
Turun dari mobil Joshua, Jana berjalan sempoyongan menuju lobi apartemen. Joshua buru-buru mengejarnya dan membantu gadis itu sampai ke pintu apartemennya.
"Kamu nggak boleh tidur di sini." Jana menusuk-nusuk pipi Joshua dengan ujung telunjuknya sambil terkikik.
"Diam, Jana!" Joshua meraih jemari Jana dan menggenggamnya erat. Ia lalu merebahkan tubuh Jana ke atas ranjang. Ia melepas sepatu Jana, lalu menyelimuti wanita itu dan duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Jana yang bersemu merah. Joshua merapikan anak rambut yang jatuh di pipi Jana.
"Josh ...," panggil Jana lirih.
"Ya," jawab Joshua seraya mengelus pipi Jana lembut.
"Tidur sini," pinta Jana. Ucapan yang sangat bertolak belakang dari sebelumnya. "Aku lagi kacau. Aku nggak mau sendiri," keluhnya.
Joshua meloloskan senyumnya. Ia meloloskan jaketnya, lalu membuka sepatunya dan naik ke atas ranjang, berbaring di samping Jana. "Ada apa denganmu?" tanya Joshua seraya melingkarkan lengannya ke perut Jana, memeluk wanita itu dari samping.
"Aku kacau," jawab Jana.
"Kenapa? Apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Aku kangen ...."
"Pada siapa?"
Jana terdiam. Ia tahu ia tidak boleh mengatakan hal-hal seperti itu pada Joshua. Tetapi otaknya sepertinya sedang eror. Joshua milik orang lain.
"Nggak papa ... aku lagi kacau aja. Aku nggak tahu harus gimana. Sepertinya aku kesepian," ucap Jana.
"Aku di sini menemanimu malam ini," sahut Joshua seraya mengelus pipi Jana dengan lembut.
"Tapi aku kesepian setiap harinya."
"Aku akan selalu ada kalau kamu membutuhkanku. Seperti dulu."
"Tapi kan kamu udah punya istri. Istrimu galak banget. Aku takut diterkam sama dia," rajuk Jana.
Joshua mencium pipi Jana, lalu menempelkan dahinya ke kepala gadis itu. "Kamu sudah putus dengan pemuda brengsek itu?" tanyanya.
"Siapa pemuda brengsek?"
"Siapa lah itu. Aku tidak tahu namanya."
"Nggak usah ngomongin dia lah, males aku."
__ADS_1
"Kenapa? Dia selingkuh, suka pukul kamu? Atau apa?"
"Nggak dua-duanya."
Joshua mengerutkan kening. "Lalu, kenapa putus?"
Jana menghela napasnya berat. "Orang tuanya nggak setuju."
"Kanapa tidak setuju?"
Jana menarik dirinya dari pelukan Joshua. Gadis itu memukul bahu sang mantan suami keras hingga lelaki itu meringis kesakitan. "Semua gara-gara kamu, Josh!"
"Kenapa gara-gara aku?" tanya Joshua keheranan.
"Kamu dulu jual aku sama James si hidung belang. Gosip tersebar di mana-mana. Namaku udah jelek, tahuuu?" gerutu Jana.
Joshua mengelus lengan Jana dengan lembut, lalu menggenggam tangannya. "Maafkan aku, Jana. Percayalah, aku sangat menyesali perbuatanku. Seharusnya biarkan saja mereka membunuhku."
"Ah, menyesal juga sudah terlambat."
Joshua meraih tubuh Jana dan memeluknya. Rasa bersalahnya terhadap gadis itu jauh lebih besar dari pada rasa bersalah saat ia salah mengucapkan nama Jana di depan Risa.
"Kalau cuma maaf, sih, gampang."
"Aku masih sayang kamu, Jana."
Jana melenguh. "Nggak usah bilang gitu, lah. Percumah."
"Kamu masih sayang sama aku?" tanya Joshua.
"Nggak tahu!" sungut Jana. "Tapi, kayaknya enggak, deh. Aku benci banget sama kamu!"
Mulut Jana mengucapkan benci, tetapi gerakan tubuhnya mengatakan lain. Gadis itu justru semakin merapatkan diri pada Joshua.
"Jana ...."
"Hmmm ...."
Joshua menangkup dagu Jana dengan satu tangannya, membawa gadis itu mendekat ke wajahnya. Ia tidak bisa menahan diri. Dipagutnya bibir Jana dengan lembut. Sensasinya begitu luar biasa. Sengatan yang timbul dari dua bibir yang saling menyerang itu benar-benar membuat keduanya tidak lagi bisa menahan perasaan masing-masing.
