
Hari hari Arumi berjalan seperti biasa, berangkat kerja di pagi hari dan pulanh di sore hari, tak ada sesuatu yang spesial di dalamnya.
Suatu hari paman Brama membawa serta putri sulungnya ke toko, usianya hanya terpaut satu tahun dari Arumi.
Namanya Dara, dia gadis yang cantik tapi sifatnya tak secantik parasnya, bicaranya cenderung kasar dan dia pandai berekting seperti ibunya (Rantih), di depan ayahnya dia seperti anak yang sangat berbakti, gadis itu juga membantu Arumi mengerjakan segala pekerjaan di toko.
Tiba tiba saja wajah paman Brama pucat pasi saat mendapati laci uangnya kosong, seingatnya seluruh penghasilan toko hari ini belum dia masukkan ke tas miliknya.
Hari ini begitu banyak pelanggan yang datang sudah pasti Brama dan Arumi sangat sibuk, tapi mendapati uangnya hilang Brama langsung panik.
"u-uangku hilang" gumam Brama frustasi.
Dia sudah mencarinya kesana kemari, takutnya dia lupa menaruh uangnya tadi, tapi dia ingat betul sebelum pergi ke gudang untuk mengecek persediaan barang uangnya masih di laci, di toko hanya tersisa Arumi dan Dara yang sibuk membereskan dagangan yang berantakan.
"kenapa ayah?" tanya Dara tiba tiba.
"ahh itu, apa kau melihat uang ayah?" tanya Brama.
"uang? uang apa?" tanya Dara polos.
"uang hasil penjualan hari ini, semuanya tidak ada" keluh Brama.
"mungkin ayah lupa menaruhnya, sudah di cari di tas ayah?" ucapnya.
"sudah, ayah sudah mencari kemanapun, ayah juga mencari ke gudang tadi, tapi tak ketemu" ucapnya sambil memegangi kepalanya.
"Aruumiiii" seru Dara keras.
"iyyaaaa" Arumi sedikit berlari karena tadi sedang menyusun barang di bagian depan.
"tadi saat ayah ke gudang dan aku pergi sebentar ada siapa yang kemari?" tanya Dara.
"hm tak ada siapapun tadi, kalau sore begini kan sudah jarang pembeli" jawab Arumi.
"yang benar? uang ayah hilang" ucapnya ketus.
"hilang? bagaimana bisa?" tanya Arumi panik.
"makanya aku bertanya padamu, tadi kan kamu di toko sendirian siapa tau ada pencuri masuk" ucap Dara membentak.
"tidak, tidak ada siapapun dari tadi" jelas Arumi lagi.
"kalau begitu bagaimana uang ayah bisa hilang?" nada bicara Dara meninggi.
"aku tidak tau, dari tadi aku sibuk di bagian depan, kalau ada yang masuk pasti aku melihatnya" ucap Arumi meyakinkan.
"apa jangan jangaaaaaan kamu mencuri uang ayah?" sergap Dara.
"hah? mana mungkin, aku takkan berani mencuri uang paman atau siapapun" ucap Arumi jengkel.
"lalu bisa kamu jelaskan kenapa uang ayah hilang tiba tiba!" bentak Dara.
"sudah sudah, kenapa kamu menuduh kakakmu?" ucap Brama kesal.
"aku tak menuduh ayah, tapi dia bilang tak ada siapapun kemari jadi siapa tau dia mencuri" ejek Dara.
"kenapa kamu berpikiran begitu, aku tak mungkin mencuri uang pa.."
"sudahlah mana ada maling ngaku" sergap Dara mendadak.
"Daraaa cukup !! ayah tidak suka kamu menuduh orang sembarangan, apalagi dia itu kakakmu !!" bentak Bramaa.
"ayah aku hanya bertanya" bela Dara.
"itu namanya menuduh" ucap Arumi pelan.
"bukankah itu hal wajar, tadi disini hanya ada kamu, dan uang ayah tiba tiba hilang" ejek Dara.
