
Di sore yang cerah berawan tampak pria berambut abu abu sedang menyiapkan sesuatu, dia mengobrak abrik isi kamar nya. Sepertinya mencari sesuatu yang penting.
"Nak Riwan! apa kau benar menaruh nya di sana? yang ku ingat kau membuang." Ucap manifestasi suara pria.
"Pak tua... Kau tahu apa? Aku ingat tidak pernah membuangnya!" Jawab Riwan.
"Kalau begitu benda tersebut pasti mudah di temukan dari tadi!" Kata suara tersebut.
Setelah 2 jam Riwan melakukan itu dia duduk di atas kasur nya, dia juga tampak memegang sebuah kotak kayu. Tak lama dia langsung membuka kotak tersebut, itu berisi sebuah belati dari kayu berwarna hitam Dan juga berisi sebuah pisau lipat kecil berwarna putih.
"Sekarang sudah siap... ayo pak tua!"
Riwan pergi keluar Kosnya dia tampak mengambil tas selempang, dari sana terdengar beberapa suara kaca berbenturan, Dia juga berjalan juga membawa 1 ember kosong di tangan lainnya.
Dia berjalan ke menunju sebuah bangunan tua terbengkalai. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Kos yang di sewa olehnya. Masuk Kedalam bangunan dia kembali berjalan menuju sebuah basement yang letaknya di bagian belakang bangunan tersebut.
Menuruni tangga Basement Riwan menuju sebuah lubang yang dari keliatan sepertinya itu lubang sawer, melemparkan barang yang di tangannya dia menuruni tangga sawer.
Begitu sampai di bawah tampak ruangan gorong gorong basah dan berbau menyengat, di tengah tempat tersebut terdapat sebuah aliran air keruh membawa banyak sampah, karena hal tersebut dia segera mengeluarkan gas mask dari tasnya kemudian memakai nya.
Dia kembali berjalan mengarah ke kanan dari tempat dia berdiri, tujuan tempat cukup jauh dia melakukan itu untuk mengecoh bila nanti perbuatan nya di ketahuan.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya dia sampai di sebuah tempat yang letaknya di gorong gorong Sawer, tampak sebuah lubang besar yang terlihat sengaja di buat dan lubang tersebut kelihatan membentuk sebuah ruangan.
Tampa basa basi dia memasuki ruangan, yang di sekitar tampak banyak tersusun dengan rapi di atas meja botol kaca flask berisi tikus dan beberapa Bangkai hewan mati yang terendam di sebuah cairan pengawet.
"Mau di lihat bagaimana pun... orang bisa salah paham melihat ini!" Ucap Riwan.
"Benar! pastinya akan salah, kau bisa saja di kira ilmuan gila atau psikopat serial killer." Jawab pak tua.
"Yah... mau bagaimana lagi! aku harus melakukan ini semua untuk buku ke tiga. Aku benar-benar tidak menyangka buku tersebut ada di markas departemen khusus, tepatnya di ruang brankas rahasia!"
__ADS_1
"Yang lebih menyebalkan untuk memasuki nya butuh izin khusus. Dan aku tidak bisa asal retas kemudian masuk."
Riwan mengeluarkan pisau lipatnya kemudian memotong arteri di tangan nya, darah segar mengalir tetapi sebelum nya dia menaruh ember kecil kosong tersebut untuk menampung darah nya.
Segera setelah beberapa detik dia meminum sebotol cairan hijau yang ada di tas selempang nya, seketika luka di tangan pulih dengan cepat.
Riwan mengangkat ember berisi darah nya kemudian dia menuangkan darah tersebut ke penampungan lain yang lebih besar, penampungan tersebut rupanya di sana terdapat lebih banyak darah dan juga terdapat beberapa potongan bangkai hewan.
"Sepertinya sudah cukup!"
Mengangkat tangan nya di atas penampungan Riwan tampak melafalkan sebuah kata yang terdengar aneh di telinga.
Seketika setelah melafalkan kata tersebut darah dan daging bangkai hewan di sana menyatu menggeliat, secara perlahan merambat keluar melapisi ruangan tersebut dengan darah yang telah menjadi satu dengan daging Bangkai.
Beberapa botol flash dan penampungan berisi bangkai tikus yang di rendam pengawet juga di lapisi Oleh daging tersebut.
