
Masih di manison Lucia...
Pagi hari, Lucia terbangun karena cahaya matahari mengenai wajahnya yang cantik.
Dilihat kearah samping, ternyata Blacky masih tertidur sambil memeluk lengan nya.
Ia pun dengan perlahan menggeser lengan nya untuk menjauh dari Blacky. Karena pegangan Blacky tidak terlalu erat, akhirnya Lucia terbebas dari Blacky.
Ia pun pergi kekamar mandi untuk mandi...
Beberapa saat kemudian... Lucia pun sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian santai nya.
Ia pun duduk di meja rias dan mengambil sebuah jepitan berbentuk beruang yang diberikan oleh Yuta pas waktu ulang tahun nya yang ke - 4.
Lama ia menatap kearah laci meja rias...setelah lama ditatap ia pun membuka laci itu tanpa ragu dan mengambil isinya, yang ternyata adalah foto ia, Yuta, kakek, nenek, ayah, dan ibunya.
Huft...ia masih ingat kenangan tentang dirinya dan Yuta waktu kecil dulu.
Flashback...
Yuta dan Lucia yang waktu itu masih anak - anak pun dirawat oleh nenek dan kakek nya.
Jarang ia bertemu dengan ayah dan ibunya.
Nenek nya adalah seorang model pensiunan, beda halnya dengan kakek nya yang seorang pengusaha ternama.
———
Hari libur sekolah tk pun dimulai, dan ini adalah kesempatan untuk Lucia dan Yuta untuk mengunjungi nenek nya.
Seorang gadis kecil yang berusia 4 tahun dengan seorang anak laki - laki kecil yang berusia 3 tahun pun pergi kesebuah rumah megah yang berada disekitar perkotaan dengan mengendarai mobil sport berwarna putih nan elegan nya.
Gadis kecil dan anak laki - laki itu pun berlari memasuki rumah megah itu dengan wajah ceria serta senyum manis yang terukir di wajah mereka berdua.
Mereka yang saking senang nya, sampai meninggalkan pria dan wanita yang mengantar nya kesini.
Dengan cepat anak perempuan yang tak lain adalah Lucia dan anak lelaki disebelahnya puntak bukan adalah Yuta.
Ia pun memencet bel yang terletak disebelah pintu....
Ting...
Tong...
Tak lama kemudian...pintu rumah pun terbuka. Dilihatnya sosok nenek baya yang mereka sudah lama ingin lihat.
"Nenek...." Ucap Lucia dan Yuta serempak dan langsung berhamburan memeluk nenek baya itu.
"Aih...cucu nenek datang rupanya ya..." Ucap nenek tadi, yang tak bukan adalah nenek Lucia dan Yuta.
Digendong nya Yuta kecil sambil sebelah tangan ny memegang tangan kecil Lucia untuk dituntunya masuk kedalam rumah.
...
Sesampainya mereka didalam, nenek pun segera meletakan Yuta disofa juga Lucia yang dibantunya untuk duduk disofa yang lumayan tinggi untuk ukuran Lucia yang masih kecil.
"Kalian tunggu dulu disini ya...nenek panggil kakek dulu sekaligus membantu ibumu untuk mengemas barang - barang nya.
Lucia dan Yuta pun mengangguk lucu sebagai jawaban. Dicium nya pucuk kepala Lucia dan Yuta sebelum nenek nya berlalu dan pergi.
...
Setelah lamanya menunggu, mereka pun akhirnya selesai membereskan keperluan mereka untuk menginap dirumah nenek.
Sama halnya dengan Lucia dan Yuta, yang saat ini mereka memilih untuk berada didalam kamar dan tiduran sambil membaca buku dongeng.
"Seorang cinderella akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya..." Ucap Lucia dengan nada lucunya membacakan Yuta yang berada disebelahnya sebuah dongeng Cinderella.
"Hais...kakak, aku bingung lah. Kenapa Cinderella ini tak melawan saja ketika ia dihukum oleh ibu tirinya...!!" Kesal Yuta yang sedari tadi ia tahan karena ingin mendengar lanjutan cerita nya.