__ADS_1
"sudah sudah, sekarang kalian berdua bantu cari uang itu, siapa tau tadi ayah lupa" ucap Brama menengahi.
Arumi, Dara, dan Brama berkeliling mencari di setiap sudut toko, Arumi mencari di bagian depan dan tengah toko, Brama dan Dara mencari di bagian meja kasir dan sekitarnya, tapi hasilnya nihil.
Lalu Dara berjalan ke arah belakang, sebenarnya di belakang meja kasir hanya ruangan kosong tempat istirahat Arumi saat jam makan siang.
"hmmm hari ini kamu akan enyah dari kehidupan ayahku" ucap Dara.
Dara berlari ke arah ayahnya dengan membawa tas milik Arumi.
"ayaaahhhh aku menemukannya" ucap Dara.
"di mana?" ucap Brama antusias.
"apa ini tas ayah?" tanya Dara dengan wajah polos.
"i-ini tas A-Arumi?" ucap Brama tak percaya.
"Arumiiii !! jadi benar kamu yang mencuri uang ayahh?" teriak Dara.
"hah? tidak ! tidak mungkin !" ucap Adumi menyangkal.
"tapi ini apa? uang ayah ada di TASMU" ucap Dara dengan nada menekan.
"ti-tidak mungkin, sungguh aku tidak tau apapun" sangkal Arumi.
"chhh dasar gadis tak tau diri, padahal ayahku sudah berbaik hati padamu tapi kamu tega mencuri uangnya" ejek Dara.
"benar itu Arumi, kamu mencuri uang paman?" tanya Brama
Arumi menggeleng sekuat tenaga, dia benar benar tak tau apapun, seharian dia sibuk dengan pekerjaannya sampai terlambat makan siang, dan dia juga tak pernah mempunyai pikiran buruk begitu.
"tidak paman, sungguh aku tidak mencurinya" jelas Arumi.
"jadi uang itu masuk sendiri ke tasmu, waaahh hebat sekali elakanmu itu" ejek Dara lagi.
"aku tak mengelak, tapi sungguh aku tidak tau" ucap Arumi membela diri.
"plaaakkkk" ... "brukkk"
Tangan besar milik Brama mendarat di pipi mungil Arumi, Arumi sampai terjatuh menerima tamparan pamannya.
"pamaaan" lirih Arumi.
"beraninya !! aku mengasihimu selama ini tapi ini balasan yang kamu berikan? bagaimana bisa kamu mencuri uang pamanmu sendiri?" bentak Brama.
"chh dasar gadis miskin tak tau diri, padahal ayahku selalu berbaik hati padamu" ucap Dara kembali memanasi ayahnya.
"aku tidak mencuri" lirih Arumi.
Gadis itu menangis sesegukan, selama ini dia tak pernah di bentak oleh siapapun apalagi di kasari, ayahnya selalu bertutur kata lembut padanya, jika Arumi melakukan kesalahan ayahnya juga menasehatinya dengan lembut.
"sekali pencuri tetap saja pencuri" maki Dara
Brama yang hatinya di kuasai amarah saat itu juga menarik tubuh Arumi, tubuhnya yang besar berbanding terbalik dengan tubuh kecil Arumi sangat mudah menariknya keluar.
"brukk" Arumi terjatuh di depan toko.
Arumi hanya menangis menerima perlakuan pamannya, orang yang selama ini bersikap hangat padanya hari ini menampar dan melemparnya keluar, sesosok pria yang sudah seperti ayahnya hari ini berperilaku kasar padanya.
"pergi dan jangan pernah datang lagi kesini !! aku tak sudi mengakui seorang pencuri sebagai keponakanku lagi !!" bentak Brama.
Orang orang berdatangan saat mendengar suara leras Brama, mereka berbisik bisik membicarakan Arumi, sebagian besar tak percaya tapi ada juga yang mempercayainya.
