
"uhuk uhuk"
"kenapa Ra?" tamya Duwan panik.
"dadaku sesak .. sakit uhh" keluh Alara.
"BRUUG" gadis itu terjatuh.
"Ra"
"majikan"
"kakak" pekik ketiganya panik.
Alara jatuh terduduk dan terus memegangi dadanya, nafasnya terasa sesak dan sesekali terasa seperti tertusuk.
Duwan membopongnya dan menyandarkan ke sebuah pohon, Damar duduk di sebelahnya dan memandangi sosok gadis yang tengah kesakitan itu.
"uhukk" keluar cairan berwarna hijau pekat dari mulutnya.
"hhh hhh" nafasnya terlihat sangat berat.
"kenapa kamu seperti keracunan?" tanya Duwan bingung.
"Kai tunggulah di sini, aku akan cari sesuatu" sambung Duwan bergegas pergi.
Tubuh gadis itu terlihat sangat lemah, dada yang terasa sesak membuatnya tak berdaya, Damar yang ketakutan justru menangis, Kai juga tak bisa berbuat apa apa sekarang.
"ini benar benar aneh, kenapa tubuhnya semakin hari semakin lemah? apa karena dia terlalu sering menggunakan kekuatan?" decak Duwan semakin tak mengerti.
Sebenarnya jarak antara Alara dan rumah kakek Arung sudah sangat dekat, tidak sampai 5 km mereka sudah akan sampai, sayangnya tubuh Alara benar benar tak bisa di ajak bekerja sama, rasa sakitnya sudah benar benar tak tertahan.
"si*l, mana mungkin aku bisa mendapatkan akar bunga gajah" decak Duwan kesal.
Karena bahan yang dia dapatkan tidak lengkap, dengan berat hati pemuda itu kembali dengan wajah lusuh, Alara sudah berkali kali menolongnya dari kematian, tapi pemuda itu tak berdaya saat Alara kesakitan.
"Ra aku tak bisa mendapatkan bahan dengan lengkap, apa ada cara lain untukku membantumu?" tanya Duwan bingung.
"hh tidak .. inih perta-ma kalinya aku begini" ucap Alara terengah.
"majikan apa rumah kakek masih jauh?" tanya Kai.
"tidak hh"
"kemana aku harus pergi? aku akan menjemputnya" ucap Kai.
"hah? ta-tapi kakek bih-sa kaget"
***
"BRUG" Kai terpental setelah menerima serangan jarak jauh.
Setelah di beritahu arah Kai langsung berlari ke rumah kakek Arung, tapi harimau itu tak berpikir bahwa kakek Arung bukanlah manusia biasa, kepekaannya terhadan aura siluman membuat harimau itu mendapat serangan tak terduga.
"beraninya siluman sepertimu mendatangi tempatku" ucap kakek Arung tiba tiba.
Tubuh Kai yang menabrak pohon terhuyung saat mencoba berdiri, di tambah lagi harimau itu dalam keadaan lelah karena seharian berjalan dengan membawa Damar dan Alara di punggungnya.
"terimalah seranganku ini siluman kurang ajar"
Kakek Arung mengangkat tangannya, seketika muncul pedang dalam genggamannya, kakek itu berlari dengan kecepatan tinggi dan bersiap menebas leher Kai.
"tu-tunggu" pekik Kai.
"kau bisa bicara? apa usiamu sudah ribuan tahun?" ucap kakek Arung bingung.
"tolong dengarkan aku, majikanku sedang kesakitan, tolong selamatkan dia" pinta Kai.
"kenapa aku harus menolong majikanmu? memangnya aku terlihat seperti orang yang akan memberi pertolongan pada sembarang orang?" ucap kakek Arung ketus.
"kau kakek Arung kan?" tanya Kai.
"kau? bagaimana bisa kau tau namaku?" tanya kakek Arung waspada.
Selama puluhan tahun tak ada yang mengetahui nama aslinya kecuali orang terdekat, yang tau nama aslinya hanya orang orang yang ada di masa lalunya.
"aku adalah teman perjalanan dari cucumu, Alara" ucapnya.
"apa? bagaima.."
