Tolong Jangan Takut

Tolong Jangan Takut
Riwan aryan


__ADS_3

Pagi menerka cahaya menembus jendela memberi penerangan kamar bercat oren dengan furnitur biasa, dekorasi papan besar yang memiliki banyak kertas yang menempel dan sebuah tali merah mengait pada paku yang menancap kan kertas tersebut.


Seorang pria berambut putih abu duduk di depan komputer nya, dia terlihat serius dengan hal yang di lakukan. "Eh? aku berhasil?" dengan terkejut dan bingung.


Riwan menatap layar monitor terpampang data berkas, dan arsip dalam bentuk digital yang begitu banyak.


"Sepertinya iya aku berhasil mencari informasi tentang kejadian 15 tahun lalu, sangat menyulitkan membobol data base satu ini, butuh waktu benar benar lama!"


Dengan senyuman santai merenggang kan tangan, " Yah itu sepadan!"


~Ting!


Sebuah nada dering berbunyi dari asalnya itu berasal dari sebuah ponsel di tempat tidur dibelakang, pria itu melirik kearah ponsel melihat 1 panggilan telepon dari seseorang.


Mengambil nya membaca itu tertulis nomor xxxxx dengan tertera nama Alan Rivan, kebingungan dengan nomor tersebut dia segera mengangkatnya, " Halo... Ada apa kenapa menelpon ku, tumben. "


"Ri... Riwan Bisa tolong aku?" Sebuah suara dengan gemetar ketakutan terdengar dari sana.


Terkejut serta cemas bercampur setelah mendengar suara tersebut Riwan berkata: "Hey! Ada apa? kenapa suara mu gemetar itu tidak biasa Alan kau baik baik saja disana?"


"Ada... Seseorang yang menginginkan nyawa ku!" Dengan gemetar berusaha menjelaskan situasi nya namun itu masih sulit dengan keadaan nya.


Riwan mendadak sedikit tidak percaya, dia berpikir komplek rumah nya seharusnya sangat aman mulai sedikit meragukan perkataan Alan, "Kau bercanda? apa ini prank mu?"


"Aku serius!" Dengan cemas gemetar bercampur menegaskan gagasannya yang di ragukan.


Dari perkataan itu Alan beransumsi dia tidak berbohong pada keadaan nya segera menyarankan sebuah nomor, "Hei kau masih di sana? bila iya tunggu aku, dan coba telpon polisi! kau masih menyimpan nya kan?"


"Iya sudah di telpon, polisi berkata sedang memproses dan dalam perjalanan, namun hingga sekarang tidak kabar ada yang terjadi!" Suara Alan yang ketakutan sedikit berkurang dari sebelumnya.


"Kalau begitu bisa cerita kan kejadian yang sebelumnya? dan sekalian bagaimana ciri dari orang yang mengincar?"


"Kemarin malam, tiba tiba ponsel ku berbunyi seseorang menelpon menggunakan nomor yang tidak ku kenal, saat ku jawaban yang ku dapat. Aku adalah mary san dan akan mengunjungi mu. Setelah itu menutup telpon nya.'' Alan menjelaskan situasi sebelum dia di teror kepada Riwan dari awal hingga akhir.


....


"Baiklah aku akan ke rumah mu, ngomong ngomong selain aku apa kau menelpon yang lain, seperti Ken dan mathew atau lainnya? "


Mendengar pertanyaan itu Alan menjawab : "Iya aku menelpon Ken dan mathew namun yang lain tidak ada jawab sepertinya diluar kota tidak ada sambungan sinyal. "


"Baiklah mohon tunggu! aku akan tutup telpon dahulu untuk bersiap ke rumah mu." Menutup telpon Riwan bersiap pergi meninggalkan kamar kosnya, dia mengambil jaket hitam memakai nya.

