
"Itu, kan? Suaminya Atmini?" bisik Risa pada Ningsih. Sambil memperhatikan seorang lelaki paruh baya yang sedang berbicara dengan Atmini di pinggir kolam renang.
"Bener." Ningsih meneguk sirup di dalam gelas berkaki panjang yang sedang dipegangnya.
"Aduhhh!" Risa memepuk keningnya. "Bangkitan juga, ya?" kikiknya.
"Jangan bilang kamu mau godain dia, Ris."
"Lihat ntar, lah," gelak Risa. Memang itu tujuannya. Pasti suami Atmini itu punya banyak uang. Ia bisa saja menawarkan diri menjadi sugar baby lelaki itu.
Gampang saja untuk Risa mendapatkan perhatian lelaki manapun yang ia inginkan. Hanya untuk menguras uangnya, tentu saja. Seperti yang dulu sering ia lakukan. Meskipun, hatinya tetap untuk Joshua.
"Anggota baru?" tanya James pada Risa, di sebuah kesempatan, saat Atmini lengah.
"Yes, Sir." Risa memasang wajah semanis mungkin di depan James. Berharap lelaki itu akan terpikat padanya.
"Panggil James saja. Siapa namamu?"
"Namaku Risa, James. Senang bertemu denganmu," ucap Risa seraya mengulurkan tangannya. "Rumahmu besar dan bagus. Kau tinggal berdua saja di sini?"
"Ya. Aku dan Atmini belum punya anak, jadi, kita hanya tinggal berdua."
"Cuma tinggal berdua di rumah sebesar ini, apa kau tidak merasa kesepian?" pancing Risa. Tentu saja, wanita itu lihai dalam memikat korbannya.
"Aku kesepian." James terkekeh. Hingga lemak perutnya yang sedikit buncit, terguncang.
"Tidak butuh teman?" Risa memindai tubuh gempal James dengan pandangan menggoda. Ia berusaha sedemikian rupa agar terlihat seksi di mata lelaki itu. Meskipun, tanpa berusaha dengan berlebihan pun, setiap orang yang melihatnya, secara langsung akan menganggapnya seksi.
Bagaimana tidak, Risa memiliki ukuran dada yang lebih dari rata-rata wanita pada umumnya. Meskipun bagian pantatnya montok dan besar, namun pinggangnya kecil. Wajah Risa pun dipolesi make up tebal terlihat vulgar, namun cantik bukan main.
"Ada Atmini," kekeh James. Ia memeriksa keberadaan Atmini. Sang istri sedang sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Ini kesempatan untuk James untuk mengobrol lebih lanjut dengan wanita seksi di hadapannya itu. "Kau juga mau temani aku?" tanyanya tanpa basa-basi. Sebab sedari tadi ia sudah merasa jika Risa sedang menggodanya. Gerakan-gerakan tubuhnya jelas menunjukkan hal itu.
"Tidak di rumah ini," kekeh Risa. Ia mengerlingkan matanya pada lelaki itu.
"Berikan nomer ponselmu." James merogoh saku celana branded-nya dan mengambil ponselnya. Ia mempersilahkan Risa untuk menuliskan nomernya di sana.
"Aku tidak bisa berlama-lama bicara denganmu. Istriku bisa membuat masalah," bisik James seraya mengelus pinggang Risa.
__ADS_1
"Okay. Aku sudah memasukkan nomerku di ponselmu." Risa menyerahkan ponsel brand ternama itu pada James.
"Terimakasih, Seksi," ucap James seraya mengerlingkan mata pada Risa.
Sepeninggal James, Risa tersenyum miring. Pundi-pundi uang sedang menuju ke arahnya. Bayangannya tentang hidup bergelimang harta di Manhattan, akan segera terwujud.
***
Hari sudah beranjak siang dan Jana baru membuka mata saat mendengar suara sirine mobil polisi yang lewat di depan gedung apartemennya. Beberapa saat Jana mencoba mencerna sekelilingnya.
Ia berada di ruang tamu apartemennya, tertidur di atas dada seseorang. "Hah!" pekik Jana saat menyadari bahwa ia sedang memeluk Joshua.
"Hei, Jana," sapa Joshua yang terbangun mendengar pekikan Jana.
