Time Travel QueenLy

Time Travel QueenLy
Chapter 5 : ( Tingkatan & Berkultivasi )


__ADS_3

Tingkatan Kultivasi...


- Pengumpulan QI ( awal, menengah, akhir )


- Pembentukan QI ( awal, menengah akhir )


- Perunggu ( awal, menengah, akhir )


- Gold ( awal, menengah, akhir )


- Platinum ( awal, menengah, akhir )


- Kaisar Petarung ( awal, menengah, akhir )


- Raja Petarung ( awal, menengah, akhir )


- Langit ( Merah, Biru, Jingga, dan Hitam )


- Imortal ( Imortal Light, Imortal Dark, dan Imortal Blood.)


- Ranah Ilahi


- Ranah Reinkarnasi


- God


Tingkatan Alchemis.


- Alchemis tingkat Perunggu ( awal, menengah, akhir )


- Alchemis tingkat Gold ( awal, menengah, akhir )


- Alchemis tingkat Master ( awal, menengah, akhir )


- Alchemis tingkat Grandmaster ( awal, menengah, akhir ).


- Alchemis tingkat Diamond ( Diamond Blaze, Diamond kristal, Diamond Ghost )


- Alchemis tingkat Ilahi


- Alchemis tingkat God


Warna Elemen.


- Merah : Api


- Jingga : Lava


- Biru Tua : Air


- Biru Muda : Es


- Ungu : Petir


- Hijau : Tumbuhan


- Cokelat Tua : Tanah


- Cokelat Muda : Kayu


- Hitam : Kegelapan


- Putih : Cahaya


—————————


Lucia pun mengikuti saran dari Alex, ia langsung menuju bebatuan di air danau surgawi dan berkultivasi.


Ia pun mulai duduk dibebatuan dan memejamkan matanya, merasakan keadaan sekitar.


Saat ia mulai memejamkan matanya ia pun melihat warna warni yang berbeda dipikirannya.


Dia pun mulai berkultivasi 1 bulan lamanya di gelang dimensinya....


Boom...


Boom...


Boom...


Boom...


Boom...


Boom...


Li Cia pun berhasil menerobos sampai tingkatan Imortal.


Sedangkan disisi lain Alex juga telah selesai latihannya dan berevolusi menjadi pemuda yang tampan + gagah membuka matanya sebelum Li Cia.


Alex pun mulai berdiri meregangkan ototnya yang sempat lemas dan alangkah terkejutnya ia mendengar suara ledakan dari arah tempat ai danau suci tempat Li Cia bekultivasi.


Setlah terjadi ledakan itu Li Cia pun mulai membuka matanya dan bangun dari duduknya itu.


Alex yang tau Cia sudah selesai berkultivasi pun, menyusul Lucia yang ada dibebatuan air danau surgawi.


"Eh Cia, kau sudah selesai berkultivasi?." Tanya Alex.


"Hm... siapa kau?" Ucap Cia dengan dingin karena pemuda didepannya bukan si anak kecil Alex.


"Aku Alex lah Cia, apakah kau tak mengenaliku yabg tampan ini?." Ucap Alex dengan PD nya.


"Huft...ternyata benar si anak kecil narsis." Gumam Li Cia.


"Lalu kenapa kau bisa jadi begini, kau tau aku lebih suka kau menjadi anak kecil daripada wujud dewasamu?" Ucap Li Cia yang kelihatannya jijik dengan Alex yang berubah menjadi pemuda yang tampan.

__ADS_1


"Eh...memangnya kenapa Cia?" Tanya Alex bingung biasanya yang ia tahu kalau perempuan melihat lelaki tampan pasti langsung dipuji dan diajak nikah dengan para perempuan, tapi Cia kenapa? Benak Alex.


"Aku benci dan jijik dengan para pria dewasa. Mungkin dimata orang² kau tampan tapi tidak denganku bagiku yang tampan itu adikku dan kakekku." Ucap Li Cia yang sempat² membanggakan keluarganya.


