
————————
Pesta perjamuan pun telah usai...
Saat ini semua anggota keluarga kerajaan iblis sedang mengumpul diruang keluarga istana iblis untuk menjelaskan semuanya kepada Li Cia dan Pangeran Pertama yang baru pulang dari tugasnya.
"Lucia, maafkan permaisuri ini karena mengangkatmu menjadi peteri kami tanpa memberitahumu...Apakah kau marah... kalau kau tidak suka kita bisa memberi pengumuman untuk membatalkannya saja." Ucap permaisuri dengan rasa bersalah.
"Eh...kakak cantik, mau kan menjadi jiejieku?" Ucap pangeran Ruki agar permaisuri tak sedih.
"Hmm...tak apa." Ucap Lucia.
Sementara itu kaisar dan pangeran yang lainnya termasuk pangeran pertama hanya diam saja.
"Cih...mengangkat orang tak jelas menjadi keluarga kalian, apakah derajat keluarga iblis sudah menurun sampai² mengangkat seorang manusia menjadi keluarganya?" Ejek pangeran pertama.
"Jaga ucapan mu pangeran pertama, ia ini yang menyembuhkan ibumu dari tidur panjangnya!!" Marah kaisar iblis.
"Ckckc..." Ucap pangeran pertama yang langsung berlalu pergi.
Setelah kepergian pangeran pertama ruangan itupun hening tak ada yang mau membuka pembicaraan.
Lucia yang sibuk dengan mengelus bulu Alex dan yang lainnya bingung cara menjelaskan nya ke Lucia.
"Em...Lucia, ucapan kakak pertama jangan dianggap ya kakak cantik?" Ucap pangeran Ruki.
"Hm...tidak apa² aku menerima menjadi puteri kalian lagian aku tak mempunyai keluarga.." Ucap Lucia dingin tanpa ekspresi.
Setelah Lucia mengucapkan itu, ruangan itu hening lagi. Lucia tak mempunyai keluarga? Batin semuanya.
"Kalau sudah selesai percakapan dan penjelasan ini, aku pamit kekediaman ku dulu ibunda, ayahanda dan para gege dan didi ku..." Ucap Lucia dan berlalu dari tempat itu.
Orang diruangan itu senang karena Lucia sudah bisa menerimanya sebagai keluarganya sendiri.
----------------
Sedangkan saat ini pangeran pertama sedang berjalan menuju kekediamannya.
Saat ini ia sedang kesal dengan orang² yang disebut sebagai keluarganya itu.
Sesampainya ia disana, ia pun berusaha menenangkan dirinya dan pergi kesuatu tempat khusus diruangannya.
Diruangan khusus itu dipenuhi lilin yang sangat terang dan wangi dupa yang menyeruak kepenciuaman bagi orang yang memasuki ruangan itu.
Kriet...
Tap...tap...tap...
Suara langkah kaki pangeran pertama, menggema diruangan yang kedap suara itu.
Diapun berjalan menuju peti yang berisikan seorang wanita cantik didalamnya dan duduk disebelahnya memandang wajah cantik yang ia rindukan itu...
(Petinya, peti jaman kuno ya guys)
"Ibu... Leo sudah berhasil melewati ujian yang menyakitkan itu berkat ibunda...dan impian mu untuk menjadikan anakmu ini kaisar iblis ini akan segera terwujudkan minggu depan..." Ucap pangeran pertama yang diketahui bernama pangeran Leomord, putra pertama kaisar dan permaisuri pertamanya.
"Kau tahu ibu...si tua bangka itu mengangkat seorang gadis bercadar yang tak jelas asal usulnya menjadi keluargannya...Ckck..." Ucap pangeran pertama penuh amarah.
Stelah mengucapkan beberapa hal ia pun pergi meninggalkan ruangan yang berisi wanita cantik dengan baju merah dipeti itu.
------------
Lucia saat ini sudah berada dikediamannya bersama Alex yang masih dipangkuannya dan kembali keaktivitasnya tadi memandang rembulan malam yang indah seperti tadi.
"Hmm... Alex, aku merindukan keluargaku disana. Apakah mereka merindukan ku juga?" Tanya Lucia yang seperti anak kecil yang palos sambil menatap kearah langit memandang rembulan.
