
Lucia kini tengah mengikuti nenek - nenek yang ia temui saat berjalan mencari penginapan tadi.
Dilihat nya nenek itu memasuki lorong sepi nan gelap didekat sungai yang entah di mana ini.
Nenek tua itu tiba - tiba berubah menjadi seorang pria tampan yang mempunyai taring tamvan dan memakai topi penyihir sama seperti Rossiana.
What...?
Apakah ia juga berasal dari tempat yang sama seperti Rossiana?...
Tidak...tidak mungkin ada penyihir yang lain, selain wanita centil itu...
Huft...
Memikirkan nya saja membuat Lucia capek dan menyernyit bingung melihat apa yang di lakukan oleh lelaki itu.
"Đďé§žfć." Lelaki itu mengucap kan mantra di tempat yang ada segel darah nya, kemudia duduk bersila dan memejam kan mata nya.
Lucia yang tahu bahwa ia akan segera meningkat kan kekuatan sihirnya pun langsung melesat lari ke penginapan nya agar tidak ketahuan.
Karena, biasanya orang yang sedang meningkatkan kekuatan sihirnya, seperti Rossiana bisa melihat keadaan sekitar jauh maupun dekat.
....
Pagi hari...
Kini hari sudah pagi, tetapi Lucia masih saja membaca buku sihir yang diberikan oleh Rossiana.
Saat sedang asik membaca buku, memori semalam pun terulang kembali.
Hm....
Lucia pun tampak tengah berfikir, menopang dagunya dengan sebelah tangan nya.
Saat tengah memikirkan sesuatu, Rossiana tiba - tiba saja muncul seperti jin.
"Cia...!" Panggil Rossiana.
Tetapi Lucia masih saja bengong dan berpikir tentang kejadian tadi malam.
"Lucia!!...." Teriak Rossiana menggelegar.
"Hm..." Ucap Lucia yang tak berpaling dari pandangan nya di tembok.
"Hais...aku ingin bertanya dengan mu?" Ucap Rossiana kesal.
__ADS_1
"Apa?" Balas Lucia singkat nan cuek.
"Huft...aku merasakan aura penyihir gelap tadi yang sangat pekat tadi malam..." Ucap Rossiana yang langsung dipotong dengan Lucia.
"Benarkah? Apakah ada penyihir lain selain dirimu yang alay ini." Ucap Lucia dengan nada antusias tetapi juga mengejek Rossiana.
"Cia!! ..." Geram Rossiana.
"Apa..??" Tanya Lucia dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Sudahlah...sebenarnya tadi malam, aku keluar dari penginapan tengah malam dan mengikuti nenek tua yang kemarin aku tanyakan jalan itu..." Jelas Lucia dengan serios.
"Apa?! Apakah kau juga merasakan aura yang aneh dari nenek tua itu." Tanya Rossiana.
"Ya, sudah sejak pertama kali aku mencurigai dia. Dan kenapa cumab ia sendiri di tengah jalan yang begitu sepi ini...sudah pasti ada yang tidak beres dengan desa ini." Jelas Lucia.
"Benar, tapi apakah itu?." Tanya Rossiana yang tampak khawatir.
"Aku tak tahu, tapi sperti nya ia juga adalah penyihir seperti mu dan semalam aku melihat ia berubah menjadi seorang pria." Lanjut Lucia.
"Benarkah itu?! Tamvan tidak?." Tanya Rossiana yang tadi nya serios lalu berubah menjadi sikap centil nya.
"...." Lucia hanya mengabaikan nya, tak peduli dan memilih melanjutkan membaca buku sihir yang tadi ia baca.
———
Suara teriakan dari para pedagang pun terdengar dari pedagang yang menawaran dagangan nya.
Tak lupa mengajak Alex dan Firance yang sering jajan itu, coba kalau tidak diajak...pasti mereka akan kompak mencueki dan tidak berbicara sama sekali dengan Lucia.
"Cia...cia...aku ingin itu..." Ucap Alex manja.
Lucia pum melihat pedagang yang ditunjuk oleh Alex dan mengangguk.
"Baiklah." Ucap Lucia.
Lalu ia pun berjalan ke penjual kue bulan yang tadi ditunjuk oleh Alex.
"Aku ingin ini satu." Ucap Lucia pada intinya.
"Baiklah non. Ini..." Ucap Bibi penjualan itu yang menyerahkan bungkusan kue kepada Lucia.
Lucia pun meletakan sekantong koin dan melesat pergi tanpa menghirau kan teriakan Bibi itu yang memanggil - manggil nya.
———
__ADS_1
Di Kerajaan Iblis...
Di kerajaan Iblis kini berita tentang pengangkatan permaisuri Lucifer sudah tersebar luas kemana - mana.
Bahkan sampai ke istana putih...
Istana putih yang mendengar nya pun menjadi resah, karena kebangkitan Dewa Lucifer dari Ras Iblis.
Sbab...dikatakan kehebatan nya itu hampir sebanding dengan pencipta Alam semesta.
———
Lucia kini tengah menyuapi Alex dan Firance yang berada di pangkuan nya.
"Aaa..." Alex dan Firance pun membuka mulutnya dengan manja, minta disuapi oleh Lucia.
Lucia pun menaruh kue bulan itu di mulut Alex dan Firance yang tengah berbaring di pangkuan nya.
Sedangakn Rossiana hanya berdecak sebal dengan ke romantisan mereka bertiga.
"Apa kau mau juga?" Tawar Lucia yang melihat Rossiana ngoceh - ngoceh tak jelas sendiri disampingnya.
"Tidak." Tolaknya dengan sombong.
Padahal sebenarnya ia juga menginginkan kue bulan yang tampak sangat enak itu, akan tetapi ia terlalu memikirkan ego dan harga diri nya.
"Baiklah." Ucap Lucia yang kembali cuek nan dingin.
Hampir saja kue bulan itu masuj keflaan mulut Lucia, tetapi terhenti karena penyihir centil itu merebutnya duluan.
"Katanya tidak mau..." Ucap Alex dengan nada meremehkan.
"Cih...dasar munafik." Timpal Firance dengan ketus.
"Bomat..." Ucap Rossiana yang kini tengah mengunyah kue bulan dengan lahapnya.
Lucia yang melihatnya, hanya menggedikkan bahu acuh dan melanjutkan makan kue bulannya di bangku taman bersama Alex dan Firance.
———
Bersambung...
Up tiga deh, biar readers pada gak bosen. Owh ya jangan lupa mampir ke novel ke tiga ku yah...
Bagaimana kabarnya semua? Semoga sehat ya... Amin...
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment, Dan Vote novel ini yah...
See You...♡♡