The Werewolf

The Werewolf
43. Penipu ll


__ADS_3

"apa maksudnya? kenapa nona berkata demikian?" ucap pemuda itu tak terima.


"tentu saja, kau menjual benda jelek ini seharga 10 ribu koin emas, teman ku ini memang bodoh tapi aku tidaklah bodoh" ucap Alara.


"itu adalah pedang yang bagus, tuan muda memilihnya sendiri" ucapnya.


"benarkah?"


"ehh aku hanya bertanya dan dia bilang itu pedang yang sangat bagus" jawab Duwan.


"hmmm .. bisa kau katakan kebagusan pedang ini, apa mata pedangnya sangat tajam atau dia sangat lentur?" tanya Alara.


"pe-pedang itu sangat kuat" jawabnya tergagap.


"kuat? aku bahkan bisa mematahkannya hanya dengan 1 tangan" ucap Alara.


"ma-mana mungkin.."


"ada apa ini?" tanya seorang lelaki tua yang turun dari tangga.


"apa anda pemilik toko ini tuan?" tanya Alara.


"bukan nona, saya hanya menejer toko saja" jawabnya sopan.


"menejer? berarti kau yang bertanggung jawab pada toko ini?" sambung Alara lagi.


"benar nona"


"berapa lama pemuda ini kerja di toko ini?"


"hmm ohh dia baru di pindahkan kemari nona, baru satu bulan lalu" jawabnya.


"baru satu bulan di sini tapi sudah berani menipu, besar juga nyalinya" sindir Alara.


"jaga bi.."


"maksud nona apa? menipu apa?" tanya laki laki tua bingung.


"dia menjual pedang jelek ini dengan harga yang sangat mahal" ucapnya.


"ahh pedang itu memang lumayan mahal nona, harganya bisa sampai 8 ribu koin emas" ucapnya.


"lalu kenapa dia menjual seharga 10 ribu pada temanku?" tanyanya menunjuk pemuda tadi.


"eh-em itu.."


"kalau begitu pak tua, katakan padaku kenapa harga pedang ini mencapai 8 sampai 10 ribu? apa kehebatannya?" tanya Alara menyelidik.


"pedang itu sangat kuat" jawabnya.


"hmm kalau pedang ino bagus bukannya harusnya di letakkan di lantai atas? dimana kamu mendapatkannya Duwan?"


"di situ" tunjuknya ke tempat sebelah tangga.


"hmm sepertinya pedang ini hanya pajangan" batin Alara.


"bisa jelaskan kenapa pedang ini di letakkan di tempat barang barang murah?" tanya Alara kembali menyelidik.


"i-itu karena belum sempat di pindahkan" jawab pemuda lagi.


"kulihat tokomu tak terlalu ramai, kenapa memindahkan sebilah pedang saja sampai tak sempat? atau pedang ini memang hanya barang murah?" tanya Alara lagi.


"anda jangan bicara yang bukan bukan nona, omongan anda bisa mencemarkan nama baik toko kami" ucap pria tua meninggi.


"aku hanya bertanya kenapa anda marah? kalau memang ini pedang bagus harusnya ada di lantai atas kan?"


"sudah ku katakan, aku belu..."


"aku tak bicara denganmu" hardik Alara.


"nona sepertinya ada kesalah pahaman" ucap laki laki tua lagi.


"salah paham apa?"


"biar anda kembalikan saja pedangnya dan kami kembalikan uangnya" tawarnya.


"dia bilang barang yang sudah di beli tak boleh di kembalikan" tunjuk Alara.

__ADS_1


"i-itu"


"bagaimana kalau kita bertaruh?" ucap Alara.


"bertaruh apa?"


"kalian bilang pedang ini sangat kuat, kalau aku mampu mematahkannya hanya dengan 1 tangan maka kalian kembalikan uangku 2 kali lipat" tawarnya.


"apa? anda jangan gila nona" ucap laki laki tua kaget.


"kenapa? kau bilang pedang ini sangat kuat" ucap Alara lagi.


