
Mas Soleh si tukang sayur keliling pagi itu, seperti biasa, menjadi pusat kerumunan ibu-ibu kompleks. Ia dengan sabar mendengarkan celotehan mereka.
Bukan hanya celotehan, namun terkadang malah debat kusir tanpa penyelesaian.
Contohnya, debat antara Bu Galuh dan Yu Prapti yang sedang berlangsung saat ini, dengan tema yang itu-itu saja setiap harinya. Saling membanggakan diri dan menjatuhkan satu sama lain.
Mas Soleh dan ibu-ibu klien sayurnya hanya mendengarkan tanpa berani menyela diskusi yang lebih mirip sebuah pertengkaran itu.
"Mantumu itu, si bule, kok ya masih tinggal di sini, to? Apa si Jana ndak dibawa tinggal di apartemen mewah apa perumahan mewah, gitu? Terus, kok yo ndak beli mobil? Atau renovasi rumahnya situ yang sudah lapuk-lapuk itu?"
Perdebatan dibuka oleh Yu Prapti, dengan mulutnya yang se-pedas cabe dagangan Mas Soleh. "Katanya horang kayaaa?"
Bu Galuh melengos, mencebik dengan sinis. "Memang horang kaya kok di negara asalnya. Warisannya banyak, sedang diproses. Situ kalau tau berapa nilai kekayaan mantuku, semaput. Memangnya situ, mana itu juragan tembakau yang katanya sudah melamar Asih, kok ndak pernah kelihatan lagi. Jangan-jangan anakmu itu wes ditinggal."
Yu Parti mendecih. "Juragan tembakau sudah diputus sama Asih. Sekarang pacarnya lebih kaya. Orang kantoran. Ngurus-ngurus proyek perumahan."
"Maksudnya tukang bangunan, Yu Prapti?" Bu Galuh terkikik sambil menutup mulutnya. Ibu-ibu yang lain tampak ikut menahan senyum.
"Weeelah, sembarangan saja situ kalau ngomong. Enak saja tukang bangunan. Itu loh yang suka mborong-mborong proyek bangungan. Depko ... depkolektor. Nah, itu ... depkolektor."
"Developer, Yu Prapti." Seorang ibu muda menyeletuk, mengoreksi ucapan Yu Prapti.
"Hayoo pokoke ituu," sahut Yu Prapti.
Bu Galuh yang sebenarnya tidak tahu artinya sama sekali, tertawa meremehkan. Hal itu membuat hati Yu Prapti semakin panas. Kebetulan Jana muncul dari dalam rumah dan kini sedang menghidupkan mesin motornya. Senyum miring nan sinis Yu Prapti tebit. Ia punya bahan olokan baru.
__ADS_1
"Eh, Bu Galuh, itu si Jana, kok masih repot-repot kerja, to? Katanya suaminya horang kaya. Ngapain masih kerja dengan gaji ndak seberapa. Kalau anakku, Asih, baru pacaran saja, sudah ndak boleh kerja. Kebutuhannya sudah dipenuhi sama pacarnya. Baru jadi pacar loh, Bu-ibu. Apalagi sudah jadi suami, kan?" Perempuan itu meminta dukungan ibu-ibu yang masih setia mendengarkan drama kolosal Yu Prapti dan Bu Galuh, meskipun acara berbelanja pagi itu sudah selesai.
Namun, mereka berpura-pura masih memilah-milih barang belanjaan. Ujung-ujungnya, dagangan Mas Soleh kelimis karena terlalu banyak dipegang-pegang.
"Yo beda anakku sama anak situ. Kalau Jana, meskipun suaminya horang kaya, tapi tidak punya mental minta-minta, bukan modal selingkingin kaya si Asih?" Bu Galuh menaikkan kedua alisnya. Sepertinya perdebatan sudah mulai menuju ranah yang lebih pribadi.
"Eeeh, situ ngatain anakku lontiiittt?!" Yu Prapti tersulut emosinya. Matanya mendelik pada Bu Galuh yang sedang mencebikkan bibir sambil menggerak-gerakkan dagunya.
"Lah, itu tadi kan situ yang secara ndak langsung mengatakan kalau anak situ anuu. Ya, to, Mas Soleh?" Bu Galuh meminta dukungan dari si tukang sayur yang sejak tadi hanya bengong. "Buah jatuh ndak jauh dari pohonnya, to? Situ juga janda gatel."
