"lalu?"
"Damar ingin bisa seperti itu" ucap bocah itu.
"kenapa?"
"biar keren kaya kaka" ucapnya polos.
"hanya itu?"
"hmm kemarin kamu bilang ingin melindungi ayah, ibu dan temanmu" ucap Alara.
"iya, tapi Damar juga pngin ngrebut desa itu, Damar kan lahir di sana" ucapnya dengan mata berkaca.
"mmmm kalo gitu ayo kakak ajari"
"bener kak?" tanyanya antusias.
"iya bener, tapi kamu mau nggak janji satu hal sama kakak?"
"janji apa?" tanyanya bingung.
"kakak ngga tau sebesar apa potensi kamu, kalau umpama kamu ngga terlalu kuat kamu harus janji sama kakak, jangan pernah berfikir untuk melawan kelompok perampok itu sendirian, berjanjilah kalo kamu cukup melindungi keluarga kamu yang tersisa di sini" terang Alara.
"tapi ayah bilang desa itu hak kami"
"iya kakak tau, kamu juga berkewajiban merebut hakmu, tapi kamu sendiri sudah tau kalau kelompok perampok itu kuat, apa jadinya kalau kamu berusaha memperjuangkannya sendirian dengan kemampuanmu tak terlalu baik?"
Alara sebenarnya agak ragu apa bocah di depannya mengerti arah pembicaraannya, karena selain masih bocah dia juga tak tau entah berjalan kemana pikiran bocah itu saat ini.
"kalo gitu Damar harus latihan mati matian supaya Damar kuat, kalo Damar ngga terlalu kuat Damar akan cari teman yang banyak buat bantu Damar" jawabnya mantap.
"ya baiklah, kalo gitu sekarang kamu ikuti gerakan kakak yah"
Damar terus mencoba mengikuti gerakan Alara, gadis itu juga sesekali membenarkan posisi tangan dan kakinya, aksi Damar yang belajar malam malam di saksikan oleh beberapa orang, bahkan anak seumurannya juga ikut keluar.
Sampai hampir tengah malam bocah itu masih terus berlatih, Alara tak tau kenapa bocah itu seakan tak memiliki rasa lelah, padahal untuk anak seusianya sudah barang tentu takkan mampu begadang sampai selarut ini.
"kamu ngga cape Mar?" tanya Alara di sela membenarkan posisi kaki bocah itu.
__ADS_1
"ngga, besok kan kakak udah pergi, jadi Damar akan latihan sampai pagi" ucapnya mantap.
"ini anak kepala batu ternyata" batin Alara.
"kakak perginya sore kok" ucap Alara.
"bruukkkk" bocah itu jatuh terduduk.
Nafasnya tampak memburu, matanya yang tadi tampak terbakar semangat sekarang sayu layaknya bocah yang sudah tak punya tenaga, wajahnya menengadah menatap Alara sambil tersenyum dan "bukkk.. lepp" tubuhnya ambruk lalu matanya terpejam.
"astagaa ternyata anak ini sudah sampai batasnya" gumam Alara heran.
Sampai matahari hampir mencapai puncak bocah itu belum juga membuka mata, ibunya sampai heran sambil sesekali mengelus rambut putranya, baru kali ini dia melihat anaknya tertidur pulas luar biasa.
"kau benar akan pergi sore ini nona?" tanya ibu Damar.
"mmm, aku sudah terlalu lama menunda bibi" jawabnya.
Ibu tadi keluar sebentar lalu kembali lagi dengan membawa sesuatu di tangannya, dia menghampiri Alara dan menyerahkannya pada Alara.
"apa ini?" tanya Alara.
"kemarin malam Damar tanpa sengaja menceritakan semuanya padaku, semua yang tarjadi saat dia menghilang dan kembali bersamamu"
"degggg, apa yang di katakan bocah itu pada ibunya" batin Alara tertunduk.
"tak perlu khawatir begitu, aku akan menyimpan semua rahasia itu karena setiap orang memiliki rahasia masing masing, terlepas dari itu aku benar benar berterima kasih padamu" sambung ibu Damar.
"lalu ini apa?"
"almarhum ibuku mengatakan ini adalah jimat keberuntungan, yahhh ... walau sebenarnya aku tak itu benar atau tidak tapi ini peninggalan ibuku satu satunya, pakailah ini" ucapnya sambil membuka kotak kecil di tangan Alara.
Tampak sebuah benda kecil berbentuk bulat seperti bulan purnama dengan gambar serigala, ukurannya hanya sebesar jari jempol orang dewasa, ibu Damar mengambilnya dan menyematkan di dada sebelah kiri layaknya sebuah lencana.
"siapapun yang kau cari semoga kalian segera berjumpa, kau adalah gadis yang sangat baik, kuharap hidupmu selalu penuh kebahagiaan" ucapnya.
"terimakasih bibi, aku akan pergi sebelum petang nanti" ucap Alara.
"kalau begitu ayo berlatih lagi" ucap Damar tiba tiba.
Alara dan ibu Damar sama sama memandang heran pada bocah 5 tahun itu, entah sejak kapan dia terbangun.
Setelah menghabiskan waktu melatih Damar, Alara bergegas pamit saat matahari sudah hampir tenggelam, ibu Damar beberapa saat memeluknya, anaknya juga melakukan hal yang sama.
"jika urusan kakak selesai kakak akan mampir kesini, berlatihlah yang rajin agar kakak bisa membawamu pada guru yang sesungguhnya" ucap Alara menasehati.
"kau tak perlu khawatir kak, aku akan berlatih siang malam agar bisa merebut kembali desaku" ucapnya penuh semangat.
Alara menunduk beberapa kali sebelum menarik nafas panjang dan melesat pergi, tubuhnya mulai hilang tertutup lebatnya hutan dan langit yang muali gelap.
"semoga kebahagiaan selalu bersamamu nona serigala" gumam ibu Damar.
Alara terus melesat ke selatan dengan kecepatan lumayan tinggi, dedaunan di sekitarnya goyang terkena terpaan angin dari kecepatannya.
Gadis itu memperlambat larinya saat tiba di pinggiran desa, dia berjalan memasuki desa untuk mencari tempat menginap, tak jauh darinya tampak satu penginapan yang lumayan besar.
"anda ingin menginap atau sekedar makan tuan" tanya seorang pelayan.
"aku ingin menginap satu malam nona" jawabnya dengan suara di beratkan.
Selesai membayar dia di antarkan ke sebuah kamar yang terletak paling ujung, segera dia merebahkan tubuh karena besok ingin bergegas menuju hutan bambu.
....bersambung...
__ADS_1
jangan lupa dukungannya