
Lucia dan Weiwei pun pergi melesat kepasar.
Kini mereka berdua pun sudah sampai di pasar ibukota kekaisaran petir. Ramainya pasar tradisional ini tak jauh berbeda dengan pasar modern hanya kebersihan yang membedakannya.
Pasar zaman dulu sangatlah bersih, sedangkan kebanyakan pasar modern sangatlah kotor dan banyak sekali orang² kaya tak pernah sekalipun menginjakan kakinya dipasar modern.
Kembali ke Weiwei yang terengah - engah mengikuti langkah kaki nya Lucia yang sangat cepat seperti bayangan.
Mereka berdua pun menyusuri pasar itu.
WeiWei pun memandang sekitarnya dengan ceria karena dapat keluar dari gubuk tua itu.
"Belilah apa yang kamu mau da sebentar. Ini peganglah untuk membamemberikanyar nanti..." Ucap Lucia yang 5 batang emas kepada WeiWei.
Weiwei yang diberipun terkejut dengan nonanya yang memiliki 5 batang emas yang harganya sangat mahal sekali.
"Astagah... Cia, banyak sekali emasnya nona. Nona dapat darimana emas sebanyak ini." Ucap Weiwei tak percya.
"Mencuri." Ucap Lucia asal yang sengaja membuat WeiWei panik.
Dan benar saja mata Weiwei terbelalak mendengar pernyataan yang Lucia ucapkan tadi.
"Ya ampun Cia...cepat kembalikan emas ini kepada orangnya dan mari kita segera kembali lagi kegubuk." Ucap WeiWei panik takut orang yang mempunyai batang emas yang dicuri itu datang dan membwa mereka berdua kepengadilan.
"Ckckc, hanya bercanda itu adalah emas batangan ku. Jangan takut, percayalah aku tak berbohong dan gunakan itu sepuasmu yah. Aku akan berkeliling kepasar ini setelah itu kita akan membumi hanguskan kerajaan tak berfaendah ini..." Ucap Lucia datar dan Weiwei yang mendengar itu hanya mengangguk saja tapi setelah mendengar kelanjutan Lucia tentu saja Weiwei melarangnya.
"Eh...tidak Cia! Kau tidak boleh melakukan itu... kita bisa dipenggal jika ada yang mendengarnya." Bisik WeiWei sambil melihat sekeliling
"Heh. Siapa takut aku bisa membunuh mereka semuanya dengan menjentikan satu jariku saja. Heh...berani bermain - main dengan ku, tunggu saja diriku sendiri yang akan mengenalkan mereka dan menjerumuskan mereka dalam api neraka yang sangat panas itu." Ucap Lucia songong yang emosinya masih ia tahan mengingat kejadian selir dan kaisar bajingan itu menyiksa tubuh ini sampai mati.
Tentunya Lucia tak akan melepaskan mereka yang berani mengusiknya tanpa berbelas kasih.
"Baiklah, tunggu aku didepan dekat sana jika kau sudah selesai berbelanja nya." Lanjut Lucia malas dan pergi meninggal kan Weiwei yang masih diam ditempat.
-------
Lucia kini berjalan - jalan kepasar dan membawa Alex didalam jubahnya supaya tak diketahui orang².
"Cia, aku ingin manisan itu." Minta Alex dengan mata Puppy eyes nya itu.
"Baiklah." Ucap Lucia yang menemani kemana Alex pergi karena kemarin ia sempat berjanji dengan Alex.
Sedangakan Firance? Jangan ditanya lagi, ia lagi - lagi sedang menonton drama korea di manison Lucia.
Tiba² saja saat ia menikmati manisan dengan Alex, seorang wanita setengah paruh baya berteriak
"Pencuri!!.. Tolong!!" Ucap wanita tua yang sedang berlari - lari mengejar bandit itu.
Lucia yang mendengar kalau itu adalah bandit, dengan sigap ia berlari kecil karena tak terlalu jauh jaraknya berada dari si bandit dan menendang bandit itu sampai terjatuh tersungkur ketanah.
