Tolong Jangan Takut

Tolong Jangan Takut
Teman


__ADS_3

"Akhirnya kalian datang, jadi kalian bisa membantu ku?"


Ken melihat nya dan sekitar rumah, dia mengaktifkan Six sense to see secara diam-diam memperhatikan ruang sekitar nya, lalu Riwan mengambil garam di dalam tasnya, dan Mathew seperti mengeluarkan sebuah papan di dalam tas besar yang dia bawa.


"Oke sekarang kita mulai permainan Papan ouija nya!"


Mendengar hal itu Ken, Riwan dan Alan mengarahkan pandangan mereka pada Mathew, mereka melihat Mathew dengan tatapan terkejut.


Ken angkat bicara bertanya kepada Mathew dia bingung sejak kapan teman nya memliki benda seperti itu: "Mathew, sejak kapan kau memiliki benda itu dan dari mana mendapatkan nya, itu aneh seharusnya papan ini sudah hilang 15 tahun lalu."


"Oh kau tidak tahu, ini bisa di dapatkan bila memiliki sertifikat izin dari pihak berwenang tetapi aku mendapatkan nya secara ilegal, dan tambahan papan ini tidak hilang hanya sudah tidak ada yang tahu saja!"


"Lalu kau mendapatkan dari mana?" Ucap Alan ikut dalam pembicaraan, dan dia juga penasaran papan dari mana asalnya, karena dia juga pernah mencoba menggunakan koneksi keluarga nya masih sulit mendapatkan 1 papan tersebut.


"Aku paham rasa penasaran kalian, benda ini kudapat dari web site hitam ada anggota yang menjual nya dengan harga tinggi, hal itu membuat tabungan ku hilang seketika!"


"Oh ternyata begitu, tetapi aku sudah mencari nya tidak ada kenapa sekarang ada?" Ucap Alan dia sudah pernah mencari web atau situs penjualan benda ghaib atau yang berhubungan.


"Kau mencari nya kapan?"


"1 tahun lalu"


~Menghela nafas.


Mathew menghela nafas, kemudian sedikit menjelaskan web tersebut: "Web ini baru 1 bulan lalu terbentuk kau tahu!"


~Ding Dong.


Sebuah bell berbunyi menggema dari rumah nya, dia segera melihat apa mungkin pesanan online nya sudah datang, dia berjalan meninggalkan ruang tamu menuju pintu keluar rumah nya.


Membuka pintu dia bukan melihat tukang antar pesan dari balik pagar rumah nya, tetapi seorang pria botak berpakaian penyelidikan rapi dengan sebuah name tag yang terlihat di lehernya bila dari dekat bertanya kepada Alan : "Apa kau tuan Alan yang menelpon polisi pagi tadi, bila iya aku orang yang di utus dari pusat untuk membantu mu mohon pengertiannya. "


"Ah maaf sebelumnya perkenalkan nama ku Watson, aku di utus dari pusat divisi bisa kita mulai penyelidikan nya?"

__ADS_1


Alan mendekati nya hendak menyambut nya, serta membukakan gerbang menuntun ke arah ruang tamu.


"Ayo silakan!"


Pria itu dengan senyuman profesional, mengikuti Alan dari belakang nya yang menunjukkan ruang tamu.


Sembari mengikuti jalan yang di tunjukkan Alan, Watson melihat kondisi rumah yang agak berantakan namun tidak bertanya kepada Alan.


Setelah perjalanan sebentar mereka sampai di ruang tamu, dia melihat sekitar ke 3 anak tersebut , juga melihat beberapa barang di meja sekantung garam, papan oija dan 1 buah buku.


Melihat nya beberapa saat dia menghampiri Papan oija yang di meja, bingung kenapa ada benda ini dia ingat perkataan organisasi bahwa benda itu seharusnya sudah di sita dan hanya bisa memiliki nya bila memiliki izin Khusus. "Nak aku ingin bertanya siapa yang memiliki papan ini!"


Mathew mengacungkan tangannya mengaku itu milik nya : "Ah pak itu saya!"


Mendengar Jawaban tersebut Watson bertanya kembali: "Apa kah kamu punya izin khusus?"


"... "


Mathew hanya bisa terdiam dengan perkataan nya, sedangkan Ken masih sibuk melihat sekitar dari tempat dia duduk, sedangkan Alan dan Riwan hanya melihat mereka berbincang.