"Kok aku tidur di sini, sih?!" sungutnya sambil beringsut menjauh. Ia melihat botol pipih yang dibawa oleh Joshua semalam telah kosong dan tergeletak di atas meja.
"Memangnya kenapa?" Joshua meringis sambil menyugar rambut pirangnya.
Jana memeriksa dirinya sendiri, dan juga Joshua. Keduanya masih berpakaian lengkap. Tidak ada pakaian dalam berserakan di lantai. Artinya, tidak terjadi apa-apa semalam antara dirinya dan mantan suaminya itu.
"Tenang, Jana. Kita tidak melakukan apapun. Hanya tidur bersama saja," terang Joshua.
Terdengar suara tawa Joshua dari ruang tamu. "Bisa sekalian ambilkan aku minum, Jana?" pintanya.
Jana mendesis. Ia yang sudah selesai menghabiskan dua gelas air putih, terpaksa mengisi gelasnya lagi dan memberikannya pada Joshua.
"Terimakasih, ya," ucap Joshua dengan senyum manisnya.
Untung saja hari ini warung tutup. Sehingg Jana bisa melanjutkan tidurnya nanti, kalau Joshua sudah hengkang dari apartemennya. Atau mungkin sekarang saja ia usir lelaki itu.
"Kamu nggak mau pulang?" tanya Jana seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Aku baru saja bangun. Sudah kamu usir."
Jana mendecak sebal. "Emangnya kamu mau apa?"
"Aku lapar," ucap Joshua dengan polosnya.
__ADS_1
Jana memutar dua bola matanya. "Kenapa nggak masak sendiri?" Ia berkacak pinggang.
"Aku memang mau masak sendiri. Untuk kita berdua." Joshua beranjak dari atas sofa dan berjalan menuju ke arah dapur. Saat melewati Jana, ia memiringkan badan ke arah gadis itu. "Mau bantu?" tawarnya.
"Nggak!" tegas Jana.
Joshua tergelak. "Baiklah, Tuan Puteri, silahkan menunggu dengan manis di ruang tamu, lima belas menit lagi sarapan akan siap."
Kembali Jana memutar dua bola matanya. Sarapan jam satu siang. Ada-ada saja, gerutu Jana dalam hati.
Jana merapikan selimut dan bantal yang dipakai oleh Joshua semalam. Lalu duduk di atas sofa. Gadis itu meraih ponsel di atas meja.
Beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari Jovan menghiasi layar ponselnya. Ia buka satu persatu pesan itu. Semuanya tentang Jovan yang menanyakan keberadaannya. Menurut pesan yang Jana baca dari pemuda itu, ia dua kali datang ke apartemen dan mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban.
Artinya, ia tidur dengan nyenyak akibat pengaruh alkohol semalam. Tidur bersama Joshua. Semalaman memeluk lelaki itu.
Jana mendesis. Perhatiannya kini tertuju pada Joshua yang sedang sibuk di dapur. Entah ia sedang memasak apa untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Yang jelas, aromanya mampu membuat cacing-cacing di perut Jana berdansa.
Lima belas menit kemudian, seperti janji Joshua, lelaki itu membawa dua piring penuh makanan. Ada bubur kentang instan, brokoli rebus, dan beberapa lembar daging asap.
"Voila," seru Joshua seraya memberikan satu piring pada Jana.
"Makasih," ucap Jana tidak ikhlas.
"Bahan makanan di kulkas kamu tidak lengkap. Hanya itu yang bisa aku temukan," kata Joshua membuka obrolan saat makan.
"Aku diet," jawab Jana sekenanya.
"Kamu bercanda, ya? Diet? Badan sekurus ini?" tanya Joshua tidak percaya. Ia sampai menggerak-gerakkan tangan ke atas dan ke bawah di depan Jana.
"Biarin, sih!" sungut Jana.
"Jangan diet, Jana. Nanti kamu sakit. Kamu sudah sangat kurus."
Jana malas menanggapi ucapan Joshua. Tentu saja ia tidak sedang berdiet. Ia hanya malas memasak sendiri karena sepulang kerja, badannya sudah sangat lelah.
"Nanti aku temani belanja, ya, untuk mengisi kulkas kamu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...