"Waah, ndak bisa dibiarin ini mulut situ." Yu Prapti maju dan meraih kerah daster Bu Galuh. Seketika semua yang ada disitu berseru panik.
Beberapa langsung melerai Bu Galuh dan Yu Prapti yang sudah saling mencakar dan menjambak. Sementara Mas Soleh segera mengamankan gerobak sayurnya yang ia raruh di atas jok motor.
Jana yang sedang menuntun motornya keluar dari halaman rumah, segera menyetandarnya dan menghambur ke arah gelanggang pertikaian ibunya dan tetangganya itu.
"Kok bisa, sih, Bu? Malu-maluin aja, deh. Kaya anak kecil, tau nggak?" Jana menyeret ibunya masuk ke halaman rumah. Dari pintu muncul Pak Yanto---bapaknya, yang tergopoh-gopoh menghampiri.
"Ada apa, Bu? Bapak denger ribut-ribut dari luar tadi?" tanya Pak Yanto sambil melongok ke pinggir jalan. Ada Yu Prapti yang sedang memaki-maki istrinya sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya.
"Itu loh janda gatel. Dia yang mulai." Bagai anak kecil, Bu Galuh mengadu pada suaminya.
Pak Yanto menggeleng pelan. Konflik antara istrinya dengan tetangga sebelah sudah bukan hal baru baginya. Ia sudah malas sekali mengurusi hal itu. "Sudah, Jana ... kamu berangkat kerja saja. Ibumu biar Bapak yang ngurus," pintanya pada sang putri.
"Iya, Pak, Jana kerja dulu, ya?" Jana meraih punggung tangan sang ayah dan menciumnya. Kemudian melakukan hal yang sama pada sang ibu.
__ADS_1
Pak Yanto buru-buru mendorong punggung Bu Galuh masuk ke dalam rumah saat sang istri hendak menyahut Yu Prapti yang masih membuka jalannya pertikaian.
"Sudah, masuk saja, Bu. Ndak usah diladeni terus." Pak Yanto menutup pintu rumah rapat-rapat. Bahkan menguncinya.
"Orang kok ada, ya, yang kaya gitu. Mulutnya ndak ada saringan," sungut Bu Galuh, tanpa sadar bahwa dirinya pun sama saja.
"Sudah, ndak usah diperpanjang to, Bu."
Bu Galuh mendengus kesal. Bibirnya mencas-mencos ke sana kemari menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan ucapan suaminya itu.
Bagaimana tidak diperpanjang kalau tetangganya-si janda gatel Prapti, memancing-mancing emosinya terus.
"Mantu kesayangan gantengku belum bangun, ya, Pak?" tanya Bu Galuh sambil memandang ke arah pintu kamar Jana.
"Sepertinya belum, Bu." Raut wajah Pak Yanto sedikit berbeda saat Bu Galuh menyebut Joshua.
"Yowes biar saja. Ibu masak saja sekarang. Biar kalau Nak Joshua bangun bisa langsung sarapan." Bu Galuh beranjak dari duduknya dan menuju dapur. Tidak lupa ia menyambar plastik berisi belanjaan yang tadi tidak lupa ia bawa, meskipun sempat terlibat pertikaian dengan Yu Prapti.
Sepeninggal Bu Galuh menuju dapur untuk memulai aktifitas memasaknya, Pak Yanto tertegun memandangi kamar putrinya yang masih pintunya masih tertutup rapat. Di dalam kamar tentu ada Joshua-sang menantu bule, yang masih tertidur lelap.
Beberapa hari ini sebenarnya Pak Yanto mulai berpikir tentang sang menantu. Terutama berhubungan dengan sang putri, Jana. Putrinya bekerja setiap hari membanting tulang, dengan gaji yang tidak seberapa. Dulu, sebelum bersuami, uang gajinya selalu ditabung sebagian. Sebagian lagi Jana belanjakan untuk kebutuhan layaknya gadis yang masih single.
Beberapa waktu lalu, Jana mengeluh tabungannya mulai terkuras. Selain itu, Jana juga memiliki cicilan perangkat game yang ia belikan untuk Joshua.
Pak Yanto merasa ada yang sedikit aneh dengan menantu bule-nya itu. Masa iya, Joshua tidak memiliki uang sama sekali?
__ADS_1
***