
sebelum baca jangan lupa like chapter sebelumnya ya, dukungan dari pembaca sangat berarti bagi author😊
Sudah dua minggu Alara menetap di kediaman kakeknya, bulan purnama beberapa hari lalu adalah pertama kalinya ada orang lain yang melihat tubuh serigalanya selain kakek Arung.
Sebenarnya penampilan Alara sedikit berbeda dengan kakek maupun ayahnya, jika kakek Permana, Rangga dan Raka memiliki bulu seputih salju justru bulu milik Alara sedikit berwarna biru muda di bagian ujung, dan yang paling mencolok adalah bulu bagian kepalanya sangat panjang.
Bisa di katakan dia adalah serigala tercantik yang pernah ada, di tambah dengan tanda di keningnya yang nampak bersinar saat dia berada di tubuh serigala, Raka bahkan berkali kali memutari tubuh keponakannya hanya untuk melihat keindahannya.
Kesehariannya hanya di habiskan dengan kakeknya, dia di ajari bagaimana cara menyembunyikan aroma tubuhnya tanpa bantuan ramuan kakek Arung, dia juga di ajarkan bagaimana mengendalikan kekuatannya jika sudah terbangkitkan nanti.
Sudah tentu Alara sangat semangat saat di ajari cara menyembunyikan aromanya, karena menurutnya ramuan yang di buat kakek Arung sangatlah tidak enak, apalagi baunya yang sering kali membuatnya ingin muntah.
Alara sudah memutuskan untuk meninggalkan kediaman kakeknya beberapa hari lagi, gadis itu masih ingin mencari keberadaan ayahnya, dia semakin yakin bahwa ayahnya masih hidup setelah mendengarkan penjelasan kakek Permana.
Menurut penuturan kakek Permana, setiap hubungan orang tua dan anak manusia serigala sangatlah spesial, mereka bisa merasakan kematian anggota keluarga dekat lewat insting dan firasatnya, kalau menurut manusia di sebut ikatan batin, hanya saja ikatan antar manusia serigala berkali lipat lebih peka.
Kakek Permana dari dulu selalu yakin bahwa Rangga putranya masih hidup, tapi sempat goyah saat Alara datang dan mengaku anak dari Rangga, dia sempat berfikir kalau putranya telah tewas karena kalung identitasnya di pakai oleh Alara, tapi sekarang justru dia makin yakin kalau Rangga masih hidup karena menurut firasat Alara ayahnya masih hidup.
"kakek, paman aku pamit" ucap Alara memohon ijin.
"restuku selalu bersamamu nak, jaga dirimu baik baik dan ingat baik baik pesanku" ucap kakek Permana.
"pergilah bocah, temukan kakakku yang menyebalkan itu" ucap Raka.
Alara melangkah pergi meninggalkan hutan bambu, awalnya dia bimbang ingin melangkahkan kaki ke arah mana, pada akhirnya dia berjalan ke arah timur.
Kali ini gadis itu benar benar berjalan pelan layaknya manusia biasa, dia tak berlari sedikitpun, membutuhkan waktu dua hari bagi Alara untuk melewati hutan kecil, padahal dengan kecepatan larinya hanya membutuhkan waktu kurang dari sehari.
"kenapa hutan ini sangat suram" gumam Alara.
Gadis itu berada dalam sebuah hutan yang terkenal tak pernah terjamah oleh manusia, hutan yang selalu gelap tak peduli entah itu tengah hari atau tengah malam, hutan itu terkenal dengan sebutan hutan kabut.
Selain pepohonan besar dan rindang yang membuat cahaya matahari sulit tembus, hutan itu juga di penuhi dengan kabut tebal, maka bukan hal aneh kalau hutan itu tak terjamah manusia.
Beberapa kali Alara bertemu dengan binatang, sepanjang mata memandang hutan itu hanya di penuhi berbagai jenis ular, dari ular berukuran kecil hingga berukuran besar yang asik bergelantungan di ranting pohon, banyak juga desisan suara ular berbisa yang membuat nyali Alara sedikit menciut.
"hiiyy apa hutan ini sarang ular" ucapnya bergidik.
Yang membuat Alara heran ular ular yang di jumpainya tak merasa terganggu sedikitpun, padahal biasanya ular selalu lari tiap ada di dekat Alara, seolah Alara adalah ancaman.
Langkahnya semakin cepat saat instingnya merasakan adanya sebuah ancaman, walau sepanjang jalan yang di lihatnya adalah kumpulan ular tapi itu hanya membuatnya bergidik, tapi semakin masuk justru dia merasa ada sesuatu yang mengancaman di sekitarnya.
__ADS_1
Telinganya mulai mendengar suara geraman tak jauh darinya, matanya menatap awas ke setiap sudut untuk mencari sumber ancamannya, anehnya sesuatu yang membuatnya merasa terancam tak juga mendekat.
"hahh mungkin hanya perasaanku saja, apa karena aku merasa lapar? hmm aku harus mencari sesuatu" gumamnya.
Tak lama Alara mendengar ada suara air, dia langsung tau kalau tak jauh darinya ada sungai, tapi tiba tiba saja langkahnya terhenti saat instingnya kembali merasakan ancaman.
Seekor harimau dengan ukuran sangat besar muncul tak jauh darinya, matanya merah menyala dan bisa di lihat kalau harimau itu menatapnya tajam layaknya siap menerkam kapanpun.
Benar saja secara tiba tiba harimau tersebut langsung lari ke arahnya, dengan ukuran tubuhnya yang amat besar Alara bisa merasakan tanah yang di pijak si harimau bergetar.
