
"cepat lari! dan jangan tinggalkan jejak sedikitpun" ucap Rangga.
"t-tapi ayah..."
"tidak ada tapi, cepat selamatkan dirimu" bentak Rangga.
"drap .. drap" Alara lari degan kencangnya.
"t-tunggu! kenapa aku harus lari?" gumam Alara.
Tanpa pikir panjang gadis itu berlari kembali ke hutan bambu, jika dulu ibunya sampai tewas demi melindunginya maka kali ini dia harus membalas kematian ibunya.
Sesampainya di sana Alara melihat seluruh manusia serigala di sana berada dalam bentuk serigala, manusia serigala yang terpecah menjadi 2 kubu sejak ratusan tahun lalu, mereka selalu membunuh satu sama lain demi ras masing masing.
Tapi bedanya ras serigala tak berakal membunuh dengan membabi buta dan menyerang tanpa alasan, sedangkan serigala putih cenderung membunuh untuk melindungi diri.
Terlihat keadaan serigala putih sangat terdesak, sebelum pertarungan besar ini terjadi para serigala tak berakal sudah terlebih dulu mengikis serigala putih, mereka membunuh setiap serigala yang keluar daru hutan bambu.
Setelah kehilangan hampir 10% anggota barulah ras serigala putih membalas, selama ini mereka selalu diam saat sesamanya di bunuh tapi kalau terus di diamkan maka ras serigala putih bisa habis.
"grrrr"
"aauuuuuu"
Suara geraman dan longlongan terus terdengar sepanjang waktu, kekuatan serigala tak berakal memang di atas serigala putih, tapi serigala putih masih memiliki akal yang sehat jadi mereka bisa memikirkan strategi.
Keadaan hutan bambu benar benar seperti medan perang, banyak darah dan mayat bergelimpangan hanya saja darah dan mayat itu adalah milik manusia serigala.
"di mana ayah?"
"uhhh kakek dan paman juga ada di mana?" gumam Alara.
Alara terus menyerang para serigala tak berakal yang ada di depannya, bulu putihnya sudah berwarna merah karena penuh darah, dia menggigit mencabik juga menerkam semua lawan yang ada.
Matanya terperanjat melihat seorang bayi yang terjebak di antara pertarungan, bayi itu memang bayi serigala tapi tetap saja dia adalah bayi yang tak tau apapun.
Alara berlari ke arah bayi yang tengah menangis itu, belum sampai tangannya pada si bayi, cakar serigala tak berakal lebih dulu mencabik bayi itu, dan bayi serigala langsung mati seketika.
"biad*b! tidak manusia tidak serigala mereka semua sama, kenapa mereka melenyapkan bayi itu" batinnya.
"graaaa" Alara menerkam serigala yang baru mencabik bayi.
"drap .. drap" lajunya cepat saat melihat sesosok serigala yang kakinya sudah terluka parah.
Satu matanya terluka dan tubuhnya penuh dengan darah, nafasnya sangat lemah dan tubuhnya benar benar tak berdaya.
"kakek!" ucap Alara.
"hhhh hhh" nafasnya terengah.
Mata Alara awas menatap sekeliling, dia mencari ayah dan pamannya yang sama sekali tak terlihat, dan entah sejak kapan detak jantungnya sudah terpacu sangat cepat, nafasnya juga kian memburu menandakan kegelisahan mulai menguasai dirinya.
"cu-cuku"
"kakek"
"di an-tara mere-ka ada s-atu yang bera-kal, hati ha-t..."
"kakek! kakek!"
"huhuu kakek" tangisnya.
"kakek bilang ada yang berakal? tapi yang mana? di mana aku bisa menemukannya?" batinnya panik.
Tak ada waktu untuk Alara meratapi kematian kakeknya, gadis itu terus bertarung demi kelangsungan rasnya, dirinya terus was was mengingat ucapan kakeknya.
"bruukk .. craas"
"grrrr" geram Alara.
__ADS_1
"craas .. craas" kukunya terus mencabik lawannya.
"jangan sampai aku mengeluarkan darah" gumamnya.
Sudah tak terhitung berapa manusia serigala yang tewas, baik serigala tak berakal maupun serigala putih keduanya sama sama kehilangan banyak anggota.
Ratusan bangkai serigala bergelimpangan memenuhi hutan bambu, pemandangan mengerikan yang tak terbayangkan sebelumnya, meski selama ratusan tahun bermusuhan tapi ini adalah pertama kali kedua kubu itu melakukan pertarungan dalam skala besar.
Di gelapnya malam Alara duduk termenung sendirian, ayahnya dan sisa sisa kelompoknya sibuk mengumpulkan bangkai serigala putih dan menyingkirkan serigala tak berakal.
Gadis itu tertunduk gemetar, masih teringat jelas ucapan manusia serigala yang berakal sebelumnya, dengan mata merah menyala serigala itu mengatakan hal yang membuat gadis itu syok.
* * *
beberapa waktu sebelumnya.
"bruukk"
"grrrr" geram Alara.
"kau kah itu si putih yang spesial? ahhh mata hijaumu sangat menyilaukan" ucapnya.
