
"Jana, gimana kalau malam ini kita mimum?" tawar Mira. Akhir pekan ini dirinya ingin bersenang-senang, setelah satu Minggu dipusingkan dengan masalah pekerjaan.
Jana mengelus dagunya. Ia sedang memingat-ingat apakah dirinya punya janji dengan seseorang. "Ayo aja," sahutnya setelah memastikan kalau ia tidak memiliki janji dengan siapapun.
Malamnya, Mira mengajak Jana ke sebuah bar di downtown New York. Rupanya Mira tidak hanya mengajak Jana, namun juga dua orang lelaki bule temannya. Keduanya cukup menarik di mata Jana.
Yang berambut coklat seperti militer, bernama Mark, ia sepertinya sedang dekat dengan Mira. Sementara lelaki satunya lagi, yang berambut pirang, namanya Dean. Jana mengumpat dalam hati, sebab Dean mengingatkannya pada Joshua.
"Kamu lagi deket sama Mark?" tanya Jana di sela-sela hentakan musik yang memenuhi seisi ruangan bar.
"Yaaa, bisa dibilang gitu, sih," kekeh Mira seraya meneguk segelas koktail yang tadi dipesannya.
"Tentara, ya?"
"Iyaa." Mira terkikik. "Eh, Jan, itu si Dean ganteng juga, loh. Dia temennya Mark, tapi kerjanya di Bursa Saham gitu, deh."
Jana memandang ke arah Dean dan Mark yang sedang memesan minuman untuk mereka berempat ke meja bar.
Tidak lama kemudian kedua lelaki itu telah bergabung kembali dengan Jana dan Mira. Obrolan pun mengalir diantara keempatnya. Hingga tidak terasa, malam pun merangkak naik.
Dean tampak tertarik dengan Jana dan terus mengajak gadis itu mengobrol. Sejujurnya Jana sedang tidak ingin membuka diri pada lelaki manapun. Ia hanya menanggapi seperlunya semua pertanyaan dari Dean.
"Sudah cukup minumannya," ucap Jana saat Dean hendak memenuhi gelas slokinya kembali.
"Kau belum mabuk, Jana. Ayolah, aku isi lagi." Dean sedikit memaksa.
Jana tergelak. "Baiklah," ucapnya pasrah. Ia pun meneguk sloki yang telah terisi oleh cairan berwarna kuning kecoklatan itu.
Mira sudah turun ke lantai dansa bersama Mark. Keduanya terlihat begitu bersenang-senang. Jana tersenyum melihat kemesraan keduanya. Sepertinya sebentar lagi mereka berdua akan menjadi sepasang kekasih.
"Kau mau turun ke lantai dansa?" tanya Dean membuyarkan lamunannya.
"Oh, tidak, tidak." Jana menggeleng keras. Ia bukan orang yang senang menari. Lagi pula ia adalah seorang pemalu.
"Ayolah ...." Dean meraih lengan Jana dan memaksa gadis itu berdiri. Kemudian lelaki itu menarik Jana ke lantai dansa.
Dean membuat Jana terpaksa mengikuti hentakan musik, karena gadis itu tidak ingin terlihat bodoh, hanya berdiri di tengah ruangan tanpa melakukan gerakan apapun.
"Nah, begitu," gelak Dean. "Kau terlihat seksi," puji Dean.
Jana mengerutkan keningnya. Seksi. Apa maksudnya Dean mengatakan hal itu. Jana tidak memakai pakaian yang minim bahan. Tubuhnya kurus dan dadanya juga tertutup.
__ADS_1
"Ayo, Jana, goyangkan bokongmu!" seru Dean seraya memutar tubuh Jana, dan tanpa aba-aba ia menepuk pantat gadis itu.
"Hei!"
***
Joshua menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara. Di hadapannya, seorang lelaki bertampang Latino dengan tahi lalat besar di sudut bibirnya, tersenyum miring.
Namanya Pablo Gonzalez. Ia adalah salah satu pimpinan gangster yang berpengaruh di area Harlem dan sekitarnya. Sudah beberapa bulan Joshua bekerja padanya. Sebagai kurir drop shipper barang dagangan Pablo.
Malam itu Pablo mengundang Joshua datang ke bar miliknya, untuk diberi penghargaan atas prestasinya menjual barang dengan transaksi terbanyak.
Tentu, Joshua begitu senang mendengar hadiah yang akan diterimanya. Sebuah mobil Chevrolet warna hitam yang terlihat mewah. Dan malam ini, Joshua akan merayakan prestasinya itu.
