
Sudah seminggu ini Lucia tinggal di daerah kekaisaran langit.
Setiap harinya hanya bermain dengan Alex Dan Firance dan berlatih bersama mereka berdua.
Ia juga sering mengirimkan surat setiap harinya seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai saudari perempuannya, yaitu Weiwei dan keluarga angkatnya tentang kondisi nya sekarang ini.
————
Saat ini mereka berdua sedang jalan jalan seperti biasanya, Alex dan Firance yang berada didalam jubah Lucia.
Lucia saat ini sedang berjalan - jalan di keramaian kota.
"Hey...kudengar akan ada turnamen antar remaja tahunan akan diadakan dan pembukaannya didakan seminggu lagi." Ucap salah satu ibu² yang bergosip sambil berbelanja.
"Ya, katanya kekaisaran petir tak bisa hadir karena keluarga kekaisaran maupun rakyatnya dibantai habis - habisan dan dihancurkan oleh seseorang sehingga tak bisa mengikuti turnamen ini. Sayang sekali padahal orang² dari kekaisaran petir kemarin memasuki peringkat nomor tiga besar." Timpal ibu² yabg diajak berbicara.
Lucia yang mendengar itu hanya biasa² tetapi sepertinya ia tertarik dengan turnamen besar antar kekaisaran itu.
'Cia apakah kau akan mengikuti turnamen itu.?" Telepati Firance ke Lucia.
'Iya, setahuku juara pertama akan mendapatkan hadiah besar atau bisa memilih sendiri hadiah nya ingin apa." Timpal Alex.
'Ya, aku akan ikut. Tetapi menggunkan identitas seorang pengembara.' Balas Lucia lewat telepati.
Sesudah telepati mereka betiga pergi membeli gulali kesukaan Alex dan Firance.
Saat memasuki toko gulali itu ada seseorang berjubah lainnya yang mungkin tak sengaja menabrak Lucia.
"Maaf." Ucap orang itu yang ternyata seorang laki - laki.
Lucia pun tak menjawab hanya melirik nya sekilas lalu mengabaikannya dan berjalan masuk ketoko gulali.
'Siapa gadis itu, apakah ia mengenaliku. Sudahlah anggap saja berutung tak dikejar oleh para gadis. Apakah ketampanan ku berkurang?. Hah...gadis yang cuek.' Batin laki - laki menatap Lucia sampai memasuki toko gulali.
————
Seminggu pun berlalu setelah pertemuan Lucia dengan lelaki tampan yang memakai jubah itu.
Hari ini jalanan sangat ramai sampai keistana kerajaan petir, karena turnamen setiap 10 tahun antar kekaisaran akan dimulai hari ini.
Lucia yang tampilannya sama tetap memakai cadar dan jubahnya pun mulai keluar dari penginapannya menuju tempat pendaftaran turnamen itu
Lucia pun ikut kependaftaran turnamen dan mendaftarkan namanya masuk turnamen ini.
"Siapa namamu.?" Tanya seorang wanita yang ditugas kan mencatat nama² peserta yang ikut.
"Lucia Marcia." Ucap Lucia apa adanya dan cuek.
"Anda berasal dari kerajaan mana?." Tanyanya.
"Tidak ada, hanya seorang pengembara yang tertarik mengikuti turnamen ini." Ucap Lucia datar.
"Baiklah ini nomor urut peserta mu." Ucapnya dan memberikan nomor yang diukir dari kayu kepada Lucia.
Lucia pun mendapatkan nomor 334 dari batas 500 peserta yang akan diperbolehkan mengikuti turnamen.
Untung saja ia mendaftarnya masih pagian walaupun orang² yang datang sudah hanya tetapi itu sebagiannya adalah penonton saja.
———
Lucia yang sudah mendapat nomor urutnya pun langsung menuju kursi sesuai nomornya.
Untungnya tempatnya tak terlalu berisik daripada tempat peserta lainnya, karena bisa dibilang dia berada dikursi paling ujung.
Tak lama datanglah seorang gadis yang seumuran Lucia duduk disampingnya.
"Hai..." Sapa gadis itu kepada Lucia yang sedang menutup seluruh wajahnya dengan jubah dan bersandar kepada kursinya.
