
Lucia P.O.V
Hah...akhirnya dapat juga.
Tujuan sudah tercapai, sekarang adalah saat nya mengakhiri permainan membosankan ini.
Aku pun keluar dari tempat itu, dengan menghindari pola lantai sihir yang digunakan untuk menangkap pencuri.
Tapi sayangnya...itu sangat tidak berpengaruh untuk ku.
Tap...
Tap...
Aku berjalan dengan santai dan menunggu kedatangan seseorang yang akan menyerang ku secara mendadak.
Dan yah...tak lama kemudian, 'Orang' itu mulai melakukan penyerangan kearah ku diam - diam.
Ah...apakah dia pikir, menyuruh anak buahnya yang seperti serangga itu cukup untuk mengalahkan ku.
Tentu saja....
...
...
Tidak.
Sudah cukup bercanda nya dengan para readeea bukannya ini akan ada adegan darah kesukaan ku, yang kutunggu sedari lama untuk menghabis mereka.
Hahaha...ini sungguh menyenang kan. Terima kasih kerena telah mengirimkan banyak boneka ini untuk ku tuan ketua~~
Ku keluarkan senyum smirik dan langsung melemparkan kunaiku ketempat persembunyian boneka yang harus kutemukan itu.
Ah...aku sangat senang bermain pencapit boneka seperti ini.
Baiklah apakah seperti ini caramu bermain. Siapa paling banyak boneka ia yang menang? Begitu.
Yah...kalau begitu...ayo sajalah. Salahkan dirimu jikalau aku akan lepas kendali dan menjadi hebat.
Kikikiki...memikirkan nya saja membuat ku ingin mencokel matamu dan merusak bagian - bagian tubuhmu agar permainan semakin seru...~
Kutingkatkan kecepatan tubuh dan yah...mereka semua tergeletak dengan mandi darahnya sendiri.
Bukankah itu sangat - sangat...menyenangkan!
Ah...aku jadi semakin bersemangat!
Oh...ayolah sampai kapan kau akan memantau dan terus bersembunyi seperti ini.
Sungguh tidak seru...
__ADS_1
**Lucia P.O.V END
Author P.O.V**
Dibalik selimut tetangga...ups...maksudnya dibalik ruangan berkaca, seorang lelaki tengah melihat Lucia dari jendela sihir nya.
"Feng Le...cepat lawan anak itu, sebelum ayah ku marah dan mengamuk kepada kita." Ucap seseorang bertopeng dengan bawahan nya yang menggunakan hanfu panjang serta telinga panjang nya. Membuat ketampanan yang menarik kau hawa itu semakin bertambah.
Tak lama pintu ruangan pun didobrak kencang oleh seseorang yang tampaknya tak mengtahui sopan and santun.
"Ckck...hadapi aku kalau bisa tuan bertopeng yang hebat." Ucap seorang itu, yang ternyata adalah Lucia yang dengan gambalngnya mendobrak pintu dengan kaki cantiknya dan langsung senderan seperti bos di ambang pintu.
Lain halnya dengan kedua orang itu yang nampak terkejut dengan kedatangan nya.
"Cih...hanya seorang bocah saja belagu?...sungguh tak tau malu." Ejek nya dengan memandag remeh Lucia.
"Oh benar kah? Bukannya yang tidak tau malu itu adalah kau tuan Bertopeng tidak jelas. Mengambil artefak yang seharusnya sudah bersama gadis muda ini dan memaksa nya masuk kedalam sarang mu. Owh...bukankah itu hal yang hebat?" Ejek Lucia dengan wajah menyebalkan yang terpati diwajahnya.
Karena kehilangan kendali, bola matanya yang merah masih bersinar terang seakan mode iblis nya diaktifkan.
Akan tetapi wujud nya masih saja manusia dan belum berubah menjadi tampilan puteri iblis sesngguhnya.
"Kau!!" Ia menggertakan gigi karena kesal dengan ucan gadis di depannya.
Ia pun mengeluarkan aura yang bisa semua orang takut, kecuali hanya kepada Lucia yang aura itu hanya sebatas angin lalu menerpa wajahnya.
"Cih..." Lucia yang sudah sangat ingin mengakhiri permainan yang dibuat oleh orang yang didepannya ini, langsung mengubah diri menjadi tampilan puteri seorang iblis yang sesungguhnya.
Sedangka pria bertopeng tadi sudah bersiap dengan pedang panjang ditangan nya yang dilapisi aura hitam kemerahan.
Yang bisa - bisanya sudah mencuri dan menunjukan pedang ayahnya dihadapan puterinya sendiri.
Sungguh tidak tau malu. Beraninya ia meneriaki orang lain tanpa berkaca terlebih dahulu. Ckckkc...
