
Rintik hujan yang kian sema_kin deras, tak membuat Lucia pudar untuk terus melaju dan masuk kedalam kastil kuno itu.
Dirinya terus menelusuri lorong - lorong gelap nan sunyi, hening dan gelap itu dengan pandangan yang kosong.
Deg...
Deg...
Jantung Lucia berdegup kencang, hati nya yang selama ini beku dan tak merasakan kegugupan pun merasa kalut.
Memori - memori tempat ini...
Aneh. Kenapa bayangan tentang kastil ini ada dalam ingatannya?
Tanpa sadar...
Kakinya kini kian melangkah mendekati alunan melodi yang terdengar dari ruangan disebelah lorong gelap itu.
Rasa penasaran dan nostalgia menyambar hati dan pikiran Lucia itu pun, membuat nya membuka pintu secara perlahan.
Ceklek.
"Lulu..."
_______
Rossiana dan Fu Lan kini terus kian main kejar - kejaran di lorong tanpa mengingat usia mereka yang sudah kian tak muda lagi.
Saat sedang asik berlari menghindari cengkraman maut Rossiana, tiba - tiba ia berhenti berlari karena melihat orang yang ditunggu oleh ayahnya sudah tiba.
__ADS_1
"Sini kau sia-..." Baru saja akan membuka suara.
Bibi Rossiana kini dibekap oleh Fu Lan agar tidak teriak - teriak lagi seperti orang gila.
Disana ia melihat tuannya atau orang yang berstatus sebagai ayah angkatnya itu sedang tersenyum lebar bahagia.
Dari belakang, ia melihat rambut perempuan yang ditemui oleh ayanhnya sudah putih.
'Apakah ayahnya sudah gila sehingga menyukai nenek - nenek?!' Batin Fu Lan tak habis pikir.
Padahal dia saja yang tak bisa membedakan antara warna silver dan putih. Alias buta warna!
"Em...Rossi. Apakah teman mu yang bernama Cia - Cia adalah nenek - nenek yang sudah tua?" Tanya Fu Lan masih dengan wajah tertekan.
Rossiana yang memang sudah menduga bahwa si tua bangka yang sayang nya masih tampan dan terlihat seperti muda itu akan bertanya kepadanya diakibatkan Fu Lan buta warna.
"CK. dasar tua Bangka! Teman ku itu bukanlah nenek - nenek! Dasar buta warna! Tak bisakah kau membedakan antara silver dan putih?!" Jawab Rossiana dengan wajah yang menunjukan kekesalan nya.
Menunjukan wajah cengo nya, ia pun tak lanjut menghiraukan Rossiana dan kembali melihat percakapan antara dua orang tersebut.
"Hei! Ada apa dengan mu sialan?!" Tanya Rossiana tak mengerti dengan Fu Lan yang mengajak nya bersembunyi seperti pencuri.
Melihat auranya, Fu Lan menjadi merinding. Ia pun segera menarik Rossiana untuk pergi dari sana.
Author : So sweet yegesya. Aowkawok.
_______
Masih dengan aura pekat hitam suram milik Lucia dikeluarkan sehingga membuat Lu Han sedikit merinding.
__ADS_1
"Dimana temanku sialan?" Tanya Lucia langsung tanpa banyak basa - basi.
Sedangkan Lu Han hanya tetap mempertahankan senyumnya.
Ingatkan dia untuk tidak langsung membungkus Lucia dan mengurungnya di kamar seperti saat mereka kecil dulu.
Lu Han yang tau Lucia sudah sangat marah pun kembali memainkan alat musik yang terdengar seram tapi membuat Lucia nyaman itu.
Lucia yang sudah terpancing emosi sedari sebulan yang lalu pun segera menyerangnya dengan sihir pelumpuh.
Lu Han yang sudah tak bisa menahan agar tidak mengarungi Lucia pun, menahan sihir itu dan dengan gerakan cepat ia menyudutkan Lucia ke dinding.
Lucia yang terkurung pun tak bisa berbuat apa - apa dan menatap datar orang yang dulu pernah menjadi kekasih nya ini.
"Ingatlah Lulu...Kau hanya milik ku." Ucap Lu Han semakin mendekat kan wajah tampan nya kedepan wajah Lucia.
Dan...
Cup.
_______
Bersambung...
Hihi.
Jangan Lupa like, komen dan vote nya ya gesya! Awokawok
Lanjut ga nieh。◕‿◕。
__ADS_1