The Werewolf

The Werewolf
53. Jadi diri sendiri


__ADS_3

"sling .. BRUKKK"


"uhh hoekkkk" badan Alara terhuyung.


Gadis itu kembali dengan keadaan cukup mengenaskan, jubah dan bajunya robek rambut panjangnya juga ada yang terpotong, dan yang jelas perutnya yang penuh terisi makanan sudah kosong karena muntah.


"portal si*lan, bedebahhhh" ucapnya kesal.


"drap .. draap"


Kai lari begitu cepatnya saat merasakan aroma tuannya, harimau itu benar benar seperti bocah yang menyambut kepulangan ibunya.


"majikaan" teriaknya dari kejauhan.


"oh Kaii, kenapa lari lari begi.."


"apa apaan tampilanmu itu, kenapa seperti gembel?" ucap Duwan memotong.


"masih baik cuma pakaian dan rambutku yang terpotong, apa jadinya kalau leherku?" ucapnya.


"tapi masih utuh kan? ohyaa bagaimana? berhasil?" tanya Duwan penasaran.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk, raut bahagia benar benar terlihat di wajahnya, sangat berbeda ketika pergi yang terlihat gugup juga takut.


"berhasil?" tanya Duwan lagi.


"iya .. aku berhasil Duwan aku berhasil huhuuu" tangisnya tiba tiba.


"ehh lhoo kok nangis" ucap Duwan bingung.


"huhuuu aku ... aku tidak di benci, di-dia mencintaikuu" ucapnya terbata.


"ehh cinta? jangan jangan.."


"ibuku tidak membenciku, dia bilang kematiannya adalah takdir, dan itu bukan salahku"


"ibu? kematian? maksudmu apa Ra?" ucap pemuda itu tak mengerti.


"dia baru saja menemui ibunya" ucap Rangga tiba tiba.


"apa? bagaimana bisa?" pekik Duwan kaget.


"yaa anggap saja itu keajaiban" seru Raka ikut nimbrung.


Setelah berganti pakaian Duwan membantu gadis itu memotong rambutnya, tanpa gadis itu sadari pemuda itu membuat potongan baru untuknya, jika biasanya hanya rambut panjang papak, sekarang rambutnya di potong agak pendek dan berponi.


"hehh kenapa rambutku begini?" tanyanya saat menyadari perubahan.


"gaya baru lah, emangnya ngga bosan rambut panjanh sepinggang terus?" ucap Duwan menjawab.


"kalau itu bukan masalah, tapi apa apaan poni ini, seperti anak kecil" keluhnya.


"apanya? cantik kok" ucap Duwan.


"tch apa sih?" gerutu gadis itu pergi.


"hehee dasar gadis itu, sekarang jadi pemalu rupanya" gumam Duwan.


Selesai merapihkan rambut Alara ikut makan bersama dengan yang lainnya, mereka makan besar layaknya orang yang sedang berpesta, hanya saja pesta ini adalah pesta perpisahan.


Semua menu yang tersedia terdiri dari daging, Duwan yang tak begitu suka makan daging hanya makan sedikit, sangat berbeda dengan mahluk di sekelilingnya yang merupakan pemakan daging.


"kenapa?" tanya Alara.


"tidak papa, aku sudah kenyang" jawabnya.


"permisi apa ada buah atau sayuran di sekitar sini?" tanya Alara pada ibu di sebelahnya.


"di belakang rumahku ada banyak tumbuhan sayur, tapu karena kami tak memakannya tumbuhan itu sudah seperti rumput liar" jawabnya menunjuk arah rumahnya.


"boleh aku memetiknya?"


"ehh apa nona memakan sayur?" tanya ibu itu bingung.


"iya, sesekali aku ingin makan sayur" jawabnya.


"oo begitu yah? ambil saja sebanyak yang nona mau" ucapnya.


