The Werewolf

The Werewolf
10. Alara ll


__ADS_3

"bruukkkk aaaaa" sesosok tubuh terlempar tiba tiba saat kakek Arung hendak masuk ke toko senjata.


"hahhhhh aku terlambat" ucapnya sambil menghembuskan napas berat.


"si*l, apa kalian hanya akan menonton?" bentak lelaki itu.


Tak lama keluar sesosok gadis yang mengenakan jubah melangkah ke arah lelaki yang terlempar tadi.


Terlihat 6 orang yang membawa golok datang menghadang, mereka mengepung gadis itu dengan mengacungkan goloknya.


"hmmm biar kulihat sejauh mana perkembangannya" gumam kakek Arung.


Alara yang di kepung tak bergeming sedikitpun, matanya tetap menatap tajam ke arah lelaki yang sedang wajahnya babak belur.


"apa yang kalian tunggu, bunuh bocal setan itu!" perintahnya.


Alara meladeni 6 lelaki itu haya dengan tangan kosong, tubuh kecilnya melompat kesana kemari menghindari setiap serangan yang datang.


Dia sengaja menghindari dengan berkelit menjauhi bangunan toko, salah satu di antaranya nekad melemparkan golok ke arah warga yang menonton dengan maksud mengecoh konsentrasi gadis itu.


Saat golok hanya berjarak sejengkal saja, tangan seorang pria tua menangkapnya.


"kau terlalu ceroboh Ara" ucap pria itu.


"itu karena aku tau kau di situ kakek" ucapnya santai.


Ara segera melumpuhkan pria ya tadi melempar golok, gadis itu menendang betis dan di susul tendangan keras di lututnya, lelaki itu langsur tersungkur di buatnya.


Lima rekannya kembali menyerang bersamaam, kali ini Ara tak berkelit lagi, tangannya dengan gesit menangkis memukul dan menampar wajah wajah lelaki sok berkuasa itu, di setiap serangannya selalu di akhiri dengan tendangan keras di punggung atau perut yang membuat mereka terkapar.


Hanya butuh lima menit buatnya melumpuhkan lima lelaki itu.


"kau terlalu lambat" ucapnya sambil mendekat.


"aku hanya sedikit main main dengan mereka kek" ucapnya bertolak pinggang meninggalkan lelaki yang terkapar itu.


"masih sok berkuasa?" tanya Alara pada lelaki yang sekarang wajahnya sangat ketakutan.


"ampun nona, maafkan saya" ucapnya bersimpuh.


"haha menggelikan sekali" ucapnya sembari kembali masuk ke toko.


"bukk .. heh bangun kau" ucap Alara di barengi tendangan.


"nona aku sudah mengaku kalah, jangan hajar aku lagi" pintanya lirih.


"itu tergantung bagaimana sikapmu"


"apa ... apa yang harus ku lakukan?" sergapnya langsung.


"hmm baiklah, bawakan aku mawar putih dari hutan di balik bukit itu sebelum purnama tiba besok " ucapnya menunjuk ke utara "dan ingat, jangan pernah perpikir kabur dariku, aku bisa mencium baumu dari jarak ratusan kilometer sekalipun" bisiknya mengancam.


"ba-baikk akan aku cari sebanyak mungkin, kemana aku harus mengantarnya?" ucapnya gugup.


"temui aku di hutan sebelah barat pasar ini, aku ingin kau datang siang hari, dan ambil itu untuk mengobati lukamu" ucapnya sambil memberi beberapa uang.


"ti-tidak perlu nona, aku akan segera kembali" ucapnya lalu melesat pergi.


"hihii begini toh rasanya punya bawahan" gumamnya terkekeh.


Alara keluar menemui kakeknya, di sana para bandit yang di hajarnya sudah pergi melarikan diri, gadis itu menghampiri kakeknya dengan wajah polos seakan tak terjadi apa apa.


"kau senang serigala kecil?" tanya kakek Arung.


"yaaa lumayan terhibur kek" jawabnya.

__ADS_1


Sebelum mereka berdua melangkah pergi pemilik toko berlari terpogoh mengejar Alara.


"tunggu nona!" serunya.


"ya, kenapa?" tanyanya heran.


"ini milikmu tadi terjatuh" ucapnya sembari menyerahkan kalung berliontin biru pemberian ayahnya.