"Em...nenek bilang, orang jahat pasti akan mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatan kotor mereka kelak." Jelas Lucia yang memberi nasihat nenek nya agar Yuta mengerti.
"Ckck...tapi tetap saja itu tidak adil untuk Cinderella..." Ucap Yuta yang masih dengan kekesalan tak berujung.
Tak...
Sebuah sentilan maut diberikan Lucia untuk Yuta yang bodoh dan gagal memahami nasihat dibalik cerita ini.
"Kau bodoh ya....! Semua alur pasti ada hikma nya, tidak mungkin tidak." Omel Lucia dengan pipi yang mengembung lucu.
"Tau tidak?! Hais...sudahlah, mari ke ruang makan. Pasti kakek, nenek, ayah, dan ibu sudah menunggu disana." Lanjut Lucia yang tak mau naik pitam dengan adiknya yang polos ini.
"Baik kak..." Ucap Yuta dengan wajah menunduk.
Lucia pun mengelus rambut adik nya guna untuk menenang kan nya.
"Sudahlah...ayo!!" Ajak Lucia dengan senyum manisnya.
Yuta yang mendengar itu pun langsung tersenyum ceria kembali dan tanpa disadari di kantong celana kecil nya, ia menyimpan sebuah jepit rambut berbentuk beruang untuk ulang tahun Lucia hari ini.
'Ish...kenapa kakak selalu lupa dengan tanggal ukang tahun nya sih...' Gerutu Yuta yang tertawa sendiri sekaligus gemas dalam hati, melihat kepikunan kakak nya tentang ulang tahun nya sendiri.
Mereka pun membuka pintu kamar dan dilihatnya seluruh ruangan sepi nan gelap.
"Ayah...ibu...?" Tanya Lucia bingung, kenapa tidak ada satupun orang.
Perasaan tadi ia datang bersama Ibu ( Dewi Bulan ) dan Ayahnya ( Dewa Kegelapan ).
"Em...Yuta! Kenapa semua orang menghilang?!" Gerutu Lucia yang kembali mengembulkan pipinya lucu.
"Entahlah kak...mari kita cari saklar untuk menyalahkan lampu terlebih dahulu." Ucap Yuta yang sengaja menggiring kakak nya untuk ke ruang makan.
"Hm...baiklah." Ucap Lucia tanpa rasa curiga sedikit pun.
Mereka pun berjalan bersama - sama menuju ruang makan.
Kenapa mereka bisa tahu, walaupun gelap? Karena mereka sudah sangat hapal dengan rumah nenek dan kakek nya.
Sesampainya mereka diruang makan, Lucia pun meraba - raba dingding untuk mencari saklar.
Tanpa ia sadar Yuta dan yang lain nya sudah mengambil ancang - ancang untuk memberikan nya kejutan.
Tak...
Tapat saat Lucia menemukan saklar lampu dan menyalakan nya, mereka pun segera melemparkan balon kearah Lucia dan mengucapkan selamat ulang tahun.
"Selamat Ulamg Tahun Cia ku sayang." Ucap ibu nya yang tak lain adalah Dewi Bulan dan langsung mendekati lalu mencium nya dengan penuh kasih sayang, begitu pun Dewa Kegelapan yang langsung memeluk nya dan mengucapkan selamat ulang tahun juga.
Tak lama kemudian nenek datang dengan kue ulang tahun yang sangat besar ditangan nya.
"Tiup lilin nya...tiup lilin nya..." Ucap nenek dan kakek serempak yang langsung Lucia turuti dan meniup lilin kue ulang tahun yang berbentuk 4 sesuai usia nya.
__ADS_1
"Terima kasih nenek, kakek, ibu, ayah, dan adik ku tercinta yang pandai tipu - tipu." Ucap Lucia setengah kesal dan memandang adiknya seperti akan memakan nya dalam satu kali bukaan mulut saja.
"Eh...tidaklah kakaku tercinta...itu tidak benar. Em...nih aku ada hadiah untuk kakak ku yang cantik." Ucap Yuta yang mengalihkan pembicaraan.
