
Ruang Dimensi...
Alex dan Firance yang tengah asik guling - gulingan disofa sambil menonton drama korea yang sedih.
"Huhuhuu teriris sekali hatiku ini....Alex..." Ucap Firance dengan pandangan menjijikan dan merentangkan tanganya ingin dipeluk.
"Apaan sih kau Ran....Lebay.!!" Ucap Alex dengan bahasa gaul yang baru ia pelajari di acara sineteron.
Alex pun mengambil remot tv yang diletakan diatas meja dan menggantinya mencari berita pagi.
"Hua...Lex kok diganti sih. Sini remot tv nya aku masih ingin menonton drama ini... Lihat itu lagi scane yang bagus loh.." Ucap Firance yang reflex menunjuk adegan ciuman agar Alex tak menggantinya.
"Eh...mana.?" Ucal Alex yang otaknya sama ngereznya kayak si Firance.
Akhirnya si ngerez Alex tak jadi menggantinya dikarenakan ada adegan 'hot'.
"Aduh...andai aku memiliki seorang kekasih..." Ucap Firance yang ingin juga.
"Iya...tenang saja, nanti aku akan menuruh Cia yang dapat diandalkan untuk mencarikan kita seorang kekasih..." Ucap Alex dengan tampang dong²nya sambil melihat kearah tv yang beradegan hot² pol.
"Bisakah si 'Ratu es itu diandalkan Lex?." Ucap Firance yang mengingat betapa dingin dan kaku tuannya itu.
"Pasti lah. Kau tak ingat kita ini imut² kayak marmut. Tidak mungkin Lucia dapat menolaknya. Lagian asal kau tahu kalau kita meminta sesuatu pasti Lucia akan mengabulkannya, asalkan kita menjad anak yang patuh dan penurut..." Jelas Alex yang tahu kelemahan Lucia.
"Hehe...baiklah, kalau begitu aku akan mempercyakan ini kepada 'Ratu Es' kita." Ucap Firance yang tak mengalihkan pandangannya dari Tv.
Keduanya pun lanjut menonton itu yang tak terasa bagian bawahnya sudah berdiri panjang keatas.
—————————
Sedangkan Lucia yang saat ini sudah selesai membersihkan diri, dan pergi menyusul Weiwei kedapur untuk menyiapkan makanan.
Sesampainya disana ia pun langsung membantu Weiwei yang sedang sibuk mencampurkan bahan bahan kedalam kuali.
"Eh...Cia, kau tak perlu melakukan itu. Aku bisa mengerjakannya sendiri." Ucap Weiwei tak enak hati.
"Shut...barisik, cepat selesaikan pekerjaanmu saja!!.." Ucap Lucia marah².
*( Ih Si emba, sewot sendiri. Ngopi ngapa.?) Author.😶😐😐😬.
👆Abaikan...
Weiwei yang mendengar Lucia yang sudah marah dengan mood yang buruk pun diam dan melakuakan perintah yang disuruh Weiwei.
Kini mereka pun sudah selesai memasaknnya dan memakan nya tanpa menunggu lama.
Sesudahnya makan Lucia pun membantu Weiwei membereskan perlatan piring yang ia gunakan.
"Ini." Ucap Lucia yang tiba² melemparkan botol prselen ke Weiwei yang berisi Pil Kecepatan berkultivasi.
"Eh...apa ini Lucia.?" Bingung Weiwei.
"Itu adalah Pil Kecepatan Kultivasi untukmu agar tak menghambat kultivasi mu." Jelas Lucia.
"Ta...- tapi Cia, kau mendapatkan ini dari mana dan apakah kau serius ingin membrikannya kepadaku??" Ucap Weiwei yang masih ragu.
"Hm... makanlah itu dan berkultivasilah lagi dikamarmu sekrang." Ucap Lucia yang sedikit melembut.
"Terima kasih." Ucap Weiwei yang terharu dengan Lucia yang baik sekali kepadanya.
Setelah itu mereka berdua pun masuk ke dalam kamarnya masing².
————————
Lucia pun masuk kedalam kamarnya dan memutuskan untuk kedalam ruang dimensi.
Sesampainya disana ia pun membelalakan matanya yang melihat Alex dan Firance yang tengah asik menonton yang tadi.