"astaga .. hampir saja aku kehilanganmu" pekiknya panik " ahh terimakasih paman" ucapnya.


"tidak nona, harusnya saya yang berterimakasih" ucapnya.


Alara tersenyum dan menggandeng kakeknya untuk pulang, mereka berdua memutuskan berlari agar tiba sebelum petang di rumah.


Di sisi lain Wira sudah mulai menuruni bukit dan segera masuk ke hutan.


"kenapa aku menurut padanya? apa aku labur saja yah" gumamnya


Tapi tiba tiba saja dia teringat dengan bisikan ancaman dari Alar, apalagi sorot mata hijau yang mengerikan.


"ahh tida tidak, lebih baik aku cari aman saja, aku harus mendapatkan bunga itu" ujarnya mantap.


Alara bergegas pergi ke hutan tempatnya janji bertemu dengan Wira, sebenarnya dia akan ragu lelaki otu akan menepati janjinya, kalaupun lelaki itu kabur juga tak masalah untuknya.


Setibanya di sana dia melihat seorang lelaki memegang beberapa mawar putih di tangannya, sebaian sudah mekar dan sebagiannya masih kuncup.


"kupikir kau kabur" ucap Alara pada Wira.


"hmm jujur saja awalnya aku ingin melakukannya, tapi setelah kupikirkan aku tak berani nona" ucapnya menunduk "apa bunga ini sesuai keinginanmu nona?" tanyanya sambil menyerahkan mawar mawar itu pada Alara.


"ahh iya, bunga cantik sesuai keinginanku" ucapnya.


"apa aku boleh pergi nona?" tanya Wira ragu.


"aku takkan melarangmu pergi, tapi ..."


"ta-tapi apa nona? aku akan menuruti perintahmu" ucapnya gemetar.


"haha tak perlu bergetar begitu, aku hanya memintamu untuk tidak melakukan kejahatan lagi paman, kau belum terlalu tua dan tubuhmu masihlah kuat, kau pasti bisa bekerja atau berburu untuk mendapat uang, kau tak berpikir bagaimana kalau dirimu berada di posisi pak tua itu? apa kau tak memiliki rasa kasihan atau simpati?" ucap Alara panjang.


"aku tak memiliki keluarga nona, keluarku mati saat kami di rampok" ucapnya lirih.


"kau itu benar benar parah paman, keluargamu mati di tangan perampok dan justru kau menjadi bandit yang memaksa para pedagang itu menyetor sejumlah uang padamu? apa bedanya kau dan perampok yang sudah membunuh keluargamu?"


Lelaki itu tersentak mendengar ucapan Alara, dirinya merasa seakan mendapat hantaman keras di dadanya, tubuhnya bergetar hebat dan matanya berkaca kaca, bagaimana bisa dia lupa perampokan belasan tahun lalu yang menewaskan istri, anak dan mertuanya.


Dia terlalu tenggelam dalam kesedihan, hingga membuatnya tanpa sadar masuk ke dalam dunia orang orang yang sudah menghancurkan keluarganya dulu.


Lelaki itu terduduk lemas mengingat kejadian menyakitkan itu, terbayang dengan jelas wajah pucat keluarganya yang sudah tak bernyawa setelah rumah mereka di rampok.


Dan sekarang apa? dia menjadi bandit? kelompok yang tak jauh berbeda dengan kelompok orang orang keji yang membunuh putri kecilnya dulu.


"huaaaa maafkan aku, maafkan ayah nak" tangisnya tiba tiba.


Alara masih berdiri di samping lelaki yang kini menangis sesegukan setelah mendengar ucapannya, dia membiarkan lelaki itu menumpahkan rasa sedih dan penyesalannya.


Setelah beberapa saat menangis lelaki itu bergegas menghapus air matanya dan berdiri tegap di samping Alara, berkali kali dia mengucapkan rasa terimakasihnya karena Alara telah menyadarkannya dari jalan yang salah.


"rumah paman di mana?" tanya Alara.


"aku tak memiliki rumah nona, tapi rumahku dulu di desa kecil di ujung hutan ini" jawabnya gamblang.


"berarti tak jauh dari sini?" tanya Alara lagi


"iya" jawab Wira.

__ADS_1


"apa paman tau arti mawar putih ini?" kembali Alara bertanya.


Lelaki seumuran ayahnya itu hanya menggeleng.