Watson mengambil papan berdiri, kemudian berjalan meninggal tempat, meninggalkan tempat nya. Sedangkan Mathew sedih melihat hasil tabung nya hilang begitu saja, karena dia paham membuat izin khusus itu sangat sulit, tepat saat sedih sebuah tangan menepuk punggung nya berkata: "Jangan sedih kawan ku, masa depan mu masih jauh!"


Itu adalah Riwan yang menghibur nya dengan kata kata konyol yang sering di gunakan oleh Mathew sendiri.


Watson bangun dan pergi dengan cepat dia di berhenti kan oleh Alan pemilik rumah serta korban yang melapor. "Tunggu pak kasus nya belum selesai!"


Dengan heran Watson bertanya : Belum selesai? bukan kah sudah jelas, kalian bermain papan oija setelah itu di ganggu,


"Tapi pak!"


Dengan kesal melihat Alan masih kukuh dengan anggapan nya, dia sudah melihat hal yang sama berkali-kali dan menebak bahwa sekarang juga sama seperti yang lain: "jangan menipu ku dengan alasan itu, banyak orang yang bermain permainan yang serupa! jangan mengganggu ku lagi banyak tugas yang harus di selsai kan saat ini!"


Watson pergi meninggalkan ruang tamu menuju keluar tampa di antar, serta pergi dari rumah Alan.

__ADS_1


Alan yang terlihat marah merasakan ingin menghajar ya, namun sebuah tepukan dari punggung dan sebuah suara menenangkan nya.


Itu berasal dari Ken yang tampa sengaja melihat masalah nya dan dia tampa sengaja mengaktifkan Six sense to see melihat perubahan pada jantung Alan yang berdetak kencang.


"Sudah jangan marah aku sudah paham, dan menemukan cara menyelesaikan nya, apa kalian mau dengar?"


"Tentu," ucap Alan dengan senang dia tidak sia sia menelpon teman baiknya yang membantu saat kesulitan yang bahkan keluarga kayanya belum tentu bisa membantu.


Ken menjelaskan apa yang di pikiran nya. "Siram aja garam keseluruhan rumah dan selesai!"


Dengan bingung mereka serempak berkata : "Eh gitu doang, dan juga dimana kau tahu itu!"


Ken sudah berpikir sebelum nya dia tidak bisa memberi tahu yang sebenarnya, Ken takut teman karibnya terluka karena hal yang dilakukan, Ken memilih berbohong. "Itu aku tahu dari situs Web, kalian tahu bukan garam katanya ampuh menghalau mahluk supranatural!"


"... "


Terdiam beberapa saat ke 3 teman nya berfikir mungkin itu masuk akal, Riwan juga ingat di buku yang di temukan nya tertulis demikian. "kau benar Ken ayo sebarkan garam!"


Mereka berempat secara menyeluruh menyirami rumah dengan garam yang di miliki Alan di gudang rumah nya.


...


Beberapa lama kemudian jam sudah menunjukkan pukul 13.00 mereka sudah cukup lama di rumah Alan dari mulai pagi jam 09.00 hingga sekarang, mereka memutuskan untuk berpamitan dan pulang, Mathew dan Riwan diantar sedangkan Ken dia memilih lewat angkutan.


Tepat di depan rumah Alan Ken berdiri diam, dan memastikan tidak ada orang di sekelilingnya itu karena Ken sudah melihat temannya sudah memasuki mobil Alan berangkat pulang.


~Menghela nafas.


"Hei aku tahu kau disana jangan sembunyi lagi!"


"Hiks"


Sebuah suara terdengar Ken mengarahkan penglihatan nya di balik bayangan tempat sampah, dia melihat boneka berwujud gadis kecil berambut pirang panjang memakai baju lolita hitam, sosok bentuk boneka nya sangat mirip dengan manusia namum itu lebih kecil, boneka itu berdiri bersembunyi dari Ken dengan tatapan mau menangis.

__ADS_1


"Hua.. Padahal aku hanya ingin bermain saja dengan orang itu kenapa malah muncul monster seram, Hua.. Aku tidak mau main lagi tolong maafkan aku!" Boneka itu berbicara dan berekspresi seperti manusia sungguhan, namun dilihat dari ukuran kecilnya orang akan tahu itu bukan manusia.


__ADS_2