
......
Sesampai mereka berdua di gerbang istana petir, mereka pun dihadang oleh dua penjaga gerbang istana...
"Maaf nona siapa?" Tegur penjaga gerbang itu.
"Tak perlu tahu siapa aku, Minggir?" Ucap Lucia dingin.
"Maaf kau tak boleh masuk tanpa token istama petir." Ucap salah satu penjaga itu dengan tatapan meremeh kearah Lucia.
"Hehe...tak mau minggir rupanya, kalau begitu mati saja..." Ucap Lucia yang seperti monster sambil mengeluarkan smirk dinginnya.
Iapun dengan sangat cepat menebus kepala kedua penjaga itu dengan katana kesayangan miliknya.
Alangakh terkejutnya para pelayan yang berlalu lalang melihat kejadian mengenaskan matinya para prajurit pintu gerbang.
Salah satu pelayannya selir Chu pun akhir nya berlari menuju ruang kerja kaisar untuk melaporkan kejadian menakutkan tersbut.
Penjaga bayangan kaisar yang waktu itu juga melihat nya menebas kepala dua orang penjaga gerbang itu dengan keji pun langsung melesat keruang kerja kaisar untuk memberitahunya sebelum pelayan selir Chu duluan.
...........
Penjaga bayangan itu pun akhirnya sampai didepan wajah kaisar yang masih mengurusi tumpukan kertas.
"Hormat hamba yang mulia kaisar..." Ucap penjaga itu hormat dan menekuk salah satu kakinya sebagai tumpuan.
Kaisar yang melihat itupun menyernyit bingung tak biasanya penjaga bayangannya datang menemuinya saat jam kerja kaisar.
"Ada apa?" Tanya kaisar langsung pada intinya.
"Diluar ada orang berjubah hitam yang ingin masuk istana tetapi penjaga gerbang mencegahnya, orang berjubah itupun marah dan memnggal kepala kedua penjaga gerbang tersebut." Jelas penjaga bayangan kaisar dengan detail.
"Apalagi ini? Huft...Kau boleh pergi, aku akan keluar melihatnya." Ucap Kaisar yang sepertinya sudah gusar menjalankan ini dan itu.
Akhirnya kaisar dan penjaga bayangan itu pun berdiri dan siap melangkah keluar.
Dan disaat itulah pelayan selir Chu datang tergesa - gesa dan tanpa hormat memasuki ruang kerja kaisar untuk memberitahu kabar yang kaisar sendiri sudah mengetahuinya.
"Pelayan ini memberi hormat kepada kaisar. d..- diluar ada orang berjubah yang memenggal kepala prajurit gerbang istana." Ucap pelayan selir Chu langsung keintinya.
"Eh...baiklah mari kita keluar untuk melihatnya." Ucap kaisar dengan tenang.
Pelayan selir Chu pun mengangguk dan sok memimpin jalan agar kaisar dan para prajurit yang dibawanya cepat sampai.
........
Setelah Lucia menebas kepala penjaga gerbang itu, beritanya juga dengan cepat melebar luas.
Saat ini Lucia yang sudah selesai urusannya dengan penjaga gerbang yang tak tahu diuntung itu dan langsung menarik tangan Weiwei untuk memimpin jalan kekediamannya yang lama.
Para pelayan yang melihat itu hanya diam saja karena masih menyayangi nyawa mereka masing - masing.
Tanpa memperdulikan tatapan dari mereka Lucia dan Weiwei terus berjalan menuju kediamannya yang lama.
Sesampainya Lucia dikediamannya yang lebih jelek daripada gubuk yang ditengah hutan kematian itu pun marah sekali melihatnya.
'Heh, mari lihat apakah kau akan menggunakan kesempatan yang Weiwei berikan dengan baik atau tidak. Kalau tidak baguslah jadi tak perlu bermain drama di istana jadi - jadian ini.' Batin Lucia yang bersorak jika itu terjadi.