"Hm..." Balas Lucia tanpa menghiraukan gadis yang tadi.
"Namaku Xiao Li, puteri dari kekaisaran awan." Ucap nya mengenalkan diri.
"Lucia Marcia seorang pengembara." Balas Lucia cuek nan dingin dan masih saja sandaran pada kursinya sambil memejamkan matanya tanpa melihat gadis itu.
itu pun bingung. Kenapa seorang gadis seperti Lucia tak memakai pakaian seorang gadis dan malah kelihatan seperti laki - laki karena jubahnya yang besar.
"Owh...bisakah kita menjadi teman.?" Tanya puteri Xiao Li tersenyum ramah.
"Tidak." Balas Lucia singkat nan cuek.
"Kanapa.?" Tanya Puteri Xiao Li dengan kecewa dan sedih.
"Karena berteman itu merepotkan." Ucap Lucia dengan posisi yang masih sama.
"Yasudah tidak apa²." Ucap nya yang seperti nya sedang menyemangati diri nya sendiri.
__ADS_1
Lucia hanya acuh mendengar nada kecewa daei puteri Xiao Li, sedangkan Alex dan Firance cekikikan yang sudah mengetahui sifatnya Lucia.
Tak lama kemudian puteri Xiao Li dipanggil seseorang yang mungkin adalah keluarganya. Entahlah.
———
Kaisar pun sudah tiba di singgahsananya yang sudah disediakan begitupun kekaisaran lainnya yang berada disinggahsana samping keluarga kekaisaran lainnya.
Pertandingan pertama pun dimulai dan seterusnya, sampai saat giliran Luciapun tiba.
"Nomor 334 : Lucia Marcia. vs. Puteri Bai Xi dari kerajaan Bulan." Kasim berteriak seperti toa masjid.
Lucia yang dipanggil namanya pun tak muncul dan malah diam terlebih dahulu menunggu puteri kekaisaran bulan itu memasuki area terlebih dahulu.
Sedangkan keluarga kekaisaran petir atau lebih tepatnya permaisuri dan ketiga pangeran itu kaget.
'Apakah ia mengikuti turnamen ini.?' Batin mereka berempat.
.....
Puteri Bai Xi memasuki area dengan anggun, tetapi tidak dengan Lucia yang menggunakan sihir teleportasi dan dengan cepat muncul diarea.
Orang² pun kaget dengan kemunculan gadis berjubah itu begitupun ketiga pangeran dan permaisuri dari kerajaan petir yang melihatnya.
Rambut silver Lucia berkibar indah tertiup angin karena menggunakan sihir teleportasi dari elemen anginnya.
Perhatian semua penonton tertuju kepada Lucia dan itu membuat Puteri Bai Xi marah dalam hati tetapi tetap saja luarnya hanya tersenyum anggun kearah Lucia.
'Tunggu saja kekalahan mu orang asing.!' Batin Puteri Bai Xi.
'Kenapa banyak sekali orang munafik disini.!!' Batin Lucia kesal tetapi tatapannya tetap saja datar.
"Mulai!!." Teriak Kasim yang menjadi pemandu pertarungan.
Para penonton pun antusias melihat pertarungan tersebut begitu juga ketiga pangeran dan permaisuri kekaisaran langit.
Adapun laki - laki yang Lucia temui waktu ditoko gulali waktu itu yang sedang duduk dibarisan peserta.
———
"Nona Lucia silahkan serang saya saja terlebih dahulu, saya tak apa²." Ucap Puteri Bai Xi sok lemah.
Karena ia yang memberi Lucia kesempatan tak mungkin Lucia tolak.
Puteri Bai Xi dan para penonton pun tak menyangka akan begitu cepat ia melesat sehingga hampir tak terlihat.
Perlahan bisik² dari para penonton terdengar.
"Apa puteri Bai Xi saja yang terlalu lemah?." Bisik satu penonton kepenonton lainnya.
"Kurasa, memang nona berjubah itu yang sangat kuat jadi puteri Bai Xi yang disebut - sebut dewi itu bisa kalah." Timpal penonton yang satu.
"Apakah puteri Bai Xi sangat² lemah sampai kalah begitu cepat.?" Bisik penonton 3.
