The Werewolf

The Werewolf
45. Lubang penyelamat


__ADS_3

"uhh perjalan kita sangat lambat, dulu tidak sampai 1 bulan aku sudah sampai di hutan bambu, tapi sekarang untuk kembali saja rasanya sulit" keluh Alara.


"mau bagaimana lagi, setiap waktu kita selalu mendapat hambatan" ucap Duwan.


"yaa kau benar, dan hanya aku dan Kai yang menyingkirkan hambatan itu" gerutu Alara.


"bagaimana lagi, tugasku kan mencari uang" jawabnya.


"hmm ya yaa"



"langit malam ini sangat indah yah?" ucap Duwan.


"yaa, aku sampai heran kenapa bintang muncul sebanyak itu" timpal Alara.


Ketika dua muda mudi itu asik ngobrol Kai sudah terbang ke angkasa lebih dulu, sejak tuannya kehilangan kesadaran beberapa waktu lalu harimau itu terus menggendongnya, di tambah lagi Duwan juga sesekli ikut naik ke punggungnya.


Sudah sebulan lamanya Alara melakukan perjalanan, tapi perjalanam pulang terlalu banyak hambatan, belum lagi setiap Alara bertarung gadis itu sering kehilangan kesadaran.


Entah sejak kapan tubuhnya menjadi selemah itu, Duwan sampai heran karena setahun lalu gadis itu tak pernah dalam keadaan begitu, sudah 2 bulan ini tubuhnya kian melemah.


"Ra boleh ku tanya sesuatu?" tanya Duwan.


"hmm, apa?" ucapnya malas.


"kenapa akhir akhir ini kau sering pingsan? padahal tahun lalu kau sangatlah kuat" ucapnya penasaran.


"aku juga tak tau, tujuanku menemui kakek juga karena ingin menanyakan itu" jawabnya.


"apa mungkin karena kamu terlalu sering menggunakan kekuatanmu?" tanyanya lagi.


"mungkin, kalau ku pikir pikir aku selalu pingsan setelah mengeluarkan kekuatan es ku" ucap Alara lagi.


"benar, dan lagi tubuhmu sangat dingin tiap pingsan, bahkan bibirmu juga biru, dan yang paling parah waktu kau bertarung di toko senjata" sambungnya lagi.


"benarkah? separah apa?" tanya Alara.


"tubuhmu dingin dan kaku seperti mayat, bibirmu bukan hanya biru tapi hampir menghitam, dan anehnya meski tubuhmu sangat dingin keringat terus keluar" ucap Duwan menjelaskan.


"hahhh, apa aku akan mati?" hela Alara.


"jangan bicara sembarangan, tidurlah besok kita lanjuykan perjalanan" seru Duwan.


Ketiganya tidur lelap di tengah pepohonan cemara, seperti biasa binatang malam menjadi lagu tidur untuk ketiganya.


Pagi buta Duwan terbangun karena merasa ada sesuatu yang merayap di tubuhnya, tangannya merayap menggapai sesuatu yang ada di perutnya.


"aaarghhh" teriaknya saat tangannya tergigit.


Alara dan Kai ikut terperanjat karena teriakannya, terlihat seekor ular di dekat Duwan.



"u-ular apa itu?" ucap Duwan gagap.


"gawat, kamu tergigit ular karang biru Duwan" pekik Alara.


"karang biru? ular apa itu? aku baru dengar" ucap Duwan bingung.


"emm mungkin kamu lebih mengenalnya dengn sebutan ular Cabai besar, dia adalah ular berbisa yang mematikan Duwan" ucap Alara menjelaskan.


"apa? ja-jadi aku akan mati?" ucap Duwan.


"bukannya kamu banyak belajar racun? kamu pasti tau kan ramuan obat untuk menetralkan racun ular?" tanya Alara panik.


"aku tau, tapi kurasa bahannya sulit di dapatkan di sini" ucap Duwan ragu.


"katakan apa saja yang kita perlukan?" tanya Alara mendesak.


Duwan memberi tahu jenis tanaman apa saja yang di perlukan, tak lupa pemuda itu juga menjelaskan ciri ciri tanaman yang tidak Alara kenal.


Gadis itu berlari mengelilingi hutan, dia berusaha secepat mungkin mengumpulkan bahan obat, gadis itu cukup paham racun dalam tubuh Duwan bisa cepat tersebar.


