
Risa tersenyum sendiri mengingat pembicaraannya semalam dengan Joshua. Keputusan kekasihnya sudah bulat, akan bercerai dari Jana. Lega rasanya. Itulah sebabnya, Risa masih mengizinkan Joshua untuk bekerja di warung milik Jana.
Jika mereka sudah bercerai, dan Joshua menikahinya, toh, tidak ada yang perlu dikawatirkan.
"Aduh!" Risa memegangi perutnya yang tiba-tiba terserang kram. Semakin lama, semakin ia merasa kesakitan di perut bagian bawahnya. Memutar ke pinggang belakang.
Risa sampai harus merangkak ke kamar mandi karena ia tidak mampu berdiri. Sampai di kamar mandi, Risa terkejut saat melihat gumpalan darah jatuh dari organ kewanitaannya. Hitam pekat dan bergumpal-gumpal.
"Aku kenapa, sih," ucap Risa sebelum akhirnya hilang kesadaran.
Ia terbangun dua jam kemudian dan mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar yang sepertinya adalah rumah sakit. Di sampingnya ada Ningsih yang menungguinya.
"Ning, aku kenapa, sih?" tanya Risa kebingungan.
"Kamu pingsan di kamar mandi. Untung aku dateng tadi."
"Kok bisa pingsan, sih?" Risa menggaruk kepalanya.
"Kamu pendarahan. Tadi dokter bilang kamu keguguran."
"Hah?!" Risa terlonjak. "Keguguran?" Ia menyentuh perutnya. "Aduh! Sialan, sialan!" makinya.
"Tadi aku coba telpon Joshua tapi nggak diangkat-angkat."
"Jam berapa, nih?" tanya Risa panik.
"Baru jam dua belas siang."
"Aku pendarahan di kamar mandi?" tanya Risa panik.
"Iya, Ris. Kamu kenapa, sih?"
"Udah dibersihin belum, Ning?"
"Udah, tadi udah tak bersihin, kok."
Risa menarik napas lega. Ia tidak mau Joshua tahu kalau ia mengalami keguguran. "Kamu nggak usah bilang sama Joshua, ya?"
"Kenapa emangnya?"
Risa menggeleng kuat. "Pokoknya jangan. Biar dia tahunya aku masih hamil aja."
"Nggak ngerti aku."
__ADS_1
"Udah, pokoknya kamu diem aja. Yang tahu cuma aku sama kamu aja, ya, okay?" ujar Risa setengah mengancam.
"Iya, ngikut aku."
Risa menepuk-nepuk punggung tangan Ningsih, sebagai ucapan terimakasih karena telah menuruti permintaannya.
"Kira-kira aku bisa pulang sore ini, nggak, ya?" tanya Risa. Ia tidak mau Joshua curiga saat ia pulang nanti, dirinya tidak ada di apartemen.
***
"Ayam bakar bumbu kuning, dua. Mie goreng tiga." Jana meletakkan catatan pesanan di depan Joshua.
"Okay." Joshua mengulas senyum tipis. Sementara Jana acuh tidak acuh saja pada lelaki yang tidak lama lagi akan menjadi mantan suaminya itu.
Jana mengambil tiga potong ayam yang telah dimarinade dengan bumbu kuning di dalam lemari pendingin. Kemudian, ia menyiapkan microwave untuk memanggang ayam.
Sementara Joshua, sibuk meracik bumbu untuk nasi goreng yang akan dibuatnya. Sesekali ia melirik ke arah Jana yang sedang menyiapkan tiga piring nasi.
Jam menunjukkan pukul lima sore, dan lima porsi ini adalah pesanan dari pengunjung terakhir.
Tiga puluh menit kemudian, semua pesanan sudah siap dan Jana mengantarnya ke depan. Sementara Joshua membereskan dapur karena sudah tidak ada lagi aktifitas memasak.
Jana membantu Joshua merapikan dapur dalam diam. Memang sudah beberapa hari ini keduanya tidak saling bicara. Hanya sesekali saja saat akan menyampaikan pesanan pengunjung warung. Selebihnya, keduanya sibuk dengan aktifitas masing-masing.
"Sampai besok, Josh," ucap Jana berpamitan pada Joshua yang sedang memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas.
