The Werewolf

The Werewolf
49. Perpecahan


__ADS_3

Di bawah teriknya matahari terlihat sesosok anak laki laki tengah bermeditasi di bawah derasnya air terjun, kulit pundaknya terlihat memerah karena terus beradu dengan aliran air yang deras.


Sudah hampir sehari lamanya anak itu tak bergeming dari meditasinya, Kai dengan setia menunggunya di pinggir sungai, sesekali harimau itu menguap karena mengantuk.


* * *


Sore itu terlihat seekor burung elang terbang di atas kediaman kakek Arung, secara tiba tiba burung itu menukik tajam ke arah Alara yang sedang berlatih pedang.


Alara yang sedikit terkejut menghindar agar tak terkena cakar burung besar itu, saat mengamati burung yang bertengger di atas manusia kayu yang biasa Damar gunakan untuk berlatih, terlihat ada kertas yang di ikat di kakinya.


"hmm apa burung itu pengantar surat?" gumam Alara heran.


Di ambilnya kertas itu, dan burung itu langsung terbang ke langit, dahinya mengrenyit membaca pesan yang ada di dalamnya.


Malam telah tiba, Damar dan Kai baru saja kembalibsetelah seharian penuh berada di sungai, Duwan sendiri tengah sibuk membantu Alara menyiapkan makan malam.


"bagaimana meditasimu?" tanya kakek Arung.


"mmm aku belum terlalu paham, tapi aku merasa pikiranku sesikit lebih jernih" jawab Damar.


"lakukan meditasi seminggu sekali, itu baik untuk perkembanganmu" ucap kakek Arung menasehati.


"iya kakek guru" jawab anak itu mengagguk.


"apa tidak apa apa kek?" tanya Alara yang baru saja datang.


"tidak apa itu bagus untuknya, toh itu demi kebaikannya juga" jawabnya.


"hmm, tapi jangan terlalu keras padanya, dia masih anak anak" ucap Alara mengingatkan.


"kau dulu mulai meditasi di umur 7 tahun"


"tapi kan aku berbeda kek" ucap Alara lagi.


"ya iyaa, aku takkan melatihnya terlalu keras" ucap kakek Arung malas.


Setelah makan malam mereka melewati hari dengan santai, Duwan dan kakek Arung sudah terlebih dulu tidur sedangkan Alara dan Damar duduk berdua di teras.


Keduanya sama sama menyukai langit malam, apa lagi malam ini sangat banyak bintang bertebaran, Damar sesekali menarik nafas berat seperti memikirkan sesuatu.


"kenapa?" tanya Alara padanya.


"aku merindukan ayah dan ibu" ucapnya lirih.


"hmm, sudah 2 tahun yah" jawab Alara lirih.


"kak, apa tidak apa apa kalau aku merindukan ibu dan ayah?" tanya anak itu dengan mata nanar.


"pertanyaan apa itu? apa masalahnya kalau kita merindukan orang yang kita sayangi? bukankah itu hal yang wajar" jawab Alara tersenyum.


"tapi.."


"Damar dengarkan aku, merindukan orang yang kita sayangi bukanlah sebuah kesalahan, rasa rindu ada karena adanya rasa sayang, kau pasti sangat menyayangi ayah dan ibumu jadi wajar kalau kau merindukan mereka, rasa rindu itu asalnya dari sini (menunjuk dada Damar) dan perasaan itu adalah hal yang murni" terangnya panjang.


"hikss kakak" tangisnya pecah.


"tidak apa apa Damar menangislah sepuasmu, tumpahkan segala kesedihanmu padaku" uvapnya sembari memeluknya.


Dengan lembut gadis itu menepuk punggung anak itu, selama 2 tahun ini Damar melewati hari harinya dengan berlatih keras, Alara sampai lupa kalau Damar masih anak anak yang berusia 8 tahun.


Di tinggal kedua orang tua dengan cara yang mengenaskan, menderita berhari hari di sebuah lubang sempit bersama satu temannya, hampir semua kenangan buruk anak itu miliki.