...........
Sementara itu ditempat kaisar saat ini sudah berada didepan gerbang istananya mencari orang berjubah yang dimaksud - maksud itu.
Kaisar yang tak melihat orang berjubah itu menyernyit bingung.
"Dimana orang yang kau maksud pelayan Selir Chu.?" Tanya kaisar kepada pelayan Selir Chu yang tadi melapor kepadanya.
"I...-tu." Sebelum pelayannya selir Chu menyelesaikan kalimat nya pelayan yang sama tak tahu dirinya pun menjawab.
"Maaf yang mulia, kedua orang berjubah itu pergi kekediaman puteri pertama." Jelas salah satu pelayan yang melihat Lucia berjalan menuju kediaman lamanya.
' Siapa sebenarnya orang berjubah itu? Kenapa pergi kekediaman puteri pertama.?' Apa jangan jangan...' Pertanyaan dibenak kaisar pun mulai banyak sampai akhirnya ia pun pusing sendiri dan akhirnya memilih untuk menyusul orang berjubah tersbut dikediaman puteri pertama nya dulu pernah singgah.
........
Lucia P.O.V
Hari ini aku sudah pergi ke istana tak berfaedah itu, dan yah...ternyata kediaman ini lebih buruk dari sangkar burung. Akupun memutuskan untuk mengubahnya dengan sihir tanaman rambat membuat rumah pohon itu, adalah ide yang bagus karena bisa melihat pemandangan dari atas tanpa gangguan.
Sekarang ini aku sedang duduk dijendela di rumah pohonku yang sangat tinggi, bila kalian menanyakan dimana kediaman itu? Jawabanya adalah sudah kuhancurkan dan ku ganti dengan rumah pohon yang sangat tinggi. Tentunya aku menggunakan Formasi Illusion dari elemen kegelapanku agar semua orang tak ada yang bisa melihatnya, kecuali orang yang kuizinkan seperti Weiwei.
"Nona ini teh mochi yang nona minta." Ucap Weiwei yang membawa secangkir teh mochi yang aku inginkan.
"Terima kasih, Mari duduk disini menemaniku." Ucap Lucia menepuk sofa yang sempat ia bawa dari ruanģ dimensi gelangnya.
"Baik Cia." Balas Weiwei yang langsung mengikuti perintah nya Lucia.
Mereka berdua akhirnya duduk santai dijendela rumah pohonnya.
Keheningan menyelimuti mereka berdua karena Lucia yang tak suka mengobrol dan banyak bicara dengan seseorang, bahkan orang terdekatnya.
__ADS_1
Saat Lucia sedang tenang - tenangnya ia terganggu dengan suara kebisingan dari luar rumah pohonnya.
' Cih penganggu.!' Batin Lucia kesal waktu santainya diganggu oleh orang - orang tak tahu malu diluar.
"Nona, sepertinya diluar orang² istana sedang mencari - cari kita yang masuk keistana tanpa izin. Sebaiknya nona keluar menemuinya dan menjelaskannya." Ucap Weiwei dengan takut.
Lucia yang mendengar perkataan Weiwei hanya memejamkan matanya dengan tenang seolah tak pedulu dengan kerusuhan diluar.
"Nona!! Apakah kau tidak mendengarku." Marah Weiwei yang diacuhkan oleh Lucia.
"Apa.?" Ucap Lucia dingin dan pandangan tajam nya diarahkan kepada Weiwei yang sedang mengoceh tak jelas.
Weiwei yang melihat itu menjadi diam seribu bahasa, takut jika Lucia berkata dingin kepadanya.
"Heh, mari temui ayah palsuku itu." Ucap Lucia dingin dan pandangannya masih menyapu ruangan itu pun menjadi mencekam keadaanya.
Lucia pun bangkit dari duduk tenang nya dan merapihakan jubah yang ia kenakan serta memasang cadar yang ia letakan dimeja duduk tadi.