"aissshh di mana aku bisa mendapatkan akar bunga gajah" gerutunya.


Bunga gajah adalah salah satu tanaman yang tumbuh di gurun pasir, sangat sulit mendapatkan akar bunga itu di kerajaan awan mengingat negeri itu tak memiliki gurun.


"apa tanaman itu bisa di ganti dengan tanaman atau bahan lain" gumamnya terus berpikir.

__ADS_1


Dari pada bingung sendiri Alara memutuskan untuk langsung bertanya pada Duwan, sesampainya gadis itu di tempat Duwan, Alara di kejutkan dengan kondisi Duwan yang sudah parah.


Terlihat luka di bekas gigitan tampak melepuh, badannya sangat panas, dan pemuda itu sudah kejang, Kai yang Alara tugaskan untuk menjaga pemuda itu terua mondar mandir tak karuan.


"sejak kapan dia kejang?" tanya Alara.


"semenjak majikan pergi tubuh Duwan sudah demam, lalu tak lama dia begini" jawab Kai.


"ahh si*l, kalau dia sudah kejang begini mustahil aku bisa bertanya padanya" decak Alara kesal.


"Kai aku bisa minta tolong lagi?"


"katakan saja majikan"


Alara menyuruh Kai mengumpulkan ranting sebanyak mungkin, awalnya Kai bingung karena pagi pagi beginj untuk apa mengumpulkan ranting banyak banyak, tapi karena tuannya tak mau menjelskan Kai pergi menurut.


Setelah mendapat kayu dan ranting sebanyak 3 tumpukan Alara membuat api unggun, dia menyalakan 3 api unggun sekaligus di sekelilingnya, Kai hanya menatap heran dengan apa yang di lakukan tuannya.


"Kai kau tau kan aku selalu pingsan setelah mengeluarkan kekuatanku?"


"iya, memangnya kenapa?" tanya Kai masih belum paham.


"racun di tubuh Duwan sudah menyebar, tak ada cara untuk menetralkan racunnya kecuali dengan darahku, kalau nanti aku pingsan tolong jaga tubuhku" ucap Alara.


"tapi majikan, itu berbahaya" ucap Kai khawatir.


"aku tau, tapi kalau aku tak melakukan ini Duwan akan mati"


"tapi.."


"Kai! mengertilah" perintah Alara.


"baik majikan" jawabnya tertunduk.


Untuk sekejap Alara memandangi tubuh pemuda di depannya, matanya melotot dan bisa terlihaat jelas guratan biru mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.


Di tariknya nafas dalam dalam sebelum menyayat jarinya dengan cakar, di teteskan 1 tetesan darahnya pada mulutnya dan 1 tetesan pada bekas gigitan ular.


Perlahan tubuh Duwan berhenti kejang, guratan biru juga mulai pudar, seiring perkembangan baik pada tubuh Duwan, yang terjadi pada tubuh Alara justru kebalikannya.


Pandangan mulai kabur, suhu tubuhnya turun drastis, tubuhnya perlahan ambruk dan jatuh ke tanah, Kai berusaha membenarkan posisi tuannya dan turut serta menghangatkan tubuhnya.


Tubuhnya merasa ada sensasi dingin menyeruak di setiap bagian tubuhnya.


"Duwan, nyalakan api unggun lagi" ucap Kai tiba tiba.


"lho Kai, apa yang terjadi?" tanya Duwan bingung.


"majikan mengobatimu dengan darahnya, sudah berjam jam dia pingsan tapi belum sadar juga" ucapnya lirih.


Duwan yang mengetahuinya langsung panik bukan kepalang, terakhir kali Alara tak sadarkan diri baru 3 hari lalu saat bertarung melawan siluman bersama Kai, Duwan khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan Alara.


Setelah matahari condong ke barat barulah gadis itu sadar, Duwan yang paham bahwa gadis itu akan lapar saat terbangun sudah menyiapkan ayam bakar yang di buru oleh Kai.


Paginya ketiganya kembali melanjutkan perjalanan, Duwan tak ingin Alara sampai kehilangan kesadaran lagi, sebisa mungkin mereka menghindari segala macam bahaya.


"apa tempat kakekmu masih jauh Ra?" tanya Duwan.


"tidak, tinggal melewati beberapa hutan lagi kita akan sampai, tapi sebelum itu aku ingin mampir ke suatu tempat" ucap Alara.