"ta-tapi.."


"kalian tak menyanggupi taruhanku berarti kalian memang benar benar penipu" potong Alara.


"braakkk .. beraninya"


Seketika seluruh mata menatap ke arah meja kasir, beberapa pelanggan awalnya tak peduli dengan keributan kecil yang terjadi, tapi melihat sang meneger toko sampai menggebrak meja maka kemungkinan ada sesuatu yang menarik.


"lagi lagi kau marah, lihatlah kerutanmu jadi bertambah 2 kali lipat pak tua" ejek Alara.


"dasar bocah tak tau sopan santun, kalau kau tak bisa mematahkan pedang itu hanya dengan 1 tangan maka kau harus mengganti rugi karena membuat keributan" hardik pak tua kesal.


"aku? membuat keributan? bukannya aku hanya bicara dan bertanya?" ucap gadis itu sok polos.


"ck .. sudahlah lebih baik kalian pergi" ucapnya kehilangan kata kata.


"aku ingin mengembalikan pedang ini, kenapa malah di usir?"


"heh kau ya.."


"kembalikan uangku atau ku hancurkan tempatmu" ucap Alara mengancam.


"heh nona kecil, kau pikir toko kami tak memiliki pelindung, jangan mambuatku marah" ucap laki laki tua lagi.


"udah Ra jangan di.."


"diam!"


"i-iyaa" jawab Duwan tak membantah.


"jaga bicaramu! toko yang kami kalola ini sudah berdiri puluhan tahun kau pik.."


"oo jadi karena sudah puluhan tahun kalian jadi mudah menipu manusia bodoh sepertinya?" potong Alara menunjuk Duwan.


"ekhem .. maaf menyela, sebenarnya masalah awalnya itu apa?" tanya seorang laki laki berbadan kekar di belakang Alara.


Gadis itu untuk sejenak melihat siapa orang yang menyela pembicaraannya, batinnya tertawa saat tau laki lali di belakangnya adalah seorang pendekar pedang.


"apa anda pendekar pedang?" tanya Alara sedikit lebih sopan.


"emm meski aku tak memiliki gelar tapi bisa di katakan begitu" jawabnya.


"kalau begitu bisa anda nilai kehebatan pedang ini tuan?" tanya Alara menyerahkan pedangnya.


"pedang ini sangat indah di tambah lagi matanya sangat mengkilat, bobotnya juga ringan jadi mudah di gunakan"


"kau dengar itu? kami bukan penipu" sela kakek tua.


"aku belum selesai, meski pedang ini terluhat berkelas tapi dia memiliki kekurangan yang sulit untuk di tutupi bagi seorang pendekar pedang, mata pedang yang terlihat tajam dan mengkilat ini akan tumpul hanya dengan beberapa kali serangan saja" sambung pendekar tadi.


"apa? jangan jangan kau komplotan mereka berdua" tuduh pelayan di meja kasir.


"tuan aku hanya menilai sesuai apa yang aku tau, dan pedang ini memang pedang jelek seperti yang nona ini katakan"


"kalian bertiga pasti be.."


"tuan apa anda berkenan beradu pedang dengan pedang jelek ini?" potong Alara.


"apa nona seorang ahli pedang?" tanyanya ramah.


"bukan ahli, tapi kalau untuk melindungi diri aku cukup mahir" jawabnya.


"baiklah, ayo kita coba di luar" ajaknya.


"ayo kakek tua, saksikan pedang jelek ini hancur di depan matamu" ucap Alara.

__ADS_1


Permainan adu pedang antara Alara dan pendekar asing itu cukup mengundang perhatian, dentingan pedang beradu yang terdengar ke banyak penjuru membuat banyak orang penasaran.


Banyak yang mengira dua orang itu tengah bertarung dengan sungguh sungguh, karena keduanya sama sama melakukan gerakan pedang tanpa henti.


"traang .. brukk" pedang yang Alara gunakan patah menjadi dua dan jatuh begitu saja.