Tak lama setelah beberapa saat seluruh ruangan tersebut telah di lapisi dengan tembok daging, di sana daging tersebut juga masih menggeliat seakan hidup.
"Akhirnya... jadi juga! Belly of the beast laboratory walaupun terlihat sangat menjijikkan! ini demi rencana ku, membuat 1000 chimara tikus!"
dia segera mengambil sarung tangan karet dari tas nya kemudian memakai nya, setelah itu mengambil beberapa sampah secara acak yang sedang mengambang di saluran Sawer.
"Menggunakan bahan ini seharusnya tidak apa... lagi pula semuanya tidak akan berguna!"
"Nak... kamu memang cukup gila! sengaja mengumpulkan darah mu beberapa hari lalu dan bangkai hewan acak dan tikus mati di setiap tempat sampah, kemudian mengawetkan nya."
"Memang menggunakan pengorbanan manusia akan membuat waktu pembuatan Belly of the beast Laboratory lebih cepat. Tapi aku bukan orang gila yang melakukan hal itu kau paham pak tua?"
Iya.. Aku paham itu sebab nya, aku memilih mu sebagai penerus dan juga asal memasukkan bahan bakar begitu untuk mempercepat proses pembuatan ku pikir cukup sembrono."
"Tidak masalah lagi pula Belly of the beast laboratory tidak akan menderita sakit perut!" Ucap Riwan dia bolak balik mengambil sampah dengan ember.
__ADS_1
Setelah bolak balik beberapa kali mengambil sampah secara acak, Laboratory tiba-tiba mengalami gangguan. Laboratory bergerak gerak seperti membuat sesuatu, Riwan melihat itu terkejut.
Dengan cepat segera menyentuh lantai berdaging Laboratory, dia melakukan hal untuk mengontrol nya karena takut akan terjadi hal buruk kalau misal kabur membiarkan nya begitu saja.
"Nak... Sudah ku bilang apa! kau memasukan apapun kedalam tempat itu dan sekarang aku tidak mengerti apa yang terjadi!" Ucap suara dari kepalanya.
"Ini kan spell mu... Kenapa tidak tahu apapun, dasar pak tua cerewet!"
"Itu karena jiwa ku tidak sempurna sehingga ingatan ku masih belum kembali sebelum buku ke 3 di dapat kan!"
"Sial... Kau memang pak tua tidak berguna!"
Riwan terus berusaha mengontrol Laboratory tersebut, namun itu tidak cukup secara tiba-tiba tentakel gurita, sayap berwarna hitam, kaki Laba-laba, dan banyak anggota gerak tubuh jenis jenis hewan keluar dari penampungan tersebut.
Di sisi itu Energi berwarna merah berembus keluar membuat Laboratory lebih kacau dari sebelumnya, tembok ber daging menggeliat secara besar-besaran.
"Ini... Energi Underworld! kenapa bisa ada di tempat seperti ini? sialan kacau aku tidak akan bisa menangani nya." Ucap Riwan.
Secara tiba-tiba Laboratory menyerang Riwan sehingga dia terhimpit tidak dapat menggerakkan tubuh nya.
"Sial! benda ini sudah lebih di luar kendali ku! apa yang terjadi?"
Penampungan tepat di depan nya yang berisi bebagai anggota gerak hewan perlahan menyerap daging laboratory, hal tersebut membuat Riwan bebas dia segera kabur dari tempat tersebut.
Namun belum menjauh dia di tangkap oleh tentakel membuat nya tidak dapat kabur. Riwan berkeringat dingin melihat hal tersebut, dia merasa akan mati sebentar lagi.
"Sial... niat ku baik, tapi sepertinya takdir berkata lain! kawan kawan mungkin aku akan mati duluan maaf!"
Riwan benar benar ketakutan setengah mati, dia juga sudah menyebut beberapa kata terakhir dalam hidup nya.
"Apa... Kau.... Yang... menciptakan aku?"
__ADS_1
Sebuah suara terdistribusi keluar dari benda yang Riwan kira akan menjadi akhirnya, Riwan yang mendengar hal tersebut lebih terkejut.
Karena hal yang tidak sengaja dia buat memiliki kecerdasan hingga dapat menggunakan bahasa manusia walaupun terdengar tidak lancar, seperti sedang menyesuaikan bahasa yang dia gunakan dan hendak berkomunikasi dengan nya.