
.....
Lucia bersama Alex dan Firance didalamnya saat ini sudang duduk tenang dikursi peserta.
Alex dan Firance menikmati saat Lucia mengusap bulu dan kepalanya saat melihat pertandingan tak seru itu.
Sedangkan Lucia sedari tadi mengamati peserta yang lain dengan cermat, diatas panggung terlihat laki - laki yang menabraknya di toko gulali sedang bertanding.
'Hm...dia menyembunyikan kekuatan aslinya, aku harus berhati - hati dengan laki - laki itu.' Batin Lucia, ia mengamati kecepatan dan kekuatab laki - laki itu dengan cermat dan serangannya maupun strategi bertarungnya gampang sekali ditebak oleh Lucia.
Secara Lucia dulunya adalah sekrang Komandan tingkat tinggi yang matanya sangat - sangat tajam.
14 pemenang sudah ada, kini tinggal Lucia saja yang belum bertarung.
Pada akhirnya ia pun dipanggil keatas area pertarungan.
Ia pun hanya berjalan santai tanpa memperdulikan tatapan semua orang antara kagum, benci, dan penasaran itu.
"Saya me...- menyerah.!" Ucap seorang pemuda berbadan kekar nan tampan yang seperti nya takut kepada Lucia.
"Baiklah, pertandingan ini dimenangkan oleh Lucia Marcia." Ucap sang kasim kekaisaran langit yang menjadi wasit.
Semua orang tak bisa berhenti berdecak kagum kearah Lucia, sedangkan yang diperhatikan hanya melihatnya dengan tatapan malas nan dinginnya.
———
Setelah pemenangnya ditentukan, Lucia pun kembali kekursi pesertanya yang kini gabung dengan 15 besar.
Kini namanya pun mulai terkenal di kekaisaran langit, siapa yang tak tahu Lucia Marcia snag pemilik Api Hitam yang jarang sekali ada dikekaisaran langit itu.
Tiba² saja ada lelaki tidak jelas nan jelek mendekat kearah Lucia dengan tampang percaya dirinya.
"Hai, kau yang bernama Lucia. Hm dari bentuk tubuhmu boleh juga untuk menjadi penghangat ranjangku. Hahhaha..." Ucap lelaki jelek itu mendeteksi tubuh Lucia yang memakai jubah besar jadi tak kelihatan lekuk tubuhnya yang seksi itu.
Dengan cepat Lucia sudah mencungkil kedua bola matanya yang berani mendeteksi tubuh ia secara terang - terangan itu.
"Akh...dasar jalang kubunuh kamu!!." Teriak pria jelek marah².
"Brisik!!. Apakah mencungkil kedua mata mu itu belum cukup" Ucap Lucia dengan dingin dan perlahan suhu diruangan peserta 15 besar itu mulai berubah.
"Jalang sialan.!!" Ucap pria jelek itu tak mau berhenti mengatai Lucia.
Lucia yang sedari sudah geram pun menebas kepalanya dengan mudahnya sampai darah mulai berceceran dilantai.
Semua orang yang berada diruangan itu pun tak berkedip dengan tindakan yang Lucia lakukan, termasuk si laki - laki berjubah itu.
'Dingin, Diam tetapi kejam. Itu sangat tipeku sekali.' Batin pemuda berjubah yang menabrak Lucia di toko gulali dengan narsis.
Lucia membakar tubuh tak berkepala itu tanpa ampun sehingga menjadi butiran debu, lalu Lucia menerbangkannya dengan sihir air dan membuat lantainya bersih seperti semula dengan kekuatanya.
Para peserta 15 besar itu melongo tak percaya dengan kejadian kejam dihadapannya dalam sekejap menghilang seperti tidak pernah terjadi.
Monster!!!. Ya Dia Monster.!!!
Karena tak ingin ketahuan Lucia pun menggunakan elemen kegelapannya untuk membuat mereka pingsan terlebih dahulu dan menghapus ingatan mereka tentang kejadian tadi, termasuk kepada lelaki brjubah tadi secara diam².
