
Lucia yang dalam perjalanan ke istana awan pun, saat di tengah perjalanan nya ia tak sengaja melihat seorang anak kecil yang imut - imut berpakaian bangsawan sperti sedang tersesat di pasar ibukota.
'Tolong jangan...?!' Telepati Lucia kepada ketiganya yang masih saja cuek.
'Aish...dimana hati nurani mu Lucia?..." Sindir Rossiana jengkel.
'Hati nurani?!... Apa itu?' Ucap Lucia bingung, bukannya hati itu adalah jantung nya? Kenapa ganti nama?.
WTF.
'Sudah lah Cia, tolong saja ia...' Ucap Alex menengahi.
Lucia yang mendengar itu menhalan mendekati anak kecil imut tadi, yang sekarang sedang ketakutan setengah mati.
"Dimana rumah mu?" Tanya Lucia tanpa basa - basi.
'Siapa orang ini?' Batin anak kecil itu, hati - hati dengan wanita bercadar yang seperti penculik.
"..." Anak kecil itu memilih untuk diam dikeramaian orang berlalu lalang tanpa memperdulikan kehadiran nya.
"Tenanglah...aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku bukan orang baik tetapi aku juga tak ada niatan untuk menyakiti mu..." Ucap Lucia dingin nan cuek.
"Mana aku tahu??" Ucap anak kecil itu menentang.
"Tentu saja...kalau aku ingin menjadi kan mu tumbal, sudah kulakukan sedari tadi." Jelas Lucia memutar bola matanya malas.
Anak kecil yang imut itupun bimbang. disatu sisi ia takut diculik dengan gadis bercadar tak dikenalnya ini, tetapi di satu sisi ia juga takut kalau ia tak bisa kembali ke istana nya.
"Hm...kalau begitu buktikanlah. Cepat antar aku ke istana awan." Perintah anak kecil itu yang menuruh Lucia seperti pengawalnya.
"Berbicara lah baik - baik dengan ku dengan nada memohon mu, bukan memerintah ku. Kau pikir aku ini pengawal mu hah?...dengar aku bisa saja menjadikan mu makanan untuk spirit beast di dalam hutan sana." Sinis Lucia dengan nada dingin dan tegas nya.
Mata anak kecil itu pun mulai berair dan cemberut seperti akan segera menangis.
"Apa? Mau menangis ? Tak mau kuantar kau pulang kah?" Ucap Lucia dingin.
Huft...
'Ternyata senjata ku ini tak berfungsi dengan wanita bercadar yang dingin ini?.. baiklah, aku tidak akan melawan nya lagi daripada aku dijadikan tumbal untuk makanan spirit beast di hutan." Batin anak kecil itu memutuskan.
"Baiklah kakak, maaf kan aku." Ucap nya lalu merentang kan kedua tangan nya minta digendong.
"Mau apa? Ayo jalan." Ucap Lucia yang tidak peka dan jalan duluan.
"Aish kakak...kaki ku sudah sakut dan luka - luka seperti ini, tidak kah kau kasihan melihat ku begini.?" Ucap anak kecil itu mulai mendramatisir.
"Tidak." Balas Lucia cuek.
"Ckck...bagaimana aku bisa berjalan kakak bodoh..." Ucap anak kecil itu diakhiri ejekan.
Di dalam jubah, ketiga makhluk itu menahan tawanya agar tidak kedengaran sampai keluar sana.
' Hahaha...Cia...cia...apakah kau lupa cara berpelukan dan menggendong lagi...' Ucap Firance meledek.
'Diam kau ular bodoh, apakag kau mau kulit sisik mu itu kujadikan gorengan enak.' Ucap Lucia dengan nada tak peduli dan psycho nya.
"..." Firance pun menutup mulutnya bergidik ngeri mendengar nya, karena ia tahu bahwa Lucia tak pernah bermain - main dengan ucapan nya.
Ia pun memikirkan ucapan Firance yang benar adanya, bahwa ia lupa caranya menggendong dan berpelukan.
__ADS_1
Hm...
Ia pun mengelus dagunya dan memperhatikan seorang pria separuh baya sedang menggendong anak nya di belakang punggung nya.
Aha!!.π
Lucia pun akhirnya mengikuti cara laki - laki paruh baya itu dengan berjongkok di depan anak kecil tadi.
"Kau sedang apa?" Tanya anak kecil itu bingung.
"Naiklah." Balas Lucia cuek.
'Aish...ternyata lain dimulut lain dihati ya...' Pikir anak kecil itu
Iapun langsung naik kepunggung Lucia dengan tertatih - tatih karena kakinya masih sakit.
Saat anak kecil itu sudah naik diatas punggung nya, ia pun mulai melesat lagi dengan cepat.
Anak kecil yang baru berada di dalam gendongan nya pun bisa mencium harum bunga Lavender yang menyeruak di tubuh Lucia hanya diam saja sambil sesekali menikmati harum bunga Lavender yang membuat nya menjadi lebih tenang itu.
......
Kini Lucia sudah sampai di depan gerbang istana awan.
"Turun." Ucap Lucia.
