Tolong Jangan Takut

Tolong Jangan Takut
Rain heart


__ADS_3

Berjalan di jalan setapak Rain melihat sekitar yang menampakkan hutan rimbun namun di sisi lain bukan, pepohonan mati dengan kayu hitam bila di perhatian dengan jelas akan tampak getah berwarna merah, bila menengok ke langit akan terlihat berwarna merah senja. "Ini hutan jenis apa?"


Bertanya tanya kepada diri sendiri Rain masih terus melanjutkan langkah nya di dalam lucid dream, yang seakan tampa akhir.


"Sebenarnya kapan aku akan di bangun kan, seharusnya ada seseorang yang lihat, seingat ku sepertinya tertidur di depan pintu masuk toko."


"Kalo saja aku bisa bangun sendiri pasti lebih bagus!"


Rain berjalan begitu lama, hal itu membuat suasana hatinya mulai kesal bosan bertumpuk, memutuskan berhenti dan menggunakan sebuah batang pohon sebagai sandaran tangan. "Sial hanya berjalan jalan begini saja membuat ku kesal!"


"Tunggu ini ada yang aneh!"


Merasa ada yang salah dengan lucid dream nya Rain bersiaga untuk bila ada sesuatu yang aneh menyerang. "Di lucid dream ku sebelum selalu ada mahluk entah apaan di sekitar begitu aku tiba, tetapi kesunyian ini sungguh membuat ku merasa tidak enak. "


~Sruk.


~Step.


Sebuah suara seperti ada yang jalan di antara dedaunan mulai terdengar saat Rain bersiaga, perlahan namun pasti suara kian mendekati Rain, keringat dingin membasahi kening nya Rain mempercepat jalan dia merasa seperti nya Sesosok itu mengetahui keberadaan telah ketahuan.


Dalam pikiran Rain dia mulai berpikir bertanya tanya, apa itu hewan tetapi tidak mungkin ada hewan di hutan kering ini, lalu apa itu monster seperti lucid dream yang dia lalui sebelum nya tetapi tidak mungkin begitu cerdas mengintai dari hal yang dia lalui semua mahluk tersebut langsung muncul dan menyerang, bila begitu hal yang dia lalui kali ini menjadi lebih bahaya.


Rain tahu bila di dalam mimpi seseorang tidak akan merasakan sakit bila terluka, namun berbeda dengan keadaan nya bila terluka itu akan terasa sakit, Rain tahu karena pernah melaluinya dan hal yang lebih merugikan dia terluka secara fatal namun itu tidak membangun kan tidurnya, hanya terus merasakan luka yang sama di dalam mimpi.


Oleh karena sejak kejadian itu Rain memutuskan, bila bertemu sesuatu yang tidak masuk akal dia akan berlari mencari tempat sembunyi.


"Sial sepertinya mahluk lebih berbahaya akan muncul!"


Dari Rain yang sebelumnya mempercepat jalan menjadi lari kecil, kemudian berlari sekuat tenaga, suara rerumputan gemerisik semakin dekat dengan nya. "Benar aja itu ada yang mengikuti ku dari tadi!"


...


Terengah-engah Rain berlari hampir kehabisan nafas, namun suara tersebut masih terus mengikuti seakan sengaja mempermainkan Rain tampa menampakkan wujud nya.


"Aku... sudah berlari... selama ini namun sepertinya mahluk.... itu mempermainkan ku... dengan sengaja!" Ucap Rain berlari, terseok-seok kehabisan nafas.

__ADS_1


Berlari tampa arah seakan di kejar sesuatu, tidak menyangka sebuah dinding besar terbuat dari sebuah batu muncul dihadapan, di saat bersamaan sebuah kabut putih memenuhi sekeliling nya. "Sial ini kenapa ada tembok batu! dan lagi dari mana kabut ini muncul!"


Rain terpojok di sana menyandarkan tubuh nya pada dinding, mendengar suara langkah kian mendekat dengan suara nafas mengerikan, melihat ke depannya siluet besar tertutup kabut putih bentuk humanoid yang tidak lazim, lengan panjang dengan cakar, tubuh agak berbulu, kepala yang seperti rusa jantan namun bukan.


Di saat ini paru paru, jantung, nadi, serta keringat dingin Rain di pacu habis habisan seakan meledak, melihat hal itu memang bukan pertama kali Rain namun berbeda dengan yang ini, kesan begitu nyata membuat itu tidak biasa.


Kabut di sekitar mahluk itu mulai menghilang memperjelas wujudnya yang besar, Kesan teror di kepala Rain mulai menggila. "A - apa apaan itu!"