"Eh...tentu saja Cia, mana mungkin ia tak merindukanmu yang cantik ini." Goda Alex yang langsung mendapat pelukan erat dari Lucia.
Alex yang dipeluk erat itupun bisa merasakan aroma lavender dari tubuh Lucia.
Ia pun merona malu, tapi ia berusaha berpikir positif.
Sedangkan Firance yang masih ditangan Lucia pun iri dengan Alex yàng mendapat pelukan dsri tuannya.
Iapun langsung melompat diatas bulu Alex dan merasakan sensasi nyaman dan hangat ketika dipeluk oleh Lucia meskipun diatas Alex.
Mereka bertiga pun berpelukan sebentar...
"Huft...baiklah waktunya untuk tidur, Alex dan Firance kembalilah keruang dimensi." Ucap Li Cia yang dibalas anggukan oleh Alex dan Firance.
Li Cia pun berjalan menuju kasur untuk tidur tapi tiba² ada sebuah anak panah melesat kearahnya dan Li Cia dengan sigap mengindarinya.
Ternyata dianak panah itu terdapat sebuah surat yang berisikan...
'Pergilah dari sini atau kau akan mati..' Isi surat itu.
Lucia yang membaca surat itupun mengeluarkan seringaian mengerikannya, sepertinya ia tahu siapa yang mengirim surat itu...
Stelah itu ia pun memasang formasi pelindung tingkat tinggi agar tetap terjaga saat ia dialam mimpinya.
---------
Dialam bawah sadarnya...
Entah mengapa setelah ia menutup mata, iapun berada dilautan yang dipenuhi bunga teratai dengan berbeda - beda warna entah itu dikarenakan berbeda fungsinya atau apa...Entahlah?
Iapun berjalan saja tanpa rasa takut sedikitpun.
Saat ia sedang berjalan ia pun tertarik oleh pusaran air itu dan anehnya bunga teratai itu tak ikut tertarik sepertinya.
Iapun tiba² berada dimanison kakeknya, ia melihat kakek dan adiknya sedang menangisinya yang sedang terbaring lemas diranjang QueenZisenya itu. Ia sedang diobati oleh dokter terkenal dan diberi oksigen pernapasan lewat tabung oksigen.
Lucia yang melihat itu semua tangisannya tak bisa dibendung lagi dan air matanya tumpah satu persatu, ia menangis dalam diam karena ia sekarang diwujud rohnya yang tak bisa menyentuh atau memegang kakek dan adiknya.
"Huhuhu....kakak kenapa kau meninggalkan ku secepat ini, kakak bangunlah.... jangan tinggalkan Yuta sendiri... Yuta tak mau sendiri hiks...jangan tinggalkan Yuta... Yuta masih butuh kakak buat support Yuta hiks...kakak bangun!" Ucap Yuta dengan tangis histerisnya sambil memegang sebelah tangan Lucia yang terbaring.
Dokter pun sudah selesai mengobati dan memeriksa denyut nadi Lucia...
"Dengan keluarganya nona Lucia..." Tanya dokternya.
Yang dibalas anggukan oleh kakeknya sedangkan Yuta masih menangisi kakanya yang terbaring.
"Saya ingin memberitahu kondisi cucu anda, seperti yang saya perkirakan kemungkinan untuk ia kembali bangun sangat² kecil dan kemungkinan ia pergi sangat besar. Jadi saya sarankan kepada anda untuk mengecek keadaan nona Cia." Jelas Dokter itu.
"Hm...baiklah terima kasih." Ucap kakek dan setelah itu menyerahkan amplop yang berisi uang untuk membayar dokter itu.
__ADS_1
Setelah kepergian dokter itu, kakek menyruh Yuta untuk beristirahat tapi Yuta masih saja tak mau melepaskan pegangan tangannya pada Lucia.
Lucia yang melihat itu menangis terduduk melihat keluarganya.
Ya, tubuhnya masih ada dan kemungkinan bisa hidup kembali jadi Lucia harus menjadi kuat secepatnya. Pikirnya.
Stelah itu cahaya putih menutupi matanya hingga ia pun kembali kelautan alam bawah sadarnya ketika ia kembali, seorang wanita cantik duduk anggun diatas bunga teratai seperti sedang menunggunya.