"kau kah dalang di balik penyerangan ini?" ucap Alara geram.
"ha haa penyerangan apa? bukankah kita semua bertarung?" ejeknya.
"diam kau! pasti kau juga yang sudah membunuh kakekku kan?"
"kakekmu? chh terlalu banyak yang aku bunuh, aku tak tau yang mana kakekmu" ejeknya lagi.
"grrr .. jraaas"
"auuuuuuuuu" longlong Alara.
"gr .. kau tau? semua ini karenamu .. karenamu ha haa"
Sejak kejadian itu segala rasa takut, rasa bersalah, dan penyesalan bergumul jadi satu di hatinya, jika benar apa yang Alara dengar maka pemandangan mengerikan di sekelilingnya di sebabkan olehnya.
Bayangan saat seekor bayi serigala mati tanpa tau apa salahnya kembali menghantuinya, tubuh kecilnya semakin bergetar hebat saat rasa bersalah itu meledak dalam dirinya.
Sesosok kakek yang baru di temuinya beberapa kali juga mati karenanya, di tambah lagi Raka pamannya kehilangan satu mata dan tangannya.
" hh hhh hiks hiks" tangisnya sesegukan.
Sampai akhirnya gadis itu terlelap tidur dan tenggelam dalam rasa bersalah.
Paginya aroma gosong bakaran daging menyeruak di hidungnya, saat gadis itu membuka mata terlihat api dari kejauhan.
"kau sudah bangun?" tanya Raka.
"paman" ucap Alara lirih saat melihat kondisi pamannya.
"sudah puas menangis?" tanya Raka.
"siapa yang menangis?" ucapnya malu.
"matamu bengkak" jawab Raka jujur.
"ishh paman ini, di mana ayah?"
"ahh anak itu sedang membereskan kekacauan di dalam"
"anak itu? bukannya ayah itu kakakmu?" ucap Alra heran.
"memangnya kenapa? lagian dia tak menganggapku adik" ketusnya.
"oo berati kau bukan pamanku yah?"
"ehh mana bisa"
__ADS_1
Setelah beberapa saat berbincang keduanya masuk ke dalam hutan bambu, terlihat banyak sekali manusia serigala yang terluka, banyak juga para ibu yang menangis karena kehilangan anaknya.
"DEG"
"ini salahku" batin gadis itu.
"di mana kakek di kuburkan?"
"di sana" tunjuk Raka.
Alara langsung menghampiri gundukan tanah basah, terlihat sangat banyak kuburan baru di sana, hatinya kembali tersayat saat melihatnya.
Hampir 70% ras serigala putih tewas, 20% terluka parah dan hanya 10% yang sehat, duka mendalam menyelimuti hati seluruh serigala di sana.
Rangga terlihat sibuk mondar mandir membantu serigala yang terluka, Raka juga membantu sekedarnya karena dia sendiri terluka parah.
Setelah hampir satu bulan kondisi hutan bambu mulai membaik, Alara memperkuat pagar gaib di hutan bambu dengan kemampuan spesialnya, dia harap sisa keluarganya tak lagi di serang oleh serigala tak berakal.
"aku harus menemui kakek Arung" ucap Alara.
"emm apa harus sekarang?" tanya Rangga.
"hmm, aku sudah cukup lama meninggalkannya" ucap Alara.
"apa kamu akan ke dana sendiri? perlu ayah temani?"
"tidak! sekarang ayah pemimpin di sini, mana bisa ayah pergi seenaknya, jadilah pemimpin yang bertanggung jawab" ucap Alara.
"baiklah" .. "tapi kamu jangan sampai meninggalkan jejak, sembunyikan aromabdan auramu baik baik" nasehatnya.
"yaa aku tau" jwabnya.
"kapan kamu pergi?"
"besok aku harus menjemput Duwan dulu"
"kamu akan pergi bersama pemuda itu?" tanya Rangga.
"yaa, lagian Kai juga ada bersamanya, aku kan tuannya mana mungkin aku meninggalkan harimau itu" ucap Alara.
"ya baiklah"
Saat pagi tiba Alara berpamitan pada ayah dan pamannya, meski rasa bersalah masih menghantuinya tapi dia juga tak bisa melakukan apapun, saat ini dia hanya berencana akan bertualang mencari dan menghancurkan kawanan serigala tak berakal seperti ayahnya dulu.
"kau juga harus sesekali kemari" ucap Raka.
"iya paman"
"hati hati di jalan, ucapkan terimakasihku pada kakek Arung" tambah Rangga.
"iya, ayah"
"hmm"
"aku tau aku bukan putri yang baik, aku juga tau mungkin aku tidak berhak bicara ini, tapi.."
"katakan saja" potong Rangga.
"sampai saat ini aku masih merasa kau bukanlah ayah yang baik, tapi ku harap kau bisa jadi pemimpin yang baik" ucap Alara.
"iya, ayah janji" ucap Rangga.
"baguslah, aku pergi" ucap Alarala langsung berlari.
....bersambung...
jangan lupa 👍
dan ♥️
__ADS_1