Dia ingin berbicara namun mulutnya tidak bisa bicara, dia ingin kabur namun kakinya tidak berhenti bergetar, saat ini Rain dalam keputusasaan.


Mahluk itu mendekat kan kepalanya kepada Rain, hal tersebut membuat Rain benar-benar takut namun tidak bisa melakukan apapun, mata kuning yang terlihat mengintimidasi pergerakan Rain membuat nya seperti membeku.


Berusaha dengan keras menggerakkan tubuh nya yang tidak bisa bergerak, Rain mencoba sekuat mungkin untuk bergerak kabur dari mahluk tersebut. 'Ayo bergerak bergerak!'


...


Hingga usahanya membuahkan hasil dia bisa menggerakkan tangan, Dengan tangan yang akhirnya dia bisa gerakan Rain langsung memukul salah satu dari 2 mata mahluk itu dengan keras, hal tersebut membuat Mahluk itu marah dengan Rain.


Rain tahu itu akan membuat nya marah namun saat ini hanya itu yang bisa di lakukan, walaupun nantinya dia mungkin akan merasakan sakit yang lama karena hal tersebut.


~Crunch!


...


Terbangun mengambil nafas begitu berat dengan wajah penuh keringat dingin seperti bermimpi buruk, Rain mendapati telah keluar dari mimpi tersebut. "Aku telah bangun?"


"Hiks!"


Rain mendengar suara tangis yang familiar segera mencari melihat adiknya membungkuk menutup wajah sambil memegangi tangan Rain menangis di samping nya, melihat dengan bingung kenapa adiknya di sini Rain bertanya tanya dalam pikiran.


"Akhirnya kau bangun!"


"Ku kira kau mati!"


Mendengar 2 suara pria yang familiar Rain melihat itu adalah 2 temannya, yaitu Ken dan Alan duduk agak jauh dari tempat Rain berada.

__ADS_1


Rain tampak bingung apa yang terjadi, melihat sekitar itu bukan rumah apalagi kamar nya. "Ini di mana?"


Menyadari Rain sudah sadar dengan cepat Risa langsung memeluknya dengan sambil menangis. "Hiks! kakak aku minta maaf membangun mu dengan kasar, dan janji tidak akan lagi!"


Semakin bingung apa yang terjadi Rain bertanya kepada 2 teman nya tersebut. "Hei kawan bisa jelaskan apa yang terjadi?"


"Ah karena kau sadar aku mau keluar dahulu, untuk hal penting! dan Ken kau yang jelaskan situasi nya!" Ucap Alan bangun dari tempat duduk menuju pintu keluar ruang rawat.


Mendengar itu Ken menjelaskan situasi nya saat ini. "Aku tidak begitu paham tapi dari penjelasan adik mu, dia di telpon oleh bos perpustakaan bahwa Rain pingsan di depan pintu kemudian kejang kejang, jadi adik mu izin sekolah tiba tiba dan kemudian menelpon kami yang saat ini bisa di panggil datang."


"Setelah kami datang di rumah sakit yang di maksud, Alan bertanya kepada dokter yang memeriksa katanya kau cuma kejang saja, tetapi saat kami ke kamar mu kau mulai teriak tidak jelas dan berkeringat dingin! paham!" Ucap Ken menjelaskan situasi yang dia pahami saat ini kepada Rain yang terlihat bingung bagaimana bisa ada berakhir di rumah sakit.


"Lalu Alan kemana?" Ucap Rain bertanya kepada Ken.


"Alan keluar karena kau sudah bangun dia mengurus administrasi mu, lalu kau tenang kan dulu adikmu yang brocon sana!" Ucap Ken berdiri dari tempat nya keluar dari kamar tersebut.


Mengelus kepala Risa berniat menenangkan perasaan nya Rain berkata. "Risa soal pagi tadi ini bukan salah mu, ini salah ku karena tidak bisa bangun."


Dengan Jawaban tersedu sedu Risa menjawab. "Hiks.. Berarti aku boleh Hiks... menghajar mu kalau tidak bisa bangun?"


"Ya gak gitu juga!"


"Hiks!"


Melihat Tatapan melas Risa, Rain merasa bersalah berkata. "Ugh, boleh namun jangan sering."


"Benarkah?" Ucap Risa dengan mata berbintang.


Melihat Risa sudah mulai mereda kan tangisannya Rain senang berkata. "Iya dan maaf karena membuat mu izin sekolah!"


"Hmm tidak apa!"


"Hehehe!"


"Hahaha!"

__ADS_1


Keduanya tertawa dan berbincang di dalam kamar rumah sakit bagai 2 saudara dekat yang sudah berbaikan karena menyelesaikan ombak kehidupan bersama.


__ADS_2