—————————
Sedangkan diluar para prajurit meneriaki dan berusaha menembus formasi perlindung yang dibuat orang berjubah yang masuk tanpa izin dari kaisar.
"Hei...kau keluarlah sekarang, masuk keistana kekaisaran petir tanpa sepengtahuan kaisar adalah pemeberontakan!!!!." Teriak prajurit itu dari luar kediaman Lucia.
Sedangkan Selir Chu sudah berkeringat dingin dipunggunya merasa akan ada bencana yang terjadi pada dirinya sendiri.
Para prajurit pun masih terus berteriak tak jelas, pada akhirnya aura dingin dan intimadasi dirasakan oleh semua orang yang ada di depan kediaman Lucia.
"Ada apa mencariku?." Ucap Lucia dingin dan yang tiba - tiba sudah berada dipohon didekat luar kediamannya.
Orang - orang itu tak menjawab karena tertekat serta sesak dirasakan saat Lucia datang disana dan berbicara, bahkan ada yang muntah darah dan pingsan karena tak kuat dengan aura intimidasi dan membunuh yang begitu pekat.
Kaisar dan selir Chu pun saling berpegangan tangan walaupun jatuh terduduk dilantai.
Lucia yang melihat itu seketika menjadi geram dengan kemesraan yang ditunjukan sepsang kekasih itu.
' Bisa - bisanya kalian mengganggu ku waktu ketenanganku hanya untuk menunjukan keromatisan kalian dihadapan ku." Batin Lucia Kesal sekali.
Ia yang sudah muak dengan pertunjukan kedua orang itu lantas mengambil katananya dan memotong kedua tangan kotor yang ada dihadapannya.
"Arhkkkk...!!!" Ucap Kaisar dan Selir Chu yang kesakitan karena setengah lengan yang sedang berpegangan itu sudah putus ditanah dengan darah yang berceceran ditanah.
"Sekali lagi kutanya kepada kalian orang - orang bodoh, mau apa kalian datang kekediamanku.?" Tanta Lucia yang masih acuh nan dingin setelah memotong setengah lengan kedua orang itu.
Kaisar yang mendengar itu bingung dan baru menyadari bahwa mungkin itu Li Cia yang sudah kembali dari hutan kematian.
"K..- kau Li Cia.?" Tanya Kaisar yabg masih kesakitan tak bisa melawan karena aura Lucia yang dikeluarkan 1%
Kaisar yang mendengar itupun terkejut, sama halnya dengan selir kesayangannya yang masih mengerang kesakitan.
"Kau...Li Cia, dimana sopan santunmu kepada orang yang telah membesarkanmu selama ini.?" Yang menanya kali ini bukan kaisar melainkan si selir kasayangannya yang tak tahu malu itu.
"Apa? Kau bukan orang yang membesarkan kun dan juga bukan ibuku jadi kau tak berhak menceramahiku dengan mulut kotormu itu." Balas Lucia tenang.
"Kau.!" Geram selir Chu.
"Apa?. owh kurangkah pelajaran tadi yang kukasih maka aku akan memotong lidah kotormu itu, agar tak banyak bacot." Ucap Lucia yang tanganmya tiba - tiba sudah ada pisau kecil.
Dengan cepat ia pun merobek mulut selir Chu dan memotong lidahnya.
"Arkhh.!" Ucap selir Chu yang snagat kesakitan.
Kaisar yang melihat itu pun juga sebenarnya ingin melawan, tapi tak bisa karena gerakannya terkunci dengan auranya Lucia.
Lucia pun menjadikan Selir Chu sebagai boneka ukirannya.
Selesai dengan memotong ia pun mengeluarkan jarum dan benang dari ruang dimensinya kemudian menjahit mulut selir Chu seperti penjahit ulung ( Perfesional ).
Lihatlah setelah dioperasi oleh Lucia mulut Selir Chu seprti tambalan ban yang ditambal.