"mawar ini mewakili banyak sekali simbol, dari beberapa yang ku tau bunga ini melambangkan cinta sejati, dia juga melambangkan simbol pertemuan dan perpisahan, dan satu lagi ... dia juga bisa di simbolkan sebagai permohonan maaf" jelas Alara panjang.


"bawa bunga ini ke makam keluargamu" ucapnya sambil memberi beberapa tangkai bunga pada Wira.


"aku tak berani, aku bahkan malu mendatangi makamnya setelah melakukan banyak kejahatan" ucapnya lirih.


"kau harus berani paman, bukannya kau menyesal? makanya kau datanglah ke sana dan letakkan bunga itu sebagai simbol permohonan maafmu" perintah Alara.


"baiklah, aku akan kesana" ucap Wira.


"kalau begitu aku akan pergi, terimakasih bunganya paman" ucap gadis itu ceria.


"tunggu sebentar nona" sergah Wira menghentikan Alara.


"ada apa? apa bunganya kurang?"


"ahh tidak, aku hanya ingin tau siapa namanu dan kalau boleh aku ingi tau berapa umurmu?" tanya Wira ragu.


"namaku Alara paman, kakek bilang umurku 15 tahun setelah 2 purnama mendatang" jawab Alara.


"15 tahun yah, kalau dia masih hidup pasti sekarang dia sebesar dirimu" ucap Wira.


"siapa paman?"


"belahan jiwaku, putri kecilku yang meninggal 13 tahun lalu" ucapnya lirih.


"kalau begitu tak perlu ragu, segera datangi belahanjiwamu itu, aku pergi paman! semoga kita bertemu lagi" serunya sambil berlari.


"astaga! cepat sekali larinya, nona namaku Wira, jika suat saat bertemu aku akan sangat senang" teriak Wira.


"tak ku sangka bocah yang baru seumuran putriku bisa menyadarkanku begini, baiklah aku akan datang menemuimu Era, ayah akan minta maaf padamu" ucapnya seraya berlari.


Alara yang sudah mendapat bunga bunga yang di inginkannya jelas sangat senang, Alara sangat menyukai mawar putih sejak pertama kali melihatnya, dia tak sengaja melihatnya saat pertama di ajak berburu oleh sang kakek.


"dari mana kau mendapat semua itu? tanya kakek tiba tiba.


"dari seseorang" jawabnya singkat.


"nanti malam purnama, buatkan kakek tua ini makan" pinta kake Arung.


"tunggu sembentar, aku ingin menaruh bunga ini di makam ibu" ucapnya melangkah pergi.


"huuftt gadis yang malang, aku tau kau hanya pura pura kuat, aku selalu mendengar isak tangismu tiap malam" gumam kakek Arung.


Alara melangkah tak jauh dari rumah kakek Arung, di sana ada sebuah makam yang sangat terawat.


Gadis itu tampak berjongkok di depan makan milik wanita yang melahirkannya dulu.


"ibu! aku membawa bunga cantik ini untukmu" ujarnya.


"aku tak tau apa yang kau suka dan tidak kau suka bu, tapi aku harap kau menyukai apa yang ku suka" ucapnya tersenyum.


"usiaku hampir 15 tahun bu, yang ku tau anak anak di luar sana menyambut hari lahirnya dengan bahagia, tapi apakah aku bisa bahagia melewati hari yang bertepatan dengan kematianmu" ucapnya lirih.


"selama aku hidup tak pernah sekalipun aku melihat wajahmu, kakek bilang wajahku sangat mirip denganmu, hanya warna rambut dan bola mata kita saja yang berbeda,


kakek juga bilang tutur bahasa dan bicaraku sama menyebalkannya dengan dirimu, aku jadi ssmakin merindukanmu bu"


Entah sudah berapa kali Alara mengatakan hal itu di makam ibunya, mungkin setiap datang gadis itu hanya mengatakan hal hal itu saja.


"sudah dulu bu, aku akan membuatkan makanan untuk kakek tua yang cerewet itu" ucapnya melangkah pergj.

__ADS_1


Tanpa gadis itu sadari, sesosok mata yang sejak tadi menatapnya sendu langsung berubah galak saat mendengar perkataan Alara.


"dasar cucu kurang, harusnya kubiarkan saja dia mati dulu di hutan sana" gerutu kakek Arung.


__ADS_2