__ADS_1
"tidak ada waktu untuk menjelaskan, tolong selamatkan majikan" ucap Kai memotong.
"apa yang terjadi pada cucuku?" tanya Kakek Arung heran.
"aku tidak tau, tadi tiba tiba majikan batuk, dia bilang dadanya sesak dan sakit, saat batuk keluar cairan hijau dari mulutnya" ucap Kai menjelaskan.
"gawat, kekhawatiranku benar benar terjadi" decak kakek Arung.
"apa maksudnya? apa.."
"sudahlah aku tak bisa menjelaskan, katakan di mana cucuku?"
"di ujung sebelah selatan hutan ini"
"kau meninggalkannya sendirian? bagaimana kalau dia di sera.."
"tidak! ada 2 manusia yang menemaninya, tap.."
"tapi apa?"
"mereka berdua takkan bisa melindungi majikan, jadi tolong cepatlah, aku akan mengan BRUk"
Belum selesai harimau itu bicara tubuhnya ambruk ke tanah, saat di serang kakek Arung tadi kakinya menghantam pohon dengan keras, harimau itu sama sekali tidak mengira kalau lukanya cukup membuatnya pincang.
"chh sepertinya aku terlalu berlebihan menyerangmu, kau tunggulah di sini, aku akan menjemput cucuku terlebih dahulu"
Kakek Arung masuk ke rumah dan membawa tas kecil, dia langsung lari ke arah selata sesuai petunjuk Kai, tak butuh lama baginya untuk menempuh jarak 5 km dengan kemampuannya.
Hanya saja saat tiba di sana tak ada seorangpun, baik Alara atau orang asing yang tidak kakek kenal.
"kemana mereka? harimau itu bilang Ara ada di sekitar sini" ucapnya sedikit bingung.
Saat matanya terus menatap sekeliling, dia melihat cairan hijau ada di sekitar pohon, setelah melihatnya kakek Arung semakin yakin bahwa cucunya berada dalam kondisi kritis.
"krak" terdengar suara ranting dari jarak tak terlalu jauh.
Kakek Arung mencoba untuk mendekat dengan tidak mengurangi kewaspadaanya, meski hutan itu sangat jarang di datangi siluman tapi cukup banyak pendekar pendekar aliran hitam yang melewati hutan ini.
"hhh Du-wan, inihh aroma tu-buh kakek" ucap Alara.
"craass"
"Ra!" pekik kakek Arung saat melihat cucunya.
"uhh kakek tua, kau hampir membunuh cucumuhh yang se-karat in-nihhh" ucapnya tak jelas.
"si*l, kondisimu kenapa bisa separah ini?" ucap kakek khawatir.
"apa aku ak-kan matii?"
"bicara apa kamu? anak muda dudukkan tubuh cucuku dengan benar" perintah kakek pada Duwan.
Sesuai perintah Duwan membenarka posisi tubuh Alara dengan hati hati, tubuhnya yang tadi bergetar karena kaget sudah pulih, dia mengira kakek Arung adalah rombongan pendekar yang lewat tadi.
Dengan tangan tergesa kakek Arung mengeluarkan sebuah botol dari tas kecilnya, botol kecil dengan isi cairan berwarna hitam dia berikan pada Alara.
Tubuh gadis itu menggeliat setelah menelan ramuan yang di berikan kakek Arung, tak lama setelahnya dia kembli memuntahkan cairan hijau pekat lebih banyak dari sebelumnya.
"hoeekkk"
"keluarkan semuanya" ucap kakek Arung menepuk punggung cucunya.
Setelah beberapa kali muntah kakek Arung meminta Duwan menggendong Alara, Damar ikut berjalan tanpa banyak bicara, menurutnya kakek Arung terlihat menyeramkan, dengan sorot mata tajam dan brewok panjang membuat anak itu sedikit takut.
"kakek kenapa Kai tidak ikut kemari?" tanya Alara.
"ahh ituu .. tadi"
"jangan bilang kakek menyerangnya" potong Alara.
"itu tidak sengaja, sungguh" ucapnya.
"apa dia terluka parah?" tanya Duean nyambung.