Ia pun memutuskan untuk mematikan aliran listriknya untuk mengerjai mereka berdua yang lagi asik menonton apa yang seharusnya tak ditonton oleh kanak².
"Eh kenapa mati lampu sih, ahk ganggu aja." Ucap Firance yang masih tahu kelanjutan gayanya seperi apa.
__ADS_1
Sedangakan Alex sudah meraskan dingin dipunggungnya.
Tak...
Lampu pun menyalah kembali dan sekarang ada tuannya didepannya memandangnya dengan tatpan tajam yang menusuk hingga kejiwanya
"E..-h. Cia ada apa?..." Ucap Alex gugup dan takut merasakan hawa yang mencekam.
"Heh..apa ini?" Tanya Lucia dingin yang menyalakan tv lagi menunjukannya kepada Alex dan Firance yang masih berlaga lu didepannya.
"O-... i..- tu adalah drama kore Cia." Jelas Firance takut yang mencoba meredakan amarah Lucia.
"Masih inginkah kalian berdua berbohong.!!!" Bentak Lucia marah dengan kelakuan bocah² itu.
Sedangkan yang diomeli oleh Lucia pun menunduk dilantai.
"Ma..-.. maafkan kami Cia..." Ucap mereka kompak sambil menunduk takut seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.
Lucia yang melihat itu pun semakin muak dnegan tingkah laku kedua anak² lelaki itu.
"Ckck. Baiklah kemarilah..." Ucap Lucia yang menyuruh Alex dan Firance menyodorkan kepalanya.
Mereka berdua pun menuruti apa yang Lucia suruh dan menyodongkan kepalanya sehingga bertatapan dengan wajah bak dewi itu.
Lucia yang tak menghiraukan tatapan cengo dari mereka berdua pun menaruh telapak tangannya diatas kepala Alex dan Firance untuk menghapus ingatan kotor mereka.
Keduanya pun meresakan pusing tujuh kepayang dan akhirnya jatuh pingsan dalam pelukan Lucia.
Lucia pun membiarkannya dan mengendong mereka kekamarnya masing² layaknya seorang ibu.
Setelah selesai mengantar mereka berdua ia pun langsung membakar semua kaset² drama koreanya dan digantikan dengan film² kartun atau animasi.
Lucia pun memilih pergi kemenara seratus lantai untuk berkultivasi di air danau surgawi sampai pagi hari...
*( Gila udah kayak anak²nya aja ya? Padahal keduanya itu udh dewasa Cia.....tapi kenapa ia menganggapnya seprti anak kecil sendiri huff...Wtf😣😣) Author Sedih.
👆Abaikan...
Malam pun berganti pagi...
Boom...
Lucia pun sudah berhasil meningkat satu tingkat yaitu, Immortal Blood.
Iapun keluar dari air terjun itu dan pergi ketempat lapangan latihan dilantai satu untuk melatih katananya sendiri karena tadi ia tak mengajak kedua orang itu.
Siapa sangka ternyata si kedua anak kecil itu sudah menunggunya, saat ia baru saja sampai.
"Kalian?" Tanya Lucia yang bingung kenapa mereka berdua bisa berada disana.
"Cia, kenapa pas kami terbangun sudah berada dikamar kami masing²? Bukannya kita sedang bermain ditaman." Ucap Alex penasaran yang diangguki oleh Firance.
"Tak apa², aku cuman melihat kalian sedang tertidur di ayunan taman jadi, aku membawa masuk kalian saja." Ucap Lucia berbohong.
Sedangkan kedua orang itu hanya mengangguk - angguk mengerti dengan penjelasan Cia.
"Baiklah ada yang ingin bermain pedang denganku.?" Tanya Lucia.
Kedua anak kecil itupun segera berkeringat dingin dan dengan cepat menolaknya.
"Eh... anu tidak Cia, aku dan Firance sudah janjian untuk latihan bersama. Jadi kau coba keluar dari ruang dimensi saja mencari mangsa mu sendiri. Bagaimana?" Tanya Alex ragu.
"Baiklah jika kalian tidak ingin, bagaimana jika kalian ikut aku keluar?" Ucap Lucia yang sepertinya tahu apa kesulitan mereka berdua.
"Mau.!!" Kompak mereka bersamaan.