Arumi mencoba berdiri dengan kaki bergetar, pipinya merah menampakkan bekas tamparan dari pamannya, setelah menarik nafas dengan berat Arumi memberanikan diri menatap pamannya.
"aku bukan pencuri paman" ucapnya lirih.
__ADS_1
Setelah itu dia berjalan meninggalkan paman dan kerumunan orang orang yang menggunjingnya, sepanjang jalan dia menangis tanpa suara.
Sosok Arumi yang biasanya ceria sudah tidak terlihat, sepanjang jalan dia hanya memikirkan tentang apa yang terjadi barusan, dia berharap kejadian hari ini adalah mimpi, gadis itu tak ingin hubungannya rusak dengan kerabat satu satunya itu.
Sungguh na'if memang pikiran gadis itu, dia berusaha menampik kenyataan yang baru saja terjadi.
Beberapa hari setelahnya Arumi duduk mematung di pinggiran sungai, sungai yang menewaskan ayahnya dua tahun lalu, dia menatap kosong ke aliran deras di depannya.
"apa yang kau lakukan di sini nona?"
Suara seorang lelaki membuatnya tersentak kaget.
"heh ! ehh anda ... pemilik serigala besar waktu itu?" tanya Arumi.
Pria itu mengangguk dan ikut duduk di sebelah Arumi.
"apa yang anda lakukan disini?" tanya lelaki itu lagi.
"tidak ada, hanya meratapi nasib hehe" ucap Arumi cengengesan.
"makanlah" ucap lelaki itu sambil menyodorkan dua buah apel.
"terima kasih, anda selalu baik padaku" ucap Arumi tersenyum.
Gadis itu memakan apel dengan sesekali melirik ke arah lelaki di sampingnya, sosok yang pernah merawatnya duli saat tengah sakit.
"bolehkah aku bertanya sesuatu?" ucap Arumi.
"hm apa?" jawabnya singkat.
"kenapa anda memakai jubah sepanjang itu? kurasa hari ini cukup terik, apa tidak gerah?" tanya Arumi pemasaran.
"eh i-ituu ..."
"sudahlah, tak perlu di jawab kalau memang anda merasa kurang nyaman menjawabnya, hehe maaf aku terlalu lancang" ... "ohya perkenalkan namaku Arumi" ucap Arumi sambil menjulurkan tangan.
"Rangga" jawabnya singkat tanpa menjabat tangan Arumi.
"ehh namanya sama seperti nama ayah" batinnya.
Arumi tersenyum kecut dengan kelakuan lelaki di sampingnya, gadis itu pikir sudah cukup akrab karena beberapa bulan lalu lelaki itu sempat merawatnya saat sakit, tapi nyatanya itu hanya pemikiran polos Arumi.
"ayahku dulu meninggal di sungai ini" ucap Arumi membuka obrolan.
Gadis itu menceritakan tentang kehidupannya, tentang ibunya, neneknya, kematian ayahnya juga kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu.
"jadi ayahmu seorang pemburu?" tanya Rangga.
"hm, dia adalah pemburu yang hebat, sayangnya dia tergelincir dan tewas di sungai ini" jawab Arumi getir.
"memangnya ayahmu tak bisa berenang?"
"tentu saja bisa, tapi saat dia jatuh kepalanya terbenrur batu"
"ohh begitu, ngomong ngmong aku juga seorang pemburu" ucap Rangga.
"kau juga? sungguh?" tanya Arumi antusias.
Rangga mengangguk tanpa suara, lelaki itu hanya terus memandang ke arah depan, saat Arumi bercerita juga dia tetap fokus memandang derasnya aliran sungai di depannya.
"apa kau ingin mencoba berburu bersamaku?" tawar Rangga.
"apa boleh?" tanyanya ragu.
"pulanglah, siapkan peralatan berburu milik ayahmu, nanti sore aku akan menghampirimu" ucap Rangga.
.....bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya💜
kritik dan saran juga😁