"Selamat ulang tahun kakak..." Lanjut Yuta yang langsung memakai kan jepitan rambut itu di rambut perak Lucia.
....
Hari - hari berlalu begitu saja...
Lucia yang masih ingin menginap dirumah nenek dan kakek nya pun tak ingin pulang.
Kakek nya yang kebetulan ada urusan diluar sebentar pun tak kembali dirumah hari ini.
Alhasil, ia ditinggal bersama dengan nenek disana. Yuta, ayah dan ibunya juga sudah pulang kerumah duluan.
Saat ini Lucia sedang membaca buku yang berada didalam kamar yang biasa ia dan Yuta tempati.
"Akh..."
Tiba - tiba saja saat ia tengah asik membaca, ia dikagetkan oleh teriakn seseorang yang sangat ia kenal dari luar kamarnya.
Tanpa basa - basi buku yang ia baca, ia lempar kesembarang arah dan dengan cepat ia berlari keluar kamar menuju arah dapur tempat suara nya berasal.
Deg!!!
Deg!!!
Deg!!!
Dilihat nya, sang nenek yang sudah berlumuran darah ditangan mau pun perutnya.
Lucia diam mematung melihat kondisi sang nenek yang sudah tergeletak ditanah tak berdaya dengan dilumuri darah yang keluar dari tubuhnya sendiri.
'Ne...ne...nenek....!!!' Batin nya sedih, shock + ketakutan.
Ia pun langsung menghampiri sang nenek yang tergeletak ditanah dan langsung terduduk disamping nya.
"Ne...hiks...nek...bangun...hiks...nek..." Tangis Lucia kecil pun tumpah melihat sang nenek yang sudah tak berdaya.
Dan tiba - tiba saja, seorang bertopeng dengan kelompok nya keluar dari kamar nenek dengan sebongkah perhiasan nenek serta uang dicurinya dari kamar nenek.
"Hey... kawan bocah kecil itu boleh juga. Bagaimana kalau kita jual saja ia kepada 'orang' itu?" Ucap seornag yang mengenakan topeng.
"Hahaha...benar katamu sobat!! Cepat tangkap anak kecil itu dan lapor kebos bahwa misi kita sudah selesai." Ucap seorang lain nya yang mengenakan topeng juga.
Lucia yang masih dengan tatapan kosong nya pun tak bergeming dari tempatnya berada.
Ia benci...ia benci...ia benci para perampok sialan itu... Pikirnya.
Tanpa sadar ia sudah mengambil pisau yang berada di atas meja disamping nya dan disembunyikan nya di belakang badan nya sambil menunggu perampok itu untuk mendekatinya
Para perampok itu pun mulai mendekati nya dengan senyum jahat yang terukir dibalik topeng nya itu.
"Hai...gadis manis. Mari ikut paman membeli permen...~" Ucapnya dengan cara membujuk, akan tetapi ia hanya mendapatkan tatapan kosong dari Lucia.
Saat tangan perampok itu ingin meraih tubuh kecil Lucia, pisau yang ditangan Lucia sudah tertancap duluan ditangan nya hingga tangan berlubang + berdarah.
"Akh...uhk...dasar anak gila." Pekik nya kesakitan.
"Hah...hah....ahahaha..." Tawa Lucia seketika pecah diruangan itu.
"Ahk!!....uhuk uhuk...!!"
Bruk...
Perampok itu pun langsung ambruk ditangan Lucia yang sudah berlumuran darah.
Para kelompok permapok yang melihat itu pun tak tinggal diam dan ingin segera menangkap Lucia yang masih tertawa bahagia.
Saat mereka ingin mendekati Lucia, tembakan seseorang sudah membunuh perampok yang ingin mendekati Lucia.
"Dasar biadab, mati saja kalian semua." Ucap seorang yang baru datang, yang ternyata adalah kakek dan ayahnya yang lamgsung membunuh para perampok itu didepan mata kepala Lucia yang masih tanpa henti - hentinya tertawa bahagia.
"Arlia...ba-...bagaimana bisa kau seperti itu hiks...arlia bangun lah...hiks..." Tangis kakek pun pecah seketika karena melihat sang isteri yang tergeletak berdarah + tidak bernyawa.