Bagi Jana, ini masih seperti mimpi. Sementara untuk Joshua, ia yang juga berada di bawah pengaruh alkohol meskipun tidak sebanyak Jana, mampu membuatnya lepas mengekspresikan perasaannya terhadap Jana.
__ADS_1
Keduanya telah meloloskan pakaian masing-masing. Bergumul saling menyerang tanpa ada rasa yang harus ditutup-tutupi. Sudah lama sekali rasanya kulit mereka tidak saling menyentuh, tidak saling menjamah, tidak saling menumpahkan gairah yang berkobar dalam dada mereka. Erangan, lenguhan, cakaran, gigitan, mewarnai penyatuan mereka malam itu. Tumpah ruah.
Jana tidak peduli apa pun. Ia membuka lebar gerbangnya untuk dimasuki oleh Joshua, dan pasrah apapun yang akan dilakukan oleh lelaki itu padanya. Sungguh rasa yang luar biasa. Cinta, gairah, rindu, sedih, bercampur menjadi satu. Melambung tinggi dengan kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Malam itu, lagi dan lagi, mereka mengulanginya berkali-kali, seakan tidak pernah puas rasa rindu yang ingin mereka tumpahkan. Mereka melakukannya, sepanjang malam, hingga energi mereka hanya tersisa untuk sebuah ciuman hangat yang lama.
***
Joshua membuka matanya ketika mendengar ponselnya berdering dengan keras. Ia mendapati Jana masih tertidur di pelukannya. Pelan Joshua menggeser tubuh Jana agar tidak membangunkan gadis itu. Ia menyambar ponsel di atas nakas. Nama Risa tertera di layar, bersama puluhan panggilan tidak terjawab dari istrinya itu.
"Ya, Risa ... sorry, aku terlalu mabuk semalam, aku tidur di rumah Scott. Sampai nanti." Joshua menutup ponselnya. Ia lalu menatap Jana yang masih terbaring lelap di atas ranjang. Punggung polosnya sedikit terbuka, menampilkan pemandangan yang begitu indah di mata Joshua.
Ia merapatkan kembali tubuhnya pada gadis itu dan memeluk Jana dari belakang. Menghujani tengkuk gadis itu dengan kecupan-kecupan lembut, membuat Jana menggeliat dan membuka matanya.
"Josh?" Nama Joshua yang pertama kali terucap dari bibir Jana. Matanya membulat. "Kamu ngapain di sini?!" pekiknya. Jana buru-buru menutupi badannya dengan selimut.
"Kita ngapain semalam?" tanya Jana panik.
"Aku tidak bisa menahan diriku. Aku mencintaimu, Jana," jawab Joshua dengan sorot mata penuh damba.
Jana terperangah. Ini sungguh di luar dugaannya. Samar-samat Jana ingat Joshua yang mengantarnya pulang dari bar. Dan Mira? Ah! Entah di mana sahabatnya itu sekarang.
"Nggak bisa kaya gini. Kamu manfaatin aku, Josh!" hardik Jana seraya memukuli dada Joshua geram.
Sejujurnya Joshua ingin mengatakan kalau dirinya lah yang dimanfaatkan oleh Jana. Gadis itu semalam bahkan tidak membiarkannya beristirahat barang sejenak. Jana terus mengerjainya dengan buas.
"Pergi, kamu!" usir Jana seraya mendorong Joshua keluar dari ranjangnya. Joshua yang masih polos berdiri dan menampakkan area intimnya yang terpampang dengan jelas di mata Jana.
"Ih! Tutup!" Jana melempar selimut ke arah Joshua. Gadis itu menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
Joshua tergelak. "Kamu sudah pakai ini semalam. Kenapa harus ditutup?"
"Aku nggak mau dengar! Aku nggak mau dengar!" teriak Jana seraya kini menutup kedua telinganya.
Jana benar-benar tidak menyangka semalam ia akan melakukan hal terlarang itu dengan Joshua. Ia sebal sekali melihat wajah Joshua yang ia buat seperti tidak punya dosa.
"Lupain kejadian semalam!" ancam Jana. Memorinya sudah sepenuhnya kembali dan adegan demi adegan yang ia dan Joshua lakukan semalam begitu jelas di benaknya.
"Aku benci sama kamu, Josh!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1