Dengan sigap gadis itu memetik beberapa sayuran, dia menuju dapur dan menumis sayuran seperti yang biasa dia lakukan saat di rumah kakek Arung.

__ADS_1


Tangan kecilnya keluar dengan membawa 2 piring sayur dan menempatkan di depan Duwan.


"makanlah" ucapnya.


"ehh kamu masak?"


"tidak, mungut" singkatnya ketus.


"haha bisa saja kamu Ra"


Dengan lahap Duwan memakan sayur di hadapannya, selama seminggu hanya memakan daging membuat pemuda itu merasa bosan, hanya saja dia tak berani menolak karena merasa tak enak.


Setelah selesai makan semua orang kembali ke rumah masing masing, barulah besok pagj mereka akan pergi ke tempat tinggal baru mereka.


"Ra"


"hmm"


"kamu senang?" tanya Duwan.


"maksudnya?"


"bertemu ibumu"


"tentu saja, bukan hanya senang tapi sangat senang" ucapnya berbinar.


"pantas saja kamu menginap berhari hari, tapi yang penti.."


"berhari hari? apa maksudmu? aku hanya bertemu beberapa jam saja" bantah hadis itu.


"ehh padahal kamu pergi 4 hari loh Ra" ucap Duwan.


"hah? berarti waktunya berjalan berbeda, aku hanya beberapa jam saja di sana" ucap gadis itu.


"emm itu artinya satu jam di masa lalu sama dengan 1 hari di masa sekarang?" terka Duwan.


"mungkin saja, paman tidak mengatakan itu padaku" ucap gadis itu tidak yakin.


"yaa sudahlah yang penting sekarang tidak ada yang mengganjal lagi di hatimu kan?" tanya Duwan memastikan.


"iya, hatiku sudah sangat lega" jawabnya tersenyum.


Rangga dan beberapa yang tersisa menunggu satu minggu untuk menyusul, tempat tinggal di hutan bambu masih di lindungi dengan pagar gaib seperti sebelumnya, siapa tau suatu saat nanti tempat itu di perlukan.


"sling" 3 portal muncul berdampingan.


Raka dan 2 orang pengguna sihir teleportasi datang kembali setelah 1 minggu pergi, Rangga dan lainnya yang sudah bersiap langsung berbondong memasuki lingkaran sihir dan saling berpegangan.


"ayo Ra kamu juga harus ikut" ajak Rangga.


"ehh kenapa?"


"supaya kamu lebih paham lokasinya, pasti akan lebih mudah jika ingin mengunjungi kami nanti" ucap Rangga.


"tidak perlu, pergi ke masa lalu saja aku bisa, ayah tenang saja" tolak gadis itu.


"hmm ya sudah, ayah pamit yah, kamu jaga diri baik baik" ucapnya sebelum pergi.


Rombongan terakhir akhirnya memasuki lingkaran sihir dan menghilang, tugas Alara adalah kembali menutup pagar gaib yang melindungi rumah ras'nya dulu.


Setelah segala tugasnya selesai, gadis itu dan dua teman perjalanannya memilih pergi, Alara sudah mulai merinduka bocah bernama Damar dan ingin segera pulang.


"Ra kenapa tidak pulang menggunakan portal sihir saja?" tanya Duwan.


"nggak"


"kenapa? aku juga ingi..."


"kontrolku belum terlalu bagus, kemarin tau sendiri kan aku pulang dalam keadaan apa?" ucapnya.


"aaa iya benar, kok bisa yah?"


"entahlah, aku harus belajar lebih giat" ucap Alara.


"tapi kamu hebat banget Ra bisa datang ke masa lalu, kayanya kalau ke masa depan lebih keren deh" celetuk Duwan.


"jangan bicara aneh aneh deh"


"lho aneh apanya? kamu kan bisa lihat masa depan jadi pasti ngga masalah kalo ke masa depan" ucap Duwan.

__ADS_1


"bukan begitu Duwan, aku takut" ucapnya.