Tetapi entah kenapa, sihir pelupa ingatannya tidak mempan kepada laki - laki
yang menabraknya ditoko gulali seminggu lalu.
"Siapa kamu.?" Ucap Lucia dingin dan langsung keintinya.
"Aku...namaku adalah Venos Marcia." Ucap leki - laki bernama Venos Marcia itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
Keluarga Marcia.???!
Mempunyai mata merah darah khas keluarga ayahnya. Apa jangan²....
What..??
"Marcia, kenapa nama belakang mu sama seperti diriku?." Tanya Lucia bingung tetapi cuek.
"Seharusnya aku yang bertanya seprti itu, siapa kamu?." Tanya balik Venos.
"..." Lucia bungkam seribu bahasa saat ditanyakan identitasnya oleh orang yang ia tak kenal itu.
"Baiklah perkenalkan, Aku adalah Venos Marcia anak pertama dari ibuku, yaitu Dewi Bulan dan Ayahku yaitu Dewa Kegelapan." Jelas Venos.
Lucia terkejut bukan main mendegar itu, berarti selama ini ia mempunyai seorang kakak laki - laki. Berarti selama ini ia adalah anak kedua dari ibu dan ayahnya.
"Hm...apakah kau kakak ku?." Tanya Lucia tetap cuek
"Aku tak tahu, tapi apakah kau dari dunia atas sama seperti ku.?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Kakak Pertama nya Lucia.
"Pftt...sudahlah sekarang kau adalah kakakku karena aku adalah adik kandungmu yang sedang kamu cari sampai turun kesini segala." Ucap Luvia santai masih dengan wajah datar andalannya.
__ADS_1
"Ka...-kamu, kenapa bisa mengehui rencana ku.?" Ucapnya panik.
"Eh...bukankah sudah pasti aku akan dicari oleh keluarga ku yang hilang meninggalkan ku di bumi sendirian bersama adik kita disana." Jelas Lucia.
Lalu Venos pun langsung memeluk Lucia, karena ibunya pernah bilang jika adiknya berasal dari masa depan yang tinggal ditempat yang bernama bumi.
"Meimei...benarkah ini meimei ku.?" Ucap Venos sambil menangis terharu melihat Lucia.
"Ya, memangnya kau tak mengetahuinya.?" Ucap Lucia merubah warna matanya menjadi merah sama seperti Venos kemudian melepas cadar yang masih ia kenakan selama pertandingan tadi.
Venos pun terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh adiknya itu. Sungguh, jika Lucia bukan adiknya mungkin ia akan berencana menjadikannya sebagai istri.
"Cantik sekali. Sempurna." Ucap Venos dengan mata yang berbinar - binar kearah Lucia.
Lucia hanya bengong melihatnya malas, apakah orang zaman dulu belum terbiasa melihat kecantikan tak seberapanya itu menurutnya. Memang dikehidupan yang lama ia sering sekali digemari oleh para laki - laki termasuk oleh atasan nya Jerry.
Mungkin karena tak bisa memiliki Lucia, Jerry jadi gelap mata karena Lucia juga penghalangnya. Toh...cintanya sudah ditolak dan tak bisa memiliki nya, mendingan ia mati saja. Menurut Jerry.
Pandangan Lucia yang memang saja dingin nan datar itu menatap Venos lekat - lekat. Benar, memang ada kemiripan di wajah mereka berdua.
Sedangkan Venos wajahnya sudah memerah malu, karena dapat melihat wajah sangat cantik Lucia dari jarak yang sedekat ini.
"Ka...-kau ingin apa." Tanya Venos gugup berada jarak yang semakin dekat Lucia.
Luvia pun segera menarik kepalanya menjauh dari wajah Venos dan kembali ke wajah datar nan dinginnya.
"Tak apa² aku cuman memastikan , memang benar kau adalah kakak ku karena ada sedikit kemiripan diwajah kita berdua." Balas Lucia singkat.
"Owh...begitukah. Ekhem... jadi bagaimana dengan para peserta² yang kau buat pingsan?." Ucap Venos mengalihkan pembicaraan baru.
