
"sudah siap Ra?" tanya Raka.
"sudah paman" jawabnya sedikit gugup.
"jangan gugup, harus konsentrasi" tegasnya.
Setelah memantapkan hati gadis itu bersiap menjelajah waktu, hati dan mentalnya siap tak siap harus menghadapi kenyataan sepahit apapun nanti.
"emm Ra" ucap Duwan ragu.
"kenapa?"
"aku tidak tau kamu mau bertemu siapa, tapi apapun yang terjadi nanti jangan bersedih" ucapnya.
"iya, aku titip Kai yah"
Selesai berpamitan Alara memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya, setelah mengucap mantra muncul lingkaran berwarna biru di bawah kakinya.
"sling" cahaya itu bagaikan kilat yang menyambar dan hilang begitu saja.
Baru kali ini Duwan berpisah dengan gadis itu, padahal selama 3 tahun mereka tidak pernah terpisah barang seharipun, mereka semua sama sama merasa khawatir dengan kepergian Alara, mereka semua takut gadis itu terluka atau kecewa.
"paman, apa Ara akan baik baik saja?" tanya Duwa pada Rangga.
"kamu jauh lebih mengenalnya dari pada kami, harusnya kamu paham sekuat apa dia" jawab Rangga tersenyum.
Mau tak mau Duwan harus yakin pada gadis itu, sesulit apapun keadaan nanti dia percaya Alara mampu melewatinya.
* * *
Muncul sebuah portal berwarna biru dengan aksara kuno di tengahnya, tak lama setelahnya muncul seorang gadis cantik dengan jubah hitam yang di kenakannya.
"hoeekk .. portal si*lan, rasanya seperti mau mati" gerutu gadis itu setelah berkali kali muntah.
"hmm ngomong ngomong apa aku mendarat di waktu dan tempat yang tepat yah?" gumamnya bingung sendiri.
Setelah menatap sekeliling gadis itu menemukan sebuah rumah dengan ciri ciri yang di sebutkan Rangga, rumah kecil yang di kelilingi kebun bunga dan terpisah dari rumah lainnya.
Jantungnya berdebar kencang, bahkan keringat juga deras mengalir di pelipisnya, rasa gugup dan tak percaya diri sampai membuat perutnya terasa mulas.
Di teras rumah yang kecil itu terlihat seorang wanita tengah duduk sendirian, perutnya amat besar menandakan usia kehamilannya sudah tua.
"aishh si*l si*l si*l, kenapa aku gugup sekali, perutku makin terasa mulas" gerutu Alara makin kesal.
Dan setelah beberapa kali tarik nafas, gadis itu benar benar memberanikan diri memasuki halaman rumah wanita tersebut.
Wanita hamil itu terlihat heran melihatnya yang jalan sendirian dan berpenampilan tertutup, jubah besarnya menginhatkan wanita itu pda suami tercintanya.
"permisi nyonya, apa aku bisa meminta makanan?" tanya gadis itu ragu.
"makanan? apa kamu lapar?" tanyanya.
"i-iya, aku terlalu miskin sampai tak bisa membeli makanan, dan aku tidak bisa berburu" ucapnya berbohong.
"ya ampun kasihan sekali, ayo masuk ke dalam, kebetulan aku masak banyak hari ini" jawabnya.
"hng, nyonya sedang hamil besar?"
"ah iyaa, mungkin beberapa hari lagi bayiku akan lahir, nahh ayo duduk dan makanlah sampai kenyang" tuturnya lembut.
Dengan ragu tangannya mengambil sedikit nasi dan lauk, di suapan pertamanya tiba tiba tubuhnya terasa panas, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dia pahami.
"ya ampun kenapa kamu menangis?" tanya wanita itu saat melihat Alara menangis.
"enak, makanannya sangat enak nyonya, aku sampai menangis karena rasanya" jawaban itu adalah jawaban yang sangat jujur dari gadis itu.
"astaga kamu sangat kelaparan yah? padahal masakan suamiku jauh lebih enak dari ini" ucapnya.
"tidak tidak, ini makanan terenak yang pernah aku makan" bantah Alara tak terima.
"begitu yah? kalau begitu makanlah sepuasmu, kamu juga boleh menghabiskannya" jawab wanita itu tanpa ragu.
"uhuk uhukk .. benarkah aku boleh menghabiskannya?" tanyanya kaget.
"tentu saja, lagi pula suamiku juga sedang berburu, jadi makanlah sepuasmu"
__ADS_1
Tanpa menjawab Alara terus menyantap makanan di meja itu, wanita di depannya hanya menatapnya sambil tersenyum.
Setelah menghabiskan makanan di meja gadis itu menatap wanita di depannya dengan sedikit malu, saking bahagianya dia sampai lupa diri dan menghabiskan semua makanan.
"ahahaa makanmu banyak ya seperti suamiku" ucapnya.
"ahh ma-maaf" ucap Alara canggung.
"tidak papa, karena masakanku tidak terlalu enak justru aku senang kamu makan sebanyak ini, apa kamu masih mau makan, aku akan memasak lagi untukm.."
"tidak perlu nyonya, aku bahkan akan kenyang sampai 2 hari kedepan" jawabnya tersenyum.
"baiklah, emm kamu mau kemana?" tanya wanita itu.
"menemui seseorang" jawabnya.
"siapa?"
"emm seseorang yang sangat aku rindukan" jawabnya lirih.
"apa kau sudah berhasil menemuinya?" tanya wanita itu penasaran.
"sudah, aku bahkan duduk lama bersamanya" jawabnya senang.
"apa kamu senang?"
"tentu saja, aku sudah merinduknnya selama belasan tahun" jawabnya lagi.