Terdapat bisik² lainnya yang membuat Puteri Bai Xi sangat marah kepada Lucia.
'Akh...beraninya ia mengambil pujian dan perhatian penonton, aku harus membunuhmu.' Batin Puteri Bai Xi.
Puteri Bai Xi yang entah kenapa langsung menyerang Lucia menggunakan elemen Api Merahnya.
'Heh...ingin bermain api rupanya. Baiklah...' Batin Lucia ia pun mengeluarkan smirk kejamnya dbalik cadar dan mengeluarkan Api Hitam tingkat menengahnya. Yah walaupun Lucia bisa menggunakan Api Nirawa ia pun tak melakukannya, karena ia bisa ketahuan bahwa ia adalah salah satu keluarga kerajaan iblis yang berada di dimensi lain.
Kekuatan Api yang Lucia keluarkan hanyalah 3% dari kekuatan elemen api yang sebenarnya.
Api Merah yang puteri Bai Xi layangkan pun tidak mengenai Lucia, tetapi sebaliknya Api itu malah bergabung dengan Api Hitam milik Lucia dan menyerang balik kearahnya.
'Apa!! Ba...- bagaimana bisa?!!!." Batin puteri Bai Xi terkejut setengah mati.
Apakah orang yabg didepannya ini adalah moster.? Maka jawabanya adalah Ya, benar sekali ia adalah monster bringas bila dipancing keluar dari sarangnya.
Puteri Bai Xi mencoba memadamkan Api Hitam itu dengan kekuatan air dia yang masih dilevel awal. Tetapi tidak bisa dipadamkan juga.
"Gawat.!!! Para master formasi cepat pasang formasi pelindung diluar arena agar tak mengenai penonton!!" Ujar Kaisar Langit panik tak kalah paniknya dengan para penonton.
"Baik, yang mulia." Ucap para master formasi itu secara bersamaan.
Para ahli formasi yang sedang sibuk menjalankan tugasnya sedangkan tiga pangeran dan permaisuri kekaisaran langit pun terkejut bukan main dengan kekuatan Lucia yang dahsyat.
Sedangkan laki - laki berjubah yang waktu itu menabrak Lucia pun menatap Lucia dengan pandangan yang sulit diartikan.
'Apa dia berasal dari dunia atas?' Batin laki - laki berjubah itu bingung.
Puteri Bai Xi yang belum sempat membuat perisai tubuhnya sendiri pun terkena serangan Api Hitam Lucia.
Ia pun tergeletak pingsan ditanah arena karena saking kepanasannya kulitnya pun melepuh tapi terburu diselamatkan oleh keluarganya.
__ADS_1
"Kamu...kau monster, berani sekali kamu melukai puteriku yang dari kerajaan bulan kami." Ucap permaisuri kekaisaran bulan.
Lucia hanya memutar bola matanya malas mendegar itu.
"Hey kau dengar.! Mau darimana pun kau aku tak akan peduli dengan identitas dirimu dan puteri mu." Ucap Lucia santai.
"Kau..., kurang ajar. Perajurit tangkap pembunuh itu." Sarkas permaisuri dengan penuh bernci menatap Lucia yang masih saja datar dan cuek.
resikon
Para prajurit dari kekaisaran bulan pun mulai berdatangan untuk menangkap Lucia yang dituduh pembunuh.
Tentunya pemilik acara ini akan bertindak, tak mungkin tidak karena memang itu sudah aturan turnamennya.
"Tunggu kekaisaran bulan tak bisa mencampur tangan antar peserta kami dan bila salah satu peserta terluka itu adalah resikonya, lagipula puteri anda sendiri lah yang menyerang nona Lucia duluan." Ujar permaisuri kekaisaran langit bangun dari singgahsana nya dan berbicara dengan permaisuri bulan yang tak tahu diri itu, ia tak senang bila penyelamatnya dituduh menjadi seorang pembunuh.
Permaisuri kekaisaran bulan hendak berbicara lagi, tetapi ditahan oleh kaisar bulan dan membwanya bersama puterinya yang masih dipangkuan ibunya itu pergi dari arena pertarungan itu.
