
Jalan ramai orang berjalan ada yang ingin bekerja dan ada yang hendak sekolah, di sana terdapat zona khusus sepeda.
Jalan khusus sepeda pun juga sama cukup ramai dengan orang sedang berolahraga itu di sebabkan hari sabtu beberapa ada yang libur.
Terlihat seorang pria berumur 24 tahun berpakaian serba hitam melaju dengan cukup cepat.
"Maaf permisi sedang terburu-buru!"
Seorang pria yang hampir tertabrak berkata dengan kesal "Hei hati hati, santai saja ini bukan jalanmu! dan juga ini hari libur!"
"Maaf... aku masuk kerja sekarang!"
"Wah serem bener itu orang!" ucap Riwan dengan nada rendah mengendarai sepeda nya.
....
Setelah perjalanan memakan waktu 5 menit dari kosnya Riwan sampai tujuan, itu ada tempat kerjanya berupa kafe yang memiliki tempat spesifik dengan pengunjung. Memarkir sepeda nya dia masuk kedalam kafe.
"Permisi!"
Alex menyapa seseorang yang mungkin ada di dalam kafe, itu ada bos di sana berusia 40 tahun menggunakan setelan hitam dengan apron hitam juga.
"Iya... bagaimana apa kau dapat kabar dari Ken?" ucap bos kepada Riwan.
Mendengar itu Riwan berjalan menghampiri nya berkata: "Mungkin dia masuk hari ini, kemarin malam dia menghubungi ku. "
"Apa begitu?"
"Benar dan juga ponsel milik nya rusak itu sebabnya dia sulit menghubungi, untuk alasan tidak masuk dia belum menjawab."
"Yasudah karena kau sudah datang aku kembali ke ruang ku dahulu, bila Ken datang suruh dia menghampiri ku!" ucap bos berbalik pergi ke ruang nya.
"Siap bos!"
Riwan pergi ke ruang ganti pekerjanya untuk mengambil apron dari dalam loker, setelah memakai nya dia ke meja mesin expresoo sambil menunggu pelanggan.
Sebelum itu Riwan menundukkan badan mengambil 1 cup mie di bawah meja nya yang sebelumnya pernah di simpan di sana, dia berniat menjadikan sarapan paginya.
Menyeduhnya Riwan menunggu 1 menit agar matang dan menikmati nya, tak lama berselang seorang berpakaian serba hitam muncul dari pintu.
Riwan melihat dan menyapa nya: "Hei ternyata benar kau akan datang!"
"Aku minta maaf bolos kemarin!"
"Hei jangan minta maaf ke pada ku tanya pada bos sana!"
"Iya baiklah aku paham!"
__ADS_1
Ken berjalan ke kantor ruangan bos tempat berkerja nya, setelah sampai dia menjumpai bos sedang duduk membaca koran di tempat duduk nya.
Pria itu menyadari Ken sudah datang dengan senang menyambutnya "Oh! nak Ken kau sudah masuk? dan aku ingin bertanya kenapa kemarin tidak ada kabar?"
Dengan wajah sedih Ken hanya bisa meminta maaf atas perbuatan nya "Maaf membuat khawatir bos!"
Melihat Ken sedih pria itu tahu Ken sudah menyesalinya berkata: "Ini hanya percakapan kita kau boleh memanggil ku paman, itu karena ayah mu dan aku sudah saling kenal!"
Wajah Ken membaik berkata: "Baik lah paman, maaf membuat khawatir!"
"Kalau begitu jelaskan kenapa tidak ada kabar kemarin?"
"Akan ku jelaskan Kemarin ponsel ku rusak karena terjatuh ke dalam selokan, itu membuat nya konslet tidak dapat di nyalahkan! itu sebabnya aku harus memperbaiki nya ke tempat perbaikan!"
Ken memberi menjelaskan hal itu karena dia tidak mau kenalan teman dekat ayah celaka karena nya. Namun pria itu tahu Ken berbohong dia sudah mengenal nya selama 20 tahun sejak masih Ken berumur 5 tahun, semenjak ayah Ken tiada karena kecelakaan.
Pria itu merasa Ken menyembunyikan sesuatu yang besar namun tidak bisa di cerita kan oleh nya, jadi dia tidak melanjutkan interogasi nya dan memilih membiarkan Ken menjelaskan sendiri masalah nya.
"Baiklah aku paham, kau bisa melanjutkan pekerjaan mu di sana membantu Riwan dia datang telat mungkin belum sarapan dan kau juga begitu kan?"
"Baiklah bos aku pergi dulu!"
Bos menjawab dengan senyuman berkata : "Iya selamat bekerja Ken"
Ken berjalan ke pintu keluar ruang dan menuju tempat barista kopi sambil memakai apron yang di bawanya. Dia mendatangi Riwan yang masih menyeruput cup mie nya.
"Iya aku tahu itu, tetapi sudah kusiapkan untuk mu juga ini"
Riwan menyodorkan cup mie nya yang masih baru kepada Ken, dia tahu nanti Ken akan mengomentari tentang pola makan nya.
Dengan senang Ken mengambil dan memakan nya.
...