"Siapa kau..." Tanya Lucia.
"Selamat datang didunia ini. Aku adalah Dewi Ruang dan Waktu, teman ibunda mu." Ucap wanita itu sambil tersenyum kearahku.
"Apa maksudmu? Dimana ibundaku?" Tanya Lucia lirih.
Dewi yang mendengar pertanyaan Lucia hanya tersenyum kearahnya.
"Suatu saat, saat kau sudah kuat kau akan mengetahuinya. Sekarang aku berada disini hanya untuk mewariskan seluruh kekuatanku padamu, karena ibumu pasti membutuhkan mu didunia atas..." Ucap dewi ruang dan waktu.
"Apa maksudmu ibunda ku juga seorang dewi didunia atas sana? Tapi setahu ku, ibunda ku adalah gadis biasa yang menikah dengan ayahku seorang ceo perusahaan..." Ucap Lucia bingung.
"Hais...jadi sampai ia pergi juga tak memberitahumu dan adik kecilmu itu?" Tanya dewi ruang dan waktu menggeleng - gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pikiran temannya yang satu itu.
Dan dibalas gelengan kepala oleh Lucia.
"Baiklah akan ku jelaskan kepadamu. Ibu mu adalah dewi bulan dan ayahmu adalah dewa kematian, bukannya dia memberikan kalung permata merah darah yang gabungan kekuatan darinya?" Tanya dewi ruang dan waktu.
Lucia pun meraba lehernya dan melihatnya.
"Maksudmu ini?" Ucap Lucia sambil memperlihatkan kalung permata merah.
"Benar...apakah kau sudah bisa mengendalikan kekuatan yang ada didalamnya.?" Tany dewi ruang dan waktu.
"Belum, bagaimana caranya?" Tanya Lucia.
"Huff...kau salurkan saja IQ mu kedalam kalung itu dan teteskan sedikit darahmu kekalung itu maka kekuatannya akan masuk kedalam tubuhmu dan berevolusi menjadi kekuatan yang lebih besar bila kau bisa mengendalikan nya." Jelas dewi ruang dan waktu.
"Hm...baiklah, kapan aku bisa bertemu ayah dan ibuku?" Tanya Lucia dingin.
"Hais...bahkan sikapnya mirip denganmu!!." Gerutu nya sendiri.
"Ehem...kau bisa bertemunya ketika kau sudah menguasai semua kekuatan mu dan elemen mu. Karena kau mempunyai takdir besar yang akan mengusai semua alam maupun dimensi² lainnya." Jelas dewi ruang dan waktu.
"Baiklah...apa kegunaan bunga² ini?" Tanya Lucia sambil memetik salah satu btingkat
unga teratai dan menunjukannya ke dewi ruang dimensi.
"Itu kau bisa menggunakannya untuk meningkatkàñ kemampuanmu atau bisa juga digunakan untuk membuat pil tingkat tinggi. " Jelasnya.
"Sudahlah waktuku sudah tak banyak, aku akan mewarisi kekuatanku kepadamu. Bersiaplah karena ini akan sedikit sakit saat mentrasfernya." Jelasnya.
"Hm...baiklah. Mari mulai." Ucap Lucia.
Setela itu dewi ruang dan waktu memegang dahi Lucia dan mulai mentranfer seluruh kekuatannya.
Rasanya sakit sekali kepalanya bagai ditusuk ribuan jarum, beberapa teknik² ruang dan waktu masuk kedalam otak Lucia.
Perlahan rasa sakit itu pun mulai memudar iapun sedar kembali dan mendapati dewi bulan menghilang menjadi butiran² cahaya.
"Baiklah tugasku disini sudah selesai, jadilah lebih kuat Lucia agar dapat merubah hukum rimba didunia yang begitu kejam dan membawa dunia ini untuk menjadi lebih baik." Nasihat dewi ruang dan waktu.
Dewi ruang dan waktu yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, ia tahu bagaimana sikap Lucia.
-----------
Lucia pun terbangun diranjangnya ternyata masih pagi, semua badannya pun remuk ketika ia duduk dan senderan di dingding ruangan.
Tok...tok...tok...