"Sungguh seorang yang tidak tau malu. Berani merebut pedang milik ayahku, pantasnya diberikan hukuman apa ya...?" Sarkas Lucia dengan sinis.
Entah kenapa, melihat orang didepannya sungguh membuatnya jengkel. Ditambah seorang amak kecil yang pernah diajak bermain sedikit dengannya.
Lucia pun mengibarkan tangan nya diudara, dan muculah tombak merah muda yang sangat cantik dan bersinar ditangan nya secara tiba - tiba.
'Ckck...ular bodoh mungkin aku akan meminjam sedikit kekuatanmu agar kekuatan ku yang sesungguhnya tidak diketahui. Sungguh trik murahan! Bisa - bisanya ia mengirim lelaki tidak jelas didepan ku ini.' Batin Lucia yang marasa lucu karena lawannya terlalu bodoh untuk itu.
Memancingnya? Heh...ia tak akan mudah makan sembarangan umpan yang tidak ada untungnya bagi ia begitu saja bukan?...
Hm...mari mulai kalau begitu!
__ADS_1
Syut...
Lemparan tombak kekuatan Lucia pun dengan cepat menggores tangan lelaki itu dalam sekali kedipan mata.
Sedangkan Lucia yang melihat itu hanya diam dengan wajah datar andalannya.
Tak lama kemudian tombak itu kembali menggores lengan si lelaki itu dan kembali ke dalam genggaman Lucia.
"Hm...bagaimana? Apakah masih ingin mencoba lagi. Kusarankan jika kau menerimanya agar jasadmu bisa kubawa untuk para spirit ku makan." Ucap Lucia tenang setenang air.
Mimik wajah datarnya ditengah suasana pertarungan, membuatnya semakin terlihat menakutkan.
Ya...inilah puteri iblis yang sesungguhnya!
Menahan diri dari kalangan para manusia hina, membuat jiwa berdarahnya semakin meronta - ronta haus akan darah yang mengalir.
"Dasar iblis." Ucap Pria bertopeng itu sambil menahan rasa sakit nan panas dari serangan yang ia rasakan saat ini.
"Memang. Hah...memang sudah waktunya untuk menyelesaikan nya, karena...aku sudah muak dan bosan. Mari akhiri lebih cepat." Ucap Lucia tenang.
Ia pun mendekat kearah lelaki yang sudah tidak berdaya tadi dengan wajah pschonya.
Sedangkan orang yang disampingnya yang tak lain adalah Liu Yang, menatap horor gadis didepannya dan tak berani bergerak seinci pun.
Crash...
Bukannya cairan merah yang dilihag Lucia, melainkan hanya sebuah pasir yang keluar dari tubuhnya.
"Heh...menarik. Ternyata hanya kloningnya saja kah. Kalau begitu kita lanjutkan nanti saja ketua yang terhormat." Ucap Lucia tersenyum dingin.
Ia pun keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan keberadaan Liu Yang yang melihat nya sedari tadi.
Setelah kepergiaan Lucia, Liu Yang pun bernafas lega.
"Tuan. Apakah anda akan tetap bersembunyi menjadi bayangan diriku saja." Ucap Liu Yang kepada 'Seseorang' yang tak lain adalah tuannya ditubuh yang asli.
"Ckck...apakah gadis mengerikan itu sudah pergi?" Ucapnya, yang dibalas anggukan kepala oleh liu Yang.
"Haih...dasar tua bangka itu. Ia merencanakan semua ini, akan tetapi merugikan pasukan orang lain saja untuk keuntungan nya sendiri. Hiks...rugilah para pasukan penyihir yang sudah kubuat susah payah dan dilenyapkan oleh anak mengerikan itu dalam satu hari saja." Ucap seseorang itu mendramatisir.
( Author : Luar sih boleh sangar. Tapi kenaap dalam nya hello kita and kerroppi. Aih..si ganteng meningan sama authoe heboh yang cantik ini aja dech...)
"Aih...sudahlah tuan atau bisa kupanggil kakak ku tercinta. Sebaiknya kita melapor saja kepadanya dari pada semakin berabe urusan yang tidak ada hentinya ini." Nasihat Liu Yang yang berusaha sabar kepada 'Seseorang' yang kita ketahui adalah Kakaknya yang tingkah nya seperti anak kecil.
"Hem...baiklah adikku." Finalnya dan langsung meninggalkan kastil yang seperti tempat reruntuhan itu.
____
Bersambung...
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote kalianuntuk kontes season 5 ya...
__ADS_1
Doain gitu supaya cerita g j author paling tidak dapet rank 3 gitu hehehee halu juga g papa kan.
Okay itu terserah kalian sih mau vote apa g. Ydh kalo gitu papay...โกโก