'Cih, giliran bermain pedang denganku tidak mau tapi keluar mau, huft...tak apa lah agar tak bosan' Batin Lucia.
"Hm...kalian tunggu saja disini nanti aku akan menyusul kalian setelah mandi dimanisonku." Jelas Lucia kepada Alex dam Firance.
"Ya..." Ucap mereka berdua yang masih semangat.
__ADS_1
Setelah itu Lucia pun dengan cepat melesat ke manisonnya untuk berendam sebentar dan bertukar baju.
——————
Saat ini Weiwei yang sudah berkultivasi sampai ke Tahap Pembentukan IQ sedang menyiapkan makan dan pemandian Lucia.
Iapun berjalan menuju kamar Lucia untuk memanggilnya makan dan mandi.
Tok...
Tok...
Tok...
Weiwei yang sudah sampai didepan kamar Lucia pun langsung mengetuk pintunya dan memanggilnya.
"Cia.!!" Teriak Weiwei dari luar tetapi tak ada jawaban sama sekali.
"Cia...aku masuk ya.!" Ucap Weiwei setelah itu memutuskan untuk membuka pintu kamar Lucia.
Bertepatan Lucia yang sudah keluar dari ruang gelang dimensinya.
"Ada apa?." Ucap Lucia seperti biasanya padahal dalam hati ia sungguh terkejut Weiwei sudah berada didepan pintu memanggilnya dari tadi.
"Nona..." Weiwei pun bingung. Kenapa Lucia sudah mengganti bajunya? Dan bajunya itu tak seprti biasanya nonanya pakai.? Dan...hewan apa itu ditangan nonanya?."
Pertanyaan yang muncul dibenak Weiwei pun segera dijawab oleh Lucia yang mengetahui itu dari raut wajah Weiwei yang bingung.
"Em...tak perlu banyak bertanya Weiwei. Sekarang ini adlah spirit beast ku yang aku temukan dihutan kematian kemarin." Jelas Lucia yang tak jelas.
"O...baiklah nona, mari makan dulu. Saya sudah memasak untujmu nona." Ucap Weiwei yang berusaha menghilangkan kebingungannya dengan tersenyum tulus.
"Hm...ayo, setelah itu mari kita pergi ke istana tak berfaedah itu." Ucap Lucia dingin lalu berjalan ke meja makan melewati Weiwei yang masih didepan pintu
Weiwei yang mendengar itu pun hanya diam tak membalas lagi kemudian ikut menyusul Lucia ke meja makan.
........
Sesampainya mereka dimeja makan, mereka pun makan dengan tenang.
Hening...!!
Setelah keheningan itu berlalu mereka pun kembali kekamar masing - masing untuk menukar pakaian yang lebih ringan.
Lucia yang tak mau repot - repot pun mengambil pakaiannya diruang dimensinya, karena jubah yang kemarin ia pakai sudah kotor terkena cipratan darah prajurit yang ia bunuh itu.
Lucia yang sudah selesai memakai jubahnya dan menggunakan cadar yang senada dengan jubah hitamnya itu.
Iapun keluar dari kamarnya, diluar Weiwei pun sudah menunggunya selesai berkemas.
"Astagah...nona kau tak boleh memakai jubah sperti ini.!!" Peringat Weiwei.
"Memangnya kenapa.??" Balas Lucia dingin dan acuh.
"Kita bisa diinterogasi terlebih dahulu bila kau memakai jubah sperti ini." Jelas Weiwei.
"Hm...bomat, ayo jalan. Kalaupun ada yang menahanku, itu artinya ia siap untuk menemukan kematiannya." Ucap Lucia dingin.
Weiwei tak habis fikir dengan Lucia, kenapa nonanya menjadi dingin dan cuek? Setahunya dulu ia adlah orang yang pendiam dan pemalu...
"Hais...baiklah." Ucap Weiwei yang langsung menyusul Lucia yang sudah pergi.
Alex dan Firance yang sedari tadi mendengar percakapan mereka berdua hanya diam dibalik jubah nya Lucia yang besar, yang cukup untuk menaruh rubah kecilnya yang imut itu.
Mereka pun akhirnya pergi keistana kekaisaran petir.
...............
Bersambung....
Jangan Lupa Like, Comment, And Vote ya...
__ADS_1
Terimakasih kepada para pembaca...