
"kenapa kau selalu menggangguku" gerutu Alara.
"aku tak bisa tidur, aku gelisah nona" keluh Duwan.
"apa urusannya denganku" ucap Alara ketus.
"ijinkan aku mengobrol denganmu ya, kumohon" pinta Duwan.
"kalau tau begini lebih baik tadi aku pergi saja" ketusnya lagi.
Duwan menarik tangan Alara dan membawanya ke taman belakang, di kediaman Duwan ada dua taman, satu milik ibunya ada di bagian depan dan satu milik kakaknya ada di bagian belakang.
Pemuda itu memamerkan segala bunga yang di rawat kakaknya, meski awalnya dia bercerita antusias, lama kelamaan buliran bening jatuh dari pelupuk matanya saat melihat beberapa bunga yag tampak layu dan kering.
"seperti ada yang mengawasi kami" batin Alara.
"wuushhh .. awass ... bruukk"
Sebuah anak panah melesat ke arah Duwan, untungnya Alara yang sudah siaga mampu menghindarinya.
Alara langsung berlari ke arah asal anak panah tadi melesat, sayangnya tak ada siapapun di sana.
"kenapa di sini bau .." "s*al" umpatnya.
Gadis itu segera menghampiri Duwan, dia menarik pemuda itu dengan kecepatan lari yang luar biasa cepat, mereka langsung lari ke kediaman ayah dan ibu Duwan istirahat, Alara curiga terjadi sesuatu dengan orang tua pemuda itu.
Pemuda yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya mengikuti kemana Alara menariknya, Alara juga tak memberikan dia kesempatan untuk bertanya, gadis itu terus menyuruh Duwan tutup mulut dan tak boleh bersuara.
Semakin mereka masuk ke dalam, semakin kuat juga aroma darah yang tercium, tadi saat dia berlari ke arah anak panah berasal sempat mencium aroma darah, jadi gadis itu curiga terjadi sesuatu di dalam.
Perasaannya semakin tak menentu kala merasa kesunyian di hunian itu terkesan mencekam, gadis itu membuka pintu kamar dan mendapati sosok ayah dan ibu Duwan sudah bersimbah darah.
"ja..."
Belum sempat gadis itu melarang, Duwan sudah terlebih dulu lari masuk ke dalam
"wush ting" dua buah belati saling bertabrakan tepat di sebelah kepala Duwan.
Pemuda itu pucat pasi saat baru menyadari maut kembali menghampirinya.
"awas di bawah ranjang!" pekik Alara.
Duwan langsung meloncat ke ranjang tempat ayah ibunya terbaring tak bernyawa, Alara sendiri menghadapi 2 orang pembunuh dengan tangan kosong.
Satu di antaranya membawa pedang di pinggangnya, Alara hanya memiliki satu belati di balik jubahnya sekarang.
"jangan halangi kami, kami hanya ingin nyawanya" ucap orang yang tadi melempar belati di sela pertarungan.
"ohh jadi kau ingin nyawanya? ambil saja ... kalau bisa"
"buakk brukk" satu kepalan tinju mendarat mengenai dada seorang di antaranya.
Seorang yang menggunakan pedang maju menyerang saat kawannya terpental, Alara melompat tan menunduk tiap pedang manghampiri tubuhnya, sesdkali dia balik menyerang walau serangannya juga bisa di hindari oleh lawannya.
"s*al pedangku ada di kamar" batin Alara mengeluh.
Saat Alara kembali melayangkan tinjunya, lawannya langsung menghindar dengan mencondongkan tubuhnya ke belakang, saat lawannya mengira telah berhasil menghindar, kaki Alara dengan cepat menendang bagian belakang lututnya.
Walau tak membuat lawannya jatuh tapi serangannya mambu membuat lawannya kehilangan keseimbangan, dengan cepat dan tak ingin menyia nyiakan kesempatan, Alara menendang kembali bagian belakang lutut hingga lawannya terjatuh berlutut.
Untuk sesaat tanpa ada yang melihatnya, Alara mengeluarkan cakarnya dan "craasssh .. aakh"
tenggorokan lawan sudah berlubang, darah mencuat saat Alara menarik cakar tajamnya.
Satu lawannya yang sempat di pukul langsung kabur lewat jendela, saat gadis itu hendak mengejar satu anak panah melesat padanya.
"s*al" umpatnya saat kehilangan jejak.