"Kurang ajar sekali kau bocah.!!!" Ejek bandit itu.
Lucia yang diejek hanya menatap bandit tersebut dingin dan mengeluarkan aura intimidasi yang kuat sehingga membuat si bandit nya tak bisa bergerak begitupun orang² yang terkena dampaknya.
"Heh...orang tak tahu malu, yang hanya bisa mencuri tanpa bekerja. Memalukan." Ejek balik Lucia dengan sinisnya dan mengasah kemampuan meninjunya dengan meninju si bandit sampai babak belur.
Orang² disana masih tunduk karena tertekan dengan aura intimidasi yang dikeluarkan Lucia.
Lucia pun mengambil tas kain yang terbuat dari benang berkualitas itu dan mencari pemilik tas kain itu dengan mata dewinya.
Tentunya dengan sangat cepat ia menemukan pemilik tas itu dan menghampirinya.
"Ini tas anda." Ucap Lucia yang terdenga merdu nan dingin dan melemparkan tas itu ke wanita paruh baya itu.
Lalu Lucia pun berbalik dan hendak ingin berjalan tapi suara wanita paruh baya tadi mengehentikannya...
"Tunggu, Siapa namamu." Tanya wanita paruh baya itu.
"Lucia." Ucap Lucia singkat and padat
"Terima kasih telah membantuku, ini ada sedikit emas untukmu nona..." Ucap wanita paruh baya itu yang hendak meletakkan koin itu diatas tangan Lucia yang ditariknya.
__ADS_1
"Tak perlu, aku tak membutuhkannya..." Ucap Lucia dingin nan cuek.
"Eh...tapi no-..." Sebelum menyelsaikan kata² nya Lucia pun sudah melsat seperti bayangan tanpa memperdulikan wanita tua yang kebingungan itu sendiri ditengah kerumunan orang² pasar yang masih sesak dengan auranya Lucia.
'Sayang sekali aku tak mengetahui nama gadis itu... huh, kalau tidak sudah pasti aku akan memperkenalkannya kepada 'mereka' yang masih jomblo. Kikiki....' Batin wanita itu yang tadinya senang dan sekarang menjadi murung.
----------
Lucia kini sudah tak tertarik dengan barang² yang ada dipasar, juga ia sudah membeli banyak sekali makanan untuk Alex tak lupa dengan Firance tadi dan memasukannya berikut Alex.
Ia pun kembali ketempat yang ia katakan kepada Weiwei.
Dilihatnya Weiwei sedang menunggu diam di pinggir depan pasar dengan barang belanjaan bawaannya.
"Weiwei, mari balik kegubuk." Ucap Lucia yang sudah sampai di depan WeiWei.
"Eh...baik." Ucap Weiwei yang sebenarnya keberatan membawa sayur dan daging untuk makan nanti malam.
"Sini, biar kubawakan belanjaannya." Ucap Lucia santai dan mengambil barang belanjaannya dari tangan Weiwei.
"Em...aku bisa sendiri Cia." Ucap Weiwei yang masih ingin merebut barang belanjaannya dari tangan Lucia.
Karena perbedaan tinggi badan, Lucia yang sudah lebih tinggi dari Weiwei pun mengangkat barang belanjaan nya diatas kepalanya sehingga Weiwei tak dapat meraihnya.
Dan pada akhirnya mereka pun pulang kegubuknya dengan belanjaan yang dibawa Lucia.
-----------
Sedangkan didunia atas, atau lebih tepatnya di penjara istana putih seorang wanita setengah paruh baya sedang dikurung dibalik jeriji besi yang dingin.
Tap....
Tap....
Tap....
Suara langka kaki pun menggema di sana, wanita setengah paruh baya dengan kondisi buruk pun menoleh melihat siapa yang mendatanginya.
"Heh...bagaimana rasanya dikurung disini Dewi Bulan yang agung?!!..." Ucap orang yang mendatangi wanita setengah paruh baya itu dengan nada angkuh dan sombong.
Plak...