__ADS_1


Setelah itu Riwan membuka lemari bajunya mengambil sebuah bambu panjang 1 lengan lebar segenggam tangan nya, tidak lupa mengambil sebuah buku tebal yang terlihat tua di sana, tidak lupa mengambil 1 kantung garam sebanyak 200 gram di dalam lemari bajunya. Riwan menyimpan nya di sana karena merasakan tidak ada tempat lain lagi yang bisa di gunakan untuk menyimpan barang.


Riwan keluar memakai tas backpack dengan sebuah bambu kuning di pegang nya, mengunci pintu kamar kos bersiap berangkat. Karena tempat kos dan jalan raya dekat dia bisa berjalan dari sana, Riwan walaupun memiliki sepeda namun dia memilih menggunakan taksi karena tempat tujuan nya yang cukup sangat jauh tidak mungkin dia bersepeda dari sana.


....


Menunggu cukup lama sebuah taksi terlihat dari jauh Riwan memberhentikan nya, membuka mobil kemudian masuk. "Pak tolong tujuan jalan komplek karang laut, untuk alamatnya xxxxx dan juga bisa cepat?"


Mendengar dengan bingung sang sopir bertanya kepada Riwan, "Memang ada apa tuan, kenapa anda begitu terburu?"


"Maaf aku hanya bisa menjawab teman ku dalam bahaya, memang sudah menelpon polisi namun belum ada tanda pergerakan dari mereka,: Riwan menjelaskan hal itu karena di pikiran nya mungkin sang sopir mengerti dengan begitu dia bisa lebih cepat sampai.


Mendengar jawaban Riwan dia agak meragukannya karena itu perumahan elit mustahil ada tindak kejahatan bila keamanan nya begitu bagus. "Apa begitu?"


"Ya!" Dengan keringat dingin dan kukuh pada jawaban sebelum nya.


Dari yang dilihat Riwan sangat kukuh dengan jawaban nya, dan itu tidak dia terlihat berbohong, supir taksi mulai sedikit percaya. "Baiklah aku paham, waktu nya sang penguasa jalan kembali sementara!"


Riwan terlihat bingung dengan kata-kata nya, dia berpikir ada apa dengan nya, seketika pedal gas di injak dengan kuat hal itu membuat Riwan sedikit terpental ke tempat duduk nya.


Supir taksi menancap kan gas secara tiba tiba membuat kecepatan taksi langsung meningkat. "Hahaha, kau tahu tuan sebelum nya aku ini mantan balap mobil, karena hal buruk di masa lalu aku berakhir di sini!"


Riwan berkeringat dingin disertai ketakutan, mual, serta mabuk perjalanan lainnya, karena hal yang di lakukan supir taksi membuat dia ingat kejadian teman menyetir mobil dan berakhir masuk kedalam sungai.


...


Sampai di tempat tujuan Riwan membuka mobil, memuntahkan sarapan pagi nya saat membobol data berkas, "Huek! sial dasar supir sedang aku harus mengeluarkan isi perutku, tapi cepat sampai sih. "


Ugh, aku tidak bisa mengeluh, aku meminta pak supir mempercepat mobilnya. " Riwan terlihat sedikit pucat dan tegang pada wajah kakinya juga masih sedikit gemetar, tetapi memaksa bangun ingin membayar ongkos dan membantu temannya.


"Ini pak aku gandakan ongkos nya Terima kasih!" Dengan senyuman tulus yang di paksakan, karena saat ini ia menderita phobia ringan.


Dengan senyum profesional supir taksi berterima kasih kepada Riwan serta memberi nya nomor telpon "Oke, Terima kasih karena menggunakan jasa ku, ini nomor ponsel milik ku pastikan bila anda butuh bantuan silakan telpon dan beritahu posisi anda aku akan datang. "


"Bye!" Ucap supir taksi sambil berkendara mobil dengan cepat sudah dengan cepat menjauh.


"Ugh, semoga tidak membutuhkan nya lagi!"


Riwan tiba di depan gerbang rumah temannya, dengan kaki yang bergetar sempoyongan saat jalan, dia berusaha menekan tombol bell rumah yang terletak pada gerbang di sana.


~Clik!