"Sampai besok, Jana." Joshua melambai kecil. Ia memperlihatkan langkah Jana keluar dari warung. Dadanya berdebar saat melihat gadis itu berbicara dengan seseorang di luar.
Pemuda brengsek yang pernah memukulnya waktu itu. Menyebabkan pelipisnya pecah. Rupanya ia bergerak cepat ingin mendapatkan Jana.
Ada rasa tidak rela melihat Jana bersama dengan laki-laki lain. Dulu, ia menyarankan sebuah hubungan terbuka. Jana menolaknya dan Johsua sedikit memaksa.
Kini, melihat Jana bersama laki-laki lain justru membuatnya panas dingin dan kacau. Seperti kata pepatah; you don't know what you got until you lost it, benar adanya.
Saat Jana bersamanya, ia acuh tidak acuh. Kini, saat Jana berada di luar jangkauannya, ia justru merindakan gadis itu.
Jana dan pemuda brengsek itu terlihat akrab. Obrolan mereka tampak begitu hangat. Dan tawa Jana, begitu lepas saat pemuda itu melontarkan jokes lucu.
Jovan, yang sedang mengobrol dengan Jana di samping mobil mewahnya, menatap sinis pada Joshua yang baru saja selesai mengunci pintu toko.
Jana melihat ketegangan di antara dua lelaki itu. Ia curiga, dulu mereka pernah saling baku hantam. Mengingat wajah keduanya pernah lebam pada saat bersamaan.
Ah-tapi sudah tidak penting lagi. Yang jelas sekarang, ia hanya ingin menatap masa depan. Entah dengan siapapun itu.
__ADS_1
"Hei, Dude!" sapa Jovan pada Joshua dengan senyuman miring.
Joshua pun tidak kalah sinisnya menyambut atmosfer permusuhan yang ditebar oleh Jovan. Dan pemuda itu dengan sengaja bersikap mesra pada Jana, dengan menggandeng tangan gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
"Panas nggak, tuh, calon mantan kamu," kekeh Jovan saat ia melakukan mobilnya meninggalkan Joshua yang masih berdiri di pinggir jalan.
"Mas Jovan jahat, ish!" gerutu Jana.
"Dia lebih jahat. Ngehamilin cewek lain di belakang kamu," timpal Jovan.
Jana mencebik. "Udah, ah! Nggak mau diinget-inget mulu."
"Ya, udah, deh, inget-inget masa depan kita aja, ya, Jan," kekeh Jovan sembari menaik-naikkan alisnya.
"Apaan, sih?!" Jana memanyunkan bibir. "Mau ke mana, sih, kita?" tanyanya kemudian.
"Makan malam lah."
"Nggak usah di tempat mewah, ya, Mas. Nggak suka aku. Mending nyari yang di pinggir-pinggir jalan aja, gitu."
"Laah, kamu pikir ini Jakarta? Nyari makan di trotoar?"
Jana tergelak mendengar gurauan Jovan. "Maksudnya, tuh, nggak gitu, Mas."
"Iyaa, ngerti, Sayang," ucap Jovan seraya menyempatkan diri mengelus pipi Jana. "Kamu beda banget sama Tiara, ya. Kalau Tiara maunya ke tempat-tempat mewah mulu."
"Dih, curhat," gurau Jana. "Eh, ngomong-ngomong tentang Tiara, dia udah pernah ngelabrak aku, tahu, Mas."
"Hah!" Jovan terlonjak kaget. "Serius? Gimana ceritanya?"
"Dia dateng ke warung. Terus minta aku ngejauhin kamu. Pake ngata-ngatain aku cewek murahan lagi. Lebih parahnya aku dibilang cewek open BO." Jana menepuk keningnya.
"Waduh, parah banget, tuh, anak. Ntar aku tegur dia."
"Eh, nggak usah, Mas. Ntar tambah marah dia."
Jovan mendecak. "Tiara kalau dibiarin, tuh, suka menjadi-jadi."
Jana menghela napas dalam-dalam. "Aku juga bodoh, sih, nggak hati-hati dulu. Sekarang namaku udah jelek banget di mata orang-orang Indonesia yang ada di Manhattan," keluhnya.
"Nggak semua orang Indonesia yang ada di sini peduli hal-hal kaya gitu, Jan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1