Sedangkan ayahnya yang melihat itu pun langsung menelpon ambulan untuk mengangkut mayat orang yang ia sebut sebagai nenek nya.
Lucia yang melihat itu tidak lagi tertawa melainkan langsung berlalu pergi kekamarnya dan mengunci kamar.
Ia butuh untuk menenangkan dirinya atas kepergian neneknya yang dibunuh di depan matanya sendiri.
Tak bisa dipungkiri bahwa Lucia masih sangat shock dengan kejadian yang baru saja ia alami ini.
Bagaimana tidak?! Seorang anak kecil berusia 4 tahun melihat kejadian berdarah seperti itu...
———
Lambat laun semuanya sudah berlalu 3 bulan dari pemakaman sang nenek.
Mereka yang menghadiri pemakaman itu menangis pilu disertai hujan yang turun berduka dengan kepergian Arlia sang model terkenal di banyak negara.
Lucia hanya diam dan menatap kosong pemakaman itu. Jika dilihat itu semua membuat hatinya tercabik - cabik.
Tiga bulan itu Lucia hanya melaksanakan aktivitas nya dalam diam, ia tak seprti biasanya yang ceria dan juga periang.
....
5 bulan kemudian...
Ayah nya Lucia pun pergi tanpa alasan yang jelas meninggalkan ia, Yuta dan juga ibu nya dirumah. Juga ia tak terlalu dekat dengan Lucia.
Lalu dua hari kemudian...
Ibunya juga menghilang dan kakek bilang bahwa ibunya pergi untuk menyelesaikan masalah terlebih dahulu.
....
1 tahun pun telah berlalu semenjak kematian nenek Lucia.
Diumur 5 tahun ia didik keras oleh kakek nya untuk mengikuti pelatihan para anggota milliter bersama dengan adiknya Yuta.
Saat umurnya 12 tahun, ia sudah dilantik untuk menggantikan kakek nya yang selama ini adalah seorang mafia RoseBlue karena selama menjalankan misi kemiliteran nya juga misi mafia nya ia sudah sangat - sangat handal untuk itu.
Sejak saat itu, tidak ada lagi tawa dirumah apalagi candaan.
Keadaan manison kakek berubah menjadi suram. Tak ada lagi tawa yang menghiasi wajah dingin Lucia.
Ia menjadi orang yang cenderung sendiri, pendiam, sangat dingin, sangat cuek sehingga sulit untuk didekati siapapun.
Ya, walaupun hanya sekedar obrolan singkat saja ia masih bisa kepada orang yang menurutnya tidak berbahaya.
__ADS_1
Ia juga menjadi kejam dan berdarah dingin sehingga ia bia menjadi mafia no.1 didunia yang paling ditakuti oleh seluruh masyarakat.
Jangan salahkan diri nya yang terlalu kejam karena menghabisi orang yang tak bersalah karena misinya juga sebagai pembunuh berdarah dingin.
Hah...jangan tanyakan kasus nenek nya yang sudah lama berlalu. Ingat, Lucia adalah orang yang pendedam. Orang yang psangat ia sayangi dibunuh begitu saja? Heh dia tidak akan melupakan itu seumur hidup nya.
Sejak ia dilantik, ia mengerahkan pada bawahan nya untuk mencaritahu siapa yang membunuh nenek nya.
Setelah ia mengetahui bahwa yang membunuh nenek nya adalah saingan kakek nya. Ia langsung membertai habis mereka semua tanpa tersisa satu orang pun.
Flashback Off...
Lucia yang mengingat kejadian 'itu' lagi pun mengeluarkan setitik air mata.
"Akh...tidak..tidak...tidak!!!..." Ucapnya sambil menangis histeris.
Blacky yang sebenarnya sudah bangun waktu Lucia mengeluarkan jepit rambut itu pun langsung menghampiri nya untuk menenangkan nya.
"Hey...ada apa dengan mu Cia? Tenanglah ini aku Blacky." Ucap Blacky yang mencoba menenangkan Lucia yang masih saja menangis pilu dan itu entah kenapa membuat hati Blacky ikut terluka mendengarnya.