Suara nyaring tamparan yang dilemparkan oleh orang tersebut ke pipi Dewi Bulan.
"Dasar tak tahu malu, harusnya kau bersyukur karna 'Yang mulia mengampunimu!!." Gertak wanita itu.
"Heh, bersyukur kau bilang.? Aku tak akan sudi memujinya dan menuruti perintah bajingan sialan itu." Ucap Dewi Bulan.
"Orang rendahan! Kau tak pantas menyebut yang mulia 'Raja kerajaan putih' seperti itu.!!" Marah wanita itu.
"Oh adikku Dewi Bintang, jangan mencoba - coba menasihati dirimu yang sok suci itu dan memuji 'nya' didepan mukaku ini." Ucap Dewi Bulan tak takut dengan wanita yang diketahui bernama Dewi Bintang.
"Cih, jika yang mulia tak menyuruhku untuk membunuhmu, sudah kupastikan kau sudah mati ditanganku.!!" Ucap Dewi Bintang sombong.
Dewi Bulan yang mendengar itu hanya mengeluarkan smirk mengerikannya...
"Coba saja adikku, kau ingat kau tak akan pernah menang melawanku jika bukan dari bantuan si bajingan itu dengan menjual tubumu kepadanya." Ejek Dewi Bulan.
"Kau...!!" Geram Dewi Bintang tak suka kepada Dewi Bulan yang ternyata merupakan kakaknya.
"Apa...! Mau mengadu dengan bajingan sialan itu?!! Silahkan aku tak akan pernah takut dengamu." Balas Dewi Bulan.
"Jangan lupakan suami kesayangan mu yang bodoh itu yang masih dalam genggamanku tanganku." Ucap Dewi Bintang dan tersenyum penuh kemenangan.
"Kau...!" Ucap Dewi Bulan kesal.
"Hahaha....benar bukan apa kataku?." Tawa penuh kemenangan dari Dewi Bintang.
Dewi Bulan kehabisan kata - kata untuk membalas jalang gila yang berada di hadapannya ini.
Setelah tak ada jawaban pun wanita itu pun pergi meninggalkan penjara bawah tanah istana putih itu meninggalkan Dewi Bulan yang masih termenung memikirkan apa saja yang ia alami...
__ADS_1
'Kenapa semua ini terjadi? Haha menyedihkan sekali nasibmu sebagai seorang Dewi... Anaku!!.." Batin Dewi Bulan meringis menyedihkan meratapi nasibnya yang buruk.
—————————
Haripun menjelang petang...
Saat ini Lucia & Weiwei dalam perjalanan pulang ke gubuk di hutan kematian tempat tinggalnya.
Dari kejauhan Lucia melihat banyaknya orang berbaju prajurit istana kekaisaran petir.
' hah...ternyata tiba juga ya. Kikiiki.' Bitin Lucia.
Weiwei yang juga melihat itu dari kejauhan pun bertanya kepada Lucia.
"Cia, apakah itu adlah orang istana yang dititahkan kaisar untuk menjemput kita ya?." Ucap Weiwei penasaran.
"Hm...sepertinya begitu, menurut mu mengikuti atau dibunuh?." Tanya Lucia dingin.
"Eh...kau tak boleh begitu bagaimana pun kau dibesarkan disana jadi jangan bilang begitu Cia, kita bisa dihukum, mendingan sekarang kita kembali diistana. Bagaimana Cia?" Tanya Weiwei menengahi.
"Baiklah...aku akan menuruti mu tetapi apabila mereka mengganggu ketenanganku aku tak akan membiarkan ia melihat matahari terbit lagi." Ucap Lucia santai kayak dipantai.
Stelah percakapan tersebut Lucia dan WeiWei pun berhenti dibalik pohon besar dan menyimpan belanjaan nya disana agar tak ketahuan.
Sesudah mereka menurhnya dibalik pohon besar mereka pun mendekati prajurit tersebut dengan berjalan kaki, seolah - olah mereka baru pulang untuk mencari makanan untuk dimakan.