"Hm...baiklah bila kau tak suka dengan wujudku yang ini aku bisa berubah menjadi apa saja yang kau mau Cia, jadi kau ibgin aku berubah jadi apa?" Tanya Alex yang tak ingin bila Li Cia tak suka dengannya


"Kembalilah kewujud pertama mu saja." Ucap Li Cia dengan nada memerintah.


Setelah mendengar apa yang diperintahkan Li Cia iapun berubah menjadi anak kecil kembali.


"Em...Cia berapa tingkat kultivasimu, kenapa aku tak bisa melihatnya?" Tanya Alex.


"Aku berada di tingkat Imortal." Jawab Li Cia dengan singkat.


"Cepat sekali, Baiklah sekarang ikuti menuju bola elemen, aku ingin mengetes apa elemen mu." Seru Alex.


"Baiklah, ayo." Ucap Cia.


Setelah mengetakan itu Alex pun membawa Li Cia ke dasar menara pagoda seratus lantai.


Li Cia pun berjlan masuk bersama Alex, Alex pikir Li Cia si ratu esnya akan kagum dan dia pun melihat kearah Li Cia yang terlihat ekspresi seperti kutubnya itu tak berubah sama sekali dia terlihat B aja.


'Haiss...tak bisakah tuanku si ratu es ini mengeluarkan ekspresi lain selain muka datarnya yang seperti balok es itu.


Alex pun melewati ruangan² lainnya untuk sampai ditempat bola elemen.


Sesampainya mereka disana...


"Cia, salurkan iq mu kedalam bola elemen." Ucap Alex.


"Baik." Ucap Cia.


Setelah mendengar cara bagaimana mengetahui elemen, Cia pun mengikuti cara yang diberitahu oleh Alex.


Saat Cia mulai menyalurkan qi nya, bola itu pun bereaksi mengeluarkan warna merah, warna biru muda, warna biru tua,warna jingga,warna ungu dan seterusnya berwarna warni.


Bola elemen yang tak tahan terhadap kekuatan Cia pun akhirnya pecah.


Boom...


Cia yang melihat itu hanya berekspresi dingin, toh dia pemilik gelang dimensi ini jadi apapun yang hancur tak akan digantinya.


Krik...


Krik...


Krik...


Alex yang melihat itu melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Tuannya mempunyai semua elemen?.


"Cia, apakah saat kau berkultivasi apakah kau melihat warna warni?." Tanya Alex.


"Ya, apa artinya?" Tanya Cia.


"Hm..." Ucap Li Cia masih dengan muka sedatarnya datrnya


"Hah... aku jadi kesal memuji ratu es ini" Gumam Alex yang masih didengar oleh Cia.


"Bomat." Sahut Li Cia dengan dingin dan tak peduli dengan Alex yang mengejeknya.


"Huh...dasar ratu es." Ejek Alex secara terang - terangan.


"Alex bisakah kau diam atau kau ingin..." Ucap Li Cia yang tak tahan dengan sikap Alex yang tak tahu malu pun mengeluarkan sedikit aura membunuhnya.


Alex yang merasakan aura membunuh itupun langsung tergagap.


"Eh...ti - ti...dak cia, maafkan aku tuan Cia huhuhu." Ujar Alex yang mendramatisir dan air mata buaya andalannya.


Li Cia yang melihat itu jijik seketika dan mengejeknya dengan mulut pedasnya.


"Hentikan itu, apakah kau lupa umurmu? Sudah tua masih saja menangis seperti bocah belasan tahun, Heh..." Ejek Cia dengan nada sinis.


"Huh...baiklah ratu es. Mari berkeliling menara ini dulu." Ucap Alex yang malas berdebat dengan Cia.


"Hm...baik, ayo." Ucap Cia dingin.


Setelah itu mereka pun berjalan menyusiri menara dilantai satu.


Ruangan² dimenara dilantai satu terdapat air danau surgawi, bola elemen, dan lapangan yang tahan apapun untuk berlatih elemen dan yang lainnya.


Ruangan 2 - 40 terdapat beberapa buku² elemen tingkat rendah samapai menengah senjata tingkat menengah, tungku Naga Api dan segudang pil² tingkat tinggi.