( Suara ketukan pintu )
Tiba² ada sura ketukan pintu dari luar kamar lucia.
Lucia yang mendengar itu pun langsung menghilangkan pelindung yang dia pasang lalu menjawab ketukan pintu itu.
"Masuk.!" Ucap Lucia.
Setelah itu masuklah dua pelayan yang kemarin membawakan gaun pesta kemarin.
"Permisi nona...kami disini untuk mengantarkan air hangat dan hanfu untuk nona." Ucap pelayan itu dengan sopan.
"Hm... taruh saja disana." Ucap Lucia singkat.
"Baik..." Ucap pelayan itu lalu meletakan bak mandi dan hanfu Lucia disana.
"Kami permisi nona..." Ucap pelayan itu.
"Hm..."" Ucap Lucia.
Pelayan itupun segera keluar dari kamarnya Lucia dan kembali keaktivitasnya sebagi pelayan.
Sedangkan Lucia saat ini memilih untuk mandi diruang dimensinya dan tak ingin menggunakan hanfu gang menurutnya repot itu.
Iapun menggosok gelangnya dan menutup matanya...
--------
Saat membuka matanya, Lucia pun sekarang sudah berada diruang dimensinya dan disambut oleh kedua anak kecil yang lucu.
"Selamat datang Cia..." Ucap Alex dan Firance serempak dan memasang tampang lucunya.
"Hm. Aku ingin mandi dipavilliun dulu, kalian bisa bermain ditaman menungguku mandi." Ucap Lucia yang berlalu pergi dan merasakan seluruh badannya masih remuk setelah menerima kekuatan dewi ruang dan waktu.
Alex dan Firance hanya mematuhi perintah Lucia dan bermain ayunan ditaman manison Lucia.
Li Cia pun tiba dikamar mandinya yang sudah berisi peralatan mandi yang biasa ia gunakan.
Setelah membersihkan gigi, ia pun berendam di bathup yang berisikan lulur dengan wangi lavender kesukaannya.
1 jam kemudian...
Iapun sudah selesai berendamnya dan memakai pakaian casualnya, yaitu baju lengan pendek sepertut dan celana jeans panjang yang senada.
Sesudah memakai pakaiannya Lucia tak lupa mengonde rambutnya keatas sehingga membuat leher putih jenjangnya terekspos.
Setelah itu ia pergi untuk menjemput Alex dan Firance yang berada ditaman, tak perlu bertanya lagi karena Lucia dapat merasakan aura sekecil apapun.
__ADS_1
Iapun melesat kearah taman...
......
Saat ini Alex dan Firance sedang bermain kejar - kejaran ditaman.
"Alex berhenti kau..." Ucap Firance yang sedang berlari mengejar Alex.
"Uwwek...kalau bisa kejarlah aku dasar ular bodoh. Hahaha..." Ejek Alex yang berlari lebih cepat daripada Firance.
"Ck...lihat saja kau Alex jelek..." Ejek Firance lalu berubah menjadi ular yang merayap dengan cepat dan melilit Alex.
"Kena kau Alex jelek, cepat minta maaflah kepadaku yang masih berbaik hati kepadamu.!!" Marah Firance, sedangkan Alex hanya menyeringai jahil kearah Firance.
"Hehe...tak secepat itu ular bodoh!!" Ucap Alex lalu menyentil kepala Firance dan menggunakan jurus air untuk lolos dari lilitan Alex.
Firance yang melihat yang dia kurung ternyata air pun marah besar kepada Alex dan berubah lagi menjadi anak kecil yang lucu kemudian mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya kearah Alex secara bertubi - tubi.
Alex yang mendapat serangan secara tiba² itu pun ingin menghindar tapi ia kena satu lemparan batu Firance
Pletak!!!
Ia yang kesal pun, akhirnya ikut melemparkan baru kearah Firance dan terjadilah aksi saling melempar satu sama lain.
Sedangkan disisi Lucia yang baru memasuki wilayah taman terkena sambitan batu itu marah besar.
"ALEX!!, FIRANCE!!!. APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH???!!!" Marah Lucia.
"Eh...Gawat!!. Fi mari kabur sebelum banteng menyeruduk kita." Ucap Alex panik.