Karena terlalu lelah menangis anak itu tertidur tanpa sadar, Duwan yang terbangun dan melihat pintu rumah terbuka langsung keluar.


"sedang apa kamu Ra?" tanya Duwan sembari menguap.

__ADS_1


"tidak ada, tolong bawa dia ke kamar" ucap gadis itu memerintah.


"kenapa juga anak ini tertidur di pelukanmu?" gerutunya.


"kau tau? dia menangis sampai tertidur, dia sangat merindukan kedua orang tuanya" ucap Alara menerangkan.


"merindukan orang yang sudah tiada adalah hal yang menyakitkan, kita berdua sama sama tau bagaimana rasanya" ucap pemuda itu.


Setelah membawa Damar ke kamarnya Duwan kembali keluar, duduk berdua di teras adalah hal yang sudah cukup lama tidak mereka lakukan.


"aku mendapat surat" ucap Alara tiba tiba.


"surat apa? dari siapa?" tanyanya.


"ayah memintaku ke hutan bambu" jawabnya.


"ehh kenapa? apa ada masalah?"


"entahlah, ayah hanya memintaku untuk kesana" jawabnya singkat.


"lalu kapan kita akan pergi?" tanya pemuda itu.


"apa kau mau ikut?"


"tentu saja, sudah 2 tahun kita hanya berdiam diri di sini" jawabnya dengan nada malas.


"hmm besok aku akan bicarakan ini pada kakek" ucapnya berlalu masuk rumah.


Pagi setelah sarapan Alara menceritakan perihal surat yang di kirim oleh Rangga, kakek Arung hanya manggut manggut mendengarnya, Damar sendiri hanya diam setelah beberapa saat terlihat kaget.


"kakak akan benar benar akan pergi?" tanya Damar di sela latihannya.


"iya, ayahku bilang dia ingin membicarakan hal penting" jawabnya.


"berapa lama?"


"berapa lama kakak pergi?" tanyanya.


"entahlah, aku tak tau seberapa lama tapi kemungkinan aku akan pergi berbulan bulan" jawab Alara lagi.


Tak ada jawaban apapun dari Damar, Alara menatap anak itu dan merasa kaget karena anak itu menangis.


"lho kenapa?" tanyanya heran.


"aku ingin ikut" ucapnya.


"ikut? kalau kamu ikut bagaimana dengan latihanmu? kamu bilang ingin jadi pendekar yang kuat"


"tapi.."


"Damar, kakak tidak mau kamu meninggalkan latihanmu karenaku, kakak janji akan langsung pulang begitu urusan kakak selesai" ucapnya berjanji.


"kakak janji?" tanya anak itu.


"emm, bukankah kakak menepati janji kakak dulu? apa kamu ragu?" tanyanya.


"tidak, aku percaya pada kakak" jawabnya mantap.


"baguslah, setelah kakak kembali kamu harus menunjukan hasil latihanmu pada kakak, bukankah kamu ingin latih tanding dengan menggunakan pedang sungguhan?" tanya Alara.


"iya, aku ingin menggunakan pedang sungguhan seperti kakak" ucapnya antusias.


"kalau begitu berlatihlah dengan keras, kakak akan menantikan hasil dari kegigihanmu" ucapnya tersenyum.


Beberapa hari setelahnya Alara Duwan dan Kai kembali melakukan perjalanan bersama, hanya saja perjalanan kali ini Alara di larang keras menggunakan kemampuannya.

__ADS_1


Karena meski tubuhnya sudah pulih beban dari kekuatannya masih tetap sama, jadi sdbisa mungkin Alara tidak boleh bertarung menggunakan kekuatannya.


"apa kau tidak suka berdua denganku?" tanya kakdk Arung pada Damar.


"bukan begitu, aku hanya takut" ucapnya lirih.


"takut? apa aku orang yang menyeramkan?" tanya kakek Arung menyelidik.


"tidak tidak, bukan itu yang aku takutkan" jawabnya.


"lalu?"