Dibelakang menara juga terdapat taman pohon persik dan lapangan obat² herbal berusia ribuan tahun


Li Cia yang melihat tungku naga api pun merasa tak asing seperti melihatnya disuatu tempat.


"Kau mengerti.?" Tanya Alex yang memerhatikan Cia yang sedang melamun sambil melihat tungku naga api dan tak menanggapi penjelasannya.


"Hey. Ada apa denganmu, Cia." Tanya Alex lagi dengan geram.


"Ha...aku?." Beo Cia sambil menunjuk dirinya.


"Aku tak apa²." Ucap Cia yang kembali dingin.


Alex yang mendengar itu hanya mengehela napas lalu membuangnya agar hatinya sabar menanggapi ratu esnya ini.


"Aku akan membaca buku² ini dulu dan mencoba mengendalikan elemen² ku nanti." Ucap Cia yang langsung duduk dimeja yang sudah ada dan mulai membca buku entah dari mana.


"Baiklah...kalau mau butuh sesuatu kau bisa memanggilku. Aku berada di taman belakamg menara ini dekat ladang obat." Ucap Alex.


"Hm..." Ucap Cia.


Alex pun berlalu meninggalkan Li Cia yang sedang asyik membaca buku² tentang elemen² tingkat rendah sampai menengah.


Tiga jam kemudian Li Cia pun sudah selesai membaca. Semua rak ia sudah membacanya dan mengulang bekali².

__ADS_1


Li Cia pun turun menuju lapangan yang berada dilantai satu.


Li Cia pun mencoba mengembangkan elemen apinya karena ia bertujuan untuk menjadi Alchemis.


Setelah selesai mengontrol dan memelajari teknik api sampai tingkat menengah.


Ia juga memelajari teknik elemen lainnya, yaitu elemen angin tingkat menengah, elemen es, elemen air, dan elemen cahaya


Setelah selesai ia pun mecari keberadaan si Alex untuk berlatih pedang.


Sampai dihalaman belakang yang ia lihat adalah banyaknya tanaman² herbal disana.


Ia pun tersenyum sangat tipis melihat herbal² itu dan memetik satu bunga mawar hitam dan dengan cepat tumbuh seperti semula, Li Cia yang melihat itu pun terkejut tetapi ditutupi dengan wajah tanpa ekspresinya.


Sebenarnya Li Cia bukannya tak mau tersenyum bila ada yang lucu tetapi ia lupa bagaimana caranya tersenyum.


Waktu itu Lucia sudah diajari oleh kakeknya ilmu bela diri dan lain² saat umurnya 10 tahun, kakeknya pernah bilang bahwa jangan mudah tersenyum kepada orang lain atau membuka hatinya sedikit saja. Maka dari itu semenjak umur sepuluh tahun ia tak pernah tersenyum lagi sampai sekarang.


Li Cia pun menemukan alex yang berada digazebo dekat taman.


Li Cia pun berjalan menuju gazebo tersebut dan memanggil Alex.


"Alex..." Ucap Li Cia dingin yang masih berjalan kegazebo.


"Ada apa?" Tanya Alex dan menepuk bangku sebelah nya untuk diduduki oleh Li Cia yang baru sampai.


"Hm...apakah kau bisa bermain pedang.? "Tanya Li Cia ragu dan telah duduk disebelah Alex.


"Hahaha, apa kau meragukan master pedang Alex. Bahkan master² lainnya tak sebanding dengan ku, kau tahu?." Ucap Alex dengan bangganya.


"Cih...bagaimana kalau kita bertanding pedang?" Tanya Li Cia dengan nada menentang.


Alex mendengar itu pun langsung mnciut, tetapi ia berpikir dan mulai memberanikan diri untuk mencobanya. Siapa tau menan, iya ga bang Alex (Author).


"Bagaimana master Alex yang hebat, apa kau takut?" Ucap Li Cia dengan nada sinis.


