
Manhattan, tiga tahun sebelumnya.
Joshua membuka mata saat cahaya matahari menerobos masuk ke dalam kamar, menghantam wajah tampannya yang penuh dengan memar. Pemuda itu meringis menahan sakit di sudut bibirnya yang pecah.
"Sialan!" maki Joshua saat hendak menggerakkan badannya, namun tulang-tulangnya seakan remuk redam. Rasanya ia tidak kuasa untuk sekedar bergerak sedikit saja.
Namun, karena perutnya keroncongan, Joshua pun memaksakan diri untuk bangun. Mengambil jeda untuk menyiapkan tubuhnya bergerak keluar kamar, ia duduk di tepi ranjang.
Kamar ini bukan miliknya. Dari benda-benda yang ada di dalamnya, tentu sudah bisa ditebak jika pemilik kamar adalah seorang wanita.
"Kau sudah bangun?" Si pemilik kamar melongok dari balik pintu. "Aku sudah siapkan sarapan."
"Terimakasih, Meg." Joshua meringis sambil memegangi perutnya saat hendak berdiri.
"Kau butuh bantuanku?" tanya Megan. Ia seorang gadis berwajah manis dengan mata hijau yang indah.
"Sepertinya iya." Joshua mengulurkan tangannya. Megan menyambutnya, lalu memapah Joshua keluar kamar, menuju ke meja makan yang menyatu dengan sofa ruang tamu.
Sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Megan membantu Joshua duduk kursi yang telah disiapkannya. Lalu gadis itu duduk di seberang.
"Kau marah?" tanya Joshua seraya menatap
Megan yang sedang menikmati sarapannya sembari kepalanya tertunduk.
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja aku marah," jawab Megan ketus.
"Oh, ayolah, Sayang. Aku hanya luka sedikit."
Brakkk
Megan membanting sendok dan garpu ke atas piring. Wajah manisnya merah padam menahan amarah. Napasnya pun memburu.
"Aku tidak mau anakku lahir tanpa ayah!" sentaknya.
"Aku baik-baik saja, Meg."
"Untuk sekarang!" seru Megan. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.
"Meg ...."
"Lihat dirimu sekarang? Babak belur. Besok, atau besoknya lagi, mungkin kau pulang hanya tinggal nama," pekik Megan tertahan. Air matanya pun tumpah.
__ADS_1
"Hei, hei, Sayang ... auchh!" Joshua meringis kesakitan saat hendak berdiri dan
menghampiri Megan.
Namun, ia berusaha memaksakan diri untuk mendekati kekasihnya itu. "Aku janji. Aku akan baik-baik saja." Ia mengelus perut Megan yang mulai sedikit buncit, di balik kaus besarnya.
"Berhentilah, Josh. Aku mohon. Tidak bisakah kita hidup dengan normal?" tanya Megan putus asa.
"Aku tidak bisa, Meg. Kita butuh banyak uang untuk biaya hidup kita dan anak kita nanti."
"Kenapa kau tidak minta bantuan orang tuamu saja. Mereka punya banyak uang. Dan kau adalah anak satu-satunya."
Joshua menggeleng. "Mereka sudah tidak menerimaku lagi."
Megan menghapus air mata dengan punggung tangan. Ia menatap Joshua dengan perasaan hancur. "Aku takut kehilangan dirimu, Josh," isaknya.
"Tidak akan." Dikecupnya bibir Megan sekilas, lalu memeluknya erat. "Ayo, lanjut sarapan," ucapnya beberapa saat kemudian.
Tertatih, Joshua kembali ke kursinya. Keduanya lalu menikmati sarapan dengan suasana haru. Joshua sesekali melontarkan lelucon untuk membuat Megan tersenyum.
Dan wanita itu terpaksa mengulas senyumnya. Semarah apapun dirinya, Joshua tetap mampu membuatnya luluh.
***
"Mereka pasti mengincarmu." Ia memperingatkan.
"Aku siap." Joshua menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya ke udara.
"Tapi, mereka juga bisa mengincar orang terdekatmu."
Dada Joshua berdebar. Megan. Ia harus mengamankan kekasihnya dari jangkauan orang-orang yang bisa mencelakakannya.