"takut? seorang Alara takut? kenapa?" tanya Duwan heran.


"aku pernah tanpa sengaja melihat masa depan seseorang, aku lihat dia akan mati karena keracunan, saat dia mati aku merasa bersalah, aku berfikir harusnya aku menolongnya, tp aku juga takut kalau aku melakukan sesuatu masa depan akan berubah" ucapnya menerangkan.


"memangnya kalau kamu menolong seseorang masa depan akan berubah?" tanya Duwan tak mengerti.


"kamu ingat saat kita bertemu dengan sepasang ayah dan anak pedagang?"


"emm waktu kita di kota Toran? saat sang ayah mati di tangan pendekar yang sedang mabuk?" tanya Duwan.


"iya"


"memangnya kenapa?"


"saat aku memegang tangan anaknya tanpa sengaja aku menggunakan kemampuanku, aku melihat hari itu anak itu akan mati karena tersedak makanan tanpa ada yang tahu, tapi aku mencegahnya makan dengan menumpahkan makanan anak itu, dan kamu tau sendiri apa yang terjadi kan" jelasnya lagi.


"sebagai ganti nyawa anaknya justru ayahnya mati?"


"iya"


"bisa saja itu kebetulan kan?" bantah Duwan.


"tidak Duwan, setiap nyawa yang harusnya hilang jika di selamatkan maka harus ada nyawa lain sebagai pengganti" ucap Alara lirih.


"jadi itu alasanmu selama ini tak pernah menggunakan kemampuanmu? kamu terbebani?"


"entahlah, lebih tepatnya aku tidak ingin repot" ucapnya tanpa basa basi.


Mereka terus bicara sepanjang jalan hingga tanpa sadar mereka sudah keluar dari hutan bambu, Kai yang jalan di depan sesekali menengok ke belakang saat Alara dan Duwan berjalan sangat pelan.


Hingga malam tiba ketiganya baru berhenti dan memilih istirahat, makan malam di bawah langit malam seperti sebelumnya memiliki kenangan tersendiri untuk mereka.


"Ra"


"hmmm"


"aku menyukaimu" ucap Duwan.


"DEG"


"si*l apa yang dia katakan?" batinnya.


"aku tau" singkat gadis itu.


"aku ingin tau apa kamu juga menyukaiku?" tanya Duwan penasaran.


"tidak"


"apa? kenapa?" tanyanya panik.


"entahlah, aku hanya belum menyukaimu saja" jawab gadis itu.


"aku harus bagaimana supaya kamu menyukaiku?" tanya Duwan penasaran.


"bagaimana apanya?"


"ya sikapku atau penampilanku harus bagaimana? kamu ingin aku seperti apa?" tanyanya serius.


"tetaplah jadi diri kamu sendiri Duwan, jangan memaksakan dirimu mengikuti standar orang lain"


"tapi.."


"aku bilang belum, jadi ada kemungkinan aku menyukaimu, lagian hanya kamu laki laki yang selalu bersamaku"


"benar juga, ada harapan aku jadi suamimu kan?" tanyanya percaya diri.


"suami? ternyata seleramu tinggi juga" celetuknya.


"apa salahnya? kamu gadis yang sempurna untukku"


"ohh begitu? tapi sayangnya kamu bukan tipeku tuh"


"BUAKK KRAK" hatinya yang sempat berbunga karena ucapan Alara sebelumnya, seketika hancur karena hantaman kenyataan yang di lontarkam gadis itu.


....bersambung.....


buat temen temen yang masih sendiri jangan berkecil hati ya, jangan menganggap dirimu tidak spesial karena kita semua sempurna kita semua spesial di mata orang yang tepat, dan jangan pernah mengikuti standar orang lain hanya karena ingin terlihat sempurna di depannya, tetaplah jadi diri sendiri.

__ADS_1


cintai dirimu dan cintai hidupmu💜💜


__ADS_2