
Blubrb...
Blubrb...
Terlihat air jatuh dengan deras dari atas langit, membasahi kolam indah yang berisi ikan - ikan di dalamnya.
Suara tenang dan damai tak membuat seorang pria dengan rambut hitam lentik miliknya tenang.
Dirinya sudah menunggu begitu lama kehadiran kekasih masa kecilnya dengan senang, tapi kenapa baru 7 jam sudah terasa 7 bulan saja?!
Ckck.
Kesal karena yang ditunggu belum kunjung menampakan batang hidungnya, ia pun duduk di kursi dengan wajah kesal yang terlihat begitu imut.
______
Disisi lain.
Terlihat seorang gadis sudah membombardir gerbang depan kastil tengkorak.
Ya ..
Siapa lagi kalau bukan...
CIA!
Lucia kini datang dengan mata semerah darahnya dan hanya menatap datar penjaga yang sudah tewas di tanah dekat gerbang itu.
Netra nya yang setenang air, membuat siapa saja yang melihatnya akan terhanyut dalam pusaran ombak yang begitu dalam.
'Ukh...sial!' Batin Lucia kesakitan. Membuat mulutnya mengeluarkan darah yang banyak.
Yah. Bila ditanya...
__ADS_1
Ia hampir menghabiskan seluruh mana nya hanya untuk membuka portal ke dunia atas.
Akan tetapi mana dalam dirinya masih cukup untuk mengaktifkan mata dewi itu seperti sekarang.
Ia pun melangkah maju, tanpa memperdulikan gerbang yang sudah hancur lebur itu.
Baru saja melangkah untuk masuk ke dalam kastil tua itu. Ia sudah dihadang oleh satu penghianat juga temannya dengan wajah yang menyebalkan.
"Hai nona cantik! Bagaimana kabarmu?" Ucap orang tersebut yang tak lain adalah Blacky dan Pi Fei.
"...."
Lucia hanya menatap datar mereka berdua, tak ingin membuat penghianat yang mengkhianati dirinya terluka ia pun berusaha menghiraukan mereka.
Akan tetapi si Pi Fei menyebalkan itu malah dengan sembarangan memgang tangan Lucia untuk berhenti.
"Lepas." Ucap Lucia dingin nan datar.
"Hei, hei tenanglah dulu nona cantik. Anda masih belum bisa masuk kedalam sebelum melewati ku dan nagaku dulu." Ucapnya dengan ekspresi menyebalkan di wajahnya.
Tsing.
Katana itu digalang oleh Blacky, yang menatap Lucia dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sedangkan Lucia hanya menatapnya datar lalu mengambil ancang - ancang untuk menyerang kembali.
Tsing.
Trak.
Pedang yang dipegang Blacky terpental jauh akibat ilmu pedangnya tak setara dengan Lucia.
Crash...
__ADS_1
Lucia segera melukai pergelangan kaki Blacky sehingga membuat Blacky sendiri tidak bisa berdiri.
"Wow. Wow. Nona cantik tenanglah, biar bagaimana pun ia dulu pernah menjadi bawahan mu kan?" Ucap Pi Fei dengan senyum mengejek.
Lucia yang sudah tersulut - sulut emosi pun langsung menyerangnya tanpa aba - aba dengan kecepatan tinggi.
Pi Fei yang terkejut pun tak sempat menghindar. Matanya membesar, terbelalak tak percaya bahwa sudah ada benda tajam nan dingin di lehernya.
"Tutup mulutmu." Ucap Lucia yang seperti bisikan iblis itu ditelinga Pi Fei.
"Aku tidak pernah menganggap seseorang yang menghianati ku sebagai seorang teman yang berharga." Ucap Lucia dengan tatapan netra kosong yang menyeramkan.
Deg.
Hati Blacky bagai tertusuk ribuan jarum tak kasat mata. Perih.
'Ya anggaplah aku seperti yang kau pikirkan CIA.' Batin Blacky. Ia pun terjatuh di tanah yang masih dialiri oleh air hujan yang tak berhenti mengeluarkan petir menyambar.
Glek.
Pi Fei yang melihat orang dibelakang nya menodong kan pisau dengan raut wajah tak mempunyai kehidupan pun merinding.
'Kenapa tatapannya sama seperti dia.' Batin Pi Fei.
Boom!
Karena merasa amat takut nan merinding, ia pun memakai ledakan boom dengan asap yang banyak lalu kabur dari sana.
Kini tinggal Lucia seorang diri masuk kedalam kastil itu, tanpa menyadari bahwa orang yang mengawasi dan menunggu kehadiran nya sudah tersenyum senang dari atas jendela sana.
'Aih...CIA ku sudah datang rupanya ʘ‿ʘ' Batin seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah...
________
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan votenya ya guys.