
"Maksudmu apa, Josh?" Risa sudah memasang raut wajah tidak sukanya saat Joshua menyampaikan padanya kalau ia akan bekerja di warung Indonesia milik Jana.
"Aku harus kerja, Risa. Kamu sedang hamil. Kita butuh banyak biaya."
"Kamu bilang kamu mau manfaatin Jana? Kenapa malah jadi kamu yang kerja?"
Joshua menyugar rambutnya. "Tidak selamanya kita akan menggantungkan hidup pada Jana, Risa."
Risa menarik sudut bibirnya. "Kalau gitu, kamu ceraiin dia, terus kita hidup layaknya pasangan normal."
"Nggak semudah itu, Risa."
Risa mendecak sebal. "Kamu nggak berani, kan, ceraiin dia. Kamu pengecut, tahu, nggak?"
"Aku butuh waktu."
Risa mengibaskan tangannya, menganggap ucapan Joshua hanya angin lalu. "Pokoknya aku nggak mau kamu kerja di sana."
Joshua menghembuskan napasnya kasar. "Terserah kalau kamu tidak mau. Aku harus terima tawaran Jana. Aku lakukan itu demi kamu, demi anak kita."
"Omong kosong lah, kamu!"
"Risa ...." Joshua meraih lengan Risa yang hendak berlalu dari hadapannya. Namun, wanita itu menepisnya kasar.
"Apa itu?" Mata Risa menangkap tanda merah di pangkal leher Joshua. Ia menyibakkan kerah pakaian Joshua dan seketika napasnya memburu. "Kamu tidur sama dia!" teriaknya. Risa mengamuk. Ia memukuli dada Joshua bertubi-tubi sambil menangis.
"Kamu tidur sama dia, Brengsek!" Risa terus memukuli dada Joshua dengan brutal.
"Hei, Risa, Risa, tenang, ya ... kamu lagi hamil. Kalau terjadi apa-apa dengan anak kita, bagaimana?" Joshua mencekal kedua lengan Risa, berusaha menenangkan wanita itu.
"Biar aja. Biar mati sekalian anakmu ini!"
"Risa!" bentak Joshua geram. "Aku tidak percaya kamu egois sekali!"
"Memang aku egois. Kamu mau apa?!" tantang Risa. Kedua matanya yang basah berkilat merah.
"Kita bicara baik-baik, ya? Kamu tenang, okay?!" sentak Joshua. Rasanya ia sudah kehilangan kesabaran menghadapi wanita ini. "Kalau kamu tidak tenang, aku tidak tidak mau bicara sama kamu!" ancamnya.
Risa pun akhirnya berhasil menenangkan diri. Joshua membimbingnya duduk di tepi ranjang. Digenggamnya erat tangan kekasihnya itu.
"Risa, aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya dengan kepala jernih. Beri aku waktu."
"Waktu untuk apa? Menceraikan Jana? Atau meninggalkanku?"
__ADS_1
"Beri aku waktu untuk berpikir, ya? Tolong," pintanya seraya mencium punggung tangan Risa, sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan wanita itu seorang diri.
Risa menangis tersedu-sedu. Ia merasa posisinya sangat tidak aman saat ini. Ia merasa Joshua sedang bimbang memilih antara dirinya dan Jana.
Padahal, yang ia tahu, Joshua sangat mencintainya. Jika ia menuntut Joshua untuk meninggalkan istrinya, ia yakin Joshua akan memilihnya tanpa pikir panjang.
Namun kini yang terjadi adalah, Risa merasa Joshua sedang dalam keragu-raguan.
Risa tidak boleh membiarkan itu terjadi. Dirinya sekarang punya kuasa sepenuhnya atas Joshua. Anak dalam kandungannya.
***
Jana tersenyum-senyum sendiri memandangi Joshua yang sedang sibuk di dapur, memasak pesanan pengunjung warung yang mulai banyak berdatangan.
Gadis itu cukup takjub melihat skill memasak Joshua yang ternyata cukup bisa diandalkan. Cekatan, cepat, tetapi tidak mengurangi citra rasanya yang lezat. Padahal semua menu yang ia masak di warung ini semuanya menu Indonesia, meskipun bukan termasuk menu yang rumit.
"Kamu sangat membantu, Jana," sindir Joshua saat tersadar Jana sedang memperhatikannya.
Jana terkekeh. "Aku lagi ngecek pesanan nasi goreng udah siap apa belum?"