"Tenanglah... nanti ketika mereka terbangun, mereka sudah akan melupakan kejadian tadi." Ucap Lucia sambil membersihkan katana tajamnya itu tanpa melihat lawan berbicaranya.
"Huf...baguslah kalau begitu." Ucap nya sambil membuang nafas lega.
"Lalu bagaimana caranya kau dapat mengaktifkan Eyes Blood dengan secepat itu, dari yang kutahu setiap generasi keluarga Ming, yaitu keluarga ayah kita. Eyes Blood hanya dapat diaktivkan saat berumur 17 Tahun." Jelas Venos.
Lucia yang mendengar itu hanya memperhatikan ucapan Venos dengan wajah datarnya.
"Aku tidak tahu." Balas Lucia singkat and padat.
"Hem...mungkin kau..." Ucap Venos sambil mengelus dagunya mempikirkan apa yang tejadi pada adiknya yang satu ini, akan tetapi ucapannya dipotong oleh Lucia yang malas mendengar tebakan nya yang tidak pasti itu.
"Huf...Sudahlah." Lanjutnya membuang nafas secara kasar.
———
Alex dan Firance yang tak suka dengan Venos karena sok dekat² sama ratu esnya, akhirnya mereka pun keluar dari jubah besarnya Lucia.
"Eh...ini spirit beastmu kah meimei.?" Ucap Venos yang memandang Alex dan Firance yang menatapnya tak suka.
"Hm..." Ucap Lucia.
"Lucunya." Ucap Venos dan baru saja ia hendak memegang bulu rubah Alex tetapi malah digigit oleh Firance, akan tetapi meskipun Firance itu Dewa ular ia juga tak begitu bodoh sehingga melukai kakak tuannya sendiri.
"Akh..." Ucap Venos yang kelihatan kesakitan Lucia padahal itu tak begitu sakit.
Lucia hanya memandang ke depan datar, tanpa memperdulikan Venos yang pura pura kesakitan
Firance hanya menggigit Venos tanpa menggunakan racun mematikannya, tetapi hanya menggunakan gigi tajamnya itu saja sehingga membuat jari telunjuk Venos berdarah akibat gigitan yang disebabkan oleh Firance.
———
Babak 15 besar besar pun dimulai, nama² ke lima belas peserta itu dipanggil naik keatas area untuk bertarung secara masal.
"Baiklah, babak final kali ini kalian akan bertarung secara masal dan pemenangnya hanya satu yang bisa bertahan sampai akhir.
Saat ini di area pertarungan, pertarungan lima belas besar pun bertarung dengan sengit diatas area.
Para penonton masih saja bersorak ria seperti kemarin, begitupun keluarga kekaisaran langit yang sangat antusias melihat Lucia bertarung.
...
Di area pertarungan kini sisa 5 orang saja, 10 orang lainnya sudah tumbang dan meyerah.
5 peserta yang diketahui pangeran dari kerajaan awan, yaitu Yu Pei dan Yu Tao ( Adiknya. , 1 peserta perempuan lainnya selain Lucia bernama Zu Zui dari kerajaan bulan yang masih bertahan sampai sekarang.
Tak ada yang ingin menyerang duluan, jadi Lucia memutuskan untuk menyerang duluan agar ia tak berlama - lama dikekaisaran langit tak jelas ini.
....
Lucia melesat ke kakak beradik dari kerajaan awan terlebih dahulu, dalam satu kali gerakan katananya mereka sudah menjadi sandera Lucia.
Lucia menodongkan katana tajamnya ke leher kedua pangeran kekaisaran awan itu.
Glek...!!
__ADS_1
Kedua pangeran itu meneguk ludahnya dengan kasar takut katana itu menggorok lehernya yang mulus.
"Ka...-kami menyerah." Ucap kedua Pangeran itu serempak sambil menatap kekasim dan tidak berani menatap mata Lucia yang tajam bagaika silet.
Stelah kedua pangeran itu berbicara ingin menyerah, Lucia langsung menarik katananya dari leher kedua pangeran itu dan tanpa menunggu lagi ia pun langsung melesat menyerang kearah Zu Zui.
