
Lucia mendekati ekor hitam itu dengan langkah tenang nya.
Setelah usai memperhatikan ekor hitam itu dari dekat, ia pun membuka semak - semak yang menutupi ekor hitam tersebut dan melihat sesosok naga yang di yakini oleh banyak nya para kultivator, bahwa naga ini adalah naga Fire Dragon kuno yang telah lama menghilang bagai di telan bumi.
Kepergian atau pupus nya spesies hewan tersebut pun bersamaan dengan hilang nya para ras terdahulu, seperti ras ular putih yang telah lama hilang.
Jangan di tanyakan atau diragukan lagi. Kemampuan naga ini bahkan sebanding dengan para kultivator tingkat Ranah Reinkarnasi bahkan lebih kuat dari perkiraan orang - orang.
Dilihat nya bahwa naga itu sedang terluka di bagian kaki dan sayapnya. Akan tetapi pandangan mata tajam sang naga menatap Lucia dengan waspada.
"Siapa kau, wahai manusi?!" Ucap naga hitam itu dalam bahasa naga yang masih bisa Lucia pahami.
"Aku. Aku Lucia." Ucap nya apa adanya.
"Cih...untuk apa kau kesini?! Pergilah, sebelum aku membunuh mu wahai manusia lemah." Ucap naga hitam besar itu dengan nada tidak sukanya kepada Lucia.
"Hm...baiklah jika kau tak perlu pertolongan ku dan mati mendadak disini. Aku akan pergi sampai jumpa saat kau telah menjadi bangkai nanti nya." Ucap Lucia dingin dan mulai beranjak pergi.
Naga tadi mulai berpikir, akankah ia menerima bantuan dari manusia lemah ini?!
Tidak!! Tidak. Ia tak akan pernah meminta bantuan pada ras manusia yang terkenal tamak dan egois.
Karena lebih mementingkan egonya, ia pun hanya berdiam diri dan menatap punggung Lucia yang kini mulai menjauh.
———
Lain disisi Lucia yang sebenarnya hanya pura - pura pergi.
Tujuan aslinya adalah, ia ingin berburu hewan untuk dimakan nanti bersama naga yang sombong dan lebih mementingkan egonya daripada nyawanya sendiri.
.....
Sekian lamanya ia berburu di dalam hutan gelap itu, akhir nya ia memilih untuk kembali ke tempat naga tersebut karena hasil buruan hari ini cukup untuk mengisi perutnya.
Dilihat nya naga tadi sudah megeluarkan darah segar yang berserakan dimana - mana.
"Uhk...." Rintih sang naga.
Aish...
Huft...
__ADS_1
Lucia yang mendengar rintihan itu dari kejauhan pun langsung mempercepat langkahnya sambil membawa hasil buruan di pundak nya.
"Cih...naga bodoh yang lemah." Ejek Lucia yang melihat naga itu sudah memejamkan kedua matanya.
Ia pun segera mengeluarkan kekuatan nya untuk menyembuhkan sang naga yang sudah tergeletak tak berdaya di tanah itu.
Lama - kelamaan kondisi sang naga pun berangsur - angsur mulai membaik dan luka dalam tubuhnya juga sudah tertutup tanpa bekas.
Sambil menunggu sang naga bangun, Lucia akan memasak ikan yang ia bakar sekaligus kalalawar tadi di perapian yang tadi ia buat.
Aroma wangi pun memasuki indra penciuman sang naga yang sedang memejamkan matanya.
Memejamkan mata?!
Ya, sebenarnya sedari tadi naga itu masih bisa mendengar dan merasakan kehadiran Lucia disini. Cuman karena beberapa bagian tubuh dan detian nya rusak jadi mempengaruhinya dalam bergerak bebas.
Back To Topik...
Lucia saat ini sedang menabur kan bumbu - bumbu yang ia ambil dari ruang dimensinya dengan telaten.
Sang naga hanya memperhatikan nya dari tempatnya berbaring tadi.
"Hanya mau lihatkah? Tidak mau dimakan?" Ucap Lucia dingin nan cuek sambil mengambil satu potong ikan bakar yang sudah matang.
"Baiklah, jika kau tidak mau." Ucap Lucia cuek dan langsung memakan ikan bakar itu hingga habis.
'Manusia ini....apakah ia benar - benar tidak peduli kepadaku?!! Dasar manusia.!!' Batinnya merasa kesal.
Hingga akhirnya makanan nya tinggal sedikit.
"Ini yang terakhir, mau tidak?" Ucap Lucia dingin.
"Tidak." Ucap naga hitam itu dengan tampang songong nya.
Kruk...kruk...
Hah...memalukan. Pikir sang naga karena perut nya tak bisa di ajak kompromi.
"Yakin kah tidak mau?" Ucap Lucia yang mencoba sekali lagi menawarkan, karena ia baik hati.
"Tidak." Ucap naga hitam.
__ADS_1
"Baiklah. Akan aku makan." Ucap Lucia yang bersiap membuka mulutnya.
Akan tetapi dengan cepat moncong naga itu sudah melahap habis ikan terakhir.
Lucia yang sudah menduga hal itu pun mengangkat sudut bibirnya sedikit.
Setelah selesai makan naga hitam itu pun menjadi malu sendiri, karena tadi secara reflek tindakan nya juga tak sepemikiran oleh pikiran nya.
"Em... i...-itu, apakah ada lagi?" Ucapnya yang malu sendiri.
"Tidak ada. Itu yang terakhir." Ucap Lucia serios dengan tampang datarnya.
Naga hitam yang mendengar itu pun langsung murung, karena perutnya masih sangat lapar dan ia memberanikan diri untuk bertanya tetapi hasilnya sia - sia.
Lucia masih dengan muka tembok datarnya, akan tetapi di dalam hati ia merasa lucu dengan tindakan sang naga yang seperti anak kecil. Menurutnya.
Saat tengah menatap kebawah, Lucia yang tadinya diam mendekati si naga dan memberikan ikan bakar dan kalalawar yang sebenarnya belum ia makan tadi.
"Ini." Ucap Lucia yang menyerahkan makanan tadi.
Sang naga pun kembali menonggak menatap tak percaya Lucia yang sekarang tersenyum.
Karena sempat terpesona dengan Lucia, jadinya sang naga hanya bengong saja memperhatikan wajah Lucia yang sudah tak tertutup cadar lagi.
"Ada apa? Ini. Mau tidak." Ucap Lucia yang kembali ke muka datar nya.
"Hah...oh. Makasih." Ucap sang naga sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
Sedangkan Lucia sibuk membaca arah jalan untuk kembali ke kelompok nya yang sempat ia tinggalkan tadi.
—–—
Bersambung...
Hai...hai...
Gimana kabar kalian semua? Masih siap kah dalam menjalani minggu ini?...
Yoo guys, selamat membaca...
Jangan lupa Like, Comment, dan Vote Novel ini bagi yang suka dan yang sudah mampir.
__ADS_1
Thank's...
And See You...♡♡