———
Setelah kerusuhan itu Lucia masih saja duduk tenang dikursi pesertanya lagi, sambil mengusap bulu rubah Alex yang lembut nan halus itu.
Bila kalian tanya kenapa Alex dan Firance tak jatuh.? Jawabannya karena jubah Lucia ada kantung doraemon dan dipasangi sihir pelindung tingkat tinggi Lucia agar mereka berdua tak ikut terluka.
Pertandingan babak kedua pun dimulai.
Tantangan selanjutnya adalah semua peserta harus bertahan nafas didalam sungaip pusarab air dewa yang dibuka setahun sekali di kekaisaran petir.
Semua peserta itu pun masuk kedalam air yang kelihatan tak berbahaya itu tapi sebenarnya sungai air dewa itu tak berujung bila ada yang langsung meluncur begitu saja tanpa pelindung mereka akan terbawa arus pusaran air tornado didalam nya dan mati mengenaskan sehingga mayatnya pun hilang entah kemana.
Lucia pun mengaktifkan sihir pelindung untuk jaga², yah...walaupun ia bisa saja tidak akan mati karena dia sendiri adalah dewi kematian. Tapi sekalinya seorang anggota milliter harus ada persiapan untuk berjaga - jaga.
Stelah mengaktifkan sihir pelindung, ia pun melompat dari ketinggian menuju sungai air dewa yang ada dibawahnya itu.
Lucia yang biasa saja dan tidak kenapa² pun akhirnya menyelusuri sungai air dewa yabg sangat luas dan dalam.
Ia pun mengikuti arus sungai untuk menuju kelaut yang paling dalam.
————
Ia sudah berenang sangat lama dan sudah dalam sekali memasukinya.
Dari kejauahan Lucia melihat sebuah cahaya yang terang dari dasar kedalaman laut, lalu ia pun berenang menuju cahaya terang itu.
Setelah mendekati cahaya itu, terlihatlah sebuah istana yang dijaga oleh 2 duyung laki - laki berbadan kekar dan tampan menurut pandangan, tapi tidak bagi Lucia.
Lalu ia pun langsung berenang kesana dan menanyakan tempat apa ini?.
"Hei manusia untuk apa kamu disini?." Ucap penjaga istana itu.
"Tak ada dan hanya menyusuri saja." Ucap Lucia santai.
"Kenapa kamu bisa berada di pedalaman seperti ini, sedangkan kamu ini adalah manusia biasa. Kultivator saja belum bisa mencapai istana kami." Ucap penjaga gerbang itu yang belum mengetahui Lucia adalah seorang dewi kematian yang tentu mudah untuk memasuki pedalaman ini.
"Tentu aku bisa, memangnya siapa yang tak mengenali aura ku ini." Ucap Lucia dengan snyum smirk andalannya dan mengekeluarkan aura dewi kematiannya 2% dari kekuatan aslinya.
"De...-dewi kematian.!!" Ucap mereka serempak.
Akhirnya ia pun mentelepati Raja Duyung untuk segera datang kedepan gerbang istana duyung.
———–
Didalam istana duyung itu terlihat seorang pria tua yang masih saja tak menghilangi ketampanan nya sedang bekerja diruang kerjanya.
Alangkah terkejut nya ia yang menerima telepati dari salah satu ksatria yang sedang bertugas menjaga gerbang depan istana duyung, bahwa ada dewi kematian yang telah lama hilang datang keistana mereka.
'Suruh ia menunggu diruang tamu.' Telepati Raja Duyung senang kepada kesatria nya.
'Laksanakan yang mulia.' Ucap Si ksatria patuh dengan perintah Raja Duyung.
Setelah telepati itu terputus, Lucia disegera kan untuk masuk kedalam istana duyung.
Ia pun berjalan - jalan menurusri lorong demi lorong untuk sampai keruang tamu.
Saat berjalan dilorong ia pun melihat ada seseorang pria yang berpawakan tinggi dan besar tetapi ia bisa melihat mukanya karena lorong itu sangatlah gelap, kalau ia ingin mengetahuinya ia harus memakai mata dewi bulan nya.
———
Bersambung...
Jangan Lupa Like, Comment, Dan Votenya Ya Guyz....
T'rima Kasih.😁😁😁
See You~....♡♡
__ADS_1