Terget katana Lucia sudah terkunci kearah Zu Zui, karena tak bisa menghindar Zu Zui terpaksa mengeluarkan elemen anginnya yang sudah berada di tingkat menengah dan mengarahkan nya ke arah Lucia.
"Lucia.!!" Teriak Venos panik.
Sedangkan yang dipanikan malah sudah berada dibelakang Zu Zui sama seperti tadi menodongkan katana tajamnya keleher Zu Zui.
Para panonton yang melihat itu sekaligus kedua pangeran yang masih belum turun dari arena pun terkejut dengan serangan Lucia yang secepat kilat.
Zu Zui pun menggeram marah tak terima dikalahkan oleh Lucia.
Pada akhirnya ia menggunakan elemen es nya untuk menyerang Lucia.
Tetapi es itu tak mempan malah dibelakang Lucia saja es level menengah itu sudah saja meleleh.
Sedangkan Zu Zui dan para penonton dibuat melongo lagi dan lagi.
Lucia yang tadinya tak ingin melukai sesama perempuan pun terpaksa melukai kaki Zu Zui dan tangannya karena sudah bermain licik dengannya, tentunya ia pun juga bisa.
"Akh...uhuk..." Ucap Zu Zui merintih kesakitan akbiat goresan cukup dalam yang Lucia berikan kepada lengan dan kakinya.
"Menyerah atau mati.?" Ucap Lucia dingin tetapi masih bisa didengar oleh penonton.
Para penonton maupun meluarga kerajaan yang medengar itu pun bergidik ngeri, begitupun Venos.
"Cih...aku menyerah." Ucap Zu Zui terpaksa sambil menahan sakit nya goresan katan tajam Lucia.
Akhirnya Zu Zui pun keluar dari arena pertandingan itu.
.....
Sedangkan saat ini hanya tersisa kakak beradik itu saja.
'Mari bertarung kakak.' Ucap Lucia bertelepati dengan Venom
'Baiklah, jika itu mau mu adikku.' Balas Venom senang karena adiknya yang dingin itu berinisiatif berlatih pedang bersama nya.
Kedua orang berjubah yang berdiam diri tadi setelah Zu Zui keluar dari arena pun mulai melesat ketengah tengah secara bersmaan.
Tring...
Suara detuman pedang pun terdengar dsri kedua orang diatas arena itu.
Lucia mengecoh konsentrasi Venos, aka tetapi Venos tak terkecoh sama sekali.
Karena tak kahabisan cara untuk membuat kakaknya yang satu ini tumbang Lucia mulai nenggerakan gerakan pedang berputar - putar andalannya kearah Venos.
Venos yang mendapat serangan secra mendadak itu pun dengan sigap mundur tetapi tetap saja masih tergores oleh katan tajam Lucia.
Tak lepas dari pandangan Lucia, dengan segera Lucia melesat kebelakang Venos dan memukul tenguknya secara tenang.
Venos yang dipukul tenguk nya oleh Lucia pun otomatis jatuh tersungkur ke depan.
Lucia kembali menodongkan katananya kearah Venos, seperti kepada lawan sebelumnya.
"Bagaimana kak?." Ucap Lucia masih dengan wajah dingin nan datarnya.
"Aku menyerah." Ucap Venos yang sudah terluka dengan nafas terengah - engah, tetapi masih tersenyum kearah Lucia.
"Baiklah pemenang kali ini adalah Lucia Marcia." Ucap Kasim itu lantang dengan suara toa nya itu
Para penonton yang melihat itu pun bersorak ria, mendukung Lucia atas kehebatan berpedang dan elemen nya itu.
———
Bersambung...
t
Ini Fotonya Lucia Pas Jadi Iblis ya Guyzz, Author lupa kasih gambarnya di eps sebelumnya..
Terima kasih yang sudah mau membaca novel ini sebelumnya.
Maaf karena novel ini tak sebagus karya lainnya karena ini murni pikiran authornya sendiri ya guyzz...
Jangan Lupa Like, Comment, Dan Vote novel ini ya guyz...
See You...《♡♡》
__ADS_1