Tak terasa 10 menit berselang di sana mulai beberapa pelanggan berdatangan dari yang tua hingga muda, suasana nyaman tenang di cafe membuat Ken menikmati nya karena hal gila yang di hadapi 2 hari terakhir nya.
"Permisi, pak aku pesan kopi yang biasa!"
Tiba tiba ada sebuah suara yang Ken merasa itu familiar dan pernah di dengar. Mengetahui hal itu Ken berbalik memperhatikan pelanggan tersebut, setelah berbalik dan melihat ternyata benar itu orang yang di kenal Ken.
Pria itu berpenampilan rapi memiliki rambut pirang berponi, di lehernya ada name tag tertulis Alex Murphy.
Mengetahui Ken tampak memperhatikan Alex, Riwan menepuk punggung Ken bertanya: "Hei ada apa dengan pelanggan itu?"
"Bu - bukan apa apa!"
~Hahaha
__ADS_1
Riwan tertawa mengejek Ken yang terbata berkata: "Tidak mungkin bukan apa apa, kau mengenal nya kan?"
Ken berkeringat dingin merasa tidak mungkin Riwan tahu masalah 2 hari terakhir nya, tetapi kalau itu dia mungkin saja karena Riwan bahkan bila dia niat bisa saja mengumpulkan informasi terbilang sulit, seperti kejadian terakhir sekolah menengah pertama dia pernah di tegur para guru karena ketahuan memiliki kunci jawaban dan menjualnya kepada murid lain.
"Benar dia adalah pelanggan yang sering berkunjung, namanya kalau tidak salah Alex Murphy dia salah satu agen polisi di bidang Investigator sup - tidak lupakan dia pengunjung yang setia!"
Mendengar nya Ken awalnya mulai yakin dia tahu tetapi ternyata tidak, Ken seperti itu karena banyak bukti yang mengarah dia tahu kejadian 2 harinya seperti saat bertanya tentang anastasia poem dia tidak menanyakan apa dan memberikan begitu saja, itu hampir tidak seperti nya yang biasa.
~Menghela
Ken bernafas lega dalam hatinya, namun saat Riwan berbalik pergi menghampiri pelanggan untuk layanan ken teringat kata katanya sebelum nya.
"Dia polisi bekerja di bidang investigator sup - tidak lupakan," itu yang teringat pada benaknya. Dia mulai sedikit menegang ingin menanyakan sesuatu pada Riwan, dan menunggu waktu yang pas untuk bertanya padanya apa dia tahu sesuatu tentang kejadian 2 hari terakhir yang di alami, Ken merasa yakin karena semua bukti hampir jelas.
Tak butuh waktu lama Riwan menghampiri Ken dia hendak memberi pesanan pelanggan, mendapati itu Ken bertanya namun dengan beberapa teka teki yang hanya bisa di mengerti oleh Ken dan Riwan.
"Ken! pelanggan memesan 1 expreso!"
Kemudian Ken langsung bertanya "Killer street murder dan goa labirin!"
Mendengar itu Riwan sedikit kaget dia merasa apa yang di pikiran Ken apa dia gila?
"Hei apa maksud mu?" ucap Riwan dengan bingung keadaan nya.
Ken seketika mengeceknya apa dia berbohong atau menyembunyikan sesuatu, Ken menggunakan mata tembus pandang untuk melihat kondisi jantung. Dia pernah membaca di sebuah situs billa orang berbohong denyut jantung menjadi lebih cepat.
Namun yang di lihat Ken tidak ada tanda apa pun keadaan jantung nya masih normal tampa meninggi karena menyembunyikan sesuatu.
"Tidak bukan apa apa, ekspesoo 1 kan?"
"Ya cepat lah, bila ingin bicara tentang informasi tertentu ini buka tempat yang tepat! bodoh!" ucap Riwan mengejek Ken dengan isyarat.
...
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa matahari mulai tenggelam, Ken tidak mendapat apapun tentang notifikasi dari ponsel, mereka berdua juga sudah ingin ganti jam Shift dengan pegawai lain.
Membereskan barang kemudian Pulang Ken dan Riwan berjalan bersama karena jalan tujuan nya 1 arah, juga urusan pagi tadi tentang informasi belum selesai.
Ken bertanya sambil berjalan kepada Riwan yang mendorong sepedanya: "Hei! apa si pelanggan alex itu dari polisi supranatural?"
"Oh! bagaimana kau tahu?" ucap Riwan dengan bingung kenapa Ken tahu informasi rahasia tampa dia ceritakan.
Ken tidak bisa memberi jawaban pernah bertemu dengan nya saat dalam misi berbahaya, tetapi Ken ingat pernah melihat sesuatu dari name tag organisasi nya yang sama berkata : "Oh itu aku tahu karena pernah berpapasan dengan nya dan melihat ada yang aneh di name tag nya!"
"Apa begitu?" ucap Riwan dan didalam kepala nya dia berfikir memang name tag mereka memiliki beberapa kata supranatural, seharusnya cukup menjelaskan bagaimana Ken tahu.
Mereka berdua berjalan bersama mengobrol santai hingga matahari tenggelam, sampai di persimpangan berbeda memutuskan berpisah karena jalan mereka mulai berbeda dari situ.
__ADS_1