Prajurit yang melihat kedatangan Lucia dan Weiwei pun tak memberi hormat tetapi malah tatapan yang mengejek mereka sesampainya disana.
"Apakah begini cara bekerja para prajurit kekaisaran petir, yang tak tahu sopan santun kepada seorang putrinya...?" Tanya Lucia dingin.
"Heh...apa perlu memberi hormat kepada kalian yang seorang putri samapah dan seorang pelayan rendahan." Ejek prajurit itu yabg diyakini sebagai ketuanya. Para prajurit yang lain pun tertawa terbahak - bahak mendengarkannya.
"Hhaha...benar sekali ketua, memang sampah patut dihormati, heh...tak mungkin kami akan tunduk kepada puteri dan pelayan sampahnya itu." Cemooh prajurit yajg disebelah ketuanya.
Lucia hanya memandang dingin satu persatu berusaha menahan amarahnya yang dipancing oleh mereka semua.
Tanpa banyak omong ia pun mengeluarkan katananya dan memenggal kepala prajurit tadin yang mencemooh dirinya.
"Heh...inikah yang kalian sebut sampah?. Kuberi 2 pilihan mati ditanganku atau bilamg ke si tua bangka yang kalian anggap kaisar itu bahwa aku tak ingin kembali ke neraka yang berwujud istana itu. Bagaimana?." Ucap Lucia yang masih tenang memainkan katananya yang bercucuran darah prajurit tadi.
"K...-kau. Dasar monster... ka-..mi ini prajurit tak akan pergi sebelum menyelesaikan misi yang hanya membawa sa..-mp." Ucap ketua yang tak terselesaikan kalimatnya karena sudah dibelah menjadi dua bagian oleh Lucia.
Beberapa prajurit yang mengikuti pun hanya diam ketakutan kepada orang yang mereka sebut² dengan 'Sampah' itu.
"Banyak omong, huftt... baiklah, padahal aku sudah berbaik hati kepada kalian... tetapi ditolak. Tak apa aku akan mandi darah hari ini...hahahha." Ucap Lucia senang tapi mimik wajahnya masih sama.
Beberapa prajurit itu pun segera ingin lari dari 'Monster' gila ini, tetapi tak bisa karena dengan kecepatan Lucia mengayunkan pedangnya sangat cepat sehingga sudah membelah semua kepala prajurit yang datang tadi.
Weiwei yang baru pertama kali melihat pembunuhan pun bergidik ngeri melihat Lucia yang bermandikan darah seprti seorang 'Iblis Sejati.'
*( Memang! Kan dia puteri kerajaan iblis giamana sih?..., cuman kayaknya lebih kejaman Lucia deh ya...hahaha.😅😅)* Author.
👆Abaikan...
"No...-na..." Ucap Weiwei takut.
"Sudahlah, sekarang biasakan dirimu melihat pemandangan berdarah seprti ini karena aku suka. Dan kau bisa memilih ingin mengikuti perjalanan hidupku atau menetap diistana tak berfaedah ini.? "Tanya Lucia dengan mimik wajah dataer.
Weiwei yang tak ingin ditinggalkan Lucia yang sudah seperti adik sendiri baginya pun langsung menjawabnya tanpa ragu.
"Tidak!! Aku tentu saja ingin ikut denganmu Cia." Ucap Weiwei dengan penuh keyakinan.
Lucia yang mendengar itupun bahagia dihatinya dan tersenyum tipis.
"Hm...bagus! Baiklah sekrang kita masuk dahulu, besok siang kita akan datang ketempat terkutuk itu. Bagaimana.?" Ucap Lucia yang dimaksud adalah istana petir.
"Em...baiklah Cia, mari masuk dahulu aku akan menyiapkan air untuk kau mandi yah..." Ucap Weiwei tersenyum tulus.
"Baiklah, ayo." Ucap Lucia dan mereka pun masuk kedalam gubuk itu.
........
__ADS_1
Besambung....
Jangan Lupa Like, Comment, and Vote ya...