
"Kamu berantem sama suami kamu?" tanya Jovan.
Jana terdiam. Masih teguh pendirian untuk tidak menceritakan permasalahan rumah tangganya pada pemuda yang belum lama dikenalnya itu.
"Kenapa, sih, nggak mau cerita? Aku nggak bakalan komentar, deh. Janji."
"Masalah rumah tangga, Mas. Biasalah."
Jovan mendecak. "Biasa gimana? Orang kamunya sampai kaya orang linglung gini."
Jana terkekeh. "Masa, sih?"
Jovan mengacak rambut Jana gemas. "Mau sarapan dulu?"
"Nggak usah, Mas. Aku nggak laper."
Jovan tidak memedulikan pernyataan Jana. Ia melangkah ke dapur dan menyiapkan sarapan sederhana untuk Jana. Roti panggang dan telur mata sapi, kemudian ia tambahkan daging asap yang lezat.
"Duh, ngerepotin, Mas," ucap Jana saat Jovan menyodorkan piring padanya.
"Apa, sih. Mana ada repot. Udah makan dulu. Ntar baru cerita. Okay?"
Jana meringis. Perutnya memang sudah berdemonstrasi meminta untuk diisi. Dengan lahap Jana pun menikmati sarapannya. Sementara Jovan menungguinya sambil terus memperhatikan gerak-gerik gadis manis itu.
"Udah kenyang?" tanya Jovan saat melihat piring Jana sudah bersih.
Jana meringis. Ia mengambil tisyu yang telah Jovan sediakan untuknya untuk mengelap bibirnya.
"Ayo, sekarang cerita," pinta Jovan.
"Sebenarnya nggak etis kalau aku harus cerita masalah rumah tanggaku sama kamu, Mas."
"Aduh, tinggal cerita aja. Siapa tahu bisa sedikit meringankan beban kamu."
Jana menghela napasnya berat. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya dengan berat hati Jana pun menceritakan semua yang telah terjadi antara dirinya dan Johsua.
"Brengsek banget suami kamu, Jan," timpal Jovan geram. "Pingin aku hajar aja rasanya."
"Tuh, kan? Katanya nggak mau komentar," rajuk Jana.
__ADS_1
"Abisnya aku emosi. Laki-laki beneran, nggak, tuh? Jangan-jangan itunya cuma pajangan doang."
Jana terkekeh mendengar gerutuan Jovan. Pemuda itu terlihat begitu kesal. Bahkan lebih kesal dari dirinya; sebagai korban yang mengalami langsung kejadian.
"Mas Jovan, kamu mau kerja, kan? Aku sekalian nebeng pulang, ya?"
"Kalau kamu di sini aja, terus aku nggak kerja buat temenin kamu, gimana?"
Tawaran Jovan membuat Jana menggeleng dengan cepat. "Aku pulang aja, Mas." Biar bagaimanapun, dirinya adalah wanita yang bersuami. Berduaan dengan lelaki lain tentu hal yang tidak baik.
Jovan menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya gadis manis di sampingnya itu, penuh damba, penuh iba.
"Jangan ngeliatin aku kaya gitu, dong, Mas," keluh Jana. Ia salah tingkah dipandangi sedemikian rupa oleh Jovan.
"Jan ...."
"Ya?"
"Pertama kali aku lihat kamu di halaman konjen, busyet ... nih, bidadari dari mana, ya?"
Jana tergelak mendengar perkataan Jovan. "Berlebihan banget, sih," gerutunya.
"Beneran, Jan. Aku ngelihat kamu, tuh, yang langsung takjub gitu. Mana pake kebaya, kan ... aduh, cakep bener."
"Makanya, aku langsung balik lagi dan minta kenalan."
"Kenapa nggak kenalan langsung pas ada cewekmu, tuh, Mas?"
"Aduh, kalau urusannya sama dia, tuh, aku males ribet. Bisa panjang."
"Namanya juga pacar, Mas. Mana ada yang mau cowoknya deket-deket sama cewek lain." Jana mencebikkan bibirnya.
"Tiara bukan pacarku, Jan. Jadi, ceritanya gini ...." Jovan menjelaskan perihal hubungannya dengan gadis manja yang selalu menempel padanya saat acara festival Indonesia di halaman konjen waktu itu. Bahwa ayah Tiara dan ayahnya adalah rekan bisnis. Ayah Tiara menitipkan gadis itu pada Jovan setahun lalu saat masuk kuliah di salah satu universitas di New York.