"Eh...baik, aku hitung sampai ketiga kita segera lari ok?" Ucpa Firance yang memberi aba - aba meyakinkan untuk Alex.
Alex yang mendengar itupun percaya² saja dan menunggu Firance menghitung.
"1." Ucap Firance.
"LARI! Huaa... !!!" Lanjut Firance langsung lari meninggalkan Alex yang tengah panik.
Saat ia ingin lari bajunya ditahan oleh Lucia yang sudah marah dan berlari kearah Alex secepat kilat.
Lucia pun berhasil menangkap baju Alex, sedangkan Alex saat ini pucat pasi.
Sudah pasti dirinya babak belur ditangan Lucia ratu esnya itu.
"ALEX!!." Marah Lucia.
"E-h...Maafkan aku Cia, itu batu Firance yang melemparnya bukan aku.!" Ucal Aex gelagapan.
"Oh begitukah?" Ucap Lucia yang pura² percaya setelah itu ia pun mengambil batu besar dan menyambit kearah Firance yang sedang berlari kencang.
Pletak. Tepat sasaran! Bagaimana pun Lucia adalah pemanah yang handal.
"Akh...sakitnya." Ucap Firance yang masih tak menyadari Lucia yang sudah ada dibelakangnya.
"Firance..." Ucal Lucia distambah seringaian kejamnya.
"E..-h...Cia. Apa kabar?" Ucap Firance yang seketika lupa ingatan karena dilempar batu sedang.
"Jangan berpura - pura, ikut aku sekarang juga!!" Perintah Lucia yang mengangkat kedua anak kecil itu sperti karung beras.
Li Cia pun berlari menuju ruang makan yang berada dekat dapur.
Sesudah sampai diruang makan Lucia pun langsung mendudukan kedua anak kecil yang diam dan patuh.
"Huft...baiklah apakah sekarang kalian mau makan." Ucap Lucia bersabar kepada kedua anak kecil itu.
"Eh...Cia sudah tak marah?" Tanya Alex yang merasa bersalah.
"Hm..." Jawab Lucia.
"Aku mau!! Maafkan kami Cia?" Ucap Firance yang sudah mendapatkan ingatannya kembali.
"Baiklah tunggu disini sebentar..." Ucap Lucia yang langsung berlalu kedapur.
Iapun memasak steak panggang pedas dan membuat jus jeruk.
Kedua anak kecil itu yang melihat Lucia masak seperti ibu rumah tangga yang baik pun kagum walaupun Alex sebelumnya sudah pernah melihatnya.
1jam kemudian...
Lucia pun sudah selsai menata makanan nya dihadapan kedua anak kecil itu.
"Apa ini Cia?" Tanya Firance.
"Ini adalah steak daging sapi yang dipanggang dioven dengan bumbu balado pedas..." Jelas Lucia.
"Hem...benar itu ular bodoh, semua yang Lucia masak itu selalu enak." Ucap Alex membanggakan.
"Baiklah." Ucap Firance.
Setelah itu mereka makan dengan bercanda ria, lebih tepatnya kedua anak kecil itu saja sedangkan Lucia hanya melihat interaksi antara keduanya.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sekarang sudah selesai makan...
"Hm...baiklah aku ingin pergi ke menara seratus lantai, apakah kalian ingin ikut atau bermain disini?" Tanya Lucia.
"Em...kami ikut kau saja..." Ucap Alex.
"Ya Cia kami ikut kau saja." Ucap Firance.
"Baiklah ayo.!" Ucap Lucia dan melesat menggunakan ilmu peringan tubuh menuju menara seratus lantai diikuti oleh Alex dan Firance.
Kini mereka pun sudah sampai dimenara seratus lantai.
"Baiklah, kalian tunggulah disini atau mau ikut aku berkultivasi dibatu air danau surgawi.?" Tawar Lucia.
"Hm...kami ingin disini saja, aku ingin bertarung dengan siular bodoh ini." Ucap Alex sekalian mengejek.
"Baiklah." Ucap Lucia yang langsung pergi dari sana dan ke air danau surgawi.
Sesampainya disana ia pun duduk dibatu dekat air terjun air surgawi dan berkultivasi.
———————
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Comment, dan Vote.