"mampir kemana?"


"kan aku sudah pernah bilang aku ingin menemui seseorang" jawab Alara ketus.


"iyaa tapi siapa?" tanya Duwan penasaran.


"nanti juga kau tau" ucapnya.


"ishh kamu ingin aku mati penasaran?" ucap Duwan kesal.


"memangnya kau mau mati sekarang?" tanya Alara balik.


"yaa tidak juga" gerutunya.


Setelah seharian mereka sudah dekat ke tempat yang ingin Alara singgahi, perasaannya agak tak sabar bertemu dengan bocah cerewet yang dia temui setahun yang lalu.


"apa kalian mencium bau bangkai?" tanya Alara.


"tidak" jawab Duwan dan Kai.

__ADS_1


"aku jelas mencium bau busuk tapi dari mana arahnya yah?" batin Alara bingung.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 km barulah Kai mulai mencium bau busuk, lalu selang beberapa waktu Duwan menyusul ikut mulai mencium bau bangkai.


Perasaan tak nyama kembali hinggap di hati Alara, dua bulan lalu saat dia datang ke hutan bambu dia mencium bau darah, dan ternyata ras serigala putih sedang di serang, lalu satu bulan setelahnya saat mendatangi hutan kabut dia mencium bau anyir yang ternyata Alan dan para harimau di serang oleh banyak pendekar.


Alara tak bisa berkata kata melihat pemandangan di depannya, terlihat mayat yang sudah busuk bergelimpangan di sebuah pemukiman kecil, pemukiman yang hanya terisi sekitar 40 orang itu sudah rata dengan tanah.


Mata hijaunya menatap nanar mencari sesuatu, hati kecilnya berharap ada keajaiban di tempat ini.


"hoeek hoeek" Duwan muntah tanpa henti.


Aroma busuk yang berasal dari mayat di sekelilingnya membuat perutnya serasa di terpa angin tornado, matanya terasa kunang kunang karena aroma busuk menyeruak dengan tajamnya.


"Ra kamu nyari hoeekkkk apaah" tanya Duwan heran.


"bantu aku cari mayat anak kecil, hitung berapa jumlahnya" ucap gadis itu frustasi.


"mayat anak kecil? untuk a.."


"jangan banyak tanya, cari saja" bentaknya kesal.


Kai yang tak ingin ikut di marahi bergegas mengelilingi hamparan mayat itu.


"hoeekkk di sini ada satu" ucap Duwan setelah muntah karena melihat blatung di sekujur mayat.


"di sini ada dua majikan" ucao Kai menyambung.


"di sini ada satu, kemungkinan ada dua anak yang selamat, tapi di mana mereka" gumam Alara khawatir.


Alara berlari ke sembarang arah, otaknya benar benar tak mampu berfikir kemana kemungkinan anak anak yang tersisa pergi.


Kai dan Duwan juga ikut berlari mengejar gadis itu, mereka berdua tak tau siapa gerangan yang di cari Alara.


"kamu nyari siapa sih Ra?" tanya Duwan tak tahan.


"Damar, aku nyari Damar" jawabnya terus berlari.


"DAMAR" teriak Alara.


Gadis itu terlihat seperti kehilangan akal, memori mengerikan yang terjadi berturut turut membuatnya tak bisa berfikir jernih.


"Damaarr .. huhuuuu" tangisnya tak tertahan.


"sabar Ra, kita cari sama sama" ucap Duwan menenangkan.


Kai sudah lari entah kemana, harimau itu benar benar tak tahan melihat tuannya bersedih, harimau itu selalu mengharap tuannya bahagia.


Telinganya yang tajam mendengar suara nafas tak jauh darinya, harimau itu mencoba mendekat dan dia mendengar dengan jelas suara itu berasal dari sebuah lubang.


"draap .. draap"


Kai langsung lari menghampiri Alara.


"majikaan di sana" teriak Kai.


"di mana? di mana?" tanyanya.


"di sebuah lubang, ada 2 anak di sana"


Ketiganya berlari sekuat tenaga.


"uhhh .. lubang ini menyelamatkanmu Damar huhu"


.....bersambung....


jangan lupa


πŸ‘


πŸ‘


πŸ‘


πŸ‘


πŸ‘


πŸ‘

__ADS_1


πŸ‘


__ADS_2