"aiihhh dia itu harimau atau induk gajah sih" gerutunya kesal.
Tanpa pikir panjang Alara langsung mengeluarkan cakarnya, bukan tanpa alasan dia melakukan itu, tentu saja karena kali ini lawannya adalah seekor harimau siluman, kalau harimau biasa dia lebih suka melawan dengan pedang.
Bisa di lihat dari ukurannya yang luar biasa dan juga aura pekat yang ada di sekitarnya, harimau itu berumur hampir seratus tahun, sudah pasti kekuatannya besar, di tambah lagi matanya yang merah menyala yang membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri.
Harimau siluman langsung melompat dan siap menerkam saat Alara ada di depan matanya, dengan kemampuan yang di milikinya gadis itu langsung menahan dengan kedua tangannya.
Gadis itu berguling saat si harimau kembali meyerang dan sadar tenaganya tak cukup untuk menahan serangan harimau bertubi tubi, lalu dia melompat ke sebuah pohon, dia juga melompat ke sana ke mari setiap harimau mencoba menyerangnya dari bawah.
Sampai gadis itu tiba di sebuah pohon yang ukurannya lebih besar dan tinggi, dia yakin harimau itu sedikit sulit mencapainya.
"aaaaa bruuk"
"si*l ! kau ini harimau atau banteng sih?" umpatnya kesal saat pohon yang dia naiki di sruduk dengan keras sampi dia jatuh.
"kau mau bertarung? baiklahh sini maju dan rasakan cakarku ini" ucapnya menantang.
Dia memanfaatkan kecepatan larinya untuk mendekati sang harimau, dengan kecepatan larinya tentu saja itu membuat harimau terkejut karena Alara tiba tiba saja sudah tiba di dekatnya.
"jraaas" cakarnya mendarat di punggung harimau.
Tapi sayang harimau siluman itu hanya sedikit tergores oleh serangannya.
"aihhh si*l, apa cakarku sudah tumpul? " ucapnya makin kesal.
"grooaar" si harimau marah karena kulitnya tergores, dia langsung menyerang Alara dengan membabi buta.
Alara sudah tentu kewalahan mendapat serangan seperti itu, selain karena ukuran dan tenaganya yang luar biasa, harimau itu juga tak lagi perduli saat Alara memberi goresan di sela serangannya.
__ADS_1
Gadis itu tak lagi menyerang dan justru menghindar, dia tak ingin mendapat serangan yang berakibat fatal yang akan membuatnya kesulitan sendiri.
"aku harus mencari cara" gumamnya.
Alara lari menjauh saat berhasil menghindar agak jauh dari serangan harimau, dia berlari karena tak mau berurusan dengan harimau yang bukan lagi harimau biasa.
Langkanya terhenti saat tak sengaja melihat ada jamur darah yang tumbuh di sekitar batu yang di injaknya, karena dia tau kalau harimau siluman tak mau melepasnya maka dia mendapat satu ide.
Alara mengambil busur dan anak panahnya, dia menancapkan seluruh anak panahnya pada tumbuhan jamur yang dia lihat, setelah selesai dia langsung mengarahkan pada harimau yang masih berusaha mengejarnya.
"wuusshhhh zleepp" anak panah pertama berhasil mendarat ke kaki depan sebelah kanan.
"zleep zleep" dua anak panah menyusul dan mengenai punggung si harimau.
Saat Alara ingin melepas satu anak panah lagi rupanya si harimau sudah jalan terhuyung, matanya menyipit dan tak lagi memperlihatkan kegaranganny, Alara yakin hanya tinggal beberapa detik lagi pasti harimau itu akan jatuh.
"bruukkk" sesuai dugaannya harimau itu jatuh lemas.
"huuhhh untung saja aku menemukanmu (jamur)" ucapnya lega.
Jamur yang Alara gunakan adalah jamur darah, jamur itu adalah bahan utama untuk membuat racun mematikan yang biasanya di gunakan untuk membunuh siluman, jamur darah bekerja melemaskan otot dan menyumbat aliran darah dalam waktu singkat, bahkan bisa sangat mematikan jika di gunakan untuk menyerang manusia.
Alara sangat mengenal jamur itu karena jamur darahlah yang menyelamatkan Alara dan kakek Arung dari serangan siluman beruang api tahun lalu, mereka berdua hampir mati karena Alara memanahnya saat merasa terancam dengan auranya.
Alara berjalan mendekati harimau, dia mengeluarkan pedang dan berniat menghujam jantungnya, Alara sangat yakin kalau racun dari jamur darah tak akan bekerja lama bagi siluman kuat seperti harimau di depannya.
Apalagi menurut kakek Arung harimau yang sudah menjadi siluman akan terus bertambah kuat seiring bertambahnya umur, kalau yang berumur puluhan tahun saja sudah membuat Alara kerepotan maka dia tak mau membiarkan siluman di depannya berumur sampai ratusan tahun.
"jangan menatapku begitu, ini semua salahmu karena menyerangku tanpa alasan" ucapnya saat melihat sorot mata memelas dari si harimau.
"sebenarnya aku kasihan padamu, tapi maaf aku harus membunuhmu, selamat tinggal"
Alara mengarahkan pedang dan siap menghujam jantung harimau di depannya, saat pedangnya sudah mengenai bulu si harimau
"Tunggu! jangan bunuh harimau itu"
.....bersambung.....
maaf kalau banyak typo bertebaran
jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1
kritik dan juga saran💜