Ia mengundang Scott-sahabatnya, untuk datang ke bar milik Pablo di dekat Harlem. Seperti biasa, ia selalu mengajak Scott minum, saat merayakan sesuatu, atau sedang ingin ditemani bicara.
Keduanya duduk di depan meja bar sambil menikmati koktail racikan bartender, sebagai minuman pembuka.
Malam semakin larut dan bar bertambah ramai. Mata Joshua menangkap sosok gadis berpakaian merah yang sedang berusaha menghindari seorang lelaki yang sedang memaksanya menari.
Joshua memastikan dalam kilatan-kilatan lampu warna-warni, bahwa ia tidak salah orang. Sosok berpakaian merah itu memang Jana. Ia bersama seorang lelaki di lantai dansa.
Dan,
Joshua menyaksikan Jana menampar lelaki itu, setelah lelaki itu dengan sengaja menepuk pantatnya. Dada Joshua bergemuruh menyaksikan Jana diperlakukan tidak senonoh.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Scott saat melihat Joshua beranjak dari duduknya.
"Tunggu sebentar," ucap Joshua seraya melangkah menuju lantai dansa.
Ia menghampiri lelaki yang hendak membalas tamparan Jana, dan mencekal lengan lelaki itu.
"Hei! Jangan ikut campur!" Yang berseru adalah Dean. Lelaki itu menarik keras lengannya. Lalu mendorong dada Joshua menjauh.
"Jangan sentuh dia!" Joshua memperingatkan Dean seraya menunjuk tepat di depan wajahnya.
"Kau siapa? Pacarnya?"
"Ya!" tegas Joshua seraya meraih lengan Jana dan membawa gadis itu ke dekatnya.
Jana yang sedang dalam pengaruh alkohol, membulatkan mata. Mencoba memastikan bahwa lelaki yang sedang menggandengnya itu adalah Joshua.
__ADS_1
"Mundur, Bung! Gadis ini pacarku!" Joshua menahan dada Dean yang hendak merebut Jana dari tangan Joshua.
Dean yang merasa kalah kuat dengan Joshua, mengangkat kedua tangan menyerah. Ia ingin meminta bantuan Mark, tetapi, temannya itu sepertinya sedang sibuk dengan pacar barunya.
Joshua lalu menyeret Jana menuju ke meja bar di mana Scott berada. Scott melambai pada Jana dan gadis itu pun menyambut lambaiannya sambil terkikik.
"Aku akan mengantar Jana pulang, Scott," pamit Joshua pada sababatnya itu.
Joshua masih mencengkeram lengan Jana dan membawa gadis itu keluar bar.
"Waah, mobil baru?" kekeh Jana seraya mengelus mobil Chevrolet berwarna hitam.
"Masuk!" perintah Joshua seraya membukakan pintu untuk Jana. Sebenarnya ia kesal dengan Jana. Gadis itu kurang hati-hati. Pergi ke bar dengan orang asing yang bisa saja berbuat yang tidak-tidak padanya.
"Heeei, kamu galak banget, sih?"
"Masuk, Jana." Joshua mendorong pelan tubuh Jana masuk. Kemudian menutup pintu cukup keras. Lelaki itu memutari mobil, lalu duduk di belakang kemudi.
"Laki-laki itu siapa?" tanya Joshua seraya melajukan mobilnya.
"Dean," kikik Jana.
"Siapa dia?"
"Orang yang baru aku kenal tadi." Jana meluruskan kakinya ke atas dashboard hingga telapak kakinya menempel di kaca depan mobil. "Waah, mobilmu nyaman sekali, ya?"
"Kamu pergi ke bar sendiri, ketemu orang asing, mabuk, dilecehkan. Kamu tahu, itu bahaya sekali!" erang Joshua geram.
Jana mendecak. "Aku sudah memukulnya."
"Kalau aku tidak ada, entah kamu akan dibawa ke mana!"
"Ada Mira di sana, kok."
"Aku tidak melihat Mira."
Jana memijit keningnya. "Ah, dia pasti lagi seneng-senang sama Mark. Dasar!" gerutunya.
"Aku antar kamu pulang!" sentak Joshua.
"Ih! Kamu nggak asyik," sungut Jana seraya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Joshua menghembuskan napasnya kasar. Dibantingnya kemudi, untuk berbelok ke arah apartemen Jana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...