Selir Chu yang dulu diagung - agungkan karena kecantikannya sekrang berubah menjadi monster jahitan Lucia yang bagus nan indah menurut Lucia.
Selir Chu tak kuat dengan itu pun pingsan setelah selesai dijahit oleh si penjahit ulung ( Lucia ).
"Baiklah, siapa lagi yang ingin jadi boneka ku atau pergi dengan selamat dari sini ." Ucap Lucia dengan wajah psychonya.
Kaisar dan prajurit yang masih bisa bertahan dari aura Lucia pun bergidik ngeri dan berpura - pura meminta maaf agar dilepaskan.
Eits...jangan salah, mata Lucia yang setajam sillet itu tak bisa dibohongi, cukup sekali saja ia tak mempercyai insting matanya dan melakukan hal bodoh hingga ia bisa berada disini.
"Owh...benarkah.?" Ucap Lucia dengan senyum smirk iblis miliknya yang sangat mengerikan dibandingkan dengan iblis aslinya.
"Y...- ya, jadi sekarang bebaskanlah kami nona." Ucap salah satu prajurit itu yang masih berucap dengan nada hormat tapi dalam perkataannya mengandung perintah layaknya sang kaisar.
' Cih, sudah mau mati saja belagu. Kaisar bodoh ini saja tak berani bersuara dihadapanku, apalagi kau yang cuman seorang bawahannya yang sama bodohnya.' Ucal Lucia dalam batinnya.
"Baiklah." Ucap Lucia yang berpura - pura bisa ditipu - tipu.
Prajurit yang masih bertahan pun tersenyum palsu.
__ADS_1
' Heh, dia pikir aku mudah dibohongi karena baru berumur 14 tahun. Tak semudah itu ferguzo.' Ucap Lucia dalam batinnya.
Bukannya menarik aura yang menurutnya kecil itu tetapi malah sebaliknya, ia secepat bayangan memenggal semua kepala prajurit itu.
Kini tersisalah orang bodoh yang dipanggil kaisar oleh orang² rakyat kerajaan petir.
"Li Cia, kasihanilah ayahanda mu ini." Ucap kaisar dengan nada memelas dan mendramatisir.
"Mengasihanimu? Kutanya kepadamu apa kau pernah merasa kasihan dan peduli saat aku dihukum di gubuk hutan kematian?." Ucap Lucia dingin.
Kaisar yang mendengar itupun diam seribu bahasa, karena apa yang dikatskan Lucia benar adanya.
"Biar kujawab, jawabannya adalah tidak kan." Ucap Lucia yang menggantikan kaisar menjawab pertanyaan nya sendiri.
Weiwei yang sedari tadi menyaksikan tindakan nonanya itu pun tak bisa berbuat apa² karena memang disini yang salah adalah orang² istana yang mengganggu iblis yang lagi tenang.
"Ada kata² terakhir.?" Tanya Lucia seraya menodongkan katana tajam nya kekaisar.
"Dimana permaisuriku? Jika kau bertemu dengannya samapaikan kepadanya bahwa aku meminta maaf atas kesalahan ku telah mengambil seorang selir dan katakan juga aku mencintainya." Ucap Kaisar sedih.
"Heh...permaisurimu? Apakah aku tak salah dengar? Ibu kandungku bukan permisurimu, jadi jangan berkhayal tinggi. Permaisuri mu itu adalah pelayan ibuku yang asli." Ucal Lucia acuh.
"Apa.!! Jadi selama ini kau bukan puteri kandungku.?!!" Ucap Kaisar terkejut sebelum akhir hayatnya dan kerajaannya.
"Bukankah emang itu benar, lagian selama ini kau menyebutku dan memperlakukan ku bukan seperti puteri mu sendiri. Jadi bisa dibilang kita tak ada hubungan apa²." Ucap Lucia masih cuek.