"tidak, dia hanya emm pincang" jawabnya lirih.
Setelah berjam jam berjalan tibalah mereka di depan sebuah gubuk berukuran kecil, terlihat Kai duduk di teras dan berlari saat melihat tuannya datang.
Sesuai kata kata kakek Arung, harimau itu benar benae jalan pincang, entah tulangnya patah atau hanya kesleo yang jelas harimau itu cukup menderita.
__ADS_1
Damar yang jalan berkilo kilo meter, langsung mejatuhkan diri di atas rerumputan yang tumbuh subur di halaman kakek Arung, anak itu hampir pingsan karena jalan terlalu jauh.
"sejak kapan kau merasakan sesak?" tanya kakek pada Alara.
"semalam, tapi tadi benar benar sangat sesak" jawab Alara.
"apa kamu pernah menggunakan kekuatanmu?"
"kekuatan? maksud kakek kekuatan spesialku?" tanya gadis itu.
"emm, sepertinya sudah berkali kali kau menggunakannya" ucap kakek menebak.
"iyaa pernah beberapa kali, apa itu penyebabnya?"
"huhh sudahlah, sekarang istirahtlah dulu, besok akan aku jelaskan" ucap kakek meninggalkan Alara sendirian.
Alara tak membantah karena gadis itu merasa tubuhnya sangat lemah, dia memutuskan untuk tidur dan membahas masalahnya besok.
Kakek Arung keluar menghampiri Duwan dan lainnya, terlihat Damr tertidur di sampinh Kai dan Duwan mondar mandir di halaman.
"apa yang kau lakukan?" tanya kakek mengagetkan.
"ahh tidak ad, bagaimana kondisinya?" tanya Duwan penasaran.
"masih seperti tadi, hei harimau kemarilah" ucap kakek pada Kai.
Tanggannya meraba kaki belakang Kai, setelah menemukan pusat luka harimau itu kakek Arung mengalirkan tenaga dalamnya untuk mengobatinya.
"pindahkan bocah itu ke dalam"
"iya" jawab Duwan.
Damar tidur dengan sangat pulas hingga pagi menjelang, anak itu terbangun saat perutnya merasa lapar, sejak kemarin anak itu belum makan apapun.
Dia memandangi tempat yang sangat asing banginya, tak ada siapapun di sana kecuali dirinya sendiri, anak itu memberanikan diri turun dari ranjang dan berjalan ke halaman.
Terlihat ada Kai yang sedang duduk di sebelah Duwan, sementara Duwan sedang sibuk dengan berbagai tanaman herbal di tangannya, dari arah hutan kakek Arung datang dengan membawa sesuatu di pundaknya.
"oi bocah"
"hah? iya" ucap Damar terbata.
"kau tak lapar? di dapur ada makanan, makanlah" ucap kakek Arung sebelum menghampiri Duwan.
"baik" jawab Damar kembali masuk.
Di halaman terlihat kakek Arung dan Duwan sedang meracik ramuan dengan sangat hati hati, dua laki laki itu sama sekali tak berbicara apapun kecuali tentang obat.
"kek"
"hmm"
"boleh aku tau apa yang terjadi dengan tubuh Ara?" tanyanya ragu.
"kenapa? kau penasaran?"
"tentu saja, setahun lalu dia tak begitu, tapi beberapa bulan ini.."
"apa kau sudah bersamanya selama itu?" tanya kake memotong.
"i-iya"
"jadi kau sudah tau siapa gadis itu?" tanya kakek menyelidik.
"emm ... aku bersamanya di hari kebangkitan kekuatannya" jawabnya jujur.
"hmm sebenarnya tubuhnya begitu karena kekuatannya"
"maksud kakek?"
"kekuatan serigala bulan tak cocok padanya"
"tidak cocok? tapi kenapa?" tanya Duwan heran.
"karena dia adalah seorang gadis"
"heh? memang apa salahnya kalau dia gadis?" tanya Duwan masih tak mengerti.
"karena kekuatan serigala bulan harus di miliki oleh seorang pria, dan tubuh anak itu tidak sanggup menerima kekuatan itu"
__ADS_1
....bersambung....