Joshua telah menghabisi adik salah seorang pimpinan gangster yang menjadi rival bosnya itu. Mereka tentu tidak akan tinggal diam. Ia harus siap jika suatu hari nyawanya melayang di tangan mereka.
Namun, Joshua harus memastikan Megan aman. Ia tidak mau sesuatu terjadi pada kekasihnya yang sedang mengandung anaknya.
Tetapi, apa yang ditakutkan oleh dirinya dan juga bosnya, menjadi kenyataan. Ia terlambat.
Saat hendak mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengamankan Megan, sore itu, Joshua justru dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang membuat hidupnya hancur.
Musuh sudah lebih dulu mencapai Megan. Wanita itu tewas mengenaskan di apartemennya. Begitupun bayi yang sedang dikandungnya.
__ADS_1
Hari itu menjadi hari paling gelap dalam dua puluh empat tahun Joshua hidup di dunia. Ia harus menyaksikan kekasih dan calon anak mereka pergi untuk selamanya.
Tidak hanya sampai di situ, Joshua yang menjadi tertuduh atas pembunuhan Megan. Sehingga ia pun harus mendekam di penjara.
Hari-hari yang berat ia lalui di balik jeruji selama hampir tiga tahun, hingga entah bagaimana pengadilan untuk Joshua kembali digelar dan ia dinyatakan tidak bersalah.
Keluar dari penjara, Joshua mendapati kabar bahwa kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Meskipun ia sudah lama tidak berhubungan dengan ayah dan ibunya, namun, berita itu tetap membuatnya shock.
Joshua merasa ia harus meninggalkan Amerika dan hidup di suatu tempat yang jauh. Ia pun pergi ke Indonesia, dengan hanya bermodalkan visa kunjungan dan tiket pesawat. Lalu ia bertemu dengan Risa, wanita yang kemudian membuatnya patah hati untuk kedua kalinya.
Hingga ia bertemu dengan Jana, gadis lugu yang ia dapatkan secara acak saja. Gadis yang tiba-tiba saja mengajaknya menikah tanpa menyelidiki asal-usul dirinya. Gadis yang begitu tulus mencintainya, namun, hati Joshua belum juga terbuka menerima Jana seutuhnya.
Sejujurnya Joshua merasa kasihan dengan gadis itu. Jana berusaha dengan keras untuk beradaptasi menjalani hidup di negara ini. Yang Joshua lihat, Jana selalu menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan di luar.
Satu yang membuat Joshua mengagumi gadis itu adalah, ia tidak pernah menanyakan perihal warisan yang selalu Joshua gembar-gemborkan. Jana justru mempunyai inisiatif untuk bekerja membantu perekonomian mereka.
Joshua terpaksa kembali lagi masuk ke dalam dunia hitam yang sempat ia tinggalkan selama setahun belakangan. Tidak ada pekerjaan normal yang bisa ia lakukan di Manhattan. Sangat sulit untuk orang yang pernah punya riwayat kriminal seperti dirinya.
Dan Jana, begitu sabar padanya. Meskipun Johsua tidak tahu apa yang ada di benak gadis itu. Yang jelas, Jana tidak pernah protes dan selalu bersikap manis.
Malam itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya menjual barang pada pelanggan, Joshua berniat untuk mengajak Jana makan malam.
Dan reaksi gadis itu sungguh di luar dugaan. Jana terlihat begitu gembira. Ia memoles wajah dan membalut tubuh, dengan riasan dan pakaian terbaik. Padahal, Joshua hanya akan mengajaknya ke sebuah restauran kecil.
Hanya sebuah restauran cepat saji yang ada di pinggiran Harlem.
"Kamu baru gajian, ya?" kekeh Jana sambil menikmati sepotong burger.
"Bisa dibilang begitu." Joshua mengulas senyum.
Jana mengangguk-angguk. Sejak tadi senyumnya selalu tersungging di bibir mungilnya. Wajahnya begitu semringah dan cerah.
"Enak banget burgernya. Beda, ya, dengan yang ada di Jogja."
"Oh ya?"
"Iya, beda."
"Nikmatilah."
"Tentu saja." Jana meringis. Sesekali memandang ke arah Johsua di seberang meja, sambil mengagumi sosok suaminya yang rupawan itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...