
Jana membulatkan matanya saat melihat Joshua yang ternyata sedang sibuk bermain game di ruang tengah. Kekesalannya pun menjadi berlipat-lipat. Si bule ini benar-benar tidak peka istrinya sedang marah dan cemburu.
"Josh!" panggil Jana keras.
"Ya?" Joshua menyahut acuh tidak acuh. Ia hanya memandang sekilas pada Jana kemudian fokus kembali dengan stick dan layar.
Jana tidak mampu berkata-kata. Hidungnya kembang kempis menahan kekesalan di dalam dada. "Kamu nggak peka banget, sih?!" erangnya. Ia menutup pintu kamar dengan keras. Kemudian menghempaskan badan ke atas kasur.
Ia berbaring menelungkup dengan wajah dibenamkan ke atas bantal. Jana menjerit tertahan. Sementara kaki dan tangannya bergerak-gerak memukul-mukul dan menghentak ke kasur.
"Jana? Kamu kenapa?" Joshua yang sudah ada di tepi ranjang menyentuh bahunya.
"Nggak tau!" sungut Jana. Setengah terpekik. Wajahnya sudah basah dengan air mata, begitu pula bantalnya. Ia menangis melampiaskan kekesalannya.
"Why are you crying?" tanya Joshua tidak mengerti. Kalaupun Jana tidak suka ia mengobrol dengan Asih, seharusnya tidak sampai seperti ini reaksinya. Sungguh berlebihan.
"Apa karena aku mengobrol dengan Asih, kamu marah seperti ini?"
"Ah, stupid, stupid! Nggak peka!" Isak Jana. Tadinya hanya kesal karena Asih, tapi sekarang sudah bertambah dengan kekesalan lain, yaitu ketidakpekaan Joshua yang membiarkannya dalam keadaan cemburu. Bukannya dibujuk, malah ditinggal main game.
"Peka? Apa peka?" Joshua menggaruk kepalanya bingung.
Jana duduk di tengah ranjang dan menyusut air matanya. "Aku nggak suka kamu akrab sama Asih!"
"Why?"
"Pake tanya why, why, why? Kamu kelihatannya akrab banget sama dia. Tadi aku lihat cara kamu ngeliatin dia. Kamu kaya naksir sama dia!"
"The way I look at her? Ah, come on, Jana. She's just a friend. Kamu jangan berlebihan seperti ini."
Napas Jana memburu. "Pokoknya aku nggak suka!" sergahnya.
"Kamu punya masalah sama Asih?"
Jana memalingkan wajahnya. Bibirnya mengerucut beberapa centi ke depan. Ia enggan menjawab pertanyaan Joshua.
__ADS_1
"Jana, Baby ...." Joshua merangkak mendekati istrinya yang sedang ngambek itu. Pelan tangan kokohnya membelai lembut rambut panjang Jana. Kemudian meraih dagu gadis itu dan ******* bibirnya.
Dalam hati Jana ingin membalas perlakuan Joshua, tapi ia terlalu gengsi. Judulnya ia masih ngambek dan benteng dalam dirinya masih segunung. Tidak boleh segampang itu ia luluh.
"Baby, kiss me," pinta Joshua seraya mengarahkan wajah Jana pada wajahnya. Berkali-kali Jana menghindar, namun Joshua pantang menyerah. Hingga akhirnya ia menindih tubuh gadis itu dan mengunci pergerakannya di bawah.
"Nggak mau!" tolak Jana sambil terus memalingkan muka. Namun, Joshua terus saja menyerangnya. Hingga akhirnya Jana pun pasrah.
Keduanya kini bergumul intens. Joshua yang liar dan Jana yang masih polos dan malu-malu dalam hal ranjang.
Namun, pemanasan sore hari yang berkeringat itu harus terhenti oleh sebuah ketukan pintu kamar disusul oleh panggilan Bu Galuh.
"****!" maki Joshua yang hampir saja menyatukan diri dengan Jana dan akhirnya mengurungkan niatnya itu.
"Sebentar, Josh. Ibu udah pulang." Jana mendorong dada Joshua yang tampak enggan untuk turun dari atasnya.
"But ...." Wajah Joshua memelas.
"Nooo ...." Jana menggeleng keras. Ia segera merapikan pakaiannya yang sudah berantakan dan segera melompat dari atas ranjang, meninggalkan Joshua yang sedang menahan hasrat.
"Haduhh, masih sore loh, Jana," goda Bu Galuh.
Jana tersipu malu. Ia menunduk menyembunyikan wajah dan lehernya yang memerah akibat ulah Joshua. Bu Galuh berusaha mengintip ke dalam kamar, namun Jana buru-buru menghalanginya. Pasalnya Joshua sedang telanjang bulat.
