The Werewolf

The Werewolf
42. Penipu


__ADS_3

**jangan lupa kasih like di chapter sebelumnya,


selamat menikmati**.....


"kita akan langsung ke tempat tinggalmu dulu?" tanya Duwan penasaran.


"hmm tapi sebelum itu aku harus menepati janji pada seseorang" ucapnya.


"seseorang? siapa?" tanya Duwan.


"nanti kau juga tau" singkat gadis itu mempercepat langkahnya.


Berhari hari Alara dan Duwan melakukan perjalanan ke utara tanpa banyak berhenti, mereka berlari seolah di kejar sesuatu dan mengharuskan mereka melangkah cepat.


Duwan yang larinya selalu tertinggal pada akhirnya pasrah di angkut oleh Kai, tak ada kesempatan baginya untuk mengumpulkan tanaman sumber uangnya sama sekali.


"Ra apa kita kembali berlari?" tanya Duwan.


"tentu saja, aku harus cepat kembali ke tempat kakek" jawab gadia itu.


"tidak bisakah beristirahat sebentar, kita baru selesai makan harusnya biarkan makanan di perut kita di proses terlebih dahulu" protes pemuda tersebut.


"emm kalau di pikir pikir seminggu ini memang kita tak beristirahat, ya sudah istirahat saja dulu"


Dan mereka berdua memutuskan untuk merebahkan diri sejenak, Kai juga ikut tidur di sebelah majikannya karena harimau itu juga sebenarnya kelelahan, hanya saja dia tak pernah protes seperti Duwan.


Di tempat lain di hutan Odari tampak Alan dan 3 harimaunya tengah terpukau dengan apa yang mereka lihat, seseorang dengan telinga panjang dan runcing sedang menunjukan sesuatu yang membuat Alan melongo.



Namanya Arthiana, seorang bangsa Elf yang terakhir kali di lihat ratusan tahun lalu, saat Alan masuk ke hutan setelah mengantar Alara dan Duwan dia mendapati seseorang berambut putih dan panjang sedang memakan daging bakar yang masih tersisa setelah Alan dan lainnya sarapan.


Badannya kecil tingginya hanya kisaran 150 cm dan beratnya tak sampai 40 kg, parasnya cantik dan memiliki rambut seperti Alara, matanya yang besar dan tajam itu bisa membuat siapapun agak takut melihatnya.


Arthiana adalah satu satunya Elf yang tinggal di hutan Odari, dia bersembunyi selama lebih dari dua ratus tahun di sana setelah bangsanya di buru oleh manusia, Arthiana memiliki satu kemampuan yang membuatnya di incar oleh manusia manusia tamak.


Wanita itu menguasai kekuatan elemen angin, dia bisa menjadikan angin sebagai pelindung juga senjata saat menghadapi bahaya, ratusan tahun lalu manusia percaya jika mereka memakan jantung Elf maka kekuatan Elf tersebut akan pindah pada dirinya dan itu yang membuat bangsa Elf di bunuh.


Selain memiliki kemampuan menguasai elemen angin, Arthiana dan bangsa Elf lainnya juga memiliki kemampuan bisa berkomunikasi dengan bangsa apapun, mereka juga memiliki kemampuan penyembuhan dan mereka terkenal cerdas dan juga sangat rendah hati.


Hanya saja trauma ratusan tahun lalu membuat Arthiana ketakutan saat Alan melihatnya, wanita itu menyarang Alan dan 3 harimaunya dengan kemampuannya dan membuat mereka terpental ratusan meter.


Anehnya saat Alan pingsan karena tubuhnya terpelanting sangat keras, justru Arthiana menyembuhkan lukanya, cahaya kehijauan yang dia alirkan lewat tangan ke kening Alan langsung membuat pemuda itu bangun.


Alan awalnya ketakutan saat melihat sorot mata wanita itu, dia takut kalau sewaktu waktu dia kembali di serang oleh Elf tersebut, tapi saat tiba tiba Arthiana tersenyum padanya pemuda itu malah salah tingkah sendiri.