"Aku tidak tau kenapa tapi aku merasa akan berpisah dengan kakak untuk waktu yang sangat lama" jawabnya dengan tatapan kosong.


"itu hanya perasaanmu, mereka cuma pergi beberapa bulan saja" ucap kakek meninggalkannya.


"kuharap juga begitu, semoga perjalanan kakak lancar" gumamnya lirih.


Berhari hari kembali berlalu, Alara dan Duwan singgah di kota untuk beristirahat, makan makanan enak tidur di penginapan adalah tujuan mereka.


Kota yang mereka singgahi adalah kota Jayaraya, salah satu kota besar di kerajaan awan yang menguasai jalannya perdagangan.


Kota itu selalu ramai tak peduli siang atau malam, para pedangang yang singgah atau menetap di sana seperti tak pernah tidur.


Dari pedagang senjata, pedagang obat sampai pedagang sayur dan daging semua ada di sana, pasar di kota Jayaraya hampir 60% dari besarnya kota, tak heran kalau kota ini meguasai jalannya perdagangan.


"aneh, kenapa di kota besar dan semaju ini ada banyak desa yang di landa kelaparan?" ucap Alara heran.


"huh kamu ini tidak tau yah, kerajaan Awan sedang memiliki masalah besar" ucap Duwan.


"masalah besar apa?" tanya Alara heran.


"kau tau kan sudah 7 tahun raja Eka Wijaya memimpin kerajaan kita?"


"ya tauu"


"selama ini keadaan negeri kita berjalan dengan baik sampai 1 tahun lalu adik dari raja Eka, pangeran Dwi Wijaya merencanakan pemberontakan" bisik Duwan.


"jangan asal bicara kamu! kamu mau kepalamu terpisah dari badan?" ucap Alara kesal.


"hehhh aku tidak asal bicara, asal kau tau saja beberapa desa yang mengalami kelaparan itu bukan karena gagal panen atau sejenisnya, tapi hasil panen mereka di ambil paksa oleh para perampok dan pendekar aliran hitam" ucapnya.


"di ambil paksa? memangnya kerajaan tidak menindaklanjuti semua ini? kalau ini di biarkan bisa terjadi kelaparan di mana mana" ucap gadis itu.


"kamu inii, bukannya tidak di tindaklanjuti tapi semua ini terjadi di berbagai pelosok negeri kita, raja kita sampai kewalahan mengurus ini" terangnya lagi.


"bukannya kerajaan memiliki banyak kesatria dan pengawal yang berasal dari sekte besar? kenapa bisa sampai kewalahan" ucap Alara masih tak mengerti.


"tentu saja kewalahan, karena sekarang seluruh pejabat istana sedang dalam masa perpecahan, mereka terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok memihak raja dan satunya memihak pangeran, masalah ini jauh lebih memusinhkan dari pada peperangan dengan negeri lain, secara tidak langsung negeri kita akan hancur dari dalam" terangnya panjang.


"jadi ada perang saudara antara raja dan pangeran?" ucap Alara masih bingung.


"benar, mereka berdua merebutkan tahta sampai mengorbankan rakyat"


"kalau begitu kenapa raja tidak mengalah saja?"


"tidak semudah itu Ra, mungkin kalau pangeran Dwi memiliki kepribadian yang baik raja Eka mau saja menyerahkan tahtanya, tapi pangeran memiliki perangai yang buruk, dia kejam dan suka menindas pelayan bahkan warga kerajaan, dia juga suka berjudi dan main wanita, coba kamu bayangkan apa yang akan terjadi jika orang sepertinya memimpin negeri kita?" tanya Duwan serius.


"KE HAN CU RAN" jawab Alara mantap.


"benar, aku yakin tidak sampai 50 tahun negeri kita akan hancur, itupun kalau tidak ada serangan dari luar, kalau ada yang menyerang yaaa entahlahh" ucap Duwan enggan meneruskan.


....bersambung....


jangan lupa LIKE nya teman teman.

__ADS_1


tinggalkan juga jejak di sini💜💜


__ADS_2