"Tapi...bagaimana aku bisa turun kakak, kaki ku masih sakit...Tolong bawa aku kedalam ya kakak..." balas nya dengan mats puppy eyes nya.
"Cih...merepotkan." Gumam Lucia dengan suara yang kecil.
Ia pun membawa anak kecil itu masuk bersama nya, tetapi lagi - lagi penjaga gerbang istana menahan nya.
"Aku...aku Lucia, murid dari sekte sekai yang berkunjung ke sini." Balas Lucia datar.
Para penjaga yang ternyata adalah penggemar jauh Lucia itu pun langsung berbinar senang karena bertemu idolanya.
"Kau...kau Lucia yang memenangkan pertandingan 1 tahun sekali itu kan...?" Tanya penjaga istana dengan sopan, mengabaikan anak kecil yang berada di gendongan Lucia.
"Hm..." Balas Lucia cuek.
"Wow...hormat kami nona Lucia... silahkan masuk." Ucap nya dengan penuh rasa hormat, senang + sangatΒ² sopan.
"..." Tanpa menjawab kedua penjaga gerbang yang mungkin sudah gila. Menurut Lucia.
Ia pun pergi tanpa berkata - kata masuk kedalam istana awan, tempat puteri menjengkel kan itu berada.
Anak kecil yang berada di dalam gendongan Lucia sempat syok mendengar, bahwa idolanya yang menggendong nya saat ini...?
What...
Ia pun merasa sangat senang dan tersenyum - senyum sendiri.
Bisa mimpi apa ia di gendong langsung oleh seseorang yang sangat di idolakan nya itu.
Ia pun mengerat kan pelukan nya kepada Lucia yang sedang berjalan santai menggendongnya.
Sedangkan Lucia sendiri bingung, ada apa dengan anak kecil menjengkel kan ini.
"Apakah kau tidak mau turun juga.?" Ucap Lucia dengan dingin.
__ADS_1
Anak kecil itu pun menatap mata indah nan tajam Lucia dengan lekat - lekat.
Sangat Cantik.
Walaupun dibalik cadar ia pun bisa mebgetahui nya, karena bila di dekatkan cadar itu akan transparan dan kelihatan wajah orang di didalam nya.
"Ekhem...kaki ku masih sakit lah kakak, tak bisakah kau mengantar ku sampai kamar ku saja?." Minta anak kecil itu, mencari kesempatan agar Lucia lebih lama bermain dengan nya dulu.
"Tidak. Cepatlah turun, kau berat seperti babi gemuk." Ejek Lucia di kata terakhirnya.
Anak kecil itu pun menahan kesal nya kepada Lucia dan berkata semanis madu.
"Ayolah kakak, kau tega sekali...hua...hiks..." Ucap nya sambil berpura - pura menangis tanpa air mata.
"Ckckck..." Kesal Lucia dan dengan ngepot nya ia pun sudah masuk ke istana sembarangan mengacuhkan semua orang yang menatap nya seperti kesambet setan.
Anak laki - laki yang di belakang nya punmulai merasa pusing diajak ngepot oleh Lucia yang seperti banteng mengamuk.
Dengan cepat mereka berdua sudah berada di kamar yang Lucia tak ketahui dan langsung masuk begitu saja karena kesal dengan anak kecil yang mengerjainya sampai sini.
Beruntung ia adalah keluarga kerajaan ini, kalau tidak...pasti sudah dijadikan makanan para spirt beast oleh Lucia.
Lucia yang mempunya tempramen buruk langsung membanting anak kecil itu dikasur king zise kamar itu.
"Akh...aduh...kakak, tak bisakah kau pelan - pelan.?" Ucapnya kesal.
"Tidak. Sekarang kau sudah berada di kamarmu, aku pergi.!!" Ucap Lucia kesal dan langsung bergegas untuk keluar.
Tetpi terhenti oleh anak kecil yang dibantingnya memuntahkan seteguk darah.
"Uhuk...uhuk...uhuk..." Batuk anak kecil itu sambil memegang dada nya yang terasa sesak.
Lucia pun berbalik dan ia melihat anak kecil itu merasa sedikit iba dengan nya.
Haiss....
Sudahlah.
Ia pun kembali mendekat ke anak kecil itu, tak lupa mengunci pintu kamar itu.
Anak kecil itu pun terbelalak kaget dengan kelakuan Lucia, secara biasanya orang kuno, wanita dan pria tak boleh berada dalam kamar kecuali suami dan istri.
"Ka...kakak, tolong buka pintunya...na...nati bisa a-..ada yang salah paham." Ucap nya takut mencoreng nama baik dirinya sebagai pangeran kerajaan awan.
Lucia tak peduli dan terus mendekat untuk mengobati nya.
"Kakak..." Ucap anak kecil itu yang sudah memerah malu.
"Shut...diam." Ucap Lucia melihat anak kecil itu dengan tatapan mendalam dan berjongkok dihadapan nya.
βββ
Bersambung...
Hai...hai...author up nya segini dulu ya guys...terimakasih.
Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote novel ini ya...
See You...β‘β‘
__ADS_1