"Sebentar lagi, ya, Bos," goda Joshua seraya menaikkan alisnya.
Joshua terlihat seksi dengan apron hitam yang dikenakannya, kemeja putih yang ia gulung bagian lengan hingga siku, rambut yang sudah mulai memanjang dan ia ikat sembarang, lalu headband yang melingkar di kepala, bak koki dari Jepang.
"Yep."
Jana meringis. Setelah Joshua selesai menyiapkan dua piring nasi goreng pesanan pengunjung warung, Jana bertugas menyajikannya.
"Kokinya baru, Tante. Mungkin saya mau minta review Tante berdua nanti," kata Jana pada dua orang wanita paruh baya yang memesan nasi goreng. Keduanya termasuk pelanggan warung Jana yang hampir setiap minggu datang.
"Oh, siap, Dek Jana." Salah seorang wanita mengacungkan ibu carinya.
"Okay, selamat makan, selamat manikmati," ucap Jana dengan senyum ramahnya.
Jana kembali ke dapur menemui Joshua yang sedang duduk sambil menghisap rokoknya. "Kamu sudah minta mereka review masakanku?" tanyanya begitu Jana menarik kursi dan duduk di seberangnya.
"Udah."
"Bagus."
"Pasti mereka akan bilang enak," kekeh Jana.
"Semoga saja. Aku tidak mau ada review buruk, atau Mira akan memecatku hari ini juga," seloroh Joshua. Ia tahu, Mira tidak menyukainya. Mungkin karena permasalahan-permasalahannya dengan Jana beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Kamu nanti pulang ke apartemen, kan?" tanya Jana memastikan.
"Mmm ... lihat nanti kalau aku tidak ada urusan." Sebabnya Risa terkadang rewel dan minta ditemani terus menerus.
Jana mengerucutkan bibirnya. "Kamu kan udah dua malem nggak pulang, Baby," rengeknya.
Joshua menyunggingkan senyumnya. Baru kali ini ia melihat Jana begitu manja. Namun, hal itu membuatnya gemas.
"Sini," pinta Joshua setelah mencecak sisa rokok ke dalam asbak. Ia meminta Jana untuk datang padanya. "Duduk di pangkuanku," pintanya.
"Ish! Nggak enak kalau ada pelanggan yang lihat," protes Jana.
"Tidak ada. Mereka sedang makan semua." Joshua menarik tangan Jana. Membuat gadis itu terjatuh di pangkuannya.
"Baby, jangan di sini," ucap Jana saat tangan Joshua menelusup ke balik kausnya dan mulai menggerayangi tubuhnya.
"Sedikit, Sayang," bisik Joshua tanpa memedulikan sekitarnya. Bibir keduanya kini telah bersatu, namun sebisa mungkin mereka meredam suara kecapan perpaduan dua bibir mereka.
"Permisi!"
Bel dari meja kasir berbunyi. Artinya ada pengunjung baru. Jana buru-buru turun dari pangkuan Joshua yang tampak enggan melepaskannya.
Mata Jana mendelik saat tangan Joshua dengan jahilnya menepuk bo kongnya. Sambil merapikan rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan, ia keluar dari pintu yang hanya ditutup oleh tirai kain, dan menemui seorang wanita cantik dengan tubuh sintal yang sudah menunggu di balik meja kasir.
Jana sepertinya pernah melihat wanita itu. Wajahnya tidak asing. Namun, ia lupa di mana dan kapan pernah bertemu wanita itu. Yang jelas, Jana bisa memastikan dari struktur wajah, bahwa wanita itu berasal dari Indonesia.
"Iya, Mbak? Mau pesan apa?" tanya Jana ramah.
Wanita itu memindai tubuh Jana dengan tatapan yang sulit diungkapkan oleh kata-kata. "Adanya apa?"
"Ada di sini," tunjuk Jana pada selembar menu yang berada di balik kaca meja kasir.
"Koki-nya baru, ya?" tanya wanita itu.
"Iya, Mbak."
"Mana? Aku mau langsung pesen sama koki-nya aja."
"Owh, iya, sebentar saya panggilkan, ya?" Jana bergegas masuk ke dapur dan memanggil Joshua.
Beberapa saat kemudian, Joshua muncul dari balik pintu tirai. Ia terkejut melihat Risa yang sedang berdiri di depan meja kasir, tersenyum miring padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1