"Pelit," cebik Bu Galuh.
"Ibu, ih!" sungut Jana. "Ada apa, sih, Bu?" tanyanya.
"Itu loh, Ibu beli tahu kriuk keju, buat Joshua, mantu Ibu yang paling ganteng."
"Kok cuma buat Joshua, sih?" protes Jana. Jana menutup pintu dan berjalan menuju dapur, mencari makanan yang Bu Galuh beli.
Satu bungkus tahu kriuk ia temukan di atas meja. Tanpa pikir panjang ia meraih bungkus kertas itu dan menyomot isinya.
"Eh, eh! Jangan dimakan, Jana!" tepis Bu Galuh. "Ini buat Joshua. Josh! Joshua! Sini, Nak!" serunya memanggil sang menantu.
__ADS_1
Bibir Jana mengerucut. Ia sudah terlanjur memakan satu buah tahu dan rasanya lumer di mulutnya. "Kenapa nggak beli banyak sih, Bu, buat aku juga?" Ia merotasikan kedua bola matanya.
"Sttt! Duitnya ndak cukup. Tadi Ibu ndak menang arisan."
Jana bersungut-sungut keluar dari dapur, berpapasan dengan Joshua yang hanya mengenakan boxer dan kaos putih polos. Ia mengerlingkan mata birunya pada Jana sambil meremas bokong gadis itu.
"Baby!" Mata Jana mendelik. Namun, sejurus kemudian ia menahan senyumnya malu-malu. Aktifitas mereka yang tertunda membuat badannya panas dingin.
"Sini, Josh ... lihat, Mama beliin makanan enak buat kamu." Suara Bu Galuh terdengar dari arah dapur.
Jana mengulas senyum tipisnya.
Saat memasuki ruang tamu, ia bertemu dengan Pak Yanto-ayahnya, yang baru pulang dari ladang. "Jan, Bapak mau bicara sebentar," kata Pak Yanto.
"Ada apa, Pak?" tanya Jana penasaran. Ia mengikuti gerakan sang ayah duduk di atas kursi rotan.
Pak Yanto membakar ujung rokok kreteknya. "Sebenarnya bapak ndak enak mau ngomongin ini sama kamu. Tapi, rasanya kok mengganggu di pikiran bapak."
"Ngomongin apa, sih, Pak?" Jana semakin penasaran dengan pernyataan Pak Yanto. Perasaannya menjadi tidak enak, takut ayahnya ini akan membicarakan sesuatu yang buruk tentang Joshua.
Pak Yanto mengalihkan pandang ke arah pintu ruang tengah yang menuju ke dapur. Memastikan orang yang akan ia bicarakan tidak muncul. "Tentang suamimu itu." Ia memelankan suaranya.
"Oh, kenapa Joshua, Pak?"
"Bapak sih ndak tahu yang sebenarnya bagaimana di antara kalian berdua. Tapi, dari yang bapak lihat, sepertinya kamu yang banyak keluar duit sejak menikah loh. Malah sekarang punya cicilan. Terus, kamu juga mengeluh tabungan sudah terkuras. Apa suamimu ndak kasih duit sama kamu?"
"Oh, masalah itu." Jana mengulas senyumnya. "Kirain ada masalah gede, Pak." Ia menghela napas lega. "Jadi gini, Pak ... Joshua itu punya warisan dari orang tuanya yang sudah meninggal. Lagi diurus sama dia di Amerika sana, Pak. Tenang aja, Pak. Kalau perihal warisan Joshua sudah beres, hidup Jana bakal berlimpah harta. Soalnya kata Joshua, warisannya banyak dan dia anak satu-satunya, Pak," terang Jana penuh percaya diri.
Pak Yanto mengangguk-angguk. Dihisapnya rokok kretek di jemarinya dengan penuh hikmat. "Yowes kalau begitu, Nduk. Bapak cuma mau memastikan saja. Sebenarnya, kalau Joshua ndak kaya raya juga ndak apa-apa. Yang penting tanggung jawab sebagai suami menafkahi istri dan anak-anaknya kelak itu ndak dilalaikan."
"Iya, Pak. Jana ngerti."
"Begitu, Nduk. Lihat bapak. Biarpun bapak orang ndak punya. Tapi, Bapak selalu berusaha membahagiakan Ibumu, dan kamu."
Jana mengangguk mengiyakan ucapan Pak Yanto. Sambil dalam hati ia berharap, Joshua adalah suami seperti yang bapaknya ucapkan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...