"emmm apa seseorang itu adalah manusia serigala sepertimu?"
"hng.."
"eh kaget yah? suamiku juga manusia serigala jadi waktu melihat rambut dan kulitmu aku tau kalau kamu manusia serigala, tapi matamu sedikit berbeda" ucapnya tersenyum.
"emm seseorang itu adalah manusia, manusia yang baik dan cantik" jawab Alara tersenyum.
"ohh dia sangat berharga yah? matamu berbinar saat membicarakannya" tebaknya.
"iyaa tentu saja"
"aku senang kamu kemari, rasanya seperti punya teman, ngomong ngomong berapa usiamu?" tanya wanita itu penasaran.
"wahh usiaku 19 tahun, ternyata kita seumuran" ucapnya antusias.
"emm nyonya aku ingin bicara padamu" ucapnya dengan tatap mata serius.
"eh bicara apa? kenapa juga mukamu jadi seserius itu?" tanya wanita itu heran.
"aku ingin bicara tentang bayi itu" ucapnya menunjuk perut.
"bayi? bayiku? ada apa?" tanya wanita itu panik.
"bayi itu akan menjadi penyebab kematianmu" ucapnya dengan sorot mata tajam.
"a-apa? apa maksudmu bicara begitu? jangan bicara buruk tentang bayiku" bentaknya tak terima.
"aku bicara kenyataan"
"kenyataan katamu? padahal lahir saja juga belum, kenapa kamu bicara seperti itu? beginikah sikapmu setelah aku memberi makanan padamu?" ucap wanita itu makin kesal.
"aku mengatakan hal sebenarnya, bayi itu akan membuatmu mati, bahkan dua ras serigala juga akan bertarung karenanya, bayi itu ... bayi itu akan membawa banyak kematian"
"PLAKK"
"tutup mulutmu, sekali lagi kamu bicara buruk mengenai bayiku aku takkan memaafkanmu" ucapnya geram.
"hiks maaf .. a-aku hanya mengatakan yang sebenarnya" tangisnya.
"ahhh m-maafkan aku, aku terlalu emosi tadi" ucapnya saat menyadari telah menampar gadis di depannya.
"ini sa-salahku karena bicara buruk, ta-tapi percayalah kamu akan m-mati karena bayi itu" ucapnya sesegukan.
"aku tidak bisa percaya kata katamu, kalaupun perkataanmu benar aku mati karena melahirkan bayiku, kematianku bukan kesalahannya, kematianku adalah takdir" ucapnya.
"ta-takdir?"
__ADS_1
"emm, kita sebagai mahluk hidup memiliki takdir masing masing, bayiku juga pasti memiliki takdir karena terlahir di dunia ini"
"tapi.."
"aku mengatakan yang sebenarnya, tidak ada kelahiran yang menyebabkan kematian, justru aku akan merasa sangat berdosa kalau tak bisa melahirkannya, dia adalah anakku dia adalah lambang cinta dari kibdan suamiku, bayi ini adalah cinta kami, apapun yang terjadi nanti aku takkan menyesal melahirkannya" jawabnya penuh keyakinan.
"be-benarkah? kau takkan membencinya?" tanya Alara memastikan.
"membencinya? hey mana mungkin, bayi ini adalah cintaku,mana bisa aku membencinya" jawabnya lagi.
"sungguh? padahal bayi itu benar benar akan membuatmu mati"
"huhh kau ini yakin sekali, kalau memang bayi ini penyebabnya dari mana kamu tau?" tanya wanita itu menyelidik.
"itu .. emm aku tidak bisa memberitahu" jawab Alara ragu.
"kenapa? hm apa kamu peramal?"
"bukan?"
"kamu seseorang yang bisa melihat masa depan? atau kamu dari masa depan?" tanya wanita itu lagi.
"kalau itu benar bagaimana?" tanya Alara.
"maksudmu? kamu bisa melihat masa depan atau daei masa depan?" tanya wanita itu bingung.
"keduanya" sungkatnya.
"apa? sungguh? hey kamu membodohiku yah?" ucapnya tidak percaya.
"tidak, aku jujur"
"hmm bagaimana caramu membuktikan kalau kamu dari masa depan?"
"bayi itu perempuan" ucapnya singkat.
"ehh masa?"
"sungguh, bayi itu perempuan" ucapnya bersungguh sungguh.
"hahh sudahlah jangan lanjutkan pembicaraan ini, kamu mau ke mana sekarang? sebentar lagi gelap" ucapnya.
"aku harus pulang, kelurgaku pasti menunggu"
"keluarga? wah tapi sebentar lagi gelap loh" ucapnya.
"tidak apa apa, aku bisa sampai dengan cepat" jawab Alara.
"hmm begitu yah? em ya sudah mari aku antar ke depan" ajaknya lagi.
Setelah sampai teras Alara berpamitan pergi, gadis itu sudah lega karena ganjalan di hatinya sudah musnah.
"emm nyonya".
"yaa?"
"kamu sangat mirip dengan seseorang" ucap Alara sebelum pergi.
"aku? benarkah?" tanyanya tak percaya.
"iya benar, tapi sayangnya dia sudah tiada" ucapnya lirih.
"apa? ya ampun apa kamu merindukannya?"
"tentu saja, aku selalu merindukannya setiap hari" jawabnya tersenyum.
"hmm setiap pertemuan pasti ada perpisahan, jangn mengingat orang yang kamu sayang dengan kesedihan" ucapnya.
"iya emmm..."
"kenapa lagi?" tanya wanita itu.
"aku tau ini tidak sopan, tapi apa aku boleh memelukmu?" tanya Alara ragu.
"hng memelukku?"
__ADS_1
.....bersambung.....
semoga terhibur yah