Dari situ, Tiara menjadi tergantung padanya. Dan entah bagaimana, gadis itu mengklaim Jovan sebagai pacarnya. Padahal, berkali-kali Tiara menyatakan perasaan padanya, ia tidak pernah mengiyakan.
"Aku emang sempet deket sama dia, sih. Tapi nggak ada komitmen apapun." Jovan menutup ceritanya.
Jana mengangguk-angguk. "Kasihan, loh, Mas ... cewek, tuh, sakit banget kalau disuruh nunggu dengan hubungan yang nggak jelas, gitu."
__ADS_1
"Loh, aku nggak pernah menyatakan apapun sama dia. Dan hubunganku sama dia udah jelas, kok. Aku cuma anggap dia sebagai adik aja, udah."
"Tapi, karena kamu udah pernah deket sama dia, jadi, ya, dia pasti berharap lebih. Emang deketnya yang kaya gimana, sih?"
Jovan mengelus rambutnya sambil tertawa kecil. "Ya, hampir kaya orang pacaran, sih. Tapi, waktu itu aku emang lagi stres berat sama kerjaan. Jadi, ya, mungkin, aku yang salah juga kenapa harus memanfaatkan kehadiran Tiara sebagai hiburan."
"Ish! Jahat banget cewek dijadiin hiburan." Jana berpikir, mungkin dirinya juga hanya dijadikan hiburan semata oleh Joshua.
Jovan tertawa renyah. "Iya, aku ngaku aku salah waktu itu."
"Tapi, nggak sampai ...." Jana menyatukan kedua telapak tangan dan menggerak-gerakkannya.
"Oh, nggak, nggak, hampir. Tapi, nggak jadi," kekeh Jovan.
Jana menggeleng. "Udah deket banget pastinya. Pantesan dia maunya nempel terus sama kamu, Mas."
Jovan mengedikkan bahu seraya mencebikkan bibir. "Nggak tahu lah, aku. Yang jelas aku nggak ada rasa apa-apa sama Tiara."
Jana terdiam. Begitupun Jovan. Keduanya tenggelam dalam benak masing-masing. Jana dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Joshua, sementara Jovan tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana memeluk gadis manis di sampingnya itu.
"Jan, kamu emang nggak ada niat, gitu, cerai dari suami kamu. Udah jelas-jelas dia brengsek."
Jana mengulas senyum tipisnya. Cerai dari Jovan, ia sama sekali tidak berpikir ke arah sana, meskipun sikap Joshua padanya buruk. Jana sangat mencintai Joshua dan ia masih berharap Joshua juga membalas cintanya dengan utuh.
Mengingat Joshua membuat hati Jana rindu pada suaminya itu. Namun di sisi lain, hatinya juga tersayat akan sikap Joshua padanya. Jana benar-benar bingung harus bagaimana. Cinta macam apa yang ia rasakan pada Joshua. Kenapa tidak pernah ada ketenangan di dalam hatinya. Meskipun rasa bahagia bersama Joshua terkadang begitu membuncah di dada.
Tanpa sadar air mata Jana menetes di pipinya. Matanya yang masih terlihat sembab kembali basah. Hatinya sakit sekali mengingat kejadian semalam. Dan Joshua entah ke mana sekarang.
"Jan, malah nangis lagi," ujar Jovan seraya meraih bahu Jana dan memosisikan gadis itu menghadap ke arahnya.
Jana tergugu. Ia sungguh ingin membuang semua beban di dadanya ini. Ia ingin bertemu Joshua dan memeluknya erat. Ia ingin menunjukkan betapa ia tulus mencintai lelaki itu.
Jovan menyapu pipi Jana dengan jemarinya. Kemudian tangannya bergerak mengelus rambut gadis itu. Ia mendekatkan posisi duduknya pada Jana. Tangannya kini mengelus pipi, lalu bibirnya.
Jana tidak menyadari, Jovan kini telah mendekatkan wajahnya pada wajah Jana. Terus mendekat dan akhirnya bibir pemuda itu mendarat di bibir tipisnya.
Entah karena terbawa suasana atau apa, Jana tidak menolak pagutan bibir Jovan. Gadis itu justru membalasnya dengan lembut. Untuk beberapa saat keduanya tenggelam dalam penyatuan bibir yang begitu romantis.
Hingga akhirnya Jana tersadar dan seketika menarik diri Jovan.
__ADS_1
"Maaf, Jana ...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...