__ADS_1


Sebuah suara terdengar di dalam rumah besar, tak lama seseorang berambut pirang keluar dari pintu, penampilan tampa topi nya memperlihatkan rambut pirangnya, baju kusut dengan acak acakan sehabis terkena masalah, "Oh! Riwan kau sudah datang, cepat sekali. "


Alan mendekat dia memperhatikan raut wajahnya yang pucat, serta lebih berantakan darinya heran dia mengajukan pertanyaan, "Hei kenapa? apa yang terjadi?"


Dengan suara agak gemetar menjawab: "Sebaiknya jangan banyak bertanya, itu membuat ku mual kembali, kau tidak mau aku mengeluarkan isi perutku bukan?"


"... "


"Baiklah ayo masuk!" Ucap Alan mengajak nya masuk ke rumah nya.


Dengan kaki yang masih gemetar dia berjalan melalui gerbang dan masuk ke dalam rumah Alan, terlihat rumah nya agak berantakan beberapa foto, lukisan jatuh dan vas kaca hiasan yang pecah melihat hal itu Riwan menjadi penasaran bertanya : Apa yang terjadi, kau tidak menghancurkan rumah mu kan?


"Tentu saja tidak! itu terjadi tadi malam bukan nya sudah ku jelas kan tadi! tentang pintu rumah ku di gedor secara tiba-tiba beberapa barang rusak, dan jatuh."


"Lagi pula aku sedang merapikan nya, ini seharusnya tidak lebih buruk dari tadi!" Ucap Alan menjelaskan hal dia lakukan sebelum Riwan berkunjung, walaupun terlihat tenang saat ini dia masih takut dan gemetar di tangan nya saat Riwan melihat Alan menyembunyikan hal tersebut.


Riwan menyentuh bahu Alan berusaha menenangkan nya: "Sudah tak apa aku di sini, oh ya bukannya nanti Ken dan Mathew datang. "


~Ding dong!


Suara bell terdengar di dalam rumah, Alan berjalan ke pintu melihat siapa yang menekan tombol bell.


"Hei!"


Terlihat 2 orang pria salah satu memakai jaket training dengan tas di punggung dan satunya memakai kemeja hitam, benar itu adalah Ken dan Mathew yang datang menekan tombol bell, mereka di hubungi Alan yang membutuhkan bantuan teman karibnya.


Dengan senang Alan menyambut kedatangan mereka: "Akhirnya kalian datang! ayo masuk Riwan sudah di dalam, oh ya karena sudah pada datang aku akan memesan makanan dan minuman kalian mau apa?"


Ken dan Mathew membuka gerbang masuk menuju pintu rumah besar Alan yang sedang menyambut mereka.


"Baiklah karena kemurahan hati anda saya ingin memesan transparan water dan baking sugar water, untuk makanan aku mau noodles cup rasa chicken garlic!" Ucap Mathew mengajaknya bercanda karena melihat tampilan berantakan Alan sejak pertama menyambut nya.


Alan dan Ken melihat dengan tatapan dingin, mereka berpikir secara kompak ini anak salah makan apa lagi, bilang saja air tawar dan Kola dan Mie cup rasa ayam bawang kan bisa.


Heran dengan tatapan yang di berikan Mathew bertanya : "Hei ada apa? kenapa menatap ku seperti itu?"


Alan dengan capat menjawab : :Tidak bukan apa apa masuk, dan duduk di ruang tamu sana, pesanannya Chicken garlic noodles cup dan transparan water serta Baking sugar water kan?"


"Apaan tuh tinggal bilang bilang saja air tawar dan Kola dan Mie cup rasa ayam bawang kan bisa, kenapa berbelit begitu?"


"Masuk saja atau kau ku kubur!" Ucap Alan mengancam karena kata katanya.

__ADS_1


Mathew dengan nurut memasuki rumah, dan menuju ruang tamu melihat Ken dan Riwan menunggu di sana, dan ikut duduk di salah satu sofa yang masih kosong.


__ADS_2