Kaisar terdiam, Lucia yang melihat itu pun memperkirakan bahwa kaisar sudah siap untuk menemui ajalnya.
Tanpa berkata lagi Lucia memenggal kepala kaisar yang masih berlinang air mata nya.
Entah kenapa ada rasa sakit saat melihat si kaisar bodoh itu dalam hati Lucia dan kenangan indah berasamanya sebelum selur Chu datang berputar didalam ingatanya.
Bagaikan ditusuk pisau mengingat kenangan itu sehingga Lucia sakit kepala melihatnya dan membenturkan kepalanya ketembok berulang kali tetapi ingatan nasa lalunya terus - terusan dalam fikirannya.
Lucia yang benci dengan rasa empati ini, sehingga ia memutuskan untuk melukai tangannya sendiri sehingga mengeluarkan darah. Tetapi anehnya darah Lucia yang berwarna hitam pekat itu menutuli luka goresan yang terbuka.
Ia pun kesal, berulang kali ia coba menggores tangannya tapi tetap saja luka itu tertutup seperti semula.
"Cia.!!" Ucap Weiwei panik, kenapa nonanya bisa senekat dan seberani ini.
"Cuku...cukup Cia.!!" Ucap Weiwei menangis histeris dan panik dengan keaadan Lucia.
Lucia yang mendengar itu pun akhirnya menjadi sedikit lebih tenang.
"Cia, jangan melakukan itu lagi. Kau melukai dirimu, itu membuatku khawatir, takut kehilangan, dan sedih." Ucap Weiwei yabg masih berlinang air mata dimata sembab nya.
"Weiwei, tenang lah aku tak apa². Aku janji tak akan melakukan hal ini lagi." Ucap Lucia yang menenangkan Weiwei.
Weiwei pun langsung memeluk Lucia saat Lucia sudah menghentikan aksi berbahaya nya itu.
Weiwei pun menangis dipeluka Lucia sehingga jubah yang dikenakan Lucia menjadi basah karena air mata Weiwei.
Lucia hanya diam kaku saja, ia sebelumnya tak penah memeluk seseorang kecuali waktu pas ia masih kecil, ia membalas pelukan ibunya itu ( Dewi Bulan ).
Setelah kelelahan menangis Weiwei tanpa sadar sudah tertidur tanpa melepaskan pelukannya pada Lucia.
Lucia yang melihat itu hanya diam dengan wajah datarnya yang masih memakai cadar tapi tak menutupi kecantikan dan keagungan wajah cantik itu.
Karena tak enak dengan posisi itu, Lucia memilih menggendong Weiwei ala pengantin dan memasuki kediamannya terlebih dahulu dan berencana akan membumi hanguskan kerajaan ini setelah Weiwei sudah sadar.
.........
Dikamar rumah pohon besar nan indah itu Lucia meletakan Weiwei dikasur yang empuk nan nyaman itu.
Iapun menggunakan kekutan cahaya tingkat akhir nya untuk menyembuhkan Weiwei agar cepat sadar dan pergi dari kurajaan petir.
——————————————
Bersambung....
☆Note : Dibenua tempat Lucia tinggal adalah benua Barat 》Tempat Kekaisaran Petir berada.
Dibenua Selatan 》Tempat kekaisaran Bulan berada.
Dibenua Timur 》 Tempat kekaisaran Bintang berada.
Dibenua Utara 》Tempat kekaisaran Langit berada.
.....
Jangan Lupa Like, Comment, Dan Vote bagi para pembaca ya...
Dan jangan lupa ide - ide, kritik, dan saran kalian tentang novel ini...
Apakah ada yang merasa sikap Lucia, Weiwei, Atau yang lain - lain kurang bagus dan menurut kalian bagusnya gimana tinggal Comment dibawah.
Jangan lupa ditambahkan ke Favorite kalian ya kalau suka sama novel ini....
See You...♡
__ADS_1
!