Setelah beberapa hari bersama akhirnya Alan mulai memberanikan diri berbicara dengan Arthiana, umur Elf itu sudah lebih dari 300 tahun tapi parasnya masih cantik seperti gadis berusia 20 an.


"nona Arth apa kau benar benar hidup sendiri di sini?" tanya Alan penasaran.


"benar, aku sudah hidup sendiri di sini lebih dari 300 tahun" jawabnya.


"apa? 300 tahun? kau pasti sangat kesepian" ucap Alan lesu.


"mau bagaimana lagi? aku harus tetap hidup" jawab Arthiana tersenyum.


"apa seluruh bangsa Elf memiliki usia panjang?" tanya Alan penasaran.


"tidak! kami hidup hanya kisaran 100 tahun saja".

__ADS_1


"tapi kamu bilang sudah tinggal di sini lebih dari 300 tahun"


"benar, itu karena aku menerima kutukan" jawabnya singkat.


"kutukan?" ucap Alan terperanjat.


"aku membuat kesalahan besar, saat terjadi penyerangan pada bangsaku justru aku kabur sendirian, dan raja kami merasa terhianati lalu dia memberiku sebuah kutukan" jawabnya lagi.


"kutukan apa itu?"


"aku akan hidup abadi, dan dalam keabadian ini aku akan sendirian dan selalu kesepian" jawabnya lirih.


"i-itu mengerikan"


"benar sekali, tapi inilah takdirku" jawabnya kembali tersenyum.


Alan banyak bercerita tentang dunia di luar sana yang dia tau, tentang pertemanannya dengan Alara dan Duwan, juga tentang kehidupannya dulu saat bersama ayahnya.


Arthiana yang selama ini kesepian mendengar cerita Alan dengan antusias, dia tak menyela cerita Alan sedikitpun, dia bahkan sangat fokus mendengar cerita pemuda tanggung di depannya.


"apa nona tidak ingin keluar?" tanya Alan penasaran.


"aku? entahlah .. sudah ratusan tahun aku di sini rasanya aneh kalau tiba tiba aku keluar dari sini, lagi pula aku takut masih ada manusia yang mengincarku" ucap Arthiana lesu.


"bukannya itu sudah ratusan tahun, manusia manusia yang mengincarmu pasti sudah tiada" ucap Alan lagi.


"tapi penampilanku.."


"itu bisa di tutupi, kakak Alara juga memiliki paras yang mencolok" ucap Alan.


"paras mencolok seperti apa?"


"rambutnya putih, mata hijau dan kulitnya pucat, hampir sama sepertimu" ucap Alan lagi.


"iyaa benar, baju besar itu namanya jubah, kakak biasa menggunakannya saat sedang di keramaian, kalau hanya ada aku dan kak Duwan dia bisa membukanya" ucap Alan antusias.


"tapi aku tak punya siapapun di luar sana, jadi kemana aku harus pergi?" ucap Arthiana lirih.


"hmm aku juga sekarang sebatang kara, tapi aku memiliki 2 orang baik di luar sana, aku harap suatu saat aku bertemu lagi dengan mereka, jika hari itu tiba aku juga akan mengenalkan nona Arth pada mereka" ucap pemuda itu berbinar.


"kenapa matamu jadi cerah begitu?" tanya Arthiana heran.


"emm mungkin karena aku membicarakan orang orang yang ku sukai" jawab Alan memejamkan mata.


"ngomong ngmong Alan, apa di luar sana menyenangkan?" tanya gadis itu lirih.


"tentu saja, apalagi kalau kita pergi bersama orang orang yang menyenangkan" jawab Alan antusias.


"hmm" Arthiana manggut manggut.


Di tempat lain terlihat Alara sedang mengomel pada Duwan, gadis itu nampaknya emosi karena Duwan terus terusan menggumpulkan tanaman herbal, padalah seminggu lalu pemuda itu sangat menurut.


Kali ini dengan ancaman akan di tinggalpun pemuda itu tak perduli, dan anehnya Alara juga tak benar benar tega meninggalkan pemuda payah itu sendirian.


"baiklah aku akan berdiam di sini, kau pergi barsama Kai dan carilah tanaman sebanyak mungkin" ucap Alara.