Pengurus toko dan pelayannya tercengang dengan apa yang mereka lihat, seakan larut dalam permainan Alara mengeluarkan sepasang belati milik ayahnya.


"tuan lanjutkan pertarungan ini, aku benar benar menyukai permainan pedangmu" ucap Alara.


"dengan senang hati nona" jawabnya dengan terus menyerang.


Peraduan antara pedang dengan belati kembar terlihat seperti pertunjukan, tanpa mereka berdua sadari sudah banyak orang yang menonton mereka.


Duwan sendiri terkagum dengan pemandangan di depannya, selama ini dia hanya melihat Alara menggunakan alat bertarung hanya untuk membunuh musuh, tapi kali ini gadis itu terlihat sangat menikmati pertarungan.


Setelah memakan waktu hampir satu jam sang pendekar asing menyerah karena sudah mulai kelelahan, maklum saja staminanya tak bisa menyamai stamina Alara.


"hh nona aku benar benar kagum padamu" ucapnya terengah.


"anda juga luar biasa tuan, baru kali ini aku bertarung hampir satu jam hahaa" tawanya.


"kalau kau menggunakan pedang bagus aku yakin sudah kalah sejak tadi" ucapnya terus memuji.


"ahh yaa benar juga, aku harus menyelesaikan urusanku dengan penipu itu" ucap Alara.


"selesaikan saja dulu, aku mau istirahat dulu, sepertinya aku benar benar sudah tua" ucapnya pergi.


"tuan tunggu aku di restoran depan" seru Alara.


"apa ada masalah lagi nona? sepertinya pedang patah itu sudah membuktikan semuanya" ucapnya heran.


"tidak tuan, aku hanya ingin mengobrol denganmu" ucapnya canggung.


"ohh begitu, baiklah aku akan menunggumu di sana" ucapnya berlalu.


Alara memungut pedang yang sudah terbagi menjadi dua, dia memasuki toko dan berniat memintankembali uangnya.


Para pelayan dan meneger toko mulai merutuk karena kali ini tak bisa mengelak.


"trang" tanpa bicara Alara melemparkan pedang hancur itu.


"sekarang kembalikan uangku" ucapnya penuh penekanan.


"ta-tapi bagaimana dengan pedang yang rusak ini, harganya cukup mahal" protesnya.


"tutup mulutmu dan kembalikan saja uangku, atau aku benar benar memporak porandakan toko ini" ancamnya.


"nona ini tadi bertarung lebih dari 1 jam,kurasa tenaganya sudah terkuras banyak" batinnya.


"heh kau! cepat urus gadis ini" perintahnya pada seorang pelayan.


Terlihat laki laki itu mengambil pedang dan mengarah ke Alara.


"rupanya kalian masih belum mau menyerah yah? akan ku buat kau menyesali keputusanmu" ucapnya datar.


"trang .. trang"


Suara pedang dan belati kembali beradu, kali ini lawan Alara mengeluarkan hawa pembunuh yang cukup besar, gadis itu yakin pelayan itu hanyalah pendekar yang di tugaskan menjaga toko ini dan menyamar jadi pelayan.


Gerakan pendekar kali ini benar benar mantap, dia tak ragu menyerang titik vital dan menggunakn cara cara curang, Alara masih menikmati pertarungannya karena dia sudah terlanjur kesal.


"fyuhhh" tiba tiba lawannya meniupkan sesuatu ke arahnya.


"uhukk" nafasnya tersedak.


"tutup hidung kalian, itu racun!" teriak meneger toko pada para pelayan.


"si*l, mereka benar benar keterlaluan" batin Alara makin kesal.


"Duwan keluar sekarang juga!" bentak Alara keras.


Pemuda itu langsung berlari keluar tanpa banyak tanya, dia sangat paham gadis yang bersamanya sedang benar benar kesal.


"dasar manusia sampah, beraninya menggunakan cara kotor demi mengalahkanku, kali ini kalian akan benar benar menyesal" ucapnya geram.


....bersambung....

__ADS_1


jangan lupa dukungannya๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘


__ADS_2