"Si-...siapa yang takut, kalau begitu mati ikut aku untuk mengambil senjata dilantai 30." Ucap Alex yang mencoba menenangkan diri dari ketakutanya, karena auranya saja sudah membuat Alex merinding apalagi bertanding denganny. Hahaha tak apa² bang Alex demi menyelamatkan harga dirimu ( Author ).


Li Cia dan Alex pun mulai berjalan menaiki tangga menara seratus pagoda.


Kini Li Cia pun sudah berada di lantai dua puluh, ia pun tertarik dengan katana berwrna hijau dan mengambil sebuah katana hijau itu.


Sedangkan Alex memilih pedang neraka yang hanya ada satu didunia, mungkin dengan memakai pedang ini ia tak akan kalah pikirnya.


Setelah itu ia pun kembali kelantai satu, tempat lapangan anti bocor eh salah anti serangan².


Sebelum pertandingan dimulai Alex pun berubah kewujud pemudanya yang membuat gairah bertarung Li Cia bertambah.


Keduanya pun mengambil kuda² untuk menyerang.


Li Cia pun berlari menuju Alex dan ingin menebasnya dengan tebasan tajam katanya.


Untungnya Alex berhasil menghindar dari serangan Li Cia kalau tidak kepalanya sudah jatuh ketanah.


Li Cia dan Alex pun saling menyerang dengan cepat.


Li Cia yang masih berdiri tegap dengan katananya tanpa sedikit lukapun, sedangkan Alex beberapa bagian tubuh kecilnya tergoeres dengan katana Li Cia.


Mereka pun mundur beberapa langkah dan mulai menyerang menggunakan elemenya masing².


Li Cia pun menggabungkan jurus katana tajamnya dengan pisau anginnya yang beru dia pelajari itu sedangkan Alex juga mengeluarkan jurus pengubah bentuk nya menjadi air dan menyerang Li Cia dari belakang.


Li Cia dengan sigap menangkis serangan Alex kemudian melayangkan jurus pedang berputar² nya.


Alex yang mendapat serangan cepat Li Cia pun kalah cepat dengan serangan Li Cia sehingga ia pun terjatuh ketanah dengan wajah anak kecil polosnya.


Li Cia pun menodongkan katananya ke leher Alex.


"Aku menyerah..." Ucap Alex yang berubah menjadi anak kecil kembali dan memohon kepada Cia dengan mata puppy eyes anak kecilnya.


Li Cia yang mendengar Alex menyerahpun langsung memasukan katananya kedalam sarungnya dan menggantungnya dipinggang seperti para ksatria.


Setelah menyelesaikan pertandingannya Li Cia pun menyembuhkan luka Alex dengan elemen cahayanya dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Alex yang mengikutinya dari belakang.


Li Cia yang sudah sampai diladang obatpun mencari herbal² yang ia butuhkan untuk membuat pil.


Alex yang melihat itu pun bingung dan bertanya kepada Cia.


"Apakah kau akan menylang pil Cia.?" Tanya Alex yang penasaran sejak kapan Li Cia mengembangkan elemen apinya.


"Hm..." Ucap Li Cia.


"Kapan kau belajar menggunakan elemen apimu dan...tadi kau juga mengeluarkan pisau angin dan elemen secara bersamaan dan sejak kapan kau belajar Cia?" Tanya Alex penasaran.


"Hm...aku belajarnya tadi sesudah selesai membaca buku dan sebelum menyusulmu di taman tadi." Ucap Li Cia santai.


Alex yang terkejut langsung menganga mendengar tuannya memelajari 3 elemen sekaligus dan langsung memuji Li Cia.


"Wow hebatnya kau Cia." Puji Alex.


"Hm..." Ucap Cia dingin dan setelah itu berlalu meninggalkan Alex yang masih bangga dengannya di ladang.


Alex yang menyadari ia ditinggal pun kembali mengikuti Cia menuju tempat Tungku Naga Api yang berada di lantai 40.


Bersambung...



Alex yang udah berevolusi jadi pemuda tampan ya guys kikikiki.


Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote ya...


Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote.


!

__ADS_1


__ADS_2