"Kubilang pergi!! Pergi....pergi!!!." Ucap Lucia sambil menghapus air matanya dan beralih menatap tajam Blacky yang masih berada di dekatnya.
"Ada apa dengan mu Cia... tolong tenangkan dirimu dulu." Ucap Blacky.
"Pergi atau aku yang pergi." Ucap Lucia dingin nan tajam yang menusuk.
Bukan nya pergi, melain kan Blacky malah memeluk nya dengan sigap.
"Hey tenang lah ada aku disini..."Ucap Balcky dengan lembut.
Lucia hanya diam mematung dipeluk seperti itu oleh Blacky.
Sebelum nya ia tidak pernah dipeluk oleh seseorang seperti ini, paling hanya adiknya dan kakek yang mampu menenangkan nya disaat traumanya kambuh.
Sedangkan Blacky yang melihat Lucia diam tak berkutik pun menjadi ketakutan, ia takut akan dengan apa yang terjadi kepada Lucia.
Akankah ia pingsan? Pikir Blacky.
"Cia...cia..." Ucap Balcky yang menepuk - nepuk wajah halus nan putih Lucia yang masih diam.
"Diamlah sebentar...biarkan aku seperti ini sebentar saja..."Ucap Lucia seraya memejamkan matanya, mencoba mencari ketenangan didalam pelukab Blacky.
Blacky yang tau keadaan Lucia saat ini pun tak bersuara lagi, ia hanya menepuk - nepuk pundak Lucia agar membuat nya lebih nyaman.
Setelah lama kemudian Lucia bersandar kepada Blacky, ia pun menjadi seprti biasanya lagi.
"Aku pergi dulu." Ucap Lucia yang langsung pergi ke luar ruang dimensi gelang meninggalkan Blacky yang masih memikirkan kejadian buruk apa yang menimpah Lucia 'nya' saat ini. Pikirnya cemas.
'Huft...sudahlah lagian...aku juga bukan siapa - siapa baginya. Hanya orang yang baru kenal saja...ya...hanya orang baru kenal saja...' Batin Blacky merasa sedih + menepis rasa yang ia rasakan saat ini.
Ia pun melihat kedua tangan nya yang sempat memeluk Lucia tadi dengan sendu.
Akankah Lucia mau bersama dengan nya...?
Menemaninya...?
Apakah itu adalah perasaan cinta yang mulai timbul dihatinya ketika bersama dengan Lucia?...
———
Bersambung...
Ollaa...
Hay...gais...gimana kabarnya? Baik - baik saja kan?
Terima kasih yang sudah setia membaca novel author yang satu ini.
Maaf author belum bisa ceritain semuanya. Lambat waktu, author pasti bakal ngejelasin berikut alurnya kok.
Jadi bagi yang belum mengerti, tolong jangan tinggalkan lapak terlebih dahulu ya...
Juga ada yang bisa jawab ga nih ya...
Kalau ada yang bisa jawab quiz yang dibawah author bakal crazy up, dijamin tak bakal mengecewakan...
Okay quiz pertama...
Siapakah jodoh Lucia?
A. Alex
B. Firance
C. Blacky
D. Salah Satu Pangeran Dari Kerajaan Langit / Vampire
E. Seseorang Di Eps Selanjutnya...
Okay yang quiz kesatu boleh jangan dijawab terlebih dahulu.
Sekarang masuk ke quiz yang kedua ya...
Menurut Dari Kalian Tentang Karya Author Heboh Ini. Konflik Apakah Yang Terjadi Pada Kedua Orang Tua Lucia?
A. Kesalahpahaman
B. Kesepakatan
C. Ada Rahasia Yang Harus Dijaga
D. Masalah Percintaan
E. Tahkta, Kuasa Dan Kekuatan
Okay jadi 2 quiz dulu ya...yang bisa jawab, author anggap sangat² jenius. Dan author bakal Follow kamu yang menjadi pemenang.
Sampai sini dulu ya guys, Author pamit...
Jangan Lupa, Like, Comment, Dan Vote novel ini ya...
See You Later...♡♡
__ADS_1