"benarkah? ohoooo ayo Kai kita kumpulkan tanaman berharga sebanyak mungkin" ucap Duwan senang.


Alara yang kebosanan menunggu akhirnya tertidur, gadis itu sama sekali tak menyangka pemuda bernama Duwan itu pergi sampai lupa waktu.

__ADS_1


Suara binatang malam mulai terdengar di telinga gadis serigala tersebut, matanya terbuka dan menatap langit dengan diam.



"langitnya indah sekali" gumam gadis itu pelan.


Memang semenjak hari kebangkitan kekuatannya gadis itu tak lagi berubah menjadi serigala tiap bulan purnama, dia jauh lebih bebas mengubah wujud sesuai keinginannya.


Di tatapnya sekeliling terlihat Duwan dan Kai tidur mendengkur di sebelah tumpukan harta yang Duwan kumpulkan.


"hhh besok dia akan jadi saudagar kaya setelah menjual semua itu" ucap Alara tersenyum.


Paginya ketiganya bangun saat sama sama merasakan lapar karena semalam tak makan, mereka memutuskan mampir ke kota terdekat sekalian menyantap makanan enak.


Alara kembali menyuruh Kai masuk ke tubuhnya, lalu Duwan berpisah dengan Alara karena ingin menjual barang berharganya terlebih dahulu.


Gadis serigala itu duduk di pojokan menunggu pesanannya datang, tak lupa dia memesan daging untuk Kai yang saat ini juga tengah kelaparan.


Hampir 1 jam gadis itu duduk sendiri di restoran tapi Duwan belum juga menunjukkan batang hidungnya, gadis itu mulai kesal karena dia sudah seperti orang bodoh karena duduk sendirian di pojok ruangan.


Karena kesal terlalu lama menunggu gadis itu memilih keluar dan berjalan berkeliling, dia mencoba mencari toko penjual obat yang kira kira di tuju Duwan.


Dahinya mengrenyit saat melihat pemuda yang di carinya justru keluar dari toko senjata, dengan wajah sumringah dia menenteng pedang di tangannya.


"untuk apa dia membeli pedang? memegang pedang saja dia tak bisa" gerutu Alara.


Duwan melambaikan tangan saat melihat sosok yang di kenalnya berdiri tak jauh darinya, pemuda itu berlari kecil mendekati Alara yang hanya terlihat bibir dan hidungnya.


"untuk apa kau membeli pedang?" tanya Alara menyambutnya.


"ehh emm ituu pedang ini bukan untukku" ucapnya.


"lalu?"


"aku sangat menyukai saat kau bermain pedang, tapi karena pedangmu sudah di berikan pada Alan kau jadi tak pernah bermain pedang, jadi.."


"kenapa kau membelikan pedang jelek ini untukku?" tanya Alara kesal.


"pedang jelek? aku membelinya dengan harga mahal" ucap Duwan tak terima.


"kau jangan tertipu dengan tampilannya yang cantik dan sangat mengkilat, itu hanya pedang biasa, berapa harga pedang itu?" tanya Alara.


"harganya 10 rib.."


"apa? dasar bodoh, kembalikan pedang itu sekarang!" perintah Alara tegas.


"apa pedang ini benar benar jelek?"


"greep .. ayo kembalikan" ucap Alara menarik Duwan.


Gadis itu bersungut sungut karena merasa pemuda itu terlalu bodoh sampai tertipu seperti itu, dia langsung mendatangi meja kasir yang terlihat seorang pemuda sedang tersenyum sangat lebar.


Dan tiba tiba senyumnya langsung menghilang saat melihat Duwan yang baru beberapa menit pergi sudah kembali.


"brak .. kembalikan uangnya" ucap Alara menyerahkan pedang.


"uang apa? barang yang sudah di beli tidak bisa dibkembalikan lagi" jawabnya santai.


"begitu yah? aku tak menyangka toko senjata sebesar ini memelihara seorang penipu" ejeknya.

__ADS_1


"apa kau bilang? penipu?"


.... bersambung...


__ADS_2