__ADS_1
Alara kembali dan mendapati Duwan tengah menangisi kedua orang tuanya yang sudah tiada, baru saja dia kehilangan kakaknya, sekarang dia harus kehilangan ayah dan ibunya juga.
"kenapa dunia kejam padaku" ucapnya di sela tangisan.
Gadis itu tak bicara banyak hal, dia hanya memandang punggung pemudah yang tengah menangis, para pelayan dan penjaga sibuk menyiapkan pemakaman untuk tuan mereka.
Satu hal yang menarik perhatian Alara, dia merasa seseorang di antara para pelayat yang hadir ke pemakaman aromanya tercium mirip dengan orang yang menyerangnya semalam.
Gadis itu berkeliling mengendus keberadaan orang tersebut, tapi dia rasa orang itu menyadari kalau Alara mencarinya, lama kelamaan justru aromanya hilang.
"apa itu hanya perasaanku saja" gumamnya bingung.
Alara kembali menemani Duwan, terlihat ada beberapa kerabat yang tampak menenangkan pemuda tersebut, setelah acara bela sungkawa selesai Alara berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, dia juga minta agar Duwan memperketat penjagaan untuk dirinya sendiri.
Alara tau kalau Duwa sebenarnya enggan melepas kepergiannya, tapi Alara juga tak bisa berlama lama di sana, selain karena penampilannya yang kerap di jadikan bahan pembicaraan dia juga benar benar tak nyaman di sana.
Gadis itu segera berlari cepat saat memasuki area hutan dia sudah cukup lama menunda perjalanannya.
Sekitar 4 hari keluar masuk hutan dengan lari kecepatan penuh Alara tiba di area hutan bambu, gadis itu terus masuk ke area dalam dan mencari bambu hitam tanpa daun sesuai petunjuk kakeknya.
Hampir seharian penuh mencari, Alara sama sekali tak menemukan pohon bambu dengan ciri ciri yang di sebutkan kakeknya, gadis itu hanya terus memutar dan kembali ke tempat awal.
"apa aku salah hutan yah?" gumamnya ragu.
Gadis itu memandangi kalung berliontin biru pemberian ayahnya, tak ada perkataan apapun yang keluar dari mulutnya, entah apa yang gadis itu pikirkan saat itu.
Setelah beberapa saat berdiam diri Alara memutuskan untuk kembali mencari, tak peduli berapa lama waktu yang dia butuhkan gadis itu harus segera menemukannya.
Malam tiba membuat suasana hutan makin mencekam, anehnya Alara bisa melihat sebatang pohon bambu hitam berukuran besar tepat di hadapannya, padahal sudah seharian dia kesana kemari mencari.
"hmmm apa pohon ini hanya terlihat saat malam?" gumamnya heran.
Setelah meneteskan setetes darah pada pohon bambu, suasana di sekitarnya perlahan berubah, pohon pohon bambu yang subur dan lebat perlahan menghilang dan bergantikan rumah rumah sederhana layaknya sebuah pedesaan.
Alara berkali kali mengucek mata untuk memastikan apa yang di lihatnya tidaklah salah, pohon bambu hitam di depannya berubah menjadi pintu gerbang sederhana yang terbuka lebar.
"tunjukkan tanda pengenalmu" perintah seorang penjaga.
"tanda pengenal? ... oh ini" ucapnya memperlihatkan kalungnya.
"ka- anda anggota keluarga utama? mohon maaf atas kelancanganku nona" ucap penjaga gerbang.
"keluarga utama? apa mksdnya?" gumam Alara bingung.
Gadis itu hanya tersenyum dan kembali melangkah, jubah yang menutupi wajahnya sudah dia lepaskan, dirinya merasa tak perlu menggunakan lagi di sini karena orang orang di sini berambut putih sepertinya.
"inikah tempat asal ayah? tapi di mana aku bisa menemukan keluarganya?" batinnya bingung.
Alara teringat dengan perkataan penjaga gerbang bahwa pemilik kalung yang di pakainya adalah anggota keluarga utama, dia memutuskan mencari kediaman keluarga utama.
Gadis itu berhenti di depan sebuah rumah berukuran lebih besar dan berhalaman luas, bahkan ukurannya lebih besar dari rumah Duwan, gadis itu ragu untuk melangkah karena dirinya merasa kurang percaya.
"siapa yang kau cari?" tanya seseorang tiba tiba.
"a-ahh tidak ada" jawabnya bingung.
Saat hendak pergi langkahnya di hentikan secara tiba tiba.
"kenapa kalung kakak ku ada padamu?" tanyanya dengan suara berat.
"kalung? kalung ini?" tanya Alara memastikan.
Lelaki di depannya langsung merebutnya dan memandangi dengan teliti.
"ayo masuk, dan jelaskan di dalam" ucapnya dengan menarik tangan Alara.
Mereka melangkah melewati barisan penjaga, keadaan di sini sangat mirip di rumah Duwan, hanya saja di sini berkali lipat lebih mewah dan besar, penjaganya juga sangat banyak.
__ADS_1
"katakan pada ayah aku ingin menemuinya" ucapnya pada seseorang.
"baik"
"bisa tolong lepaskan tanganku?" tanya Alara tak nyaman.
"tidak!" jawab laki laki itu tegas.
Tidak lama setelahnya laki laki itu kembali menarik Alara dan masuk ke sebuah ruangan, tampak seperti kamar dengan berhiaskan banyak batu cantik di sekelilingnya.
"aku menghadap ayah" ucapnya sembri berlutut.
"tak perlu formal begitu, ada hal penting apa" tanya seorang kakek di pembaringan.
Laki laki itu menyerahkan kalung milik Alara padanya, matanya melotot saat menatap kalung yang berada di tangannya, entah apa yang ada di pikiran lelaki tua itu, yang jelas matanya memancarkan kerinduan saat memandangnya, Alara sendiri hanya berdiri mematung karena tak mengerti akan situasinya.
"kau kemarilah!" ucap lelaki tua pada Alara.
Gadis itu melangkah mendekat dan berlutut di depannya, entah benar atau tidak yang jelas Alara hanya mengikuti laki laki yang membawanya tadi.
"dari mana kau mendapat kalung ini?" tanyanya pelan.
"kalung itu ada bersamaku sejak aku bayi, kakekku bilang kalung itu peninggalan ayah" ucapnya jujur.
"ayahmu? siapa nama ayahmu?" tanyanya lagi.
"Rangga" singkatnya.
Alara bisa melihat mata lelaki tua itu nampak berkaca kaca, dia menggenggam erat kalung di tangannya seakan merasakan sesuatu.
"apa .. dia sudah mati?" tanyanya ragu.
"degggg, mati? apa maksudnya? justru aku kemari ingin menanyakan itu" batin Alara.
"maaf aku tidak tau, justru kedatanganku kemari ingin menanyakan itu" jawab Alara.
"putraku itu sudah hampir 20 tahun pergi, dan sampai sekarang tak pernah kembali" ujar laki laki tua itu.
"put ... ramu?" tanya Alara kaget.
"kemarilah, jika kau putrinya maka aku adalah kake.."
"ayahh" potong lelaki di sebelah Alara.
"tak perlu cemas begitu Raka, dia putri Rangga yang tak lain adalah keponakanmu" tuturnya pelan.
Alara menatap lekat lekat lelaki di sampingnya, banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, hanya saja tak ada satupun yang bisa keluar dari mulutnya.
"siapa namamu?" tanyanya lembut.
"Alara"
"hmm bisa ceritakan sedikit apa yang terjadi dengan putraku sampai kau datang kemari mencarinya?" tanyanya.
"aku tak bisa menceritakan apapun kakek, karena aku juga tak tau apa yang terjadi padanya" jawabnya tertunduk.
"kau tak tau? apa kau benar benar anak Rangga kakaku?" tanya Raka tak percaya.
"apa anda berfikir aku berbohong? aku hanya tau nama ayahku adalah Rangga, aku kemari juga atas petunjuk yang di tinggalkannya dulu" ucap Alara kesal.
"lalu bagaimana kau bisa tak tau tentangnya jika kau benar putrinya?"
"sejak bayi aku tidak di rawat oleh ayah dan ibuku, ibuku tiada beberapa saat setelah menyelamatkanku, kalau ayah aku tak tau sama sekali, aku bahkan tak tau seperti apa wajah ayahku dan kau mengira aku berbohong?" ucap Alara makin kesal.
"bicaralah yang sopan, jelaskan baik baik" ucapnya meninggi.
"apa aku harus sopan pada seseorang yang memperlakukanku begitu? kau sendiri